Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 121. Masuk ke Dalam Perangkap


__ADS_3


"Oke cukup sekian briefing pagi hari ini dan semangat!"


"Semangat!!!!"


Wajah Mentari berbinar terang di hadapan tim yang sudah siap untuk membuka outlet di pagi hari ini. Meskipun semalam ada kejadian yang membuatnya shock dan juga gundah gulana, namun ia harus tetap tersenyum manis di hadapan para karyawan. Ia tidak ingin menampakkan kesedihan yang mungkin bisa berakibat buruk untuk tim yang bekerja di pagi hari ini.


Mentari mengayunkan tungkai kaki menuju sebuah kursi yang ada di sudut ruangan. Ia buka laptop miliknya dan segera berselancar di dunia maya. Melihat media sosial resto yang semakin hari semakin bertambah followers nya. Tak lupa, ia posting beberapa foto sebagai materi untuk promosi.


Perhatian Mentari terpecah kala ekor matanya menangkap bayangan sebuah mobil warna putih yang berhenti di tempat parkir. Ia pandang seseorang yang baru saja keluar dari mobil itu dengan pandangan yang menunjukkan keterkejutan.


Mentari yang baru saja berselancar di dunia maya, seketika ia lupakan aktivitasnya itu kala melihat Awan yang memasuki area dalam resto. Ia berjalan menghampiri Awan, memastikan bahwa yang ia lihat memang benar adanya.


"Ya ampun Wan .... Wajahmu mengapa lebam-lebam seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Mentari dibuat terkejut setengah mati akan kondisi wajah Awan yang sudah babak belur di penuhi oleh lebam. Lelaki ini persis seperti seorang pencuri yang kepergok warga kemudian dihakimi secara brutal. Bahkan tidak hanya dirinya saja, para karyawan pun juga menatap penuh tanda tanya akan apa yang menimpa pemilik resto ini.


Awan hanya bisa meringis sembari merintih merasakan tiap sudut wajahnya yang berdenyut nyeri.


"Nanti aku ceritakan Tar. Sekarang tolong obati lukaku ini dulu."


"Oke, oke, sekarang kita ke dalam. Akan aku obati lukamu itu."


Mentari menutup kembali laptop miliknya untuk ia bawa ke ruang pribadi Awan. Setelah itu ia mengambil baskom yang berisikan es batu dan juga serbet, untuk mengompres luka lelaki ini.


"Apa yang terjadi Wan? Kok bisa sampai lebam-lebam seperti ini?"


Mentari mulai mengompres wajah Awan dengan serbet yang berisikan es batu. Wanita itu nampak begitu telaten untuk mengobati luka lekaki yang tengah babak belur ini.


"Aku dihajar habis-habisan oleh mantan mertuaku Tar. Dia tidak terima anaknya aku ceraikan. Akhirnya dia murka dan mengajarkanku seperti ini."


Awan harus sedikit memutar balikkan fakta yang sebenarnya. Ia harus terlihat menjadi sosok seseorang yang tidak bersalah di hadapan Mentari agar wanita ini iba terhadapnya. Padahal sejatinya Awan dihajar habis-habisan oleh Kardi karena lelaki itu telah menginjak harga diri sang mantan mertua dan juga mantan istrinya.


"Apa? Kamu sudah menceraikan istrimu Wan? Itu serius?" tanya Mentari sedikit terkejut sembari masih fokus pada luka lebam Awan.


Awan menganggukkan kepala untuk meyakinkan Mentari. "Serius Tar, aku sudah menceraikan dan mengusir mereka dari rumahku. Bahkan saat ini mereka sudah pergi tanpa membawa apapun selain hanya pakaian saja."


"Mengapa semua serba mendadak seperti ini Wan?"


"Tidak ada istilah mendadak Tar, karena sudah sejak beberapa bulan yang lalu aku dibuat mati rasa oleh sikap Mega. Selain itu, dia ternyata juga menggunakan susuk pemikat untuk menjeraratku."

__ADS_1


Dahi Mentari mengernyit. Pembahasan perihal susuk, sepertinya begitu menarik untuk ia dengarkan.


"Susuk? Susuk apa lagi maksudnya?"


"Ya, seperti yang aku ceritakan bahwa Mega memasang susuk untuk mengikat dan membuatku lupa pada anak dan istriku dulu."


Halaahhh .... Kamu itu juga sama saja Wan. Sama-sama diperbudak oleh nafsu. Makan tuh nasibmu yang gagal lagi dalam membina keluarga. Kayak gini kok mau jadi suamiku. Ogah sekali aku.


"Masa sih Wan? Masa Mega sampai pasang susuk segala? Bukankah wajahnya juga sudah cantik?"


"Bisa cantik karena susuk itu Tar dan sekarang dia sudah menerima resikonya. Wajah Mega rusak parah setelah memakan buah pisang yang menjadi pantangan. Oleh karena itu aku langsung menceraikannya."


"Ya ampun, sampai seperti itu Wan? Kasihan sekali ya dia?" pekik Tari dengan raut wajah yang terlihat sendu menampakkan keprihatinannya.


"Untuk apa dikasihani Tar? Dia sudah mendapatkan balasan dari perbuatannya. Sudahlah, aku tidak mau membahas dia lagi. Karena sekarang ada yang lebih penting lagi untuk kita bahas."


Ckkckkckkkk... Lelaki ini benar-benar tidak sadar diri. Memang hanya Mega saja yang pantas menerima balasan dari perbuatannya? Kamu juga kali Wan. Tinggal tunggu waktu saja. Kalau aku tidak sedang menjalankan misi untuk menghancurkanmu, akupun tidak sudi untuk menjalin hubungan denganmu seperti ini. Mana sekarang rumahku yang juga menjadi korban. Haduuhhhhh .... Rasanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikan misi balas dendam ini.


"Memang apa yang harus kita bahas sekarang Wan?"


"Tentang kita," jawab Awan singkat, padat dan lugas.


Awan tersenyum penuh arti. Ternyata Mentari lah yang menjadi penawar luka lebam dan juga luka di hati setelah bercerai. Ia raih telapak tangan Mentari dan seketika membuang serbet berisikan es batu yang masih berada di genggaman tangan.


Awan mengecup buku-buku jemari Mentari dengan intens. Kemudian ia letakkan telapak tangan itu di wajahnya yang seketika membuat kesan lembut kian terasa.


"Aku sudah bercerai Tar, itu artinya kita bisa segera menikah. Aku sudah tidak sabar untuk segera menikahimu."


Mentari hanya tersenyum tipis. Ia sungguh heran, lelaki macam apa Awan ini karena di benaknya hanya ada kawin, kawin, kawin. Padahal perkawinannya tidak ada yang langgeng sama sekali. Siapapun pasti akan berpikir seribu kali untuk menerima seorang laki-laki yang gagal dalam mempertahankan rumah tangganya seperti Awan ini. Tari sampai heran sendiri, ternyata lelaki yang pernah ia kejar-kejar cintanya di masa SMA adalah lelaki dengan perangai buruk sekali.


"Sabar Wan. Semua ada alurnya. Sebelum tiba hari di mana aku menjadi istrimu, aku ingin meminta pembuktian dulu bahwa kamu benar-benar mencintaiku."


Awan memandang teduh dua bola mata milik Mentari. Ia belai lembut pipi wanita yang terlihat begitu memesona di hadapannya ini.


"Pembuktian seperti apa yang kamu inginkan Tari? Katakan, kamu ingin apa? Aku pasti akan mengabulkannya."


Mentari terlihat sejenak berpikir. Ia memutar kedua bola matanya seakan kebingungan untuk mencari cara pembuktiannya. Namun tiba-tiba, muncul sebuah ide yang cukup cemerlang di dalam otaknya.


"Kamu berencana merenovasi rumahku kan Wan?"


"Hehem, aku memang sedang mencari tukang untuk merenovasi rumahmu. Memang kenapa Tar?"

__ADS_1


"Begini saja, semua kebutuhan renovasi rumah, serahkan kepadaku saja Wan. Mulai dari tukang dan semua biayanya. Nanti biarkan aku yang mengurus semua."


"Yakin kamu mau mengurus semua sendiri Tar? Apa tidak repot?"


"Iya Wan, aku yakin. Aku akan mengurus semua sendiri. Kamu tinggal transfer aku uang saja untuk membiayai seluruh keperluan renovasi."


Tanpa banyak berpikir, Awan langsung menyetujui permintaan Mentari. "Baiklah, aku rasa tiga ratus juta cukup untuk merenovasi rumahmu. Nanti, temani aku ke bank untuk mengambil uang. Setelah itu akan aku serahkan ke kamu."


Mentari tertawa girang mendengar jawaban dari lelaki yang ia anggap bodoh ini. "Terima kasih banyak Wan."


"Sama-sama Tari. Lalu, kamu mau apa lagi?"


Lagi, Tari terlihat sejenak berpikir. Hingga ia pun kembali mendapatkan ide untuk menguras kekayaan lelaki ini.


"Aku lihat mobilmu itu sangat mewah, Wan. Apa boleh jika mobil itu kamu berikan kepadaku?"


"Serius kamu hanya ingin mobil itu Tar? Apa tidak mau mobil baru saja? Nanti biar aku belikan?"


"Hmmmmmmm ... Tidak perlu Wan. Profit di resto belum terlalu banyak yang terkumpul kan? Jadi biarkan mobilmu itu yang aku minta. Itupun kalau boleh sih. Kalau boleh aku pasti akan senang sekali. Tapi kalaupun tidak boleh ya it's oke."


"Tentu saja boleh Tari. Nanti akan aku urus balik nama BPKB mobil itu. Akan aku ganti menjadi namamu."


"Waahhhh .... Terima kasih banyak Wan. Belum menjadi istrimu saja aku sudah sebahagia ini. Bagaimana kalau sudah menjadi istrimu."


"Aku pastikan kamu akan semakin bahagia Tari."


Awan mendorong tubuh Mentari hingga tubuh wanita itu setengah terlentang di atas sofa. Tangannya pun perlahan mulai merangkak naik hingga ke bagian dada. Namun sebelum tangan lelaki itu menyentuh dua benda sintal milik Mentari tiba-tiba..


Dug!!! !! !


"Aaahhhhhhhh!"


Awan memekik kesakitan kala benda pusaka miliknya di sepak oleh Mentari. Lelaki itu kemudian beringsut mundur. Menjauhkan tubuhnya dari tubuh Tari.


"Upppssss maaf ya Wan. Aku tidak terbiasa diperlakukan intim seperti itu kecuali oleh mendiang suamiku. Jadi aku minta, kamu jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi sebelum aku sah menjadi istrimu!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2