Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 75. Sisa Kenangan


__ADS_3


Dari kejauhan, Angkasa melihat Cahya tengah duduk di bangku taman, di bawah pohon mangga yang merupakan tempat favorit sang adik semenjak tinggal di kediamannya. Selepas pulang dari proyek perumahan bersubsidi, lelaki itu mencari-cari keberadaan Cahya. Akhirnya, di tempat inilah ia bisa menemukan wanita itu.


"Kamu sudah mantap untuk pulang ke Kalimantan, Ay? Jika memang masih ragu, ada baiknya kamu urungkan terlebih dahulu niatmu itu."


Angkasa ikut mendaratkan bokongnya di samping Cahya. Lelaki itu juga ikut menikmati suasana siang hari ini sembari merasakan sejuk segar hembusan sang bayu. Bawah pohon mangga yang rindang, seakan menjadi tempat paling pas untuk menikmati siang hari yang cukup terik ini.


Cahya mengangguk pelan tanpa menatap keberadaan sang kakak yang sudah duduk di sampingnya. Pandangannya masih fokus ke arah meskipun terlihat sedikit menerawang.


"Iya Kak, aku sudah mantap untuk kembali ke Kalimantan. Mungkin jauh lebih baik aku membuka lembaran baru kehidupanku di sana. Sembari memperbaiki hubunganku dengan ayah."


Angkasa turut menganggukkan kepala. Sejatinya, Cahya sudah dewasa dan ia pun yakin jika adiknya ini bisa bertanggung jawab atas semua yang sudah menjadi pilihan hidupnya.


"Baiklah, aku hanya bisa terus mendukung apa yang menjadi keputusanmu Ay. Toh urusanmu di Jogja juga sudah selesai semua kan?"


"Betul Kak, untuk semua urusanku di kota ini sudah selesai semua."


"Lantas, untuk semua aset-asetmu yang ada di sini bagaimana?"


"Untuk rumah dan kendaraan sudah aku jual semua dan hasilnya nantinya akan aku gunakan untuk bekal hidup di Kalimantan dan untuk membuka usaha. Sedangkan untuk tanah-tanah yang ada di sini tetap aku biarkan terlebih dahulu sebagai investasi. Barangkali nanti dengan bertambahnya tahun, harga tanah semakin melonjak tinggi."


"Betul Ay, memang seharusnya untuk tanah tetap kamu biarkan saja. Aku yakin tanah-tanah itu nantinya akan semakin bernilai tinggi."


"Sore ini aku akan bertemu dengan pembeli rumah yang aku jual Kak. Untuk pelunasan dan juga serah terima kunci. Jadi, besok atau paling lambat lusa aku sudah bisa terbang ke Kalimantan."


Angkasa tersenyum penuh arti. Ia usap pucuk kepala Cahya yang berbalut hijab ini dengan penuh kasih. "Percayalah semua akan kembali seperti semula, Ay. Kamu wanita kuat dan bisa menghadapi semua liku hidupmu."


Cahya menggelengkan kepala yang membuat Angkasa keheranan. "Aku tidak ingin keadaan kembali seperti semula Kak. Karena keadaan sebelumnya hanya menyisakan luka. Aku ingin keadaanku dan kehidupan anak-anak jauh lebih bahagia dari sebelumnya."


Angkasa mengulum senyum. Rasa heran yang sebelumnya meraja kini berubah menjadi rasa lega. Melihat adiknya memiliki semangat untuk bangkit sungguh membuatnya bahagia tiada terkira. Angkasa menarik lengan tangan Cahya dan membawanya ke dalam dekapan.

__ADS_1


"Kamu pantas untuk jauh lebih bahagia dari sebelumnya Ay, kamu pantas. Tangis dan air mata yang sebelumnya tertumpah aku yakin bisa berubah menjadi gelak tawa di masa depan. Kelak kamu akan bersyukur karena Allah telah memilihmu untuk menerima semua ujian ini. Ujian yang telah membentukmu menjadi sosok wanita tangguh dan kuat," tutur Angkasa.


"Juga yang akan menjadi jalanku untuk memperbaiki hubunganku dengan ayah kan Kak?"


Angkasa mengangguk. "Benar sekali Ay."


Cahya melerai pelukan Angkasa. Sejatinya masih tersisa satu keraguan dalam dada. "Tapi apakah ayah bisa memaafkanku, Kak? Apakah ayah masih sudi untuk menganggapku anak?"


"Kamu jangan khawatir Ay. Aku pastikan setelah kamu tiba di Kalimantan, hubunganmu dengan ayah bisa kembali seperti semula."


"Aamiin ... Semoga memang begitu ya Kak."


Angkasa tersenyum tipis. Sejatinya ia masih merasakan kegetiran dalam dada jika teringat keadaan sang ayah yang tengah depresi. Namun di sudut hati terdalam, ia percaya jika keadaan sang ayah bisa pulih seperti sedia kala ketika bertemu dengan Cahya. Cahya lah yang akan menjadi penawar keadaan sang ayah.


****


Senja mulai menampakkan pesonanya di garis cakrawala. Membiaskan warna jingga yang nampak memanjakan mata. Seakan membuat siapa saja tak ingin mengalihkan pandangan mereka dari segala pesonanya.


"Terima kasih banyak untuk kerjasamanya ya Pak. Ini kunci serta sertifikat rumah dan pak Sandi bisa segera menempatinya."


Sandi menerima kunci dan sertifikat yang diulurkan oleh Cahya. "Terima kasih kembali bu Cahya."


"Semoga rumah ini banyak membawa keberkahan untuk pak Sandi ya."


"Aamiin Bu."


Cahya tersenyum lega, karena pada akhirnya segala urusan perihal jual beli rumah miliknya ini bisa selesai sebelum ia kembali ke Kalimantan. Hatinya juga serasa jauh lebih ringan karena Allah senantiasa memberikan kemudahan dalam setiap langkah kakinya.


"Emmmmm .. Pak Sandi, sebelum saya pulang, bolehkah saya mengelilingi rumah ini barang sejenak?"


"Tentu saja boleh Bu. Silakan jika ingin berkeliling terlebih dahulu. Saya tunggu di luar."

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya Pak." Cahya menautkan pandangannya ke arah Prasetya. "Pak Pras jika ingin pulang terlebih dahulu saya persilahkan."


"Baik Bu, karena semua urusan jual beli rumah sudah selesai, saya pamit pulang terlebih dahulu."


"Terima kasih banyak untuk semua bantuannya ya Pak, saya tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada Pak Pras."


"Sama-sama Bu Cahya. Semoga Bu Cahya senantiasa bahagia dan saya ucapkan selamat jalan, Bu. Semoga di Kalimantan nanti, kehidupan Bu Cahya jauh lebih baik dari di sini."


"Aamiin ya rabbal alaamiin."


Prasetya dan Sandi sama-sama beranjak dari posisi duduk mereka. Keduanya mengayunkan tungkai kaki untuk keluar dari rumah ini, membiarkan Cahya tetap berada di dalam ruangan yang meminta untuk mengelilingi barang sejenak rumah ini.


Cahya bangkit dari posisi duduknya. Ia mulai melangkahkan kaki untuk menyusuri setiap sudut ruangan yang ada di rumah ini. Semua kenangan masih sangat jelas terlintas di setiap sudut ruangan.


Saat ia berada di dapur, memory otak Cahya kembali memutar kejadian-kejadian apa yang pernah terjadi. Di pagi hari ia selalu disibukkan dengan aktifitasnya di dapur. Ia tersenyum tipis saat teringat kedua anaknya dan Awan yang selalu mengacak-acak dapurnya setiap Minggu pagi. Suami dan anak-anaknya berniat membantu Cahya dengan cara mengambil alih pekerjaannya di dapur. Bagi Cahya, hal itu merupakan pemandangan paling indah yang pernah ada di keluarga kecilnya.


Ia melangkahkan kaki ke ruang tengah. Sebuah ruangan yang terdapat sebuah bufet rendah yang di atasnya terdapat sebuah televisi layar datar yang cukup besar. Di kedua sisi bufet itu terdapat dua guci dari keramik. Sebuah sofa warna cokelat berukuran lumayan besar juga ada di sini. Yang pastinya selalu mereka gunakan untuk bercengkerama di waktu petang hingga berganti malam sambil menikmati sajian acara televisi.


Ia juga teringat saat kedua anaknya begitu bahagia berada di atas punggung ayahnya. Seperti koboi kecil yang tengah menunggang kuda. Gelak tawa keduanya terdengar begitu menentramkan jiwa. Meski hanya sekedar permainan yang sangat sederhana, namun terlihat begitu membahagiakan bagi siapapun yang melihatnya.


Di saat ayah-ayah lain menghabiskan waktu bermain bersama anak mereka di timezone, Cahya dan Awan memilih setiap sudut rumah ini sebagai area bermain mereka. Yang pastinya di setiap jengkal rumah ini telah terpatri sebuah kenangan yang mungkin akan sulit terlupakan.


Untuk ruangan terakhir, langkah kaki Cahya terhenti di kamar milik sang ibu mertua. Siluet-siluet di mana ia mengurus semua keperluan Marni juga masih tercetak dengan jelas.


Mata Cahya tetiba memanas. Dadanya serasa kembali bergemuruh hebat. Ia benar-benar tidak mengerti akan semua ini. Rumah yang selalu menjadi tempat saling mencurahkan rasa kasih dan sayang diantara ia dengan Awan, kini benar-benar menjadi rumah yang hanya menyisakan sebuah kenangan. Dan benar saja, air mata itu kembali menetes dengan derasnya.


Rabbi .... aku sudah ikhlas melepas semua. Tolong hapus semua ingatanku tentang masa lalu yang menyakitkan itu!


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2