
Aku menunggu jawaban dari Tiara
"Baiklah aku menerimanya"(Freyas)
Setelah bicara tentang berbagai hal seperti ketentuan dan sebagainya.
Tiara menyudahi panggilannya. Tentu saja dia juga mengirim pesan padaku meminta penjelasan untuk nanti.
"Jadi terimakasih semuanya karena mau meluangkan waktu dan hadir disini"(Larph)
"Tentu saja"(Harson, Pricyla) "Sudah lama juga kita tidak bertemu. Lain kali kita adakan pertemuan langsung dan minum bersama"(Caarol)
"Tentu asal di kota ini aku tidak keberatan"(Jarph) "Caarol sekarang kamu berada dimana?"
"Aku? Menikmati ikan dan laut di kota Labor. Apa kamu mau kesini?"(Caarol) "Tidak, cuma bertanya. Edie aku sudah mengumpulkan banyak dan kertas milikku sudah habis"
"Ke sini kalau begitu. Aku akan mencari beberapa skill yang cocok untukmu"(Edie)
"Terima kasih. Harson dan istrinya yang cantik, aku juga akan mampir kesana"
"Aku akan menunggumu"(Harson) "Datanglah kalau sempat"(Pricyla) Satu demi satu layar menghilang.
"Gail aku membutuhkan bantuanmu"(Jarph) "Tentu katakan saja"(Gail) "nanti aku akan menghubungimu"(Jarph) "Baiklah kalau begitu. Nanti jika ingin mengupgrade kadal milikmu lebih baik kesini"(Gail)
"Tentu saja. Aku akan mampir dalam waktu dekat" Semua layar sudah hilang menyisakan satu layar yang terhubung dengan Clara.
"Sepertinya hanya aku yang belum bertemu denganmu"(Clara) "Aku juga ingin bertemu. Mungkin kamu bisa memberi tahuku dimana kamu sekarang berada"
"Maaf tapi kamu harus mencari dimana aku dengan usahamu sendiri. Aku juga menantikan saat kita bertemu"(Clara)
Layar terakhir menghilang membawa rasa penasaran terhadap sosok Clara. Meski tidak begitu jelas suaranya mirip dengan Cleo.
Meski lebih sedikit lembut dan tenang.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Masih ada kerjaan yang menunggu"
"Ya. Mampir lagi kalau kamu menemukan sesuatu yang unik"(Larph) "Kesini seminggu lagi. Pesananmu pasti sudah selesai"(Jarph)
"Tentu maaf merepotkan kalian"
Aku pergi dari bengkel pandai besi dan menemui para mage yang menunggu didepan gerbang kota.
"Maaf, aku terlambat" "Tidak masalah"(Alvin) "Yang penting semua sudah siap"(Heidi) "Keluarkan golem milikmu"(Vio) "Baiklah"
Kadal raksasa keluar. Kami semua langsung naik dan pergi kekedalaman hutan.
Semakin dalam semakin tinggi level monster disini.
Rata-rata monster disini adalah ular dan monyet. Batas tertinggi berlevel 25, yang terendah 20.
Kami sampai dibukit yang memiliki tanah merah dan panas. Seluruh bukit dipenuhi tanah merah membara.
Ini cukup sulit. Apa aku harus menggunakan frozen breath? "Ayo gunakan Gleda"(Alvin)
"Apa harus? Ini termasuk benda mahal"(Gleda) "Tidak ada jalan lain Gleda"(Vio)
"Baiklah kalau begitu"(Gleda) Gleda menancapkan pedang kristal pendek.
Yang terbuat dari mana crystal ice.
Dengan 3 pedang pendek membentuk segitiga. Ternyata belum selesai, Gleda mengeluarkan 3 pure mana crystal.
Ditancapkan lagi ditanah membentuk segitiga yang berlawanan dengan 3 pedang es tadi.
"Ice formation ice road"
3 pedang es hancur jadi serpihan es sedangkan 3 kristal murni membentuk tongkat 2 meter disekitar Gleda.
Tanah seluas 5 meter didepan membeku sebentar sebelum mencair hanya saja, sudah tidak merah lagi.
"Lelah sekali"(Gleda) "Kamu payah, sudah menghancurkan 3 pedang formasi tapi tidak memadamkan seluruh tanah"(Fellix)
"Hei ini sulit ya. Aku juga salah perhitungan tentang luas tempat ini. Untung saja aku fokus pada tambang didepan. Jika cuma fokus untuk seluruh wilayah disini bahkan kita tidak akan sampai didepan gua"(Gleda)
Kami berjalan diatas tanah yang padam dan tidak merah lagi. Gleda dan Fellix masih bertengkar tentang formasi ini.
Menurutku ini sudah bagus. Daripada menggunakan sihir berskala besar tanpa hasil yang jelas.
__ADS_1
Lebih baik skala kecil tapi efektif. Hanya saja aku tidak tahu kalau menggunakan formasi se ribet itu. Sepertinya aku harus sangat berterima kasih pada Martin.
Kami sampai didepan bukit besar yang memiliki lubang ditengahnya seperti terowongan.
"Apa lubang ini membelah bukit?"(Alvin) "Tidak lubang ini kebawah tanah. Hati-hati semuanya, dibawah merupakan jalur lava bawah tanah"(Fellix)
Kami turun kebawah melalui terowongan itu.
Beberapa kali salamander api muncul, meski begitu mudah sekali untuk dibunuh.
Karena mereka rata-rata level 25 terkadang muncul yang elit berlevel 30. Mungkin boss saja yang bisa memberikan EXP padaku.
Kami keluar dari gua sempit itu. Di sini lebih banyak gua lagi bahkan ada sungai lava mendidih yang mengalir.
"Baik kemana kita sekarang?"
"Ehmm... Pasang formasi dulu aja ya"(Heidi)
"Kalau kupikir lebih baik mengetahui seluruh daerah ini dulu"(Vio) "bukanya lebih baik bergegas? Agar cepat selesai"(Alvin)
"Terserah kalian aku lelah. Mau istirahat dulu"(Gleda) Akhirnya malah berisik dan ribut.
Bisa dibilang mereka terpecah jadi 2 yang satu ingin lanjut yang satu ingin memasang formasi.
"Begini saja. Kita fokus formasi dan aku yang akan menjelajahi seluruh wilayah ini"
"Aku tahu kamu kuat tapi tetap saja berbahaya"(Fellix)
"Siapa bilang aku sendiri yang pergi" Aku mengeluarkan spirit yang langsung menyebar kesegala arah dan penjuru.
Ternyata tempat ini sangat luas. Diseberang sungai lava terdapat belasan gua lainnya yang juga terdapat boss salamander.
Tempat ini benar-benar tambang selain banyak jalan bercabang banyak mana crystal api dimana-mana.
Tapi yang paling berbahaya diujung tempat ini. Diujung tempat ini sudah jalan buntu, dimana hanya sungai lava yang bisa lewat.
Ada dinding batu besar yang menutupi jalan.
Yang mengerikan disana ada boss salamander yang jauh lebih besar daripada boss salamander didalam gua kecil.
Para mage sudah memasang formasi dipintu masuk, karena panas ditempat ini. Mereka sibuk mendinginkan diri dengan item sihir yang baru aku lihat.
"Bagaimana?"(Fellix) "Entahlah, haruskah kita melanjutkan?" "Tentu saja, sudah sejauh ini masa harus berhenti disini"(Vio)
"Baiklah, akan kujelaskan. Selain jalan sepanjang sungai lava ada belasan gua diseberang sana dan belasan lainnya didaerah sini. Setiap gua memiliki penguasanya masing-masing.
Dan bisa dibilang tempat ini banyak sekali mana crystal dari yang terendah sampai normal dan crystal yang tidak kuketahui diujung jalan ini. Masalahnya terdapat 3 boss salamander raksasa juga disana. Sekarang bagaimana?"
Mereka saling menatap, aku tahu ini sangat sulit mungkin bisa dibilang setara dengan misi Imposible atau mungkin Rank S.
"Begini saja. Untuk gua dan jalan bercabang kita segel dengan formasi saja. Kita fokus pada yang diujung jalan"(Fellix)
"Itu ide bagus. Tapi setelah menggunakan formasi sebanyak ini akan menghabiskan semua stamina dan mana yang kita punya"(Vio)
"Benar jadi bagaimana menurutmu"(Alvin)
Hmm... Memang sulit tapi bukan berarti tidak mungkin.
"Kita bisa mencobanya" Akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan. Salamander yang dipinggir sungai lava kami basmi.
Para Mage bergantian menyegel setiap gua yang disana. Dan kami juga menemukan Crystal yang unik.
Normal Lava Mana Crystal (Rare)
Mana crystal yang terbentuk oleh mana api didalam gunung berapi. Cocok digunakan untuk formasi bertahan
Kami menambang beberapa yang ada dipinggir sungai lava. Masalahnya karena panasnya agak sulit mengumpulkannya.
Kalau saja bisa menambang didalam sungai lava yang juga dipenuhi Crystal ini.
Setelah 1 jam penuh kami akhirnya melihat ujung tempat ini.
Ada puluhan salamander kecil, puluhan yang menengah, 2 yang besar dan satu yang raksasa.
"Kalian mundur saja" "Kamu yakin ingin menghadapi mereka sendiri?"(Heidi)
"Ya. Aku khawatir tidak bisa melindungi kalian saat sedang bertarung jadi fokus untuk melindungi diri saja"
__ADS_1
Aku mengeluarkan puluhan spirit dan memasuki mode stealth. Salamander melawan spirit dengan menyemburkan api.
Spirit juga kesulitan melawannya karena mereka terus terbakar, hanya bisa melempar pisau satu demi satu kepara Salamander.
Aku mengincar 3 boss salamander. Tanpa boss mereka mudah dibunuh, aku langsung menusuk kepala salah satu boss salamander.
Tubuhnya langsung mengeluarkan api membuatku lompat mundur kebelakang.
Tapi beberapa pisau langsung melesat dan menusuk tubuh salamander.
Pisau-pisau itu mengeluarkan aura dingin yang menurunkan suhu tubuh salamander.
Karena gerakannya yang lambat aku menebas beberapa kali lagi.
Yang aneh semakin sering aku menebas salamander itu semakin lambat. Apa ini efek Deadly combo? Aku terus menyerangnya sampai 30 kali lebih baru salamander yang lain bergerak.
Berbeda dengan yang kuserang, Salamander ini cepat. Dengan keempat kakinya dia berlari kearahku sambil menyemburkan api.
Api langsung menutupi tubuh salamander yang daritadi aku hajar. Aku melompat mundur sambil membentuk 2 formasi ditanah.
"Attack formation dual magic balista" Dua cahaya melesat kearah salamander. Dan keduanya tepat mengenai kepala salamander.
Salamander yang berlari jatuh hingga kepalanya terseret. Sedangkan yang satunya kehilangan perisai api miliknya.
Aku langsung menarik pisau yang keluar setelah formasinya hancur. Aku langsung membentuk formasi lagi.
"Attack formation elemental spear" Tombak es dengan cepat menusuk dan membekukan kepala salamander.
Salamander yang satunya dengan cepat berlari kearahku. Bahkan salamander raksasa yang dari tadi diam mulai memperhatikanku.
Sambil menyembur api Salamander berlari dengan cepat kearahku. Aku langsung melompat kesamping.
Karena tidak bisa berhenti Salamander terguling dan jatuh. Aku melempar sabit yang mengenai salah satu kakinya membuatnya tidak bisa bangun.
Aku memanfaatkan hal itu dengan membuat formasi "Attack formation Thorn road" Pilar-pilar es keluar dan menusuk-nusuk tubuh Salamander.
Suara aneh terdengar, dan aku mendapat EXP karena Salamander ini berlevel 35. Tapi Salamander yang kulawan belum mati.
Berarti yang mati, yang sebelumnya.
Benar saja setelah kuperhatikan dia mati.
Apa ini efek dari Death Penalty.
Lava menyembur dan mengguyur tubuh Salamander entah darimana. Ternyata Salamander raksasa mulai bergerak.
"Attack formation magic canon" Sinar es keluar entah darimana menyerang salamander yang mulai bergerak.
Aku harus mencegah Salamander raksasa bergerak "Avatar king of bats" Kelelawar besar keluar dari punggungku dan langsung menyerang Salamander raksasa.
Aku juga maju dan menyerang Salamander tanpa henti bahkan Echo soul juga kugunakan.
Lava menyembur dari tanah, api menyala disegala tempat. Seluruh tempat ini jadi sangat panas.
Aku meninggalkan Salamander yang sudah babak belur. Darahnya tersisa 20% sudah ratusan tebasan yang kugunakan padanya.
Tiba-tiba Salamander itu jatuh dan mati.
Baiklah sesuai perhitunganku. Sekarang tinggal rajanya.
Aku melempar 4 bola dari es. Bola itu mengenai tubuh dan kakinya, ledakan terjadi hawa yang sangat dingin membekukan tubuh dan kakinya.
Kelelawar raksasa menekan kepala Salamander itu ketanah. Puluhan kelelawar lainnya menggigiti salamander itu.
Aku mengeluarkan rantai dan ikut menyerang salamander. Ekornya bergerak dengan cepat menyapu para kelelawar dan aku.
Para spirit melempari pisau ke Salamander raksasa itu. Aku juga menyerang dengan sabit milikku.
Dengan cepat darah dari Salamander raksasa turun hingga 30% Aku berhenti menyerang dan mundur.
Darah salamander langsung berkurang 20% Karena Death penalty milikku. Dan kelelawar memanfaatkan hal itu untuk menyerangnya habis-habisan.
Akhirnya Salamander raksasa itu mati meninggalkan berbagai material dan soul orb.
Akhirnya bisa keluar dari gua ini.
**TO BE COUNTINUE...***
__ADS_1