After Apocalypse

After Apocalypse
Sukses Besar


__ADS_3

Setelah itu, pelelangan dilanjutkan.


Dalam proses itu, beberapa item yang langka muncul. Bahkan ada beberapa item yang sebenarnya familiar bagi orang-orang tetapi sulit didapatkan. Misalnya, item lelang ke-9 yaitu ramuan evolusi level 2. Tidak seperti Alexander yang bisa membuatnya kapan saja (selama ada bahan), orang-orang normal sedikit sulit mendapatkannya. Bahkan Blood Cross tidak memiliki kelebihan karena akan terus dijual dengan poin kontribusi pada anggotanya.


Ada juga item tidak terlalu penting. Item lelang ke-8, dua guci anggur. Satu setara 15 botol anggur Scarlet Dusk, dan satu setara 5 botol anggur Violet Midnight.


Selain itu, Alexander menjual item lain yang dibuatnya. Item lelang ke-11, sepasang belati yang dibuat dari bahan makhluk level 3. Sama seperti senjata sebelumnya, senjata itu juga membuat banyak orang tertarik. Namun, akhirnya dibeli seorang hunter level 3 bernama Percy yang sangat handal menggunakan belati, kelompok yang dipipinnya juga cukup kuat karena salah satu kelompok yang berada tepat di bawah tiga besar.


Ada juga item lelang ke-13 yang membuat banyak orang terkejut. Salah satu senjata terbaik yang Alexander buat selama hidupnya selain yang dia gunakan sendiri, sebuah pedang yang Alexander beri nama Cursed Rose. Pedang hitam keunguan yang lebih baik daripada pedang ganda miliknya. Setidaknya dia perlu membuat pedang dari beberapa bagian tubuh Abyssal Basilisk jika ingin mengimbanginya.


Pada akhirnya, Sir Gareth kembali mendapatkannya. Tuan Lenka tampak sedikit menyesal, sedangkan Tuan Wilson tidak merasakan apa-apa karena senjata utamanya adalah kapak perang.


Pedang itu tidak berada di puncak karena ternyata ada dua item yang lebih baik.


Apa yang membuat Alexander terkejut adalah dua item lelang terakhir. ke-14, yaitu ramuan evolusi level 3 yang dulu sangat sulit dia cari. Selain itu, ada juga taring monster tertentu yang merupakan salah satu koleksi Tuan Lenka. Disebut dari makhluk level 4, tetapi Alexander jelas mengetahui kalau itu taring makhluk level 5 yang langka dan akhirnya mendapatkannya.


Dari segi kualitas, itu sama dengan bahan dari Abyssal Basilisk. Tentu saja, ada dua faktor yang mempengaruhinya. Yaitu usia taring itu yang sudah sangat tua, jadi kualitas menurun. Selain itu, bahan dari Abyssal Basilisk tidak bisa diremehkan karena masih keturunan dari salah satu makhluk kuat yang dianggap penguasa.


Alexander enggan membuat senjata dari empat taring utama Abyssal Basilisk sampai benar-benar menemukan bahan yang cocok. Sedangkan taring makhluk ini dia rencanakan untuk dijadikan bahan senjata berikutnya dengan beberapa bahan yang hampir terkumpul. Salah satu bahan utamanya adalah empat cakar belakang kaki Abyssal Basilisk.


Alexander berniat untuk membuat sepasang pedang yang bisa dia gunakan dalam waktu lama.


Jadi lelang itu ditutup dengan cara yang luar biasa. Membuat banyak orang yang datang merasa puas, bahkan jika hanya bisa menawar tetapi tidak membawa pulang. Bisa dibilang ...


Lelang itu sukses besar!

__ADS_1


***


Larut malam setelah pesta dan lelang selesai.


Suara dalam markas Cursed Lambs tampak begitu meriah. Mereka semua merayakan kesuksesan pesta dan pelelangan. Bukan hanya berhasil mengundang kelompok-kelompok kuat, tetapi juga membuat lingkungan para hunter bebas tersebut menjadi lebih harmonis.


Sementara orang-orang sedang berpesta, Alexander duduk santai di kantor Tuan Lenka. Pria itu bersandar pada sofa, menatap rekan bisnisnya dengan ekspresi datar di balik topengnya. Bukan karena dia tidak puas, tetapi karena tenggorokannya terasa tidak nyaman setelah berbicara sangat lama. Belum lagi harus mengubah suaranya.


“Sukser besar, Temanku! Ini benar-benar sukses besar! Aku sama sekali tidak salah bertaruh!” ucap Tuan Lenka dengan ekspresi penuh semangat.


“Bukankah itu sesuai rencana?” tanya Alexander sambil memiringkan kepalanya.


“Memang sesuai rencana. Namun aku tidak menyangka ini benar-benar akan sukses. Menurut bayangan di kepalaku, orang-orang pasti membuat kekacauan karena hubungan buruk antar kelompok. Lagipula, kebanyakan dari mereka saling bersinggungan untuk berebut sumber daya,” jawab Tuan Lenka.


“Maksudmu?” Tuan Lenka tampak bingung.


“Jika semua orang membagi sumber daya, pasti tidak akan ada pertempuran berdarah. Semua orang akan hidup dengan harmonis, tetapi ...” Alexander tersenyum di balik topengnya. “Itu hal yang mustahil, bukan?”


“Ya.” Tuan Lenka mengangguk berat.


Meski apa yang dikatakan Alexander benar, itu berbeda dengan hukum rimba yang selama ini mereka ikuti. Terlebih lagi, orang-orang di posisi tinggi seperti Tuan Lenka, Tuan Wilson, dan Sir Gareth tidak akan setuju dengan hal semacam itu. Jika hal semacam itu, mereka malah merasa dirugikan karena biasanya mendapatkan banyak keuntungan karena bisa memonopoli sesuatu. Itu sebabnya Alexander berkata ‘itu hal mustahil’ untuk dilakukan.


“Kamu tidak memikirkan ide semacam itu kan?” tanya Tuan Lenka dengan ekspresi serius.


“Kenapa aku harus melakukan hal merepotkan seperti itu? Bukankah lebih baik menikmati keuntungan sendiri daripada bersikap munafik, pura-pura baik di depan orang-orang kelas bawah padahal mengambil banyak keuntungan di belakang mereka? Seharusnya kamu lebih tahu, Temanku. Bahkan keadilan seperti itu tidak ada di tempat yang diatur oleh hukum!” ucap Alexander.

__ADS_1


“...” Tuan Lenka terdiam.


Alexander benar. Entah sekarang ketika semua Guild membuat wilayah pemerintahannya sendiri seperti kerajaan, atau bahkan dulu di era damai dimana manusia menguasai dunia, tidak ada yang benar-benar bisa disebut keadilan.


Banyak orang kaya yang berkata orang miskin tidak bisa kaya karena mereka malas dan tidak mau berjuang. Itu benar-benar omong kosong.


Faktanya, banyak orang miskin yang memperjuangkan masa depan mereka. Sekolah lebih serius, bekerja lebih keras, dan melakukan apa yang mereka bisa, bahkan termasuk bisnis yang ‘orang-orang sukses’ itu katakan.


Hanya saja ... apakah semua orang bisa menjadi kaya? Jawabannya tentu saja tidak.


Mereka bisa saja meningkatkan kualitas hidup dengan bekerja keras. Hanya saja, untuk menjadi benar-benar kaya, hanya ada dua cara. Yaitu terlahir di keluarga seperti itu, atau ... cukup beruntung.


Dari banyaknya pengusaha, tidak semua orang bisa sukses. Beberapa orang bisa sukses menjadi sangat kaya, sebagian lagi bisa meningkatkan kualitas hidup mereka. Sedangkan sisanya ... tentu saja mengalami kegagalan, atau bahkan kebangkrutan. Begitulah kenyataannya.


Alexander sendiri merasa dirinya beruntung, tetapi bukan berarti dia memandang rendah orang lain. Meski begitu, itu juga tidak berarti dia harus peduli dengan orang lain. Cukup kejam memang, tetapi begitulah adanya.


Alexander merasa kalau dirinya bukanlah Budha yang bisa menekan iblis dengan satu tangannya, bukan juga Rasul yang diutus Sang Pencipta untuk membuat dunia lebih baik serta menyebarkan kebaikan, apalagi meninggikan dirinya seperti Dewa seolah dia bisa melakukan segalanya.


Pria itu percaya dia hanyalah manusia biasa yang terlahir di dunia suram ini, dan mencoba bertahan selama dia bisa. Selain itu, dia bukan orang baik, apalagi pahlawan.


Alexander tahu ...


Dia hanyalah pria yang ingin membalaskan dendam dan mengetahui kebenaran yang menimpa keluarganya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2