After Apocalypse

After Apocalypse
Tenggat Waktu


__ADS_3

Alexander memejamkan matanya lalu menghela napas ringan.


“Apakah ada yang salah?” tanya Melissa.


“Bukan apa-apa, Nona Melissa. Hanya saja, aku merasa sedikit heran.”


Alexander membuka matanya lalu menatap tepat ke mata Melissa.


“Kenapa kamu tidak tampak sedih setelah melihat kedua adikmu meninggal, Nona? Padahal Claude mengkhawatirkan keadaanmu.”


Pada saat mendengar namanya disebut, Claude langsung memprotes dengan malu. Namun ekspresi Melissa sendiri berubah. Senyum di wajah wanita itu digantikan oleh ekspresi terkejut.


“Kamu sedikit berlebihan, Mr Alexander.


Tentu saja, kami, semua anak Mama sedih ketika saudara kami meninggal. Jika dibilang sedih, tentu kami sedih. Namun, di sisi lain, sebenarnya kami juga merasa sedikit lega.


Mungkin agak sedikit tidak tepat. Namun, jika boleh jujur, sebenarnya anak-anak Mama itu tidak begitu rukun. Banyak dari kami terpecah belah membentuk kelompok kecil.


Sebagai orang cerdas, seharusnya kamu tahu. Mama sudah tua ... jadi banyak orang yang sudah memperebutkan posisinya sebagai kepala keluarga.”


Suara Melissa sangat pelan dan lembut. Claude dan tiga bawahannya tidak mendengar karena sibuk menepis ucapan Alexander sebelumnya dengan malu-malu. Sementara itu Alexander yang mendengarkan bisikan wanita tersebut langsung merubah ekspresinya.


“Jadi kamu sudah menebak hal semacam ini akan terjadi?” tanya Alexander.


“Banyak yang menebak hal semacam ini akan terjadi. Namun, sebenarnya semua orang (anak Aunt Ma) sudah sepakat kalau tidak akan menggunakan metode semacam ini untuk mewarisi posisi kepala keluarga. Itu berarti, ada dua kemungkinan.” Melissa menatap wajah Alexander.


“Ada yang melanggar perjanjian atau ada orang luar yang berusaha membuat masalah setelah mengetahui ini,” gumam pemuda itu.


“Kamu sangat cerdas. Meski baru saja bertemu, kamu benar-benar membuatku tertarik, Alexander.”


Melissa berbisik lirih. Dia menatap ke arah Alexander dengan senyum cerah di wajahnya. Hanya saja, pemuda itu merasa sedang ditatap oleh ular beludak yang begitu beracun dan berbahaya.


“Bagaimana kalau bekerja di bawahku? Dengan bantuanmu, seharusnya naik ke posisi itu menjadi lebih mudah. Selain itu, aku juga tidak akan memperlakukanmu dengan buruk.”


Melihat Melissa mengedipkan matanya pada dirinya, Alexander merasa sedikit dingin. Pemuda itu merasa, jika sampai mengikuti wanita tersebut ...


Dia pasti tidak akan bisa keluar dari jebakannya.


“Maaf, aku adalah orang yang menyukai kebebasan. Aku tidak suka terlibat dengan masalah seperti ini,” bisik Alexander dengan nada datar.


“Oh. Itu benar-benar sangat disayangkan.”


Melissa menggeleng ringan, tampak sedikit kecewa.

__ADS_1


Sementara itu, Alexander menatap ke arah Claude yang ada di luar selagi dia memeriksa kamar. Melihat temannya yang salah tingkah dan terlihat malu-malu, Alexander merasa agak rumit. Dia merasa tidak pantas untuk mencampuri urusannya, tetapi juga merasa tidak nyaman melihat temannya dimanfaatkan.


Alasan utama Melissa dekat Claude jelas bukan cinta, tetapi alasan pribadi lainnya. Karena para prajurit langsung berada di bawah Blood Cross, berarti tidak bisa digunakan untuk membantu anak-anak Aunt Ma memperebutkan kekuasaan. Itu berarti ...


Mereka dengan sengaja mencari dan merekrut orang luar (hunter bebas) sebagai pengikutnya!


 


Sementara itu, jauh di utara, di luar wilayah kekuasaan Blood Cross.


Dalam sebuah kuil kecil yang tampak bobrok, tampak seorang pria yang duduk bersimpuh. Dia memiliki paras yang teramat tampan, rambut putih panjang diikat ke belakang, dan memiliki ekspresi tenang di wajahnya.


Di depannya, tampak sebuah cawan kecil dan sebuah kendi anggur.


Pria itu menyatukan kedua tangannya sambil memejamkan mata dalam posisi seperti sedang berdoa.


‘Maaf karena aku belum bisa menyusul kalian di alam sana. Mungkin ini adalah kunjungan terakhirku. Aku harap kalian bisa tenang di sana dan tidak membenciku.’


Pria itu menuangkan anggur ke cawan lalu menyesapnya dengan tenang.


Setelah minum, dia bangkit sambil membawa kendi berisi anggur lalu menuangkannya ke pilar batu. Sebuah pilar yang jika diperhatikan tampak banyak ukiran nama.


‘Lain kali aku akan menemani kalian minum. Ya ... lain kali.’


Baru saja keluar dari kuil, dia melihat seorang pria yang duduk di bawah pohon halam depan kuil.


Pria itu memiliki rambut pendek pirang yang tampak lancip seperti landak. Dia memiliki bekas luka di mata kirinya yang membuatnya terpejam dan iris berwarna topaz di mata kanannya. Matanya tampak tajam, dan seringai terpatri di wajahnya.


Pria tersebut hanya memakai celana panjang hitam dengan sabuk dan memakai sepatu, menampilkan bagian tubuh atas agak ramping tetapi penuh otot solid. Selain itu, terlihat banyak bekas luka di sekujur tubuhnya.


Melihat ke arah pria yang baru saja keluar dari kuil, dia berkata, “Sudah kuduga anda berada di sini, Tuan Julius.”


Berbeda dengan penampilannya yang tampak ganas, pria itu tampaknya memperlakukan Julius dengan sangat sopan.


“Ada apa sampai kamu, pria yang dijuluki sebagai ‘manusia terkuat’ mencariku, Kaiser?”


“HAHAHAHA!”


Mendengar ucapan datar Julius, Kaiser bangkit sambil tertawa terbahak-bahak. Dengan kedua tangan terlipat, dia menggelengkan kepalanya seolah sedang mendengarkan lelucon paling lucu.


“Berhenti mengolok-olok saya, Tuan Julius. Ketua lebih kuat dari saya, dan anda lebih kuat dari Ketua.” Kaiser merentangkan kedua tangannya. “Saya heran, kenapa bukan anda yang menjadi ketua, Tuan Julius?”


“Karena Ketua lebih pantas menjadi ketua. Menjadi ketua bukan hanya perihal kekuatan, tetapi juga kebijaksanaan.” Julius berkata dengan nada tenang.

__ADS_1


“Itu jawaban yang membosankan, Tuan Julius.”


Kaiser menggeleng ringan. Dia menatap pria dengan pakaian bak bangsawan berwarna hitam dengan sulaman benang perak yang cocok dengan warna rambutnya. Sebuah katana panjang berwarna hitam legam tampak di sisi kiri pinggangnya. Walau diam di tempatnya bahkan tidak membuka mata, tetapi aura mengerikan tampaknya terus berada di sekitarnya.


Melihat Julius diam saja, Kaiser bertanya, “Apakah kamu tidak merasa bosan datang ke tempat ini, Tuan Julius?”


Kaiser mengamati sekeliling. Selain kuil kecil yang nyaris ambruk, tampak beberapa rumah yang sudah roboh. Tempat ini seharusnya adalah sebuah desa kecil sebelum hancur karena alasan yang tidak diketahui.


“Apakah Ketua memberi tugas?” Bukannya menjawab, Julius balik bertanya dengan nada datar.


“Aku tidak tahu apa yang Ketua maksud. Dia berkata kalau tenggat waktu telah datang, dan para monster sudah mulai membuat kekacauan.


Bagian barat tidak bisa tahan lagi, jadi seharusnya monster-monster itu akan bergerak ke timur. Kita diberi tugas untuk pergi ke wilayah kekuasaan Blood Cross untuk memberi mereka peringatan. Mereka itu orang-orang bodoh yang tinggal di wilayah tengah, tampaknya terlalu puas dengan kehidupan mereka dan melupakan musuh yang sebenarnya.”


Melihat Kaiser yang tampak tidak puas, Julius mengangguk ringan.


Kaiser mulai kembali menggerutu dengan ekspresi tidak puas di wajahnya.


“Bukan hanya Blood Cross, tetapi yang lain juga telah melonggarkan kewaspadaan mereka. Alasan kenapa bagian barat tidak bisa bertahan karena mereka juga melemah setelah bertahun-tahun lamanya.


Jika bukan karena masalah itu, Ketua pasti tidak akan membentuk kelompok ini. Tapi aku puas dengan kelompok kita. Anggotanya tidak banyak, tetapi kekuatan semua anggota memang nyata.”


“Intinya, kita berdua ditugaskan pergi ke wilayah Blood Cross?” sela Julius.


“Iya!” Kaiser mengangguk dengan ekspresi penuh semangat. “Setahuku, satu dari tiga hunter level 5 adalah ketua Blood Cross kan? Aku ingin melawannya. Seharusnya pertarungan itu akan menjadi sangat meriah.”


“Kita tidak pergi ke sana untuk membuat kekacauan ...”


Julius sedikit membuka matanya, menampilkan iris merah darah yang memantulkan cahaya dingin.


Saat itu juga, energi semi transparan muncul di sekitar tubuhnya. Membuat udara di sekitar terasa stagnan karena tekanan yang sangat berat.


“Tugas kita adalah mencegah kehancuran, Kaiser.”


Mendengar suara dingin itu, Kaiser merasa bulu kuduknya berdiri. Keringat dingin membasahi punggungnya.


Walau merasa agak takut, tetapi dia juga merasa sangat bersemangat.


‘Kuat! Layak menjadi pendekar pedang yang membunuh salah satu hunter level 5!’


‘Pria yang disebut-sebut mampu membuat badai dengan lambaian pedangnya!’


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2