
Larut malam, di sudut terpencil distrik kumuh.
Alexander yang selesai membuat kesepakatan dengan Damian memasuki sebuah gubuk kecil, satu kamar yang bisa dibilang sangat sempit. Setelah masuk, dia segera menutup pintu lalu menyalakan lentera yang dia bawa.
Dalam ruangan kecil tersebut hanya ada dua kotak ditumpuk, serta gantungan baju. Tidak ada ranjang, meja, ataupun kursi.
“Benar-benar melelahkan,” gumam Alexander dengan ekspresi tidak berdaya.
Pria itu melepas jubah dan topengnya, lalu menggantungnya di gantungan baju. Tidak lupa, dia melepas sepatu dan beberapa peralatan lain. Setelah agak leluasa, barulah pria tersebut duduk di tempat yang relatif datar dan bersih.
Alexander melepas penutup matanya, menampilkan mata kanan berwarna keemasan. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Rambut perak berangsur-angsur menjadi hitam. Mata emas dan merah darah juga kembali normal.
“Setelah mendapatkan identitas baru, aku akan pergi menjemput mereka. Ketika kembali ke sini, aku berjanji akan menyewa rumah paling besar dan nyaman. Terombang-ambing seperti ini benar-benar tidak menyenangkan.”
Alexander memejamkan matanya sambil bergumam pelan dengan suara yang hanya bisa dia dengar.
Pria itu bisa saja masuk ke Shelter 1 dengan cara resmi dan normal menggunakan identitas Alexander. Hanya saja, dia merasa kalau Blood Cross bukanlah sekelompok orang bodoh yang bisa ditipu berkali-kali. Jadi, untuk menutupi identitas aslinya sekaligus membuat indentitas V tidak terbongkar, pria itu terpaksa membuat pilihan lebih sulit.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, Alexander juga menyiapkan identitas baru untuk kelima wanita yang mengikutinya. Identitas empat wanita lainnya bisa dibuat dengan mudah karena orang-orang yang dianggap sebagai ‘properti’ seperti mereka sama sekali tidak dipedulikan. Namun, identias Aurora sedikit merepotkan. Jadi perlu ditangani lebih hati-hati.
Sementara Alexander menyusup ke Shelter 1, lima wanita lain tinggal di salah satu shelter tingkat rendah yang dekat dari Shelter 1. Shelter tersebut telah dihancurkan dan semua orang dimusnahkan. Bahkan jika masih ada yang hidup, mereka semua telah melarikan diri.
Kelima wanita itu tinggal di salah satu rumah yang masih utuh. Bukan hanya untuk bersembunyi, tetapi juga berlatih keras sementara Alexander pergi.
Jaraknya kira-kira tiga sampai empat hari dari Shelter 1 jika berjalan dengan kecepatan normal (rata-rata hunter ketika bepergian). Namun, jaraknya hanya 1 hari ketika Alexander menempuhnya. Lagipula, alasan kenapa banyak orang menginginkan miracle root dengan efek terbang tentu saja karena kenyamanannya.
Ketika memikirkan beberapa hal yang harus ditangani berikutnya, Alexander mulai mengantuk. Ketika kesadarannya mulai memudar, tak lupa pria itu memeluk erat pedangnya, memastikan dalam kondisi tetap waspada bahkan ketika bertistirahat.
Dengan begitu, malam pun berlalu begitu saja.
__ADS_1
***
Malam di hari berikutnya.
Alexander yang mengenakan jubah dan topeng hitam mulai berkeliaran di wilayah netral, Distrik 3 yang merupakan tempat paling ramai. Tempat banyak orang menghabiskan kekayaan mereka untuk bersenang-senang, serta tempat bagi para pedagang mencoba mendapatkan keuntungan.
Tentu saja, ada juga bagian pinggir dimana banyak pedagang gelap melakukan transaksi. Namun tidak bisa benar-benar dianggap ilegal karena Blood Cross sendiri membiarkan hal semacam itu terjadi.
Alexander sendiri tidak berencana untuk pergi ke tempat yang begitu terang di pusat Distrik 3. Penampilannya cukup mencolok, bahkan jika di malam hari. Selain itu, dia pasti akan ditemukan lalu diawasi oleh orang-orang dari Keluarga Ervens.
Jadi, Alexander memutuskan untuk jalan-jalan di area pinggiran. Lebih tepatnya, di area yang dekat dengan perbatasan distrik kumuh. Walau agak gelap, suram, dan kurang menyenangkan dibandingkan area pusat yang begitu kaya, tetapi ada alasan kenapa dia datang ke tempat ini.
Alexander masuk ke sebuah tempat bernama Black Tusk Bar.
Ketika masuk ke dalam, dia langsung disambut dengan tatapan banyak hunter. Kebanyakan dari mereka berpenampilan kotor, agak gelap, dan memiliki ekspresi suram. Dalam sekali lihat, bisa dibilang tempat ini hanya diisi oleh dua jenis orang.
“Apakah ada yang bisa kubantu, Tuan?”
Orang yang bertanya adalah seorang pria paruh baya botak dengan tubuh kekar. Salah satu matanya ditutupi oleh penutup hitam, ada beberapa bekas luka di tubuhnya, dan kaki kirinya digantikan oleh tiang kayu. Dia adalah pemilik tempat ini, Bill.
‘Bahkan seorang hunter puncak level 2 bisa jatuh menjadi seperti itu.’
Alexander samar-samar merasakan kekuatan Bill. Jika berada di shelter tingkat rendah, orang sepertinya pasti dihormati. Namun, karena mengejar kekuatan, Bill datang ke tempat ini.
Menurut cerita yang Alexander dengar, pria paruh baya itu hampir mati dalam sebuah petualangan. Setelah kehilangan rekan-rekan, mata kiri dan kaki kirinya ... Bill memutuskan untuk pensiun dan membuka bar di tempat seperti ini.
Alexander segera menghilangkan pemikiran yang tidak perlu. Dia berjalan mendekati Bill lalu memesan dengan suara datar seperti biasa.
“Dua botol anggur paling terkenal di tempat ini, steak, dan semangkuk kacang-kacangan.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Alexander mengeluarkan uang sesuai dengan harga yang ada di papan menu. Dia kemudian menunggu, karena di tempat ini, pelanggan diminta untuk membawa makanan dan minuman yang mereka pesan sendiri.
Alat pembayaran yang digunakan di Shelter 1 adalah koin buatan Blood Cross. Sedangkan bagaimana Alexander mendapatkannya, tentu saja dengan menjual potion. Lebih tepatnya, ingin menjual potion tetapi hampir dirampok. Jadi akhirnya dialah yang merampok lawan dan mengambil nyawa mereka.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan Alexander disiapkan. Pria itu membawa nampan lalu pergi mencari tempat untuk duduk. Setelah beberapa saat mencari, dia langsung berjalan ke tempat yang tidak begitu mencolok.
Di sana, tampak sebuah meja dengan dua kursi. Salah satu kursi sudah diduduki. Namun, Alexander langsung meletakkan nampan di atas meja lalu duduk di sana tanpa permisi. Apa yang dia lakukan tentu saja membuat orang yang duduk di seberang meja marah.
Baru saja orang itu hendak mengutuk, suaranya tiba-tiba tercekat. Setelah beberapa saat, orang itu menatap Alexander dengan mata terbelalak.
“Kamu ... bagaimana kamu berada di sini, Tuan V?”
Alexander menatap ke arah orang yang duduk di depannya. Pria paruh baya itu memiliki penampilan berantakan. Rambut, kumis, dan jenggot yang tampak kacau membuatnya tidak terlihat lebih baik daripada para pengungsi.
Orang itu adalah salah satu kenalan yang bisa dianggap cukup dengan Alexander. Bahkan pria itu tidak menyangka akan mendengar kabar tentang orang itu di sini.
“Lama tidak bertemu, Grey Jackal. Tampaknya rencana pensiunmu benar-benar berantakan.”
Mendengar suara misterius yang terdengar datar tetapi begitu familiar membuat Gery merasa matanya agak berkabut. Melihat Alexander masih misterius, tetapi agak sembrono seperti biasanya membuatnya tersenyum.
“Ya ... akhir tahun sebelumnya benar-benar berantakan.” Gery menghela napas panjang. “Kenapa kamu datang ke sini? Bukan hanya untuk menertawakan kegagalanku, kan?”
“Tentu saja tidak. Aku datang ke Shelter 1 untuk melakukan beberapa bisnis, lagipula, aku adalah pedagang serius. Selain itu, orang sepertimu seharusnya tidak tenggelam di tempat seperti ini, jadi ...”
Alexander menatap Gery tepat di matanya.
“Bagaimana kalau kamu bekerja untukku, Grey Jackal?”
>> Bersambung.
__ADS_1