
" Papa benar-benar aneh hari ini, apa sebenarnya yang terjadi padanya? " Gumam Nielsen yang kebinggungan dengan tingkah ayahnya
" Kita langsung saja ke bandara untuk menjemput dan putri dan cucuku " Seru Erik kepada sopirnya
" Baik Tuan " Sahut sopir pribadi Erik dengan, langsung menginjak gas dan melaju pergi meninggalkan parkiran ruman Nielsen
Sepanjang jalan, Erik hanya termenung mengenang perkataan yang telah ia lontarkan kepada Nielsen sejak tadi
" Astaga, entah setan mana yang telah merasukiku, sehingga dengan mudahnya ku katakan semua itu kepada Nielsen " Bathin Erik
Setelah hampir satu jam perjalananan, akhirnya mereka pun tiba di bandara untuk menjemput Anne dan Miracle
" Itu nyonya dan tuan muda, Tuan " Seru sopir sekaligus asisten pribadi Erik
" Akhirnya kalian pulang juga nak, mmm cucuku opa sudah sangat merindukanmu " Tutur Erik dengan megambil Miracle ke dalam pelukannya
" Papa, kata Miracle opa berlebihan baru juga ditinggal tak sampai sehari juga, sudah kangen saja " Ucap Anne menggoda mertuanya
" Kan Miracle itu cucu opa, jadi wajar dong " Balas Erik kepada Anne dan Miracle
" Oh iya pa, bagaimana komunikasinya papa dan Raphael, sampai-sampai aku kewalahan pa lagi santai nonton tv, tiba-tiba langsung saja diminta ke bandara, memang kekuasaan sangat berpengaruh dalam segalanya ya " Ucap Anne
" Kau bisa saja putriku, ayo pulang suamimu telah menantikan kalian " Balas Erik
" Hhmmm " Sahut Anne
Sesampainya mereka di rumah, Erik meminta Anne dan Miracle untuk menunggu di mobil, sementara Erik langsung berjalan masuk ke rumah mereka
Didalam ruang tamu Nielsen sedang berbaring di sofa, tetapi dikagetkan oleh kedatangan Erik
" Eh papa, sudah kembali rupanya! Papa darimana saja, aku kebinggungan dengan tingkah papa yang tiba-tiba main pergi saja, dan kembali dengan sesuka hatinya papa " Ujar Nielsen kepada Erik sembari bangun dari sofa menuju dapur
__ADS_1
" Kopi, pa? " Tanya Nielsen
" Kali ini papa ingin teh " Jawab Erik
" Ok " Balas Nielsen
Setelah membuat minuman untuk keduanya, Nielsen kembali ke sofa dan meletakkan minuman itu diatas meja, saat akan menolehkan wajahnya untuk duduk ke sofa, tubuhnya terhenti bak melihat hantu
" An..
" Ann
" Anne " Seru Nielsen
" Iya aku disini " Sahut Anne
" Sejak kapan kalian kembali? " Tanya Nielsen dengan wajah panik
" Ohh. Ho'oh " Seru Nielsen
" Baiklah, aku akan mengantarkan Miracle ke kamarnya terlebih dahulu dan aku akan kembali untuk mendengarkan semua jawaban darimu " Ucap Anne dengan langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar Miracle
" Pa, bagaimana ini? " Tanya Nielsen kepada Erik
" Sudah ku katakan Nielsen, bersikaplah layaknya seorang ayah dan seorang suami dan berhentilah memikirkan dirimu sendiri, jika tidak papa akan pastikan bahwa kau takkan pernah bisa menemui mereka lagi " Jawab Erik dengan tegas membuat Nielsen hanya terdiam
" Glek// " Nielsen hanya bisa menelan salivanya, karena tingkah ayahnya yang sangat berbeda kepadanya hari ini
" Sudahlah, papa akan pergi berikan teh ini kepada menantuku, dan pastikan kau melakukan semua porsimu dengan baik dan jangan lupa untuk memberitahukan hasil akhirnya kepadaku " Ucap Erik, lalu dengan segera ia pun pergi meninggalkan Nielsen seorang diri disana
" Heh, dimana papa? " Tanya Anne yang baru saja kembali dari menidurkan Miracle
__ADS_1
" Papa sudah pulang, ada urusan katanya! Ini teh untukmu titipan dari papa " Jawab Nielsen
" Papa memang selalu mengetahui yang ku mau, Terimakasih " Balas Anne kepada Nielsen
" Baiklah Nielsen, keputusan apa yang kau dapatkan dari waktu yang ku berikan? " Tanya Anne langsung pada inti pertemuan mereka
" Harus banget ya, dibahas malam ini juga? " Tanya Nielsen kembali kepada Anne
" Apa maksudmu? Kami kembali kesini karena kau ingin memberitahukan hasil dari waktu yang kau minta dariku untuk berpikir, paham? " Ucap Anne, yang mulai terbawa emosi, merasa dirinya sedang dipermainkan oleh suaminya sendiri
" Sabar Ann, jangan pakai emosi dibawa santai saja " Balas Nielsen
Mendengar ucapan Nielsen, emosi Anne semakin menggebu-gebu
" Jika kau tak mampu untuk berpikir apalagi mengambil keputusan, jangan mengirim pesan layaknya seorang yang benar-benar telah siap dan yakin atas apa yang akan dihadapinya " Ucap Anne dengan emosi, kemudian ia pun membalikkan tubuhnya dan pergi menuju kamar tamu
" Ada apa dengan wanita itu, kenapa dia begitu berbeda dari sebelumnya " Gumam Nielsen
" Aku tidak pernah berbeda, kau saja yang buta! " Teriak Anne dengan menutup pintu kamarnya
" Astaga, kedengaran " Ucap Nielsen cengegesan
***Jangan lupa untuk : Like, Coment dan Vote*** 🤗
**Love Y'all**💜
__ADS_1