Wanita Malam Itu,Milikku!

Wanita Malam Itu,Milikku!
Episode 112


__ADS_3

Jesse yang sejak tadi mengengam tangan Anne pun ketakutan, karena di kagetkan dengan tubuh Anne yang bergetar hebat, karena panik segera dirinya pergi untuk memanggil dokter.


Tubuh Anne terguncang dengan sangat hebat hingga kedua matanya menjadi gelap, kulit putihnya menjadi lebam dan infus yang terpasang pun terlepas mengakibatkan darahnya berserakan dimana- mana.


“ Silahkan nona-nona untuk menunggu di luar ruangan, agar kami dapat memeriksanya “ Seru dokter kepada Sarah dan Jesse


Sarah dan Jesse pun meninggalkan ruangan Anne keluar.


“ Sar, aku tidak kuat lagi melihatnya “ Ucap Jesse dan tangis yang sejak tadi di tahannya pun pecah


“ Jes, kita harus kuat! Kalau kita sedih bagaimana Anne akan kembali ? “ Sahut Sarah


“ Gila lo sar, gue udah lihat penderitaanya berkali-kali tapi ini yang terburuk menurut gue “ Balas Jesse yang terlihat frustasi


Saat Jesse sedang menangis, tiba-tiba tangisannya dihentikan oleh lampu gawat darurat di ruangan Anne yang dinyalakan.


“ Anne, apa lagi ini “ Teriak Jesse lalu berlarian menuju ruangan Nielsen


“ Demi Tuhan Nielsen, Kau harus bangun Nielsen, tolong selamatkan Anne, hanya kau yang dapat menolongnya “ Ucap Jesse sembari menggoyang-goyang tubuh Nielsen yang sedang terdiam


“ Jes, ada apa sayang “ Tanya Raphael yang kaget dengan perlakuan Jesse


Jesse pun menceritakan segalanya kepada mereka, dengan deraian air mata.


“ Dimana Sarah “ Tanya Max


“ Sarah lagi menunggu di depan ruang rawat Anne “ Jawab


“ Haishhh “ Gumam Max sembari keluar untuk menemui Sarah

__ADS_1


“ Sar, istriku! Kamu tak apa? Aku tahu sahabatmu sedang di dalam sana, tapi kau pun memiliki nyawa yang harus kau jaga “ Ucap Max sambil mengusap perut sarah


“ Ya aku akan menjaganya Max, An bangunlah keponakanmu ada disini “ Sahut Sarah


Jesse hanya menekukkan wajahnna dalam pelukan Raphael, hatinya sangat kacau.


Sementara lampu tanda gawat darurat belum juga dimatikan.


“ Putraku, jika kau mencintainya kembalilah untuk menemui dia, berikan kekuatan dan harapan baginya. papa tak sanggup melihatnya seperti itu “ Ucap Erik dengan nada seperti sedang menangis


“ Memangnya apa yang terjadi padanya pa “ Tanya Nielsen yang baru saja sadar


“ Nielsen, kau! Cepat panggilkan dokter, putraku telah sadar “ Teriak Erik dengan penuh semangat kepada Raphael


Tanpa menunggu Raphael pun pergi memanggil dokter.


“ Pa, katakan padaku, ada apa dengannya? Bukannya sudah ku katakan padanya untuk merawat taman bunga kami dengan baik? Apa yang dia lakukan sih “ Gerutu Nielsen


Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Nielsen.


“ Tuan, semuanya baik-baik saja. Kami akan melepas infus dan alat yang lain, Jika besok kondisimu tetap baik seperti ini maka anda boleh pulang “ Ucap Dokter


" Baiklah dokter, terimakasih banyak " Balas Erik


Dokter pun berjalan keluar meninggalkan mereka di dalam sana.


“ Benarkah, kau baik-baik saja? Tapi mengapa kau bisa koma ya! “ Gumam Raphael yang kebinggungan dengan sahabatnya itu.


“ Memangnya apa maumu, kau mau aku mati! Dasar sahabat macam ini “ Gumam Nielsen

__ADS_1


Nielsen pun turun dari ranjangnya dan berjalan menuju ruang rawat Anne, karena merasa kondisinya baik-baik saja.


Disana ada Max dan Sarah yang hanya duduk dan memandangi lampu gawat darurat itu.


“ Max? Sarah? Kalian juga ada disini ? “ Sahut Nielsen


Max dan Sarah membalikkan pandangan mereka dan terbalak karena melihat Nielsen sedang berdiri tepat di hadapan mereka.


“ Kau, kau apa benar ini kau Nielsen “ Ucap Max terbata-bata


“ Apa kau pikir aku ini hantu ? Apa yang salah dengan kalian ini, aku koma kalian sedih, aku sudah kembali kalian ketakutan. Dasar aneh “ Gerutu Nielsen lalu ingin membuka pintu ruang rawat Anne


“ Jangan “ Seru Max


“ Kenapa Max “ Tanya Nielsen kebinggungan


“ Itu “ Jawab Max sambil menunjuk ke arah lampu gawat darurat


“ Tidak, tidak mungkin! “ Gumam Nielsen dan tertududuk lemas


“ TIDAK “ Teriak Nielsen histeris


Raphael, Jesse dan juga Erik, berlarian menghampirinya.


“ Nak, sabar nak! “ Sahut Erik kepada Nielsen yang terlihat pucat kembali


“ Papa, aku berjuang untuk kembali padanya dan dia bersikap seperti ini padaku pa “ Ucap Nielsen yang sudah menangis sejak tadi


“ Putraku, aku tahu kau adalah kekuatannya jadi bersikaplah layaknya seorang pria. Jadilah kuat agar kau mampu menguatkannya “ Balas Erik

__ADS_1


Mendengar ucapan Erik, Nielsen pun mengusap air matanya serta menarik dalam napasnya untuk meredakan emosi dalam hatinya.


__ADS_2