
Jessica dan Raphael sangat berbahagia mendapat kunjungan dari orang terdekat mereka.
Sementara di Negara A, Nielsen baru saja kembali dari perusahaan dengan memarkirkan mobilnya di parkiran
Ia terkejut karena melihat mobil Erik juga sedang berada disana, dengan segera ia berjalan masuk ke dalam rumah mereka
Disana ia mendapati Erik sedang meneguk kopinya dan memandangi bingkai foto ayahnya Anne, yang adalah sahabat karibnya itu
" Papa " Seru Nielsen
" Hhmmm, kau sudah kembali nak? " Tanya Erik
" Ya, seperti yang papa lihat " Jawab Nielsen
"Iya papa melihatnya, bagaimana dengan keadaan perusahaa, apakah semuanya aman? " Tanya Erik mengalihkan perhatian Nielsen
" Iya pa, semuanya baik-baik saja, semua perusahaan yang mengajak kerjasama dengan perusahaan kita pun merasa puas dengan kinerja perusahaan kita pa " Jawab Nielsen
" Bagus nak, pertahankan kinerja yang baik seperti itu " Lanjut Erik
" Papa, ngomong-ngomong apa tak ada orang lain disini lagi, selain kita? Dimana Anne dan Miracle? " Tanya Nielsen yang baru saja menyadari situasinya
" Papa juga binggung, papa ingin menanyakannya kepadamu, sejak tadi papa datang mereka sudah tak ada disini? " Jawab Erik
" Ya Tuhan " Sahut Nielsen terduduk lemah ke atas sofa yang berada di dalam ruangan itu
" Ada apa denganmu nak? Apa kau baik-baik saja? " Tanya Erik kepada Nielsen
" Papa, aku binggung dengan semua keadaan ini pa, aku sungguh binggung " Jawab Nielsen
__ADS_1
" Baiklah Niels, lanjutkan kebinggunganmu papa akan pulang dulu, sampai bertemu lagi " Ucap Erik dengan berjalan pergi
" Bahkan papaku sendiri meninggalkanku " Gumam Nielsen dengan matanya yang mulai basah
Nielsen kehilangan arah, jiwanya dipenuhi dengan kebimbangan, saat ini dirinya tak tahu harus berbuat apa untuk mempertahankan segalanya.
" Kebodohankulah yang mengakibatkan semua ini terjadi padaku, mengapa ketika emosi otakku sama sekali tak berguna, hatiku tertutup dengan emosiku, hingga kini aku harus kehilangan istri dan putraku " Gumam Nielsen
" Kemana aku harus mencari mereka? " Gerutu Nielsen
Nielsen pun mulai menghubungi perusahaannya untuk menanyakan kapan terakhir pesawat milik perusahaan terakhir digunakan, tetapi tak satu pun yang mengatakan yang sesungguhnya kepada Nielsen, atas perintah Erik
Nielsen juga menghubungi Max dan Sarah di Negara C, namun jawabannya yang didapatkannya pun sama
" Ini harapan terakhirku jika mereka tak ada disana maka, aku akan menunggu di rumah ini, sampai mereka kembali " Gumam Nielsen langsung menelpon ke nomor Raphael
Di Negara B mereka saling menolak untuk menjawab panggilan dari Nielsen, hingga akhirnya Raphael yang menjawab dan mengatakan bahwa Anne dan Miracle juga berada disana
" Baiklah, Terimakasih Raph " Ucap Nielsen dengan mengakhiri panggilannya
" Ann, apa kamu yakin untuk tidak memberitahukan keberadaanmu kepadanya? " Tanya Jessica
" Jess, apakah kau melihatku sedang bercanda, aku ingin benar-benar tenang untuk memulihkan pikiran dan juga perasaanku, entahlah roh apa yang merasukinya hingha semua yang terjadi dilimpahkannya kepadaku " Ucap Anne dengan mulai meneteskan air matanya
" Anne, stop mempermalukan aku! Ingat bahwa dunia berada di bawah telapak kaki kita " Lanjut Jessica membuat Anne dan Raphael tertawa terbahak-bahak
Sementara disana Nielsen hanya bisa duduk dengan meratapi foto pernikahan yang dipajang di sepanjang rumah mereka
Foto-foto bayi Miracle, kebahagiaan mereka yang pernah ada, membuat hatinya semakin terluka
__ADS_1
" Aku meminta waktu untuk berpikir dengan harapan kau tetap berada di dalam rumah ini, bukannya pergi meninggalkanku " Gerutu Nielsen
" Aku bahkan tak bisa memakai otakku saat ini, aky bahkan tak bisa berpikir, Anne mengapa kau selalu menyiksaku " Teriak Nielsen
Nielsen pun keluar dan melajukan mobilnya menuju restaurant favorite Anne
Setelah tiba di restaurant, Nielsen pun turun dan berjalan masuk ke dalam restaurant tersebut dengan wajah memelas dan terlihat jelas seperti seorang yang tak terurus juga tak memiliki semangat untuk melanjutkan hidupnya.
" Selamat malam Tuan, selamat datang " Sapa seorang pelayan
Nielsen tak menjawab seorang pun, ia hanya tersenyum sinis dan langsung duduk ke tempat yang ia sukai
Disana ia memesan makanan favorite Anne dan hanya duduk diam dengan menatapi makanan-makanan itu dengan ratapan sedih
Nielsen hanya tersenyum ketika mengigat tingkah istrinya, yang tidak memiliki rasa malu ketika ia dihadapkan dengan rasa lapar
" Istriku, aku merindukanmu! Pulanglah! Maafkan aku! Aku telah bersalah! " Gumam Nielsen dengan air mata yang sufsh berlinang di pipinya
Jangan Lupa Untuk :
***Like, Coment dan Vote***
__ADS_1
**Author belum pernah merasakan, mendapatkan ranking dari hasil vote 💔☹😪**