Abnormal Assasin

Abnormal Assasin
Part 84 Blood altar


__ADS_3

Mereka bersembunyi dibalik batu yang cukup jauh seharusnya tidak melihat pertarunganku tadi.


Lagipula sebelumnya kan ditutupi formasi api. Mereka terus menatapku yang sedang mengumpulkan drop item.


Lama-lama rasanya menjengkelkan. Mereka tetap diam sampai semua item sudah kukumpulkan.


Aku juga tidak begitu perduli sih. Hanya saja aku kepikiran satu hal. Apa sebenarnya arti dari misi Imposible.


Bukanya itu mimpi yang kesulitannya keterlaluan sehingga akan memberikan Event tertentu.


Berarti 2 misi yang kujalani juga akan sangat sulit dan memiliki rahasia tersendiri dong.


Aku tidak begitu perduli terhadap Faira karena jelas.


Keadaanya sendiri saja bisa membuat event besar. Tapi Blood orc? Meski sulit bukan mustahil untuk selesai mungkin butuh 1 atau 2 guild bekerja sama tapi itu bukan hal yang bisa melibatkan seluruh pemain kan.


Aku berjalan-jalan disekitar hingga sampai dirumah paling besar yang sekarang sudah jadi reruntuhan.


Setelah memakan sedikit waktu, aku bisa membersihkan seluruh reruntuhan diatasnya.


Yang mengejutkan, aku menemukan tangga rahasia kebawah tanah.


Ini membuatku sedikit ragu. Tapi aku yakin ada sesuatu disini.


"Terima kasih"(Faira) Aku melompat karena kaget.


Ternyata mereka masih mengikuti "Untuk apa?" "Sebenarnya, kami dikirim kesini untuk mempersiapkan perang dengan Blood orc"(Faira)


"Oh kalau begitu lupakan saja. Aku juga menerima misi ini" "bukan begitu, Blood orc melakukan ritual khusus yang membutuhkan tumbal. Dan 2 desa didekat sini sudah dijadikan tumbal sebelumnya"(Faira)


"Ritual? Ritual apa?" Puzzle sudah tersusun.


Blood orc memiliki shaman jadi ritual itu memungkinkan.


Yang kedua tumbal yang dipakai sampai 2 desa itu berarti bukan main-main. Yang terakhir hanya apa dampak ritualnya?


"tidak ada yang tahu. Jika bukan karenamu, peperangan mungkin akan dimulai 3 hari lagi.


Tentu saja aku tidak bersyukur dikejar oleh para pembunuh"(Faira)


"kalau begitu, haruskah kita melihatnya" Aku menunjuk tangga super gelap kebawah tanah. Aku yakin mau ritual atau apapun pasti ada dibawah sana.


Aku turun diikuti yang lain. Semakin kebawah semakin gelap. Aku sih tidak masalah tapi yang lain tidak begitu.


Apalagi selain gelap tempat ini juga lembab dan basah, bahkan berbau anyir dan amis.


Aku mengeluarkan pisau cahaya.


Cahaya dari pisau ini seperti membawa lampu. Sangat menyilaukan mata, tidak perduli apa yang kulakukan tetap seperti itu.


Akhirnya sampai dipaling dasar. Bau amis disini sangat kuat dan tempat ini dipenuhi air.


Setelah kusinari mulai terlihat itu bukan air.


Melainkan darah. Darah di game ini? Wow ini pertama kalinya. Dan jumlahnya tidak main-main.

__ADS_1


Darah memenuhi tempat ini dan menggenangi sampai se mata kaki.


"Ini mengerikan"(Faira) "Makhluk biadab"(Aldebar) "Melvis semoga kamu masih hidup"(Lydia)


Aku terus berjalan hingga aku menemui Altar yang terbuat dari tulang berbagai makhluk. Karena berwarna merah seperti dibentuk dengan otot.


Sangat mengerikan "bisa kamu hancurkan itu?"(Faira) "tentu" Aku menyerang altar itu dengan sabit.


Sabit ku mengenai lapisan merah transparan yang menutupi altar. Jangan remehkan aku.


"Mundur!!" Mereka yang dibelakang punggungku mundur menjauhi ku.


Aku mengeluarkan rantai dan terus mengayun ke altar itu.


Blood shield


HP: 80.000/100.000


Blood Altar


HP: 150.000


Armor: 100.000


Keras sekali sampai rantaiku jadi pendek baru hancur perisai dari altar itu. Aku melilitkan rantai dan kualiri mana.


Api menyelimuti tinjuku, aku langsung meninju altar itu. Cairan merah menyembur dari altar itu dan menahan tanganku.


Tapi cairan itu tidak bisa menahan seranganku akhirnya tinjuku mengenai altar itu. Ledakan terjadi meski begitu aku tidak bisa menghancurkan armornya.


Setelah kualiri mana, pisau itu berubah jadi petir yang langsung menghancurkan cairan itu beserta armornya.


Ditambah penetrationnya HP dari altar berkurang. Altar itu meledakan cairan merah yang membentuk kembali blood shield dan armor.


Sepertinya kamu menghinaku. Aku meletakkan pisau berbaris membentuk formasi 3-1.


Cahaya biru berkumpul ditanganku membentuk kapak besar "Attack formation great axe"


Aku menggunakan kapak itu menghantam perisai setengah jadi yang hancur dengan mudah terus menembus hingga altar.


Cahaya merah keluar seperti senter yang menahan seranganku tapi itu tidak lama. Seranganku mengenai altar dan membuat suara mengerikan.


Tapi aku tidak bisa menjelaskannya sama sekali. Tulang-tulang yang menyusun altar bergerak-gerak seperti hidup.


Keadaan itu bisa membuat siapapun ketakutan setengah mati. Termasuk aku, apalagi melihat tengkorak yang terus bergerak.


Ledakan terjadi debu berwarna merah menutupi segala tempat. Dan altar itu hancur.


Aku kehabisan nafas lelah baik secara fisik maupun mental.


"bagaimana bisa kamu menggunakan sihir?"(Faira) "itu tidak penting, yang penting-"


"kalian berdua. Bantu aku!!"(Lydia)


Lydia menemukan sangkar kayu yang besar sekali didalamnya ada puluhan orang. Aku mendekati mereka.

__ADS_1


"Tidak bisa ini terkunci"(Luhde) "aku sekarang tidak bisa menggunakan sihir"(Aldebar)


Aku langsung menyusun pisau berbaris lurus.


"Mundur. Attack formation giant slash" Cahaya biru membentuk pedang besar ditanganku. Aku langsung menebaskannya ke sangkar itu.


Tidak butuh waktu lama sangkar itu hancur bahkan membuat garis besar di dinding batu dibelakangnya.


Didalamnya ada berbagai orang, tua, muda, pria, wanita, bahkan anak-anak. Mereka semua basah kuyup karena darah.


Yang menarik perhatianku seorang pria yang sepertinya tidak sadarkan diri. Baju dan kulitnya berwarna merah karena darah. Apa itu?


"Melvin!!! Permis sebentar"(Lydia) Lydia masuk kedalam dan memangku pria itu yang sepertinya Melvin.


"Dia kristis. Bertahan sebentar aku akan mengobatimu. Tidak bisa, aku tidak punya mana. Kumohon tolong selamatkan dia"(Lydia)


Baik Faira, Luhde, bahkan Aldebar menolaknya "maaf Lydia. Kita tidak punya mana sama sekali"(Faira)


"sudah kubilang kita hanya bisa meninggalkannya"(Luhde) "maaf Lydia. Luhde benar, kita tidak bisa menyelamatkannya"(Aldebar)


"Tidak... Melvin-"(Lydia) Aku memberikan Mana potion pada Lydia "Selamatkan dia. Hanya kamu satu-satunya harapan. Aku pun tidak bisa melakukan apapun"


Lydia menerima potion itu "terima kasih banyak"(Lydia) Lydia langsung meminum potion itu dan menggunakan sihir.


Aku berjalan setelah meninggalkan pisau cahaya disana.


"Tunggu kalau kamu punya potion itu kenapa tidak berikan dariawal?"(Luhde)


"mudah. Karena aku tidak percaya pada kalian. Kecuali Lydia" Aku mengacuhkan mereka dan berjalan keatas.


Tidak menunggu waktu lama semua orang didalam sana keluar. Disusul kelompok Faira yang paling belakang.


Melvin sudah sadar dan Lydia memapahnya


"Terima kasih karena menyelamatkanku dan Lydia"(Melvin) "lupakan saja itu sudah tugasku" "mereka bagaimana?"(Faira)


"kita tinggalkan" Mendengar kata-kataku semua disana terkejut terutama Lydia.


"Kenapa?"(Lydia) "karena. Sudah terlambat"


Assasin muncul dibelakang Faira. Pisau ku langsung menusuk kepalanya. Spirit langsung menariknya kelangit.


Aku mengibaskan tanganku dan kadal keluar dari stealth. "Naik!!!" Puluhan panah keluar entah darimana.


Para assasin muncul dan menyerang para penyihir tidak berguna. Untung saja para spirit menarik mereka satu demi satu.


Karena panik aku tidak sempat mempersenjatai mereka. Aku hanya sempat membuat formasi ditanah.


"Defense formation wall castle" Tembok dari es keluar dari tanah menjulang tinggi hingga anak panah tidak bisa melewatinya.


Aku naik kekadal dan kadal itu mulai berlari.


Aku tahu perjalanan ini tidak akan mudah.


**TO BE COUNTINUE...***

__ADS_1


__ADS_2