
Sekitar satu jam kemudian.
Alexander memandang dua sosok berjubah yang pergi dengan tatapan rumit di matanya. Meski senyum ramah tampak di wajahnya, tetapi kedua tangan di punggungnya mengepal erat. Dia tampak merasa tidak nyaman karena suatu hal.
‘Dilihat secara langsung oleh orang lain memang pengalaman yang sangat buruk.’
Alexander menghela napas panjang. Pria itu merasa kalau Annie berbeda dengan orang-orang yang dia temui sebelumnya.
Alexander telah bertemu beberapa orang cerdas dengan berbagai pemikiran hebat. Namun, daripada orang-orang itu, bahkan dibandingkan dirinya sendiri ... pria itu merasa kalau Annie benar-benar berbeda.
Walau tidak bisa mengetahui identitasnya sebagai Alexander, tetapi tampaknya mata wanita itu telah menembus cangkang kebohongan yang dia buat. Pria itu sadar kalau Annie jelas mengetahui kalau identitas Faust itu palsu, tetapi wanita tersebut tidak memilih untuk membongkarnya. Orang itu juga tidak memaksanya untuk menunjukkan identitas aslinya.
Dari apa yang Annie lakukan sebelumnya, Alexander merasa kalau wanita itu mungkin telah menghubungkan beberapa hal. Dia bahkan curiga kalau hubungan V dan Faust sudah ditemukan olehnya.
‘Belum lagi ... tanpa level? Mungkinkah wanita itu menyembunyikan levelnya?’
Alexander menyempitkan matanya. Jika Annie memang mampu menyembunyikan levelnya, dia bisa memastikan satu hal yang pasti. Wanita itu ... setidaknya memiliki warisan yang cukup tua di tangannya.
Setelah memikirkannya baik-baik, Alexander menganggukkan kepalanya. Jelas, Keluarga Rosewald adalah salah satu keluarga tua sama seperti keluarganya. Sebagai keluarga yang sudah sangat tua, sudah sewajarnya kalau memiliki warisan dari akumulasi para leluhur.
Jika Annie memang menyembunyikan kemampuannya sampai-sampai keluarga dan orang-orang di Shelter 1 tidak mengetahuinya, berarti ada alasan kenapa wanita itu repot-repot melakukannya.
Menyadari kalau Shelter 1 lebih rumit daripada yang dipikirkannya, Alexander menghela napas panjang.
“Aku pikir itu sungai jernih dimana aku bisa berenang bebas seperti sebelumnya.”
Pria itu menggelengkan kepalanya.
“Siapa sangka ternyata tempat ini adalah kolam sempit penuh lumpur sampai-sampai pandanganku terhalang dan sulit keluar darinya.”
***
Siang harinya.
Ketika Aurora, Daisy, dan Aster kembali dari latihan mereka, ketiganya langsung menemui Alexander. Mereka mendengar Jane dan Nene menyebutkan ‘tamu spesial’ yang mendatangi mereka.
Saat menemui Alexander, mereka bertiga terkejut karena reaksi pria itu berbeda dari biasanya.
Jika biasanya Alexander tampak tenang, dingin, dan tak acuh, tetapi menyembunyikan sedikit ejekan dalam pandangannya, sekarang pria itu tampak sangat serius. Bahkan lebih serius daripada biasanya.
“Untuk sekarang, gunakan waktu tenang ini untuk berlatih sebanyak-banyaknya. Kita juga harus fokus untuk meningkatkan kekuatan (level) kita,” ucap Alexander.
“Apakah situasi bisa menjadi lebih buruk Al?” tanya Aurora.
Bagi semua orang, situasi sekarang sudah sangat buruk karena monster-monster semakin padat dan mengamuk di luar sana. Jika itu masalah politik, seharusnya Alexander tidak begitu memikirkannya karena Aurora tahu kalau pria tersebut sudah melalui hal semacam itu.
Entah itu kekacauan di Shelter 13 atau Shelter 11, Aurora tahu kalau Alexander bisa melewatinya dengan lancar. Jadi, dia merasa penasaran kenapa pria itu tampak cukup gugup.
__ADS_1
“Lebih buruk dari apa yang kamu pikirkan,” ucap Alexander.
Pria itu kemudian bersandar pada sofa, menghela napas panjang sambil mendongak menatap langit-langit.
“Seburuk itu?” tanya Daisy dengan ekspresi heran.
Sementara itu, Aster hanya melihat mereka bertiga sambil berkedip. Wanita itu sesekali mengangguk, pura-pura mengerti apa yang mereka maksud. Namun dia juga sadar diri kalau dirinya tidak sepintar sepupunya, apalagi dua orang lainnya. Namun, ada satu hal yang wanita itu yakini.
‘Jangan menyela apalagi berpura-pura pintar, diam adalah pilihan bijak karena orang lain tidak akan tahu kalau kamu bodoh.’
Itu adalah apa yang Aster pelajari selama mengikuti orang-orang ini. Terkadang dia melihat orang-orang di kelompok atau tim lain yang tampaknya berbicara dengan bangga dan penuh percaya diri. Merasa kalau dirinya bijak dan menunggu banyak pujian dari orang-orang.
Aster juga tahu, orang-orang yang memiliki kemampuan nyata hanya memilih diam dan memandangi orang semacam itu. Namun, dalam mata mereka, ada sedikit tatapan mengejek. Seperti sedang melihat badut yang melompat-lompat.
Meski tidak terlalu pintar, Aster tahu kalau rekan-rekannya tidak mengejeknya. Jadi dia tidak perlu banyak berpikir dan fokus pada apa yang dia bisa. Bahkan Alexander, Tuannya pernah berkata padanya.
‘Ketika Sang Pencipta memilih untuk menutup pintu, Sang Pencipta tidak akan lupa membukakan jendela untukmu.’
Artinya, setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika tidak memiliki kelebihan di bidang A, pasti ada kelebihan lain, mungkin di bidang B, C, dan seterusnya. Yang paling penting adalah tidak menyerah dan terus berusaha menemukannya, lalu mengembangkannya.
Hidup adalah sebuah pilihan. Meski terkadang tidak banyak pilihan, tetapi tidak hanya terdiri dari satu garis lurus dimana orang tidak perlu berbelok dan tidak bertemu persimpangan. Mereka pasti menemuinya, dan akhirnya dipaksa untuk membuat pilihan.
Memikirkan apa yang Alexander katakan sebelumnya, Aster pun memikirkan hal yang harus dia lakukan mulai sekarang.
‘Sepertinya aku harus belajar pedang lebih serius dan segera naik ke level 2. Dengan begitu, setidaknya aku tidak akan menjadi beban.’
Sementara itu, tiga orang lain masih sibuk membicarakan beberapa rencana. Memutuskan apa yang harus mereka lakukan setelahnya.
***
Malam harinya.
Di salah satu bangunan Distrik 3, tempat yang menjadi salah satu markas Nine Gates. Pintu terbuka, dua orang memasuki bangunan tersebut.
Tempat itu tampak sepi. Namun setelah masuk ke ruangan lebih dalam, tampak beberapa wanita berpakaian layaknya hunter bebas biasa. Level mereka tidak tinggi, tetapi jumlah mereka masih cukup banyak. Belum lagi, semua yang berada di sana adalah wanita yang biasanya dianggap lemah atau beban.
“Selamat malam, Ketua!”
Melihat kedatangan Annie dan Mei, orang-orang yang sedang bersantai itu langsung memberi hormat.
“Tidak perlu terlalu formal. Kalian tidak sedang bertugas. Kalian bisa santai.”
Annie langsung menyapa mereka dengan ramah. Setelah itu dia pergi ke ruangan lebih dalam.
Di sana, tidak banyak orang. Di ruangan yang agak sempit di sudut, tampak dua orang sedang duduk sambil bercengkerama.
“Yang kamu maksud itu jenis pisau lipat kan?”
__ADS_1
“Bukan! Maksudku, itu sedikit mirip tetapi lebih besar dan bentuknya melengkung seperti sabit.”
“Bukankah pedang melengkung itu sudah cocok untukmu? Kenapa kamu ingin mengubahnya?”
“Karena itu kurang mencolok!”
“Eh? Mencolok?”
Saat itu, wanita pendek yang tampak cantik dan lincah berdiri. Dia kemudian berjalan ke tempat yang lebih luas. Setelah itu, wanita itu tiba-tiba membuat pose menunjuk dengan tangan kirinya.
“Daripada ditarik dari belakang, aku ingin pedang pendek itu dilipat di tangan. Jadi ... swoosh! Tiba-tiba muncul begitu saja!”
“...”
Wanita yang duduk di kursi tercengang. Benar-benar tidak mengerti pose yang ditunjukkan oleh rekannya. Pada saat itu, suara lain terdengar.
“Kamu membuat Chris kesusahan, Yona.”
Mendengar suara itu, Yona dan wanita yang disebut Chris menoleh ke sumber suara. Di sana, tampak Annie yang memandang mereka dengan senyum lembut di wajahnya. Seperti biasa, Mei berdiri di belakangnya tanpa mengucap sepatah kata.
“AAAHHH!!!”
Yona tiba-tiba berjongkok sambil memegangi kepalanya. Wajahnya tampak pucat ketika dia terus bergumam dengan suara yang nyaris tidak bisa didengar.
“Lagi-lagi aku membuat mereka melihat sifatku yang kekanak-kanakan. Lagi-lagi ...”
Melihat Yona yang seperti itu, Chris menggelengkan kepalanya. Dia adalah seorang wanita berkulit kecokelatan dengan rambut hitam sebahu. Di bagian bawah tubuhnya, dia mengenakan celana panjang dilengkapi sepatu boot. Sedangkan di bagian atas, dia hanya mengenakan tank top hijau gelap yang menonjolkan sosoknya dan mengenakan bandana dengan warna yang sama.
Chris sendiri adalah seorang pandai besi. Orang yang bertanggung jawab dalam membuat perlengkapan anggota Nine Gates. Sesuatu yang lebih mengejutkan karena pandai besi wanita lebih langka daripada hunter wanita.
Wanita itu menopang dagu sambil berbicara pada Yona.
“Tidak perlu terus berpura-pura elegan, Yona. Semua anggota inti tahu seperti apa sifat aslimu.”
“Diam!” Yona berteriak tidak puas. “Jangan rusak impian gadis muda ini (aku). Setidaknya aku harus bisa sedikit mirip dengan Ketua. Tampak cantik dan elegan di mata lawan-lawanku.”
Mendengar itu, Annie menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan, Yona.” Annie berkata lembut.
“Tidak, Ketua. Lagipula, siapa yang tidak mengenalmu ...”
Yona mendongak menatap langsung ke wajah cantik Annie.
“Wanita yang dianggap teratai putih yang mekar di kolam lumpur (Shelter 1) yang kotor ini.”
>> Bersambung.
__ADS_1