Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 69. Di Luar Dugaan


__ADS_3


"Aaarrrggggh... Gara-gara ibunya mas Awan nih yang membuatku tidak bisa tidur satu ranjang dengan mas Awan."


Rasa marah dan dongkol membuncah dalam dada Mega kala wanita itu mulai bangun dari lelap tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dan bekas kamar anak-anak Awan lah yang menjadi tempat peristirahatannya.


Sungguh di luar ekspektasi. Ia yang mengira bisa tidur nyenyak satu ranjang dengan Awan ternyata hal itu hanya menjadi mimpi dan angan belaka. Marni memberikan ultimatum agar Awan tidak satu kamar dengannya. Alhasil, semalaman wanita itu tidur tanpa belaian sang kekasih.


Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Mega bergegas keluar dari dalam kamar, mencoba untuk mencari keberadaan Awan.


Dug... Dug... Dug...


"Wan bangun! Ibu lapar Wan. Mau makan!"


Mega yang tengah melintas di depan kamar pribadi Awan sedikit mengernyitkan dahi. Pasalnya wanita itu kebingungan karena Marni sudah berteriak-teriak di depan kamar Awan sembari menggedor-gedor pintu.


"Bu, ada apa sih kok teriak-teriak begitu?" tanya Mega sembari mendekat ke arah Marni.


Marni menatap sinis sosok wanita yang menjadi selingkuhan anaknya ini. Di matanya, Mega sama sekali tidak cantik. Entah apa yang membutakan mata Awan sampai ia begitu terpikat dengan wanita ini.


"Bukan urusanmu!" jawab Marni dengan ketus. Marni kembali menggedor-gedor pintu kamar. "Wan buka pintunya! Ibu lapar Wan!"


"Ckckckck... Ternyata Ibu lapar? Kenapa tidak bilang sih? Malah pakai ketus segala di depanku." Mega berjalan menuju dapur. Ia sepertinya tahu apa yang harus ia lakukan. "Sudah, tunggu sebentar. Aku masakin mie dulu biar bisa jadi pengganjal perut!"


Mega mulai meraih panci yang kemudian ia isi dengan air. Ia masak mie instan yang ia anggap sebagai makanan paling simpel untuk mengganjal perut Marni yang keroncongan.


Sementara itu, Awan yang mendengar suara pintu yang didobrak berkali-kali seketika terbangun dari lelap tidurnya. Lelaki itu sejenak duduk di tepian ranjang sembari mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya memeluk raga. Bahkan lelaki itu masih menahan sensasi rasa nyeri dan perih akibat bogem mentah yang dilayangkan oleh sang kakak ipar semalam.


Dengan langkah gontai dan sedikit sempoyongan, lelaki itu membuka pintu dan terlihat sang ibu sudah ada di sana.


"Apa Bu? Kok teriak-teriak seperti ini?" tanya Awan tanpa sedikitpun merasa bersalah.


Marni menatap kesal wajah anaknya ini. Bisa-bisanya dia tidak peka tentang apa yang menjadi kebutuhannya.


"Ada apa, ada apa? Kamu tidak lihat ini jam berapa Wan? Ibu lapar, biasanya jam segini perut Ibu sudah kenyang. Badan Ibu juga bau karena belum mandi. Biasanya jam segini Ibu juga sudah wangi dan rapi, tinggal duduk-duduk di teras menikmati pagi."


Awan menghembuskan napas sedikit kasar. Ia baru ingat jika jam-jam pagi seperti ini sang ibu memang sudah kenyang dan rapi juga wangi.


"Baiklah Bu. Ayo Awan mandikan Ibu. Setelah itu Awan pesankan gofood."


"Tidak perlu pesan gofood. Itu, selingkuhanmu sudah masak di dapur. Meskipun hanya masak mie instan," ucap Marni dengan ketus.


"Ya sudah, ayo aku mandikan!"

__ADS_1


Awan mendorong kursi roda milik Marni untuk masuk ke kamar mandi. Ia lepas satu persatu pakaian yang membalut tubuh ibunya ini. Tiba saat ia membuka diapers yang dipakai oleh sang ibu.


Hoeekkk... Hoekk... Hoekkk...


Awan reflek muntah-muntah sesaat setelah ia mencium aroma menyengat dan melihat kotoran yang sudah berkumpul di dalam diapers yang dikenakan oleh Marni. Karena baru kali ini ia dibuat sibuk dengan segala macam urusan seperti ini, terlebih urusan kotoran Marni.


"Kenapa Wan, kamu jijik?" tanya Marni dengan nada retoris. Dari ekspresi yang diperlihatkan oleh Awan sudah jelas jika anak semata wayangnya ini jijik melihat kotorannya.


Awan mencoba untuk menetralisir semua rasa mual yang seperti mengaduk-aduk perutnya. Lelaki itu menggeleng pelan, seakan sebagai isyarat jika ia tidak jijik dengan hal semacam ini.


"Tidak Bu, aku tidak jijik. Mungkin aku muntah-muntah seperti ini karena baru pertama kali aku mengurus semua keperluan Ibu. Jadi, tidak masalah," kilah Awan.


Marni tersenyum sinis. "Kamu baru pertama kali saja sudah muntah-muntah seperti ini. Lantas bagaimana untuk seterusnya? Apakah kamu akan tetap muntah-muntah saat membersihkan kotoran Ibu?"


"Tidak Bu, aku yakin ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Setelah ini aku pasti sudah semakin terbiasa."


"Kamu ini benar-benar manusia yang tidak bisa bersyukur, Wan. Kamu sudah diberikan seorang istri yang sempurna seperti Cahya yang setiap hari tanpa mengeluh mengurusi semua keperluan Ibu, namun kamu tukar dengan bongkahan batu kali seperti wanita selingkuhanmu itu. Di mana matamu Wan?"


Marni meneteskan air matanya. Jika teringat akan kebaikan dan juga bakti yang diberikan oleh Cahya, ia sungguh tidak rela jika harus kehilangannya.


"Setiap hari Cahya selalu memenuhi semua keperluan Ibu tanpa sedikitpun mengeluh. Dia yang sudah menggantikan peranmu untuk mengurusi Ibu, Wan. Kamu lupa?"


Awan terhenyak mendengar penuturan sang Ibu. Hatinya seakan tertampar. Ia selama ini hanya tinggal beres. Bangun tidur ia sudah mendapati sang Ibu yang sudah rapi, wangi, anak-anak juga sudah siap untuk ke sekolah dan sarapan pagi pun juga sudah siap di meja makan. Dalam keadaan seperti ini ia baru bisa merasakan jika pekerjaan seorang ibu rumah tangga itu tidak bisa disepelekan.


Awan terlihat semakin hening. Apa yang ia remehkan selama ini, ternyata hari ini Tuhan menunjukkannya secara langsung.


"Sudah Bu, ayo aku mandikan. Cahya memang sempurna, tapi aku yakin Mega juga tidak kalah jauh sempurna. Dia bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Cahya."


"Cih... Sehebat apapun wanita murahan itu, sama sekali tidak akan bisa menggantikan Cahya. Bagi Ibu, Cahya adalah menantu paling sempurna yang Ibu miliki."


Tak ingin menanggapi ucapan Marni lagi, Awan mulai mengguyur air untuk memandikan sang Ibu. Dengan perasaan getir, Awan mulai membersihkan seluruh permukaan tubuh Marni.


Ya Allah ... Ketika sudah tidak ada memang baru terasa. Apa mungkin Cahya mau memaafkan aku dan memberikanku kesempatan kedua?


****


Seusai memandikan sang Ibu, Awan mendorong kursi roda milik Marni untuk menuju ruang makan. Terlihat, di atas meja sudah tersaji empat porsi mie instan goreng untuk menu sarapan pagi hari ini.


"Hallo semua. Ayo sarapan dulu. Lihatlah, aku sudah memasak mie instan goreng spesial untuk sarapan. Ayo, ayo makan!"


Awan tersenyum kecut melihat sajian menu sarapan ini. Biasanya di atas meja sudah ada nasi lengkap dengan sayur dan lauknya, hari ini hanya ada mie goreng. Makanan yang sebelumnya begitu dilarang oleh Cahya untuk sering-sering dikonsumsi.


"Terima kasih Han!"

__ADS_1


"Sama-sama Mas!"


Awan duduk di kursi yang telah tersedia. Begitu pula dengan Kardi yang juga turut mendaratkan bokongnya di sana. Marni pun juga mulai menyantap mie goreng buatan Mega.


"Oh iya Mas, aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus segera menikahiku. Aku tidak mau digantung-gantung seperti ini!" ucap Mega membuka pembicaraan dengan Awan. Ia sungguh tidak mau berlama-lama lagi menunggu untuk menjadi istri seorang Awan Surya Atmaja.


"Sabar dulu Han. Aku masih belum bertemu dengan Cahya. Aku masih harus membicarakan ini dengannya terlebih dahulu."


"Membicarakan apa lagi sih Mas? Kamu tinggal menjatuhkan talak ke istrimu, semua beres kan?"


"Tapi Han...."


"Aku tidak mau tahu Mas. Aku ingin kamu segera menceraikan istrimu. Aku tidak mau menjadi yang kedua!"


Awan kian tersudut. Ia masih berharap bisa mempertahankan Cahya untuk menjadi istrinya, namun jika seperti ini, rasa-rasanya ia tidak bisa melupakan janji-janji yang sudah terlanjur ia janjikan kepada Mega. Di mana ia berjanji untuk menjadikan Mega istri satu-satunya.


Awan memijit-mijit pelipisnya. Baru saja ia akan menikmati sajian mie goreng ini tapi malah justru dibuat pusing dengan permintaan Mega.


"Baiklah, akan aku coba hubungi pak Pras, untuk mengurus semuanya."


Awan bangkit dari posisi duduknya, masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Setelah itu ia kembali ke ruang makan untuk menunjukkan kepada Mega jika ia akan memenuhi semua permintaannya. Satu nama kontak sudah berhasil ia temukan dan....


"Hallo pak Pras!"


"Iya Pak Awan, bagaimana?"


"Pak, aku ingin mengurus proses perceraian dengan Cahya. Apakah pak Pras bisa membantu?"


"Oh pak Awan tidak perlu capek-capek mengurus perceraian dengan bu Cahya. Pak Awan tinggal duduk manis di rumah saja. InshaAllah paling lama dua minggu lagi akan ada panggilan untuk sidang."


Awan terhenyak. "Panggilan untuk sidang? Maksud pak Pras bagaimana?"


"Ibu Cahya sudah mendaftarkan gugatan cerai di Pengadilan Agama, Pak. Jadi pak Awan tinggal menunggu jadwal sidang saja!"


"Apa?? Cahya sudah menggugatku lebih dulu?"


Ponsel yang dipegang oleh Awan terlepas dari genggaman. Ia sungguh shock mendengar kabar yang disampaikan oleh Prasetyo. Bibir lelaki itu menganga lebar dengan mata yang membulat sempurna.


Ternyata Cahya jauh lebih cepat bergerak. Sungguh sangat di luar dugaan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2