
"Aku tidak mau. Aku tidak mau mobilku di tarik!!!"
Awan terlihat kesusahan menenangkan Mega yang sedari tadi berteriak histeris di depan karyawan PT Anugerah Mobilindo. Tubuh wanita itu sampai meronta-ronta, seakan mengajukan protes bahwa ia tidak rela jika sampai mobil miliknya ini ditarik kembali.
"Han, tenang. Jangan seperti ini!" pinta Awan lirih. Lelaki itu seakan sudah kehabisan tenaga untuk melawan istrinya yang sudah seperti kerasukan setan. Tubuh Mega sungguh sulit untuk dikendalikan.
"Tidak, aku tidak akan tenang sampai orang itu pergi dari sini. Aku tidak mau mobilku ditarik!" teriak Mega jauh lebih lantang dari sebelumnya. Jika Awan semakin kehabisan tenaga, maka tidak dengan Mega. Wanita itu terlihat semakin mendapatkan energi penuh untuk berteriak dan meronta.
Awan menyerah. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan istrinya ini. Hingga pada akhirnya, ia melihat sang mertua yang sedari tadi hanya berdiri terdiam tidak melakukan apapun.
"Pak, mengapa Bapak diam saja? Ayo bantu aku!" teriak Awan ke arah Kardi. Ia merasa gemas sendiri karena sang mertua tidak tanggap dengan kesusahan yang ia alami.
"Tapi Bapak harus bagaimana Wan? Bapak harus melakukan apa?" tanya balik Kardi yang justru kebingungan akan apa yang harus ia lakukan.
Jawaban Kardi inilah yang justru membuat Awan gemas. Saking panik dan bingungnya, Awan membawa Mega masuk ke dalam kamar. Ia kunci istrinya ini di dalam kamar.
Brakkk... Brakk... Brakkk!!!!!
"Buka pintunya Mas! Aku tidak mau dikurung seperti ini. Buka pintunya!"
Awan sejenak membuang napas lega. Pada akhirnya, ia bisa mengatasi istrinya yang sedang tantrum ini.
"Sudah, Bapak berdiri di depan kamar saja. Tungguin Mega," titah Awan kepada sang mertua. Lelaki itu bergegas kembali menemui Toni yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Maaf ya Mas terlalu lama menunggu. Mari silakan duduk!" ucap Awan kepada tamunya.
Toni mendaratkan bokongnya di atas sofa. Lelaki itu kemudian mengeluarkan berkas-berkas dari dalam tasnya.
"Jadi langsung saja ya Pak. Sesuai dengan catatan kami, pak Awan ini sudah menunggak angsuran mobil selama tiga bulan. Sesuai dengan perjanjian kredit yang sudah ditandatangani, maka dengan berat hati saya harus menarik mobil Civic Turbo yang Bapak beli."
Awan tidak terlalu terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Toni. Ia sadar betul jika selama tiga bulan yang lalu kreditnya macet.
__ADS_1
"Mas, apa tidak ada kelonggaran waktu lagi? Akan saya usahakan untuk melunasi semua tunggakannya," ucap Awan memelas di hadapan Toni. Ia sungguh belum siap jika mobil itu ditarik kembali.
"Saya beri waktu satu minggu ke depan Pak. Jika pak Awan bisa untuk melunasi seluruh tunggakannya, Bapak bisa langsung datang ke kantor kami. Namun tetap, hari ini mobil akan tetap saya tarik."
"Apa tidak bisa di sini saja Mas? Itu kasihan istri saya sampai meronta-ronta seperti itu. Saya mohon Mas, biarkan mobil ini tetap di sini."
Toni menatap lekat wajah Awan. Sejatinya, ada rasa iba kepada lelaki di hadapannya ini. Namun mau bagaimana lagi. Ia hanya menjalankan prosedur yang telah ditetapkan.
"Sekali lagi saya mohon maaf tidak bisa melakukannya Pak. Ini semua sudah menjadi prosedur yang berlaku."
"Tapi Mas...."
"Sudah Pak, saya tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi karena masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan. Sekarang, berikan kunci mobil beserta STNK nya Pak. Saya harus segera melanjutkan pekerjaan saya," tembak Toni yang langsung pada poin utamanya. Lelaki itu tidak ingin mengulur-ulur waktu lagi.
Awan mengusap wajahnya kasar. Apa yang ia upayakan ternyata tidak membuahkan hasil. Toni tetap bersikukuh menarik mobil yang ia beli secara kredit.
Awan beranjak dari posisi duduknya. Ia ayunkan tungkai kaki untuk menuju sebuah rak yang berada di ruang tengah. Ia ambil kunci mobil lengkap beserta STNK nya.
Toni menganggukkan kepala. "Silakan diambil sampai batas waktu yang sudah menjadi ketentuan Pak. Saya permisi dan terima kasih banyak atas kerjasamanya."
Toni melenggang pergi meninggalkan kediaman Awan. Pastinya dengan membawa mobil Civic Turbo yang dibeli oleh Awan secara kredit. Kepergian lelaki itu menyisakan Awan yang hanya berdiri terpaku dan membeku. Entah apa yang ada di dalam kepala lelaki itu.
***
"Kamu jahat Mas, mengapa kamu membiarkan mobilku ditarik oleh leasing? Kamu sungguh keterlaluan!"
Mega berteriak lantang sembari memalingkan wajah dari tatapan mata Awan. Wanita itu lebih memilih untuk fokus melihat ke arah luar jendela dibandingkan dengan menautkan pandangannya ke arah sang suami. Apa yang terjadi di hari ini kembali membuatnya merasa kesal sendiri.
Awan menarik udara dalam-dalam dan ia hembuskan pelan. Dalam situasi seperti ini, ia harus ekstra sabar untuk menghadapi emosi sang istri yang tiada terkendali. Awan melangkahkan kaki, mendekat ke arah Mega. Namun di luar dugaan jika Mega justru menghindar dari Awan. Wanita itu memilih untuk duduk di tepian ranjang.
"Han ... Please, dengarkan aku bicara!" pinta Awan sedikit memelas. Lelaki itupun tidak menyerah untuk mendekat ke arah sang istri berada.
"Pokoknya aku tidak mau tahu Mas. Aku ingin mobil itu bisa kembali. Tidak peduli bagaimana caranya!" teriak Mega masih dengan memalingkan wajah. Dada wanita itu masih nampak naik turun sebagai salah satu bentuk ekspresi kemarahannya.
__ADS_1
"Iya Han, iya. Ini aku sedang mencoba untuk mencari cara agar bisa melunasi tunggakan kita. Kamu yang tenang ya," ucap Awan dengan lirih.
"Ini semua salahmu Mas. Mengapa dulu kamu tidak membelikanku mobil secara cash? Malah memilih untuk kredit. Jika seperti ini, aku juga kan yang susah. Belum ada satu tahun aku memiliki mobil itu, eh malah sudah ditarik lagi."
"Sudahlah Han, jangan saling menyalahkan seperti itu. Saat ini yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya untuk bisa keluar dari situasi ini." Awan mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Melihat rumah ini, tiba-tiba ada sebuah ide yang cukup cemerlang di dalam otaknya. "Kalau kita jual rumah ini bagaimana, Han?"
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Awan memaksa Mega untuk melabuhkan pandangannya ke arah sang suami. Kedua bola mata wanita itu membulat penuh dengan bibir yang menganga.
"Apa kamu bilang Mas? Setelah mobil milikku ditarik oleh leasing, sekarang kamu memiliki ide untuk menjual rumah ini? Bisa-bisanya kamu memiliki pemikiran seperti itu. Aku ini baru saja akan merasakan menjadi orang kaya Mas. Masa tiba-tiba hancur begitu saja!"
Mega bersuara dengan intonasi tinggi. Amarah yang belum padam karena mobil ditarik oleh leasing, kini seakan kembali terpantik dan membuat kobaran yang semakin besar.
"Han, dengarkan penjelasan dariku dulu. Jangan kamu emosi seperti ini!"
"Bagaimana aku tidak emosi Mas? Ide kamu itu sangat konyol. Kalau rumah ini kita jual, lalu kita mau tinggal di mana?" protes Mega masih dengan suara lantang.
"Jadi gini Han, kita jual rumah ini lalu untuk membeli rumah yang jauh lebih kecil yang harganya mungkin setengah dari harga rumah ini. Dan sisanya bisa kita gunakan untuk menutup tunggakan kita."
"Pindah ke rumah yang lebih kecil?" tanya Mega seakan tiada percaya. "Derita macam apa lagi yang kamu tawarkan kepadaku Mas?"
"Lalu kita harus bagaimana Han? Saat ini pikiranku benar-benar buntu. Bahkan bukan hanya pikiran tapi jalan yang kita hadapi juga buntu."
Mega terdiam dan membisu. Baru pertama kali menghadapi realita seperti ini juga hanya membuatnya tak dapat melakukan apa-apa.
"Daripada dijual, lebih baik gadaikan saja sertifikat rumah ini Wan!"
Suara Kardi yang tiba-tiba merembet masuk ke dalam indera pendengaran, membuat Mega dan Awan sama-sama memikirkan apa yang menjadi usulan lelaki paruh baya itu.
.
.
.
__ADS_1