Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 125. Sosok di Belakang Mentari


__ADS_3


"Pak Awan, kami pulang dulu ya!"


"Oh iya, hati-hati ya semua!"


Satu persatu para karyawan meninggalkan outlet milik Awan. Jarum jam menunjukkan tepat pukul sepuluh, itu artinya para karyawan sudah harus menyudahi pekerjaan mereka di hari ini.


"Ke mana Mentari? Mengapa sejak siang tadi dia tidak kembali? Bahkan nomor ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Jangan-jangan ada hal buruk yang terjadi."


Awan mengedarkan pandangannya ke arah luar di mana hanya ada suasana gelap yang tercipta. Hembusan angin pun terasa begitu kencang sampai menembus tulang yang membuat penduduk bumi memilih untuk mendekam di bawah selimut tebal.


Jika orang-orang memilih untuk berdiam diri di kamar, namun tidak untuk Awan. Sejak tadi ia menanti kepulangan Mentari di mana sampai saat ini, wanita itu tidak menunjukkan batang hidungnya. Rasa cemas itu kian mendera jika sampai terjadi sesuatu buruk yang menimpa calon istrinya.


"Mana hari ini sepi pengunjung lagi. Aahhhhh, semua benar-benar membuatku frustrasi."


Awan semakin dibuat pusing dengan omset di hari ini. Jika biasanya bisa tembus sampai lima belas juta, namun hari ini hanya tembus tiga juta. Separuhnya saja tidak tembus. Berharap Mentari ada di sini untuk bisa menjadi teman berbagi. Namun wanita itu justru tak pulang-pulang sejak kepergiannya siang tadi.


Kepala Awan terasa begitu berat. Ia pun bangkit dari posisinya dan memilih untuk masuk ke ruang pribadinya. Bahkan ia tidak bisa ke mana-mana, karena mobil yang biasa ia pakai, dibawa oleh Mentari.


***


Mentari menghentikan laju mobilnya tepat di halaman sebuah rumah yang lumayan besar. Rumah dengan desain minimalis namun tidak meninggalkan kesan mewah. Di sisi kiri halaman ini terdapat sebuah taman yang cukup asri. Juga terdapat sebuah kolam yang di huni oleh beraneka warna ikan koi.


Mentari tersenyum simpul melihat sosok lelaki yang sedang berdiri di tepian kolam ikan. Lelaki itu terlihat sedang memberi makan ikan-ikan peliharaannya, di mana hal itu terkesan lucu di mata Mentari sendiri.


Aneh, malam-malam seperti ini kan waktunya ikan-ikan itu tidur. Masa iya dikasih makan? Sungguh di luar nalar pak Boss yang satu ini.


"Jangan lagi protes akan kebiasaanku memberi makan ikan malam-malam, Tari! Aku sengaja memberi makan malam-malam agar tubuh ikan-ikan ini cepat gemuk."


Mentari tersenyum kikuk mendengar ucapan sang boss. Sejatinya sudah biasa boss nya ini bisa menebak apa yang ada di dalam batinnya. Untuk awal-awal ia merasa ngeri sendiri tapi setelah sering ditebak seperti ini, ia pun merasa biasa saja.


"Hahahaha .... Maaf Pak Boss. Saya sampai heran ingin ikannya ini gemuk seperti apa lagi sih Pak Boss ini? Padahal ikan-ikan koi ini sudah gemuk-gemuk semua."


"Barangkali bisa sebesar ikan paus!" jawab lelaki itu sembari membalikkan badan. Ia mengayunkan tungkai kaki untuk duduk di bangku taman yang ada di sisi kolam. "Sudah, tidak perlu lagi dibahas perihal ikan-ikan koi ini. Bagaimana misi kita? Sukses?"

__ADS_1


Mentari menganggukkan kepala seraya tersenyum simpul. Ia keluarkan benda pipih dari dalam tasnya. Ia tunjukkan berita perihal razia.


"Saya tidak perlu capek-capek mengotori tanganku saya untuk membuat bangkrut usaha Awan, Pak. Karena dengan adanya berita ini, saya yakin usaha Awan akan hancur dengan sendirinya."


Lelaki itu membaca dengan seksama apa yang ditunjukkan oleh Tari. Ia pun juga hanya bisa berdecak lirih.


"Lagi-lagi perihal s e l a n g k a n g a n. Astaghfirullahal adziimm, aku tidak menyangka jika kehidupan lelaki itu hanya seputar s-e-x."


"Itu sudah bisa dipastikan Pak karena biasanya kaum lelaki itu tidak bisa lepas dari yang namanya s-e-x."


"Ckckckck... Nyatanya aku tidak. Bahkan sampai saat ini, aku masih tetap bisa menjaga kehormatanku sebagai seorang lajang," sanggah lelaki itu.


"Ya kalau itu pasti beda Pak. Kan Bapak sukanya sama sejenis. Hahahaha!"


Kedua bola mata lelaki itu melotot. Meskipun ucapan Mentari terkesan mengejek namun sama sekali ia tidak merasa sakit hati. Karena memang seperti inilah gaya bergaul Mentari.


"Kamu ini berani-beraninya menghina boss-mu sendiri. Apa kamu mau tidak aku gaji?"


"Eh, tidak bisa begitu Pak. Saya sudah berkorban banyak untuk menjalankan misi ini loh Pak, masak iya Bapak tega tidak menggaji saya?"


Mentari menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Rasa-rasanya ia harus menceritakan semua pengorbanan yang sudah ia lakukan demi menjalankan misi ini.


"Saya sudah berpura-pura terlihat cinta kepada Awan meskipun sebenarnya saya begitu jijik dengan lelaki itu."


"Lalu?"


"Rumah saya ikut menjadi korban karena tiba-tiba dibakar oleh seseorang yang entah siapa. Tapi saya merasa itu semua ada hubungannya dengan Awan."


"Lalu, apa lagi?"


"Nah, ini nih Pak, yang merupakan puncak dari pengorbanan saya. Saya mengorbankan harga diri saya untuk mau di sentuh, dicium punggung tangannya, dan di rangkul untuk membuktikan bahwa saya tidak mempermainkan Awan. Bahkan saya sempat hampir disetubuhi oleh lelaki brengsek itu."


Mentari menjeda ucapannya. Begitu menggebu-gebu bercerita tentang semua hal yang terjadi ketika bertemu dengan Awan, wanita itu sampai kehabisan napas. Ia pun meraup sisa-sisa oksigen yang ada di sekeliling untuk kemudian ia lanjutkan lagi ucapannya.


"Padahal sebenarnya saya merasa jijik sekali. Bapak bisa bayangkan kan, bagaimana terinjak-injakknya harga diri saya? Meskipun saya ini janda, tapi saya juga tahu batasannya. Dan yang lebih menakutkan lagi, para pembaca novel ini ikut membenci saya Pak."

__ADS_1


"Hahahaha ... Ternyata pengorbananmu besar juga ya Tar. Baiklah, kalau begitu aku akan tetap menggajumu," ucap lelaki itu dengan gelak tawa yang menggelegar. "Apa kamu sudah berhasil dengan misi membalas dendam karena dulu kamu pernah dipermalukan oleh Awan di depan umum?"


"Sudah Pak, saya sudah puas dengan meninggalkan Awan saat ini. Saya yakin sekali dia sudah berharap banyak bahwa saya akan menjadi istrinya, tapi pada kenyataannya saya tinggalkan dia. Tapi untuk yang tiga ratus juta itu bagaimana ya Pak? Sebelumnya, saya begitu bernafsu untuk menguras harta Awan, tapi saya merasa berdosa sekali."


"Kamu tenang saja. Uang tiga ratus juta yang diberikan oleh Awan yang katamu untuk renovasi rumah itu sejatinya memang hak-mu."


Mentari terhenyak. "Hak saya? Maksudnya bagaimana Pak?"


"Orang yang membakar rumahmu adalah suruhan Mega di mana dia masih ada hubungannya dengan Awan kan? Jadi anggap saja Mega bertanggung jawab atas perbuatannya dengan menggunakan uang Awan."


"Kok Bapak bisa tahu?"


"Setelah kamu memberi kabar bahwa rumahmu terbakar, aku langsung menemui ketua RT di sana. Aku langsung dihubungkan dengan Pak kepala Dusun yang kemudian memperlihatkan rekaman CCTV di gapura masuk. Dari sana aku bisa melacak nomor plat yang ada di motor pelaku."


"Lalu, Bapak menemui pelaku itu?"


"Ya, aku menggali informasi dari mereka dan mereka mengakui bahwa mereka adalah suruhan Mega."


Mentari mengangguk-anggukkan kepala. Sejatinya, hal ini tidaklah membuatnya terkejut setengah mati. Karena sebelumnya ia sempat berpikir bahwa kebakaran itu masih ada hubungannya dengan Awan.


"Jadi, uang itu halal ya Pak?"


"InshaAllah halal. Karena kamu sudah dirugikan atas kasus pembakaran rumah itu. Lalu, bagaimana dengan misiku?"


"Jelas berhasil dong Pak." Mentari mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia serahkan langsung kepada lelaki ini. "Ini BPKB mobilnya, Pak. Baru kemarin Awan membalik nama menjadi atas nama saya. Nanti jika ingin diganti, tinggal di balik nama lagi."


Lelaki itu meraih BPKB mobil yang diserahkan oleh Mentari kemudian ia tatap lekat mobil CIVIC Turbo warna putih yang terparkir di halaman dan senyum itupun terbit di bibir lelaki itu.


"Terima kasih, Tari. Melalui kerja kerasmu, aku bisa mendapatkan mobil itu untuk aku berikan kepada yang berhak menikmatinya. Karena sejatinya, mobil itu tidak pernah berhak dimiliki oleh siapapun kecuali, adik dan juga dua keponakanku. Karena saat itu Awan membeli mobil itu tanpa sepengetahuan adikku, Cahya."


.


.


.

__ADS_1


Hwaaaaaaaa ..... Ternyata Mentari kongkalikong sama Angkasa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 hayoloooohhh, kalau seperti ini jadi benci sama Mentari nggak?🤣🤣🤣 penasaran bagaimana bisa Mentari kongkalikong sama Angkasa? Nanti saya spill sedikit ya kak... 😘😘


__ADS_2