
Author POV :
Hola guys, banyak yang coment katanya alur ceritanya ga masuk akal, inilah itulah.
Padahal kalau kalian tahu tu ya, buat alur sama nyusun ceritanya itu butuh ide banget loh!
Tapi gapapa kok, itu udah resiko jadi Author π
Btw, makasih ya buat readers yang selalu dukung AuthorΒ² dalam dunia per-Mangaan ini πππ
Oke, Back to story!
" Kalau seperti begini terus apa masalahku dan Nielsen akan terselesaikan? " Gumam Anne
Rupanya Anne sudah memikirkan cara agar dia memiliki keberanian dan juga bisa mengungkapkan segala keresahan dan kerinduan hatinya kepada suaminya Nielsen
Dengan segera Anne membuka pintu kamar Miracle dan berjalan menuruni tangga rumah menuju dapur untuk menemui Erik yang berada disana
" Pa " Seru Anne
" Hey, Ann! Apa sesuatu terjadi kepada Miracle? " Sahut Erik
" Miracle baik-baik aja pa, tadi kata papa Nielsen dinas keluar kota kan, baliknya kapan ya pa? " Tanya Anne tergesa-gesa
" Besok malam sepertinya dia sudah disini nak, kenapa? " Tanya Erik kembali kepada Anne
" Jadi gini pa, Anne berencana untuk menitipkan Miracle kepada papa, Anne akan berjuang demi Miracle dan juga rumah tangga kami, apapun yang terjadi Anne akan berjuang " Jawab Anne dengan suara yang terdengar sangat percaya diri
" Benarkah nak? " Tanya Erik memancing Anne
" Tentu saja papa, maut saja Anne lawan demi cinta, kenapa kali ini tidak " Jawab dengan wajah yang tersenyum
" Baiklah kalau begitu, papa akan membawa Miracle bersama papa sebentar, semoga kamu berhasil nak, papa sangat mengandalkanmu " Lanjut Erik dengan menepuk-nepuk pundak Anne
Setelah menemui Erik, Anne kembali ke kamar Miracle untuk menyiapkan beberapa pakaian untuknya
Kini Miracle t'lah berada di dalam mobil Erik, mobil itu pun telah melaju, Anne hanya berdiri dan terus memandangi kepergian mobil Erik dan putranya
__ADS_1
*****
Keesokan harinya, saat-saat yang membuat degup jantung Anne berdetak kencang, seperti pertama kali ia merasakan jatuh cinta
" Aku harus bisa menaklukan mahkluk itu malam ini " Gumam Anne dengan menghembuskan nafasnya ke udara
Dengan segera ia membersihkan dirinya, merias wajahnya dan berjalan menuju ruang penyimpanan segala jenis minuman
Lalu mulai menyusun beberapa botol di atas meja, tak lupa ia mengurangi beberapa isi dari botol agar terlihat dramatis dan ia pun mulai meneguk beberapa gelas wine
Terdengar jelas suara parkiran mobil di parkiran rumah mereka
Sementara di parkiran Nielsen baru saja memarkirkan mobilnya dan melihat sekitarnya yang terlihat begitu gelap
" Kenapa rumah ini begitu gelap, apakah mereka tak ada di rumah? " Gumam Nielsen bertanya-tanya
Dengan segera Nielsen mempercepat langkah kakinya, membuka pintu dan mengontak lampu di ruangan tersebut
Terlihat jelasnya olehnya, seorang wanita yang tengah meneguk gelas yang dipenuhi dengan minuman
Siapa lagi kalau bukan istrinya, Anne terlihat begitu kacau, awalnya ia ingin berakting namun rupanya ia terbawa suasana
DEG
DEG
DEG
" Kenapa wajahnya sangat menakutkan " Gumam Nielsen
" Kau " Seru Anne yang terus meneguk minumannya
Nielsen tak mengacuhkan Anne yang memanggilnya dan terus berjalan menaiki tangga
Anne menjadi sangat marah dan mulai melemparkan botol-botol minuman yang berada di hadapannya
Anne sangat frustasi, entah apa yang harus dilakukannya lagi untuk memendam segala kegundahannya
__ADS_1
Semua botol yang berada di hadapannya, semuanya dihancurkan. Bulir air matanya terus mengalir
Sepertinya beban pikirannya telah berkurang dengan mengeluarkan segalanya, namun Nielsen terus saja tak mengacuhkan
Entah iblis apa yang merasukinya, sehingga hatinya begitu keras untuk peduli kepada istrinya sendiri
Karena tak dihiraukan, emosi Anne semakin menjadi-jadi, ia berjalan menuju ruang penyimpanan minuman dengan terus minum dan menghancurjan botol-botol yang berada disana
Tak lama kemudian suara keributan itu telah tiada diganti oleh keningan
" Apa dia sudah selesai dengan kegilaannya " Gumam Nielsen
Nielsen bergegas turun dari kamar untuk memeriksa keadaan Anne.
Saat ingin melihat keadaan Anne, yang didapatnya malah sebaliknya
Sekujur tubuh Anne dipenuhi dengan pecahan botol kaca dan darahnya tergenang dimana-mana
Nielsen membalakkan matanya dan hanya menelan ludah, tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu
Dengan segera ia menghubungi Ambulance, menuju ruang gawat darurat
" Tunggu disini tuan " Ucap perawat yang bertugas
Lampu tanda gawat darurat pun dinyalakan, Nielsen hanya terdiam karena tak terbayang olehnya hal ini akan terjadi
" Permisi Tuan " Seru seorang dokter
" Iya bagaimana dok? " Tanya Nielsen
" Istri anda saat ini berada dalam kondisi kritis tetapi kami tak bisa melalukan tindakan apapun, karena istri anda sedang berada dibawah pengaruh alkohol dengan jumlah yang sangat tinggi, kami takut itu akan menggangu kesehatannya, namun " Ucapan sang dokter pun terpotong
" Namun apa dok, katakan! " Ucap Nielsen membentak dokter itu
" Jadi begini tuan, jika kami tak mulai dengan penanganannya malam ini hingga esok maka, anggap saja kita telah membunuhnya tuan " Jawab dokter, lalu ia pergi meninggalkannya
Nielsen pun hanya terduduk dengan memengangi kepalanya
__ADS_1
" Argh, ini semua salahku! Egokulah yang mengakibatkan semua ini bisa terjadi, jika saja aku mau bicara padanya tadi, mungkin semua ini takkan terjadi " Ucap Nielsen frustasi