After Apocalypse

After Apocalypse
Sebuah Kebebasan?


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Enam orang berjalan melewati pepohonan tanpa dedaunan. Entah itu tanah yang mereka pijak, batang pohon, dan kanopi pohon tertutup oleh lapisan salju tebal.


Di alam liar, tidak ada jalanan dan salju tidak dibersihkan sehingga menumpuk tebal dan membuat orang lebih sulit berjalan. Untuk beberapa hunter, ini bukan masalah besar. Namun, hal tersebut tidak sama bagi orang-orang biasa tanpa kekuatan tambahan.


Berjalan di salju tebal sangatlah melelahkan. Belum lagi, suhunya sangat rendah sehingga harus memakai pakaian yang lebih tebal. Pakaian tebal sendiri membuat lebih hangat, tetapi juga sedikit mempengaruhi pergerakan. Bisa dibilang, memiliki nilai plus dan minus.


Di alam liar, pergerakan lambat tanpa perlindungan kuat berarti meminta kematian. Jadi, entah memakai pakaian lebih ringan tetapi harus menahan dingin, atau pakaian lebih tebal tetapi mempengaruhi mobilitas cukup merugikan. Itulah kenapa sebaiknya orang-orang tidak melakukan perjalanan di musim dingin.


Suhu dingin ekstrem, medan yang tertutup salju, dan monster kelaparan adalah suatu hal yang harus siap mereka hadapi.


“Tampaknya bepergian di musim ini adalah pilihan yang salah.”


Alexander menghela napas panjang. Kepulan asap hangat langsung muncul dari mulutnya karena suhu lingkungan yang sangat dingin. Dia kemudian melirik lima orang yang mengikutinya.


Sekarang mereka semua memakai jubah berwarna gelap. Dibalik jubah, mereka juga memakai pakaian cukup tebal, khususnya Jane dan Nene. Kedua wanita itu jelas hampir kewalahan, belum lagi mereka juga harus membawa barang bawaan.


Jane dan Nene membawa barang yang jumlahnya lebih sedikit, sedangkan Daisy dan Aster membawa lebih banyak. Aurora tidak membawa tas di punggungnya, sementara Alexander masih membawa tas. Tentu saja, alasan kenapa pemuda itu membawa tas tersebut karena bahan-bahan dan ramuan berharga ada di sana. Tampaknya tidak ingin orang lain membawanya.


Hanya ada lima tas besar, tetapi berisi banyak bahan yang telah diproses. Ada juga beberapa peralatan seperti pedang, belati, tombak, dan armor ringan. Itulah yang bisa mereka bawa dengan nilai paling maksimal. Yang membuat Alexander sedikit enggan meninggalkan beberapa bahan dan ramuan kurang berharga (kualitas agak buruk) di tempat sebelumnya.


“Apakah masih jauh?” tanya Alexander sambil melirik ke arah Aurora.


“Sekitar setengah hari perjalanan,” balas Aurora dengan ekspresi datar di wajahnya.


“Hmmm ...” Alexander mencubit dagu. Setelah beberapa saat, dia berkata, “Istirahat sebentar. Kita berada di tempat yang lumayan aman. Jadi seharusnya tidak ada masalah jika hanya beristirahat sebentar.”


Setelah mengatakan itu, Alexander memberi isyarat kepada lima orang untuk beristirahat. Dia kemudian menyerahkan ranselnya kepada Aurora. Sepasang sayap hitam legam muncul di punggung pemuda itu. Dalam sekejap dia langsung terbang menjauh.


Sementara Alexander terbang untuk mengamati sekitar, kelima orang itu beristirahat.


Aurora duduk dengan tenang tanpa banyak bicara. Walau hubungannya dengan empat wanita lain tidak buruk, tetapi mereka tidak begitu akrab. Bukannya dia ingin menjauh, tetapi keempat wanita itu tampaknya memasang batas padanya.

__ADS_1


Aurora tidak tahu apakah itu disebabkan karena mereka membencinya atau hanya karena merasa rendah diri. Wanita itu hanya berharap kalau mereka bisa memperlakukannya dengan cara biasa. Tidak perlu terlalu menghormati dan bersikap formal di depannya.


“Maafkan saya karena menjadi beban,” ucap Nene dengan ekspresi tertekan.


Wajah wanita agak pucat. Tampaknya perjalanan panjang ini masih mempengaruhinya bahkan jika dilengkapi dengan baik dan minum ramuan. Jadi dia merasa rendah diri, merasa memperlambat dan merasa telah menjadi beban kelompok kecil itu.


“Aku juga bersalah. Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri.” Jane berkata dengan nada dingin seperti biasa. Tampaknya mencoba menghibur Nene dengan caranya sendiri.


“...” Nene hanya menunduk, tidak mengatakan apa-apa.


Daisy dan Aster saling memandang. Mereka berdua ingin menghibur, tetapi tidak tahu caranya. Lagipula, kecepatan kelompok memang menjadi lebih lambat karena mereka berdua. Sedikit melenceng dari rencana Alexander dan Aurora.


“Tidak masalah.”


Aurora berkata tanpa membuka matanya, masih bersandar pada pohon sambil beristirahat. Kemudian wanita itu melanjutkan.


“Kalian berdua seharusnya kalau Al adalah orang yang tidak menepati janjinya. Mereka juga peduli pada kita, tidak memaksa kita melakukan hal-hal di luar kemampuan kita. Meski begitu, bukan berarti kita bisa memanfaatkannya.


Al bukanlah orang bodoh. Dia melakukan semuanya dengan menimbang keuntungan dan kerugian. Jadi, jika ingin bertahan sekaligus membalas budi, setidaknya jadilah lebih berguna. Bukan untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk kelompok ini.”


Memiliki ekspresi tegas, keduanya mengangguk dan berkata serempak.


“YA!”


***


Setengah hari kemudian.


“Shelter 1005 tidak jauh lagi. Kita akan sampai di tujuan setelah melewati bukit kecil di depan.”


Suara Aurora terdengar, membuat empat wanita lain yang agak kelelahan menjadi bersemangat. Bahkan Alexander yang tampak cuek terlihat cukup lega.


“Tiba di tujuan sebelum matahari terbenam. Tampaknya malam ini kita bisa beristirahat lebih baik,” ucap pemuda itu dengan nada datar.

__ADS_1


“Bukankah perjalan ini bisa dibilang lancar? Kenapa kamu terlihat memiliki banyak keluhan?” Aurora mengangkat alisnya.


Menurutnya, perjalanan mereka sampai ke tempat ini terbilang lancar. Mereka sama sekali tidak bertemu dengan makhluk level 2, apalagi level 3 atau di atasnya. Bisa dibilang, mereka sangat beruntung karena melakukan perjalanan tanpa sedikitpun goresan.


“Bukankah malam hari terlalu berisik?” ucap Alexander sambil mengangkat alisnya.


“Bukankah itu hanya gerombolan monster level 1? Bahkan sebagian berada di level terendah?” Aurora memiringkan kepalanya.


“Suara mereka berisik. Selain itu mereka terlalu gigih. Tidak peduli berapa banyak yang aku bunuh, mereka sama sekali tidak mundur. Aku hampir tidak bisa membedakan apakah mereka sebenarnya ulet (gigih) atau bodoh.” Alexander menghela napas panjang.


Setelah berjalan beberapa saat, mereka pun mendaki bukit kecil. Dari sana, orang-orang itu seharusnya bisa melihat pemandangan Shelter 1005 yang berada di sebuah cekungan kecil. Namun, sesampainya di sana, ekspresi keenam orang itu berubah.


“Ini ... dihancurkan?” gumam Aster dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya.


Di depan mereka, pemandangan Shelter 1005 yang sekarang terlihat seperti desa kecil yang separuhnya dihancurkan terlihat oleh mata.


Pada awalnya, Shelter 1005 sendiri adalah shelter tingkat rendah. Meski tidak memiliki hunter yang kuat, tetapi setidaknya mereka didirikan di tempat yang relatif tidak berbahaya. Jadi kemungkinan besar tidak akan ada masalah.


Hanya saja, pemandangan di depan mereka menumbangkan pemikiran mereka semua.


‘Apakah gelombang binatang buas itu benar-benar tidak biasa? Tapi kenapa?’


Alexander mengerutkan kening. Dia kemudian menarik napas dalam-dalam. Setelah berpikir baik-baik, pemuda itu berkata dengan santai.


“Kita akan pergi memeriksa. Meski separuhnya hancur, pasti masih ada sebagian orang yang selamat. Setidaknya kita bisa tinggal beberapa saat.”


Setelah mengatakan itu, Alexander merentangkan kedua tangannya lalu melanjutkan.


“Paling buruk kita bisa terus melanjutkan perjalanan. Gunakan bumi ini sebagai lantai dan langit sebagai atapnya, bukankah itu yang disebut kebebasan?”


Aurora tidak mempedulikan bagaimana Alexander mencoba menghibur mereka. Sebaliknya, dia masih berbicara dengan nada dingin seperti biasa.


“Akui saja, sebenarnya sekarang kita hanyalah tunawisma.”

__ADS_1


Mendengar itu, ekspresi Alexander langsung menegang. Saat itu juga, suasana menjadi sedikit sunyi dan canggung.


>> Bersambung.


__ADS_2