
"Sehat-sehat ya kalian. Karena hanya kalian lah yang aku miliki di dunia ini!"
Lastri masuk ke kandang ayam miliknya yang berada di belakang rumah. Dengan telaten, wanita paruh baya itu memberi makan ayam-ayam peliharaannya di pagi hari seperti ini. Biasanya rutinitas seperti ini ia lakukan sehari dua kali, yakni di waktu pagi dan sore hari.
Lastri tersenyum lebar kala melihat ayam-ayam peliharaannya tumbuh sehat dan gemuk-gemuk seperti ini. Ia yakin jika suatu hari nanti, ia bisa menjadi juragan ayam yang cukup besar di kampungnya.
"Haah .... Ternyata hidup sendiri seperti ini tidak se mengerikan apa yang aku bayangkan. Aku justru jauh lebih merasa tenang dan damai dalam menjalani hidup. Bahkan sejak aku memilih untuk hidup sendiri, selalu saja ada rezeki yang menghampiri. Dengan rezeki itu, alhamdulillah aku bisa membeli ayam untuk aku pelihara seperti ini dan hasilnya pun lumayan baik."
Tatapan mata Lastri seakan menerawang. Tiada henti wanita itu mengucapkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Setelah mengalami hal yang ia anggap begitu menyakitkan, namun ternyata Allah menitipkan kebahagiaan lain untuknya.
"Rezeki yang halal ternyata jauh lebih berkah daripada rezeki yang didapatkan dengan jalan tidak baik."
Lastri mulai mengayunkan tungkai kakinya. Ia masuk ke dapur melalui pintu belakang. Setelah ini wanita itu akan ke sawah untuk menggarap lahan milik tetangga yang diburuhkan kepadanya.
Tok... Tok... Tok...
Lastri yang hendak mengambil gelas berisikan teh hangat, ia urungkan niatannya itu kala terdengar suara ketukan pintu dari arah depan. Gegas wanita paruh baya itu ke depan untuk melihat siapa gerangan yang datang.
Tangan Lastri meraih tuas pintu dan...
"Kalian!"
"Ibu.... maafkan aku!!!"
Tubuh Lastri terhenyak seketika kala netranya menatap raga dua orang yang sudah lama tidak ia temui. Dua orang yang terakhir kali bertemu dengannya hanya menyisakan luka hati yang sungguh dalam.
"Untuk apa kamu pulang? Apa kamu sudah menerima segala balasan atas apa yang sudah kamu lakukan?"
"Ibu.... Maafkan aku... karena tidak pernah mendengarkan kata-kata Ibu. Aku sudah menanggung semuanya Bu..."
Mega menangis tergugu di bawah telapak kaki Lastri. Wanita itu seakan menumpahkan semua rasa sesal, rasa bersalah dan dosa-dosa yang ia tanggung akibat durhaka kepada sang ibu.
"Cih .... semua sudah terlambat. Kamu ingat, bagaimana saat itu kamu memperlakukanku dan membangkang semua ucapanku? Kamu terlalu jumawa dengan apa yang sudah kamu miliki. Padahal semua yang kamu miliki adalah hasil rampasan dari merebut milik wanita lain. Namun kamu tetap bangga dengan apa yang kamu dapatkan itu!"
"I-iya Bu .... Aku berdosa dan bersalah. Maafkan aku Bu.. Maafkan aku..."
__ADS_1
Lastri nampak terdiam tak menanggapi lagi ucapan Mega. Bak seperti ditaburi oleh garam, luka hati wanita paruh baya itu kembali terasa begitu perih setelah sekian waktu berhasil ia sembuhkan. Apa yang telah dilakukan oleh sang anak, sungguh telah meremukkan hati serta batinnya.
"Bu, maafkanlah Mega. Saat ini dia sudah menerima balasan dari apa yang sudah ia lakukan. Dan dia masih berhak untuk memperbaiki diri," ucap Kardi ikut membuat sebuah permohonan kepada Lastri. "Bapak juga minta maaf karena dulu Bapak dibutakan oleh materi, sehingga Bapak tidak bisa mengarahkan Mega ke jalan yang benar. Maafkan Bapak juga Bu.."
"Kalian berdua saja, tidak ada bedanya. Sama-sama pemuja harta. Sekarang rasakan apa yang sudah menjadi konsekuensinya. Sakit di hatiku akibat perilaku kalian terlalu dalam. Sampai kapanpun tidak akan pernah aku maafkan!"
Lastri menjejakkan kakinya hingga membuat Mega sedikit terhuyung ke belakang. Cepat-cepat Kardi menahan tangan sang istri dan memegangnya kuat-kuat.
"Lepaskan tanganku, Pak! Bapak tidak berhak menahanku seperti ini. Silakan terima segala resiko yang memang harus kalian tanggung. Jangan bawa-bawa aku!"
"Bu.... Aku mohon, tolong ampuni kami. Kami memang bersalah karena tidak mendengarkan semua perkataanmu. Tapi sekarang kami sudah menerima akibatnya, Bu."
"Itu urusanmu Pak. Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai, jadi aku tidak mau tahu akan apa yang sedang Bapak dan anak durhaka itu alami!"
"Bu, tolong! Lihatlah keadaan Mega saat ini Bu. Dia dalam keadaan hamil dan dicampakkan oleh suaminya. Wajahnya pun juga sudah rusak karena susuk yang ia pasang. Saat ini dia tidak memiliki tempat untuk pulang kecuali kita sebagai orang tuanya Bu. Seburuk apapun Mega, dia masih pantas untuk berbenah dan memperbaiki diri."
"Hatiku sudah terlanjur sakit Pak. Perlakuan Mega sungguh tidak bisa aku maafkan. Dia sudah keterlaluan kepadaku!"
"Baiklah, tidak masalah jika Ibu masih belum bisa memaafkan Mega. Tapi tolong izinkan Mega untuk tinggal di sini Bu. Lihatlah keadaan Mega saat ini Bu. Dia sudah tidak punya tempat untuk pulang."
Lastri menghembuskan napas kasar sembari membuang muka di hadapan Mega. Ia masih enggan untuk menatap wajah sang anak yang masih bersimpuh di atas lantai ini.
"Baiklah. Aku izinkan dia untuk tinggal di sini. Tapi ingat, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah memaafkan anak durhaka ini!"
Merasa tak ada lagi yang ingin disampaikan, Lastri bergegas kembali masuk ke dalam rumah. Wanita itu bersiap diri untuk segera pergi ke sawah, menggarap sawah milik tetangga. Sedangkan Kardi, lelaki itu sedikit membungkukkan tubuhnya untuk membantu sang anak berdiri.
"Sudah, jangan menagis lagi. Sekarang, lebih baik kamu masuk ke kamar dan segera istirahat, Meg!"
"T-tapi Ibu....?"
"Percayalah, Ibu pasti akan memaafkanmu. Saat ini dia mungkin masih terkejut karena kepulangan kita yang mendadak. Nanti sembari Bapak usahakan untuk terus membujuk ibumu."
Mega hanya bisa mengangguk pasrah. Kali ini tidak ada yang bisa lakukan selain menurut akan semua arahan dari sang Bapak. Hidupnya sudah tidak lagi memiliki arah dan tujuan, selain pulang ke rumah ini.
Dengan dipapah oleh Kardi, Mega memasuki rumah, di mana ia dibesarkan. Hatinya mencelos kala teringat berapa besar pengorbanan yang sudah dilakukan oleh ibu dan bapaknya namun justru ia balas dengan kedurhakaan.
Ya Allah .... Ampuni aku. Aku sungguh hina di hadapanMu ya Allah. Sepertinya aku memang tidak pantas untuk berada di dunia ini.
__ADS_1
****
Tok.... Tok.... Tok...
"Bu Lastri.... Bu Lastri!"
Suara ketukan pintu dan seseorang yang memanggil-manggil nama sang ibu membuat mata Mega yang sebelumnya terkatup seketika terbuka. Ia mengerjapkan mata dan berusaha untuk meraih kesadarannya.
Merasa tidak ada respon dari sang ibu, Mega turun dari ranjang. Ia berjalan menuju ruang depan untuk membukakan pintu.
"Aaaaaaa .. . . Siapa kamu? Mengapa ada orang buruk rupa di rumah bu Lastri!"
Sulis, wanita berusia tiga puluh lima tahun itu berteriak histeris saat melihat sosok wanita buruk rupa yang membukakan pintu. Ia bergidik ngeri melihat wajah yang dipenuhi oleh nanah seperti ini.
"Bu Sulis ....Saya Mega, Bu. Saya anak bu Lastri."
"Mega?" tanya Sulis dengan kernyitan di dahi. "Ya Allah Mega .... Kenapa wajahmu jadi menjijikkan seperti ini? Kamu terkena penyakit apa?"
Sulis menutupi hidung dan mulutnya menggunakan telapak tangan. Wanita itu seakan menahan untuk tidak muntah di depan tetangganya ini. Karena sungguh, di mata Sulis, wajah Mega begitu menjijikkan."
Mega sedikit keki mendengar pertanyaan Sulis. Ia merutuki dirinya sendiri karena lupa memakai cadar untuk bisa menutupi wajahnya yang sudah hancur ini.
"S-saya tidak terkena penyakit apapun Bu. Saya hanya salah menggunakan perawatan wajah, jadi akibatnya seperti ini," dusta Mega. Ia tidak ingin ada satupun yang tahu bahwa wajahnya yang rusak ini karena susuk yang ia pakai.
"Aaahhhh, mana mungkin karena salah perawatan wajah. Kamu pasti terkena penyakit," timpal Sulis yang kekeuh akan argumentasinya.
"Sungguh Bu, saya hanya salah perawatan wajah saja dan tidak terkena penyakit apapun."
Sulis menatap tiada percaya ekspresi Mega yang berdiri di hadapannya ini. Ia terdiam sejenak namun sepersekian detik raut wajahnya seperti orang yang terkejut setengah mati. Wajahnya terperangah dengan bibir menganga lebar.
"Astaghfirullah .... Kamu ini perebut suami orang kan? Jangan-jangan kamu terkena azab karena menjadi pelakor?" pekik Sulis yang seketika juga membuat tubuh Mega terkejut setengah mati.
.
.
.
__ADS_1