Abnormal Assasin

Abnormal Assasin
Part 21 Kota Tria


__ADS_3

"Apa kamu baik-baik saja?"(Mathew) Aku menatap Mathew yang keluar dari tenda.


Tadinya ingin marah tapi aku tahan karena aku tahu bagaimanapun dia hanyalah NPC.


"Aku baik-baik saja" Sepertinya Mathew lebih fokus pada semua mayat disekitarku.


Seluruh mayat itu hilang menjadi cahaya, aku mendekati Mathew.


"maaf bisa kita undur keberangkatan ini, aku lelah sekali" "tentu saja bagaimanapun kamu bertarung semalaman"(Mathew)


Aku meletakkan semua daging serigala dan masuk kedalam tenda, aku sangat mengantuk jika aku memaksakan diri melanjutkan perjalanan dalam keadaan begini saat melawan bandit akan bagus jika aku tidak mati.


***


Aku menusuk pedangku pada bandit terakhir. Satu kelompok lagi lenyap, aku langsung pergi mengejar kereta kuda.


Aku melihat kereta berhenti dan dihadang bandit. Aku bingung, aku harus menunggu dikereta saja atau membersihkan mereka semua.


Jika membersihkan sekolompok, kelompok lain sudah menyerang kereta.


Aku langsung melempar 3 pisau berapi, 3 ledakan terjadi membuat mereka mundur.


Aku langsung maju menyerang dengan pedangku. Aku bertarung dengan 2 senjata satu pedang dari set bayangan sedangkan satu lagi pisau dari elemen petir.


Total bandit ada 15 orang 5 diantaranya level 15. Kali ini cukup merepotkan ada 3 assasin 1 diantaranya berlevel 15, 5 archer sisanya warrior.


Aku menahan serangan salah satu bandit dengan pedangku, pisau ditangan kiriku dengan cepat menebas lehernya.


1 Assasin muncul dibelakangku, aku langsung menggunakan shadow position hingga aku dan assasin bertukar tempat.


Aku langsung menggunakan Shadow needle yang juga langsung menahan assasin itu.


Aku langsung melempar pisau petir yang langsung menembus 2 orang.


Setelah menebas beberapa kali assasin itu mati dan bandit didepannya juga ikut terbunuh tidak lama setelahnya.


5 Archer menembak panahnya, para warrior menunggu didepan pemanah. Aku langsung maju menyambut serangan panah.


Aku menghindar serangan beberapa panah dan mengeluarkan satu serigala hitam.


Serigala itu langsung menyerang para warrior.


Tiba-tiba 2 assasin muncul didepan dan dibelakang ku. Aku meninggalkan satu pisau api dan berpindah kebelakang satu warrior sambil menyerang membuatnya Stun.


Aku menggunakan shadow radition membuat puluhan jarum keluar dari bidang bayangan disekitarku.


Ledakan terjadi 2 Assasin yang malang, aku menggunakan Shadow hand mengikat semua yang sempat tertusuk jarum bayangan.

__ADS_1


Aku bergerak cepat membunuh satu demi satu hingga tersisa 2 Assasin yang menatapku dengan ngeri.


Aku langsung maju, salah satu dari mereka menghilang.


Aku meninggalkan satu pisau es ditempatku dan bertukar tempat dengan assasin yang muncul dibelakangku.


Setelah dia membeku yang menunggu dia hanyalah kematian.


Satu yang tersisa dengan mudah aku bunuh.


***


Setelah 2 hari


Aku lelah, aku kurang istirahat, kurang makan, juga kurang offline. Para bandit dan serigala terus menyerang tanpa henti. Siang dan malam bergantian menggangguku membuatku kelelahan.


Hingga terpaksa Mathew menunda beberapa jam agar aku bisa istirahat.


Tapi semua itu akhirnya berakhir kami berdua telah sampai di kota Tria.


Didepan ada antrian kereta kuda berbagai motif, jenis, dan warna tentu saja yang cerah dan mewah bangsawan dan yang kusam dan polos pasti rakyat biasa.


Kota ini dikelilingi tembok setinggi 3 meter dengan dinding putih dan memiliki gerbang raksasa sebagai pintu masuk.


Setelah membayar biaya masuk kami akhirnya memasuki kota. Didalam kota banyak rumah yang lebih bagus daripada di desa.


Banyak lentera dengan kristal didalamnya sebagai pencahayaan, jalan yang sudah disemen dan ditata, banyak tanaman yang menghiasi jalan.


Keadaanya sangat berbeda dengan didesa, selain itu banyak toko dengan beragam jenisnya tidak seperti di desa.


Disini ada toko ramuan, alat sihir, pandai besi, toko baju, restoran, penginapan, suvernir, dan lain sebagainya.


Pemberitahuan quest selesai membuat hatiku lega. Soalnya Mathew merupakan penghubungku dengan bu Ani dan Rita didesa, lagipula hukuman kegagalan quest ini terhitung mengerikan.


"Apa kamu bisa membantuku mengantar semua ini?"(Mathew) "tentu saja"


Selain membantu mengantar semua pesanan dari bu Ani aku juga sempat mencari informasi.


"terimakasih banyak. Berkat kamu semuanya jadi mudah"(Mathew) "tidak perlu sungkan. Apa anda langsung kembali ke desa?"


"rencananya besok aku akan kembali kedesa. Aku ingin istirahat dan mencari oleh-oleh dulu"(Mathew)


Aku hanya mengganguk paham bagaimanapun perjalanan ini menguras segalanya bahkan aku yang player, kurasa aku tidak akan terbiasa.


"kalau begitu ini saatnya berpisah, aku harus mendapatkan job ku dulu"


"aku sampai lupa kalau kamu tidak punya job. Soalnya kamu sekuat itu meski tanpa job"(Mathew)

__ADS_1


Aku hanya senyum saja, semua kekuatan ku berasal dari pengalaman bermain ditambah semua peralatan yang kudapat.


Mungkin bagi player lain aku ini curang saat yang lain bersusah-susah berjuang tanpa equipment, aku punya banyak set yang bahkan bisa kujual.


Setelah berpisah dengan Mathew aku mencari perkumpulan assasin. Di game ini untuk mendapat job harus pergi kesalah satu perkumpulan.


Yaitu: Perkumpulan Assasin, Perkumpulan warrior, perkumpulan archer, perkumpulan mage dan gereja.


Setelah memilih biasanya akan dites dengan kecocokan 25% 50% 75% 100%


jika gagal dalam tes maka akan diarahkan ke perkumpulan lainnya.


Selain job petarung juga ada perkumpulan untuk pekerja sekunder hanya bedanya tidak perlu untuk langsung kesana cukup berguru dengan mereka yang mempunyai job tersebut.


Tanpa terasa aku sudah tiba. Disebuah mansion dengan suasana horor dan mencekam. Bukan karena sepi tapi karena banyak orang dengan nafas pembunuh disana.


Meski mansion bagian bawahnya berupa teras tanpa satupun pintu hingga terlihat seperti sebuah tenda luas dengan atap sebuah rumah.


Ada beberapa tiang yang menyangga atap terlihat luar biasa. Aku berjalan ke resepsionis dimana terlihat wanita mudah yang asik bermain dengan pisau.


"permisi. Aku ingin mengambil job assasin"


Wanita itu menatapku "gagal berarti mati, apa masih ingin mencoba?"(resepsionis)


"tentu saja" "ikuti aku"(resepsionis)


Wanita itu berdiri dan berjalan dengan anggun. Aku mengikuti dengan diam dibelakangnya.


Kami memasuki ruang tidak jauh dari samping meja resepsionis.


Ruang di belakang pintu sangat gelap bahkan jauh lebih gelap daripada rumahku saat mati lampu.


Melihat wanita itu masuk kedalam ruangan itu, aku mengikuti dari belakang. Meski aku mengikuti wanita itu rasanya aku sendirian.


Aku tiba-tiba merinding tanpa sadar aku menunduk meski tidak tahu apa yang kuhindari.


Apa-apaan itu? Tiba-tiba sunyi bahkan suara nafas wanita itu hilang. Aku seperti kehilangan seluruh indraku, aku meraba dalam gelap hingga aku hampir terjatuh.


Aku jongkok meraba tanah yang seharusnya disana. Benar disitu ada lubang atau jurang, jika aku tidak hati-hati aku akan jatuh kebawah dan mati.


"siapa orang gila yang membuat jurang disini? Aku bisa jatuh dan mati tanpa sisa"


"benar kamu seharusnya jatuh"(Resepsionis)


Aku langsung menengok kebelakang yang sudah jelas tidak akan terlihat apa-apa. Tiba-tiba aku terdorong kedepan dan aku terjun bebas, aku langsung berteriak meski tahu tidak ada gunanya.


**TO BE COUNTINUE....**

__ADS_1


__ADS_2