Abnormal Assasin

Abnormal Assasin
Part 247 Kencan dengan Melly


__ADS_3

Pertama kalinya aku merasa gugup. Padahal didalam game meski tahu aku akan mati tetap saja aku tidak merasa takut atau gugup


Aku berulang kali mengecek bajuku, dompet dan semua isinya, serta jadwal yang kususun.


Padahal ini bukan yang pertama kalinya tapi aku tetap merasa gugup


Suara bel terdengar. Aku membuka pintu yang ternyata seorang pria "Ini kuncinya mas. Mobilnya sudah ada di depan. Terima kasih telah memesan layanan kami"(Pria)


"Ah ya terima kasih" Pria itu pergi ke temannya yang menunggu diatas motor. Apa aku terlalu berlebihan ya?


Menyewa mobil untuk kencan? Mau dipikir bagaimanapun kayaknya agak berlebihan


Terserahlah. Sudah terlanjur


Aku mengambil seikat bunga yang ada didalam mobil dan mendatangi rumah Melly


Aku membunyikan belnya


"Sebentar"(Melly) Melly membuka pintu "Ryan? Tunggu dulu! Bajumu? Astaga ini kencan resmi atau bagaimana? Aku ganti baju sebentar"(Melly)


Melly memakai baju peach dan celana denim hitam "Tidak perlu. Aku saja yang terlalu berlebihan. Ini untukmu"


Aku memberikan bunga pada Melly. Melly mengambil bunga itu "Ya, sih ini agak berlebihan. Tunggu sebentar ya"(Melly)


Melly masuk sebentar dan keluar lagi kali ini sudah siap dan mengunci pintunya "Ayo"(Melly)


Melly berjalan duluan melewati mobil hitam yang kusewa "Mau kemana?" "Bukanya mal deket sini?"(Melly) "Masuk sini"


Aku membuka mobil dan melihat wajah Melly yang menganga "Jangan bilang kamu beli mobil hanya untuk kencan ini?"(Melly)


"Tidak. Aku menyewanya" "Astaga kamu benar-benar berlebihan. Terus apa selanjutnya? Makan di restoran bintang 5?"(Melly)


"Oh itu berlebihan ya. Restoran bintang 3 saja kalau begitu" "Astaga Ryan itu berlebihan. Aku cuma ingin makan di mal saja"(Melly)


"Begitu ya"


Kami berdua masuk kedalam mobil. Aku menjalankan mobil ke mal besar dimana aku memesan tiket nonton disana


"Sudah kuduga bakal begini"(Melly) "Apanya? Sekalian bawa mobil jadi yang jauh sekalian"


"Aku malah tidak tahu kamu bisa nyetir"(Melly)


"Udah lama bisa kali aku" "Udah punya SIM kan?"(Melly) "Udahlah. Aku tidak punya mobil bukan karena tidak mampu. Cuma malas saja"

__ADS_1


Kami berhenti di Mal yang besar, aku langsung mengajak Melly nonton bioskop. Setelah nonton, aku mengajak Melly untuk makan sambil menikmati suasana


"Sebenarnya apa yang salah denganmu?"(Melly) "Lagi pengen aja" "Itu tidak menjawab pertanyaanku. Bunga, restoran, mobil? Ada apa sih sebenarnya?"(Melly)


"Aku cuma mau memperlakukanmu dengan baik" Melly meletakkan alat makannya "Jawab dengan jujur! Apa sekarang kamu suka denganku?"(Melly)


"Entahlah" "Jawaban macam apa itu?"(Melly)


"Bisa dibilang aku juga ingin tahu" "Jadi kamu juga gak tahu?"(Melly)


"Kalau gitu gantian aku tanya padamu. Kalau aku memang suka sama kamu, memang kamu mau jadi pacarku?"


"Kalau kamu suka sama aku. Mungkin kita bisa coba pacaran"(Melly) Aku menusuk daging dengan garpu dan aku menyuapi Melly


"Apaan sih?"(Melly) "Tinggal dimakan aja. Buka mulutmu" Melly membuka mulutnya dan memakan daging itu


"Berarti kita sudah resmi ya. Sayang" Melly tersedak dan batuk-batuk. Aku memberinya air dan langsung tertawa


"Apa-apaan itu? Kapan aku bilang mau nerima kamu?"(Melly) "Lah? Tadi?" "Kan seandainya"(Melly)


"Aku tidak bilang seandainya. Aku nembak kamu tadi" "Apa-apaan itu? Tidak romantis sama sekali"(Melly)


"Mau romantis macam mana lagi? Kita sudah menghabiskan waktu berdua, sudah nonton, makan di restoran, aku juga sudah memberimu bunga"


Melly mematung mendengarku "Jadi daritadi aku yang tidak peka?"(Melly) "Gak tahu. Pokoknya kamu sudah nerima aku, sudah resmi kita pacaran"


"Jangan samakan wajahku dengan jus anggur seperti itu"(Melly) "Ya, ya maaf. Kalau kamu tidak terima gimana kalau aku ulangi. Melly maukah kamu jadi pacarku?"


Melly membuang mukanya dan bergumam "Kamu ngomong apa?" "Entahlah...."(Melly)


Kenapa Melly selalu memelankan suaranya di terakhir


"Mau apa tidak?" "ya, ya, akumau"(Melly) "Apaan sih? Ngomongnya yang jelas" "YA AKU MAU"(Melly) Melly langsung menutup mukanya setelah berteriak seperti itu


Aku cuma tertawa saja. Aku memegang tangan Melly membuatnya semakin salah tingkah


Dengan santai aku memasukkan cincin emas imitasi milik ibuku. Melly langsung menarik tangannya


"Kamu berlebihan"(Melly) "Tapi cantikkan?"


Melly memperhatikan cincin itu "iya, cantik"(Melly)


"Sayangnya ini cuma cincin imitasi. Nanti kalau kamu sudah mau serius aku bawakan yang lebih bagus"

__ADS_1


"Memang kamu mau serius sama aku?"(Melly) "Kenapa enggak?" "Emangnya aku mau?"(Melly)


"Karena kamu aku memutuskan pacaran dulu, kalau mauku sih mending lamar sekalian"


"Apa kamu gak terlalu terburu-buru?"(Melly)


"Emang mau nunggu apa lagi? Kamu juga udah sering masuk ke rumahku kan?"


"Ohh jadi ini salahku?"(Melly) "Bukan ini salahku, perempuan kayak kamu kubiarkan menggantung tanpa kepastian"


"Jadi karena ini kencan pertama kita setelah ini kemana? Apa kembali pulang?"(Melly)


"kamu mau kesuatu tempat ga?"


"Aku? Bukanya ini rencana kamu? Masa aku yang nentuin kita mau kemana?"(Melly)


"Yasudah. Berarti terserah untukku kan?"


Setelah makan, aku mengajak Melly berkeliling. Sesekali mampir ke beberapa toko untuk sekedar beristirahat.


Begitu jam 10 malam kami kembali kerumah masing-masing. Paginya kami sarapan bersama, sejak kita mulai pacaran


Melly jauh lebih sering menghabiskan waktu dirumahku daripada dirumahnya. Meski begitu aku dan Melly tidak pernah melewati batas.


Kontak fisik terjauh yang kita lakukan cuma sampai berpelukan saja. Setelah itu Inori selalu bersamaku didalam game


Aku tidak keberatan sih. Tapi tidak dengan anggota Assasin yang lainnya. Kami sibuk seminggu ini mengerjakan misi tanpa henti dari faksi


Bahkan Elegant sendiri mendapat misi terpisah. Rencanaku juga sudah mulai berjalan untuk mencari pengkhianat didalam faksi


Dan terbukti dari puluhan guild yang tergabung dengan faksi paling tidak setengah lebihnya berkhianat.


Terbukti dari penyusupan para faksi Dark kedalam wilayah dan menyerang garis persediaan dan persenjataan.


Untungnya yang mereka serang hanya persediaan palsu dan gudang senjata palsu.


Bahkan ada beberapa guild yang dengan sengaja berusaha merampok dan mencuri senjata-senjata itu.


Keadaan ini membuat Afinitas dengan faksi rule jatuh. Membuat para NPC tidak percaya dengan player dan guild.


Untungnya berkat antisipasi dariku, meski keadaan tidak langsung memburuk. Guild yang berkhianat langsung terisolasi baik dari perlakuan dan informasi.


Hal ini membuat komunitas jadi ribut. Karena perbedaan perlakuan yang diterima membuat mereka curiga kalau ada yang melaporkan.

__ADS_1


Tapi meski begitu tidak ada bukti yang menunjukkan hal itu. Akhirnya perang besar dimulai setelah seminggu berlalu


**TO BE COUNTINUE...***


__ADS_2