Abnormal Assasin

Abnormal Assasin
Part 149 Seluruh tetua menara sihir


__ADS_3

Aku merinding hebat saat melihat semua mage itu. Selain melihat pria muda disamping Martin, dan Olivia disamping Heidi.


Aku melihat orang yang hanya bertemu sekali tapi rasanya baru kemarin. Pria berjenggot dengan baju dan jubah putih.


Kali ini levelnya terlihat dan membuatku sedikit bingung.


-Thunder monarch Marcus


level: Tier 1


Apa maksudnya Tier? Marcus menatapku dan menghampiriku


"Sayang sekali kamu membuang-buang bakatmu"(Marcus) Meski dia bicara perlahan suaranya seperti suara petir.


Bahkan bisa membuat jiwaku merinding dan aku terkena debuff Shock. Debuff yang membuatku tidak bisa bergerak tapi bisa bicara.


"Karena aku suka tantangan. Jadi mage terlalu hebat untukku, nanti tidak ada rasanya"


Aku bisa mendengar suara tercekat dari setiap orang disana.


Mau bagaimana lagi kebanyakan disini adalah mage bahkan Rian34 hampir pingsan.


"Seperti kata Cleo, arogan. Tapi itu wajar melihat banyaknya prestasi yang kamu buat"(Marcus)


"Aku telah banyak mendengar namamu apalagi kamu secara langsung campur tangan pada keselamatan ketiga muridku. Jadi kenalkan aku Rikki guru mereka bertiga"(Rikki)


Rikki menunjuk Martin, Alvin, dan Fellix


"Tidak perlu sungkan mereka juga temanku, selama ada imbalan aku akan tetap membantu asal tidak mengabaikan hati nurani"


Rikki tertawa "Benar, yang seperti itu lebih bisa dipercaya daripada seseorang yang membantu tanpa pamrih"(Rikki)


"Omong kosong dia hanyalah orang yang munafik"(Mage jubah hijau) Seorang kakek-kakek dengan jubah hijau bicara lantang.


Disekitarnya banyak mata dari besi sepertinya dia tetua divisi magic crafter.


"Kenapa? Ingat murid mu Merish"(Rikki)


"Cih. Dia punya hubungan dengan kolektor ingat? Suatu saat dia akan berkhianat dan menyabotase segalanya bahkan bisa saja dia akan menjual kita nanti"(Merish)


"Apa kamu mengatakan kami jauh lebih lemah daripada mereka. Merish"(Franley)


Seorang tetua dengan jubah merah datang.

__ADS_1


Hawanya masih terasa kuat tapi tidak sekuat waktu itu.


"Itu benar, meski dia berkhianat sekalipun itu hanya mendatangkan kerugian besar padanya dan organisasi yang diikutinya"(Saly)


Apa yang dilakukan resepsionis menara sihir disini? "Aku masih merasa menghukum World Conquer demi orang seperti dia masih berlebihan meski mereka tidak banyak menghasilkan keuntungan mereka tidak tamak sepertinya"(Mage wanita dengan jubah perunggu) Wanita dengan jubah perunggu yang menaiki golem tanpa kaki menatapku dengan merendahkan.


"Tapi mereka hampir membunuh kami tetua Gory"(Heidi) "Itu benar. Meski bukan untuknya hukuman mengancam menara sihir adalah pemutusan kerja sama dalam bentuk apapun sampai pembubaran organisasi"(Olivia)


"Apa kalian ingin terus ribut saja. Apa kalian lupa tujuan kita kesini"(Mage wanita dengan jubah biru)


Benar raksasa yang sekarang sedang di bombardir tanpa ampun dibawah itu kan.


Anehnya meski begitu tidak ada boss bahkan mid boss yang mati.


"Kamu tahu sendiri Fira kalau kita tidak bisa menyerangnya langsung hanya para junior yang bisa melakukannya"(Olivia)


"Aku mengerti. Hanya saja sampai kapan kalian akan membuang waktu?"(Fira)


"Tidak perlu ribut seperti itu. Santai saja karena para junior ini yang membangunkannya bagaimana jika mereka saja yang memimpin penyerangan"(Mage pria berjubah hijau)


"Aku tidak keberatan"(Rikki) "Aku juga"(Olivia)


"Terserah kalian saja"(Fira) "Aku setuju"(Saly)


"Setuju"(Rey) "Bagaimana denganmu Luna? Kamu tidak mau sembunyi terus kan?"(Olivia)


Dari belakang Faira keluar orang dengan jubah putih. Saat dia membuka tudungnya yang ternyata wanita membuatku sedikit kaget.


Karena dia Elf, memiliki mata coklat, rambut pirang, dan ada tanda didahinya serta sikapnya yang dingin membawa pesona tersendiri.


"Aku tidak begitu perduli asal muridku bisa termasuk tidak masalah"(Luna) "Baik sudah diputuskan kalau begitu-"(Marcus)


"Tunggu dulu. Kami tidak terima. Mereka hanya pembantu saja bukan orang menara sihir dan hanya memiliki sedikit hubungan dengan kami"(Merish)


"Apa kamu sebegitu pengecutnya Merish?"(Franley) "Diam kamu otak otot"(Merish) "Oh... Nantangin nih dasar kakek-kakek bau oli"(Franley)


"Maaf ketua bukanya kami tidak percaya dengan mereka hanya saja-"(Gory)


"Cukup!! Kalian tidak perlu bicara lagi. Masih ada satu orang lagikan, kalau dia mendukung


Biarkan saja jika tidak biarkan kita yang mengambil alih nanti kalian tinggal kuberi hadiah secara langsung"(Marcus)


"Baiklah. Tapi dimana Tyson?"(Rey) "Kupikir kalian melupakanku"(Tyson) Dari langit yang gelap dan bergemuruh petir terlihat pria yang turun secara perlahan dari sana.

__ADS_1


Menggunakan jubah biru dan menatap mereka yang sedang ribut.


"Jadi bagaimana Tyson?"(Rey) "Aku setuju"(Tyson) "Kenapa?"(Merish)


"Karena semuanya hampir dikerjakan dia sendiri bukanya tidak sopan mengambil buruan orang lain. Lagipula kita kesini cuma membantu"(Tyson)


"Baiklah sudah diputuskan kalau begitu. Jadi kalian ber sepuluh akan memimpin 9 orang lainnya dan hancurkan pulau ini dari berbagai sisi. Capai bagian inti dan hancurkan tubuh asli makhluk itu. Sementara kami akan menahan makhluk ini agar tidak bergerak sedikitpun"(Marcus)


"Kami mengerti"(Semua mage) Aku dan yang lain berpencar dan turun di bagian pantai.


Setelah aku menginjak pantai 9 orang mage turun.


Ada 2 yang kukenal Faira dan Lydia. Selain kedua tadi ada 3 wanita lain dan 4 pria.


Faira dan Lydia memakai jubah putih, 1 wanita dan 1 pria memakai jubah hijau, 1 wanita memakai jubah biru, 1 wanita dan 1 pria dengan jubah perunggu, dan yang tersisa memakai jubah biru terang.


"Lama tidak bertemu"(Faira) "Ya sudah lama. Bagaimana kabar Marquess?" "Seperti biasa. Ayah masih sehat"(Faira) "Baguslah. Jadi bagaimana hubunganmu dengan Melvin? Lydia"


"Kenapa harus disebut sekarang sih?..."(Lydia)


Lydia membuang muka hal itu membuat Faira tertawa kecil.


"Lydia akan segera menikah. Karena itu Melvin sibuk cari uang kesana kemari"(Faira)


"Baguslah kalau begitu kuucapkan selamat"


"nikah juga belum"(Lydia) Aku menatap 7 orang lainnya


"Kenalkan Aku Brishly"(Brishly Mage wanita dengan jubah perunggu) "Ires"(Ires Mage wanita jubah biru) "Aku Greisy salam kenal"(Greisy Mage wanita jubah hijau)


Sedangkan para pria hanya membuang muka hanya satu pria yang menatapku "oh, giliran kami ya. Aku Gale"(Gale Mage pria dengan jubah hijau) "Berry"(Berry Mage pria dengan jubah perunggu)


"Aku Ardania, dan dia Azel Jadi apa rencanamu? Mengingat kamu terlibat dengan ini"(Ardania Mage dengan jubah biru terang)


Sedangkan mage satu lagi hanya mengganguk saja. Terserahlah


"Kita ke gunung dan menunggu disana"


"Hanya itu. Serius?"(Gale) "Alasannya?"(Berry)


"Karena dia yang terakhir. Sebelum dia berubah jadi seluruh pulau sebelumnya dia Mountain Giant"


"Jadi itulah kenapa kamu kesana"(Faira) "Benar dan itu tidak mudah sama sekali. Seperti yang dibilang sebelumnya aku terlibat dan banyak mengambil peran dalam keadaan ini. Jadi aku tahu seberbahaya apa untuk kesana"

__ADS_1


**TO BE COUNTINUE...***


__ADS_2