
Dua bulan kemudian....
Kalimantan....
Lantunan Kalamullah terdengar begitu nyaring menghiasi kediaman Candra. Malam ini di kediaman lelaki paruh baya itu akan diadakan acara pengajian menjelang pernikahan. Esok hari, akad nikah Cahya dengan Langit akan dilangsungkan. Dan malam ini, keluarga Cahya menggelar acara pengajian untuk menyambut datangnya hari esok. Bersama-sama memanjatkan pinta, agar acara esok hari berjalan dengan lancar tanpa halangan satu apapun.
Sebuah tenda telah terpasang di depan rumah Cahya. Tenda ini bukan untuk acara akad maupun resepsi. Karena nantinya akad nikah akan dilangsungkan di sebuah masjid yang tak jauh dari rumah Cahya dan untuk resepsi sendiri akan diadakan di ballroom salah satu hotel ternama di kota ini. Para tetangga mulai berbondong-bondong datang menghadiri acara pengajian. Wajah mereka nampak berbinar seolah menjadi tanda mereka ikut berbahagia atas kebahagiaan yang saat ini tengah Cahya rasakan.
Air mata Cahya tiada henti mengalir saat mendengar wejangan-wejangan yang dituturkan oleh seorang ustadz yang mengisi acara malam hari ini. Kegagalannya dalam mempertahankan biduk rumah tangga seakan masih menjadi bayang-bayang kelam dalam langkah kakinya. Namun, berkat dukungan dan motivasi dari seluruh keluarga, terutama Langit yang selalu bisa membuatnya percaya, Cahya memberanikan diri dan memantapkan hati untuk menerima niat baiknya.
Setelah dua bulan mencoba untuk mempersiapkan hati dan juga mental, akhirnya esok akan datang juga di mana esok merupakan pernikahan kedua bagi Cahya. Tiada henti wanita itu melangitkan sebuah pinta, semoga pernikahannya esok hari merupakan pernikahan terakhir untuknya.
Bintari yang saat ini duduk di samping Cahya menggenggam erat tangan sang anak. Ia juga ikut merasakan keharuan yang luar biasa. Esok, untuk kedua kalinya, ia melepaskan sang anak untuk dipersunting oleh seorang lelaki.
"Percayalah Ay, nak Langit adalah lelaki terbaik yang telah dipilihkan oleh Allah untuk menjadi pelabuhan terakhirmu. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Nak!"
Tak jauh berbeda dari Cahya, Bintari juga turut berurai air mata. Hatinya seakan juga merasa sesak saat mengingat jalan hidup putri bungsunya yang tertulis di goresan takdir. Menghadapi perselingkuhan sang suami yang sangat ia cintai sampai melawan restu sang ayah hingga berakhir pada perceraian.
Dan yang lebih menyayat hati, sebagai seorang ibu, ia tidak hadir menemani sang anak di kala menghadapi segala ujian yang menimpanya. Namun, tidak ada yang perlu disesali karena semua sudah menjadi jalan takdir dari Yang Maha Kuasa.
Cahya mengusap air matanya. "Aamiin... Terimakasih banyak, Ibu."
"Bunda, Bunda, besok Malika sudah bisa bobok sama ayah Langit ya?"
"Bukan sama Adek saja, Kakak juga mau bobok sama ayah Langit. Boleh kan Bun?"
__ADS_1
Celotehan polos Alina dan Malika memaksa Cahya untuk menyinggungkan senyum di bibirnya. Ia baru sadar, ternyata kedua putrinya begitu mencintai calon ayah sambungnya ini.
Bagaimana tidak mencintai Langit, jika hampir setiap hari Langit selalu menyempatkan diri untuk datang ke rumah. Membelikan hadiah-hadiah kecil yang membuat hati kedua putri Cahya tersenyum bahagia. Bahkan lelaki itu seringkali menggantikan posisi Cahya untuk menjemput kedua putrinya di kala Cahya sedang sibuk dalam pekerjaan.
Ya, Alina dan Malika tetaplah anak kecil yang masih sangat mendambakan kasih sayang dari sosok seorang ayah. Maka tidak heran jika sedari kemarin, mereka sudah sangat tidak sabar untuk bisa tidur bersama Langit.
"Iya Sayang. Mulai besok Kakak dan Adek sudah bisa bobok dengan ayah Langit."
"Asyiiikkk.... Itu artinya setiap malam Alina dan Adek boboknya sama ayah Langit ya Bun?"
Cahya terkekeh. "Tentu Sayang, kalian setiap malam boleh bobok sama ayah Langit."
Angkasa yang mendengar jawaban sang adik menjadi was-was seketika. Dengan jawaban yang dilontarkan oleh Cahya seakan menghalangi janji yang sudah ia ucapkan kepada Langit bahwa ia bisa menjamin malam pertama mereka akan berjalan sempurna.
"Eitss ... keponakan Om yang cantik-cantik ini boboknya sama om Angkasa saja ya. Nanti kalau kalian boboknya sama ayah Langit, kalian tidak bisa segera mendapatkan adik kecil," ucap Angkasa ikut menimpali ucapan Cahya dengan seringai bercanda. Sembari berdoa agar caranya ini berhasil.
Alina dan Malika terlihat pias. Keduanya saling berpandangan.
Cahya tertawa renyah. "Iya Sayang, iya!"
Hati Cahya menghangat. Melihat kedua buah hatinya bisa tertawa bahagia seperti ini sudah menjadi sesuatu yang paling ia syukuri.
Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, Mas Langit. Kehadiranmu membawa kebahagiaan untuk kami semua.
***
Langit berdiri di balik jendela sembari mendongakkan wajah. Nampak permadani malam begitu terang dengan cahaya lembut sang bulan dan juga kerlip bintang. Gugusan langit itu seakan turut berbahagia menyambut hari esok di mana ia akan menjemput kebahagiannya.
__ADS_1
"Belum tidur Lang?"
Suara lembut yang bersumber dari belakang punggung, membuat Langit terhenyak. Terlihat sang mama memasuki kamar.
"Aku tidak bisa tidur Ma. Sejak tadi mencoba untuk memejamkan mata tapi tetap tidak bisa."
Wulan hanya bisa tersenyum. Ia dekati sang anak dan berdiri di sampingnya. Wanita paruh baya itu juga ikut mendongak ke atas melihat betapa besar ciptaan Allah yang terlukis di hamparan langit malamnya.
"Akhirnya besok kamu akan melepas masa lajangmu, Lang. Bagaimana? Apa kamu merasa gugup?"
"Jelas gugup Ma. Aku akan menikahi seorang wanita yang pernah gagal dalam berumah tangga. Aku khawatir jika kehadiranku tidak bisa sepenuhnya membuat Aya bahagia."
Tak dapat dipungkiri jika di dalam hati Langit masih terbesit setitik perasaan takut. Yang ia takutkan apabila nantinya akan sikap atau perilakunya yang mengecewakan Cahya atau hanya sekedar mengingatkannya pada penghianatan mantan suaminya.
"Kamu tidak perlu merasa cemas seperti itu Lang. Pasrahkan semua kepada Allah dan niatkan pernikahanmu ini untuk beribadah kepada Allah, niscaya kamu akan senantiasa merasa tenang."
"InshaAllah Ma."
"Esok, kamu akan menikahi seorang wanita yang pernah tertikam luka di masa lalunya. Mama lihat hati Aya masih belum sembuh seutuhnya, masih ada satu trauma yang coba untuk ia lawan. Mama harap kamu bisa selalu sabar dalam mendampingi Aya untuk sembuh dari traumanya. Buktikan kepada Aya bahwa dia masih berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Dengan mendapatkan cinta yang tulus dari seorang pria."
"Itu sudah pasti Ma. Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi sosok seorang suami yang terbaik untuknya."
Wulan tersenyum simpul. Ia condongkan tubuhnya ke arah sang putra. Ia tepuk-tepuk pundak putranya ini dengan lembut.
"Lalaki itu yang dipegang adalah ucapannya. Buktikan kepada Cahya dan keluarganya bahwa kamu memang lelaki bertanggung jawab yang akan senantiasa berkomitmen menjaga janji yang sudah kamu ikrarkan. Ingat Lang, ikrar yang akan kamu ucapkan besok merupakan perjanjian yang berat. Karena kamu tidak hanya berjanji di depan penghulu, wali dan saksi. Melainkan di hadapan Allah dan juga malaikat-malaikatNya."
.
__ADS_1
.
.