After Apocalypse

After Apocalypse
Bukan Takdirku


__ADS_3

Bagian kepala dan perut makhluk itu memiliki tinggi mirip pria dewasa. Hanya saja, bagian perutnya bulat dan menonjol. Selain itu, dia memiliki delapan kaki yang panjang. Masing-masing kaki sekitar dua meter.


Seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan bulu hitam dan biru tua di sekujur tubuhnya.


Long-legged Black Spider!


Ditambah penampilannya yang lebih ramping, ujung kaki setajam tombak, dan sepasang tanduk tambahan di bagian kepalanya. Alexander yakin kalau itu adalah versi yang mengalami mutasi!


Long-legged Black Spider sendiri adalah makhluk yang sangat langka. Bahkan jika tidak mengalami mutasi, makhluk itu sangat kuat dan memiliki keterampilan luar biasa. Oleh karena itu, miracle root dari maklhuk itu pasti sangat berharga.


Belum sempat Aurora menanggapi perkataan Alexander, laba-laba hitam itu langsung melompat ke arah mereka.


Swoosh!


Alexander langsung mengangkat tombaknya untuk menangkis serangannya. Namun, sebelum dia bisa merasa puas, kaki depan lain melesat ke arahnya seperti tombak yang ingin merenggut nyawanya.


Klang!


Pada saat Alexander melompat ke samping untuk menghindari serangan tersebut, Aurora maju dan menangkisnya dengan pedang. Akibatnya, tubuh gadis itu terhempas mundur beberapa meter.


“Cih!”


Alexander yang awalnya ingin menjaga jarak langsung memutar tubuhnya lalu melempar tombaknya tepat ke kepala laba-laba hitam itu. Jika tidak melakukannya, dia yakin kalau makhluk itu akan segera bergegas ke arah Aurora yang tidak siap.


Dalam sepersekian detik, Alexander baru sadar kalau dia sama sekali tidak memiliki pengalaman melakukan serangan kombinasi dengan Aurora! Biasanya mereka saling mengawasi dan memburu monster lemah, bukan yang lebih kuat daripada mereka.


Tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu, Alexander langsung mencabut kedua pedang lalu bergegas ke depan.


SWOOSH!


Dua kaki setajam pedang melesat ke arahnya. Sebagai tanggapan, pemuda itu langsung meluncur di tanah berlumpur sambil memastikan tidak terlalu jauh ke tempat jaring laba-laba tersebar.


Melihat dua ujung kaki tajam melewatinya dan hampir menggores wajahnya, pemuda itu langsung menggunakan kesempatan untuk melesat ke depan.


Slash!


Satu ayunan pedang menebas sisi kiri kepala laba-laba hitam tersebut. Pada saat hendak menebas untuk kedua kalinya, Alexander melihat bagian perut makhluk itu terangkat dan ujungnya mengarah kepadanya.


“Ugh!”


Pada saat jaring laba-laba ditembakkan, Alexander langsung mengelak. Namun saat itu dua ujung kaki makhluk itu kembali ke arahnya. Dia memutar tubuhnya dan menangkis kedua kaki. Hanya saja, posisinya kurang menguntungkan dan salah satu kaki gagal dipentalkan, malah melesat dan menggores sisi kiri bahunya.


Alexander langsung melompat mundur beberapa meter jauhnya. Pada saat mendarat, pemuda itu tiba-tiba merasa agak pusing sebentar. Dia segera menggelengkan kepalanya, dan akhirnya kesadarannya kembali pulih.


‘Racun yang merepotkan ... untung saja masih dalam dosis yang bisa aku tanggung.’


Setelah mengatakan itu, Alexander kembali melesat ke depan sambil mengingatkan.

__ADS_1


“Berhati-hatilah karena makhluk ini benar-benar sangat beracun!”


Klang!


Ujung kaki seperti tombak dan pedang saling berbenturan.


Klang! Klang! Klang!


Keempat kaki depan laba-laba hitam itu terangkat dan mulai menyerang Alexander dengan gila-gilaan. Saat itu juga, pemuda tersebut bergerak dengan sangat cepat. Menangkis empat senjata lawan dengan pedang di kedua tangannya.


Mendengar dentingan logam dengan tempo yang sangat cepat seolah sedang memainkan musik, Aurora tertegun di tempatnya. Bukannya tidak ingin membantu, tetapi wanita itu tidak bisa membantu.


Pada awalnya, Aurora cukup percaya diri dengan ilmu pedang keluarga yang dia latih. Meski tidak sekuat beberapa ilmu pedang ternama, tetapi setidaknya lebih baik daripada teknik pedang dasar yang rekannya gunakan.


Saat ini, sedikit kebanggannya benar-benar hilang. Melihat bagaimana Alexander menggunakan dua pedang seolah perpanjangan tangannya sendiri membuatnya terpana. Belum lagi, dia hanya bisa melihat bayangan yang melesat dengan begitu cepat.


‘Bisakah kamu mengimbangi kecepatan dan melihat lintasan serangan monster level 2 yang mengalami mutasi lanjutan?’


Dua kaki terpaku di tanah. Sepasang mata dingin terus melihat ke depan tanpa berkedip. Dua tangan dan tubuh bagian atas terus bergerak dengan sangat cepat dan menangkis serangan dari senjata yang jumlahnya dua kali lebih banyak daripada miliknya.


Melihat pertempuran ganas tidak jauh di depannya tetapi rasanya tidak bisa menjangkaunya membuat Aurora merasakan perasaan tidak berdaya.


Pada saat itu, mata Alexander berbinar ketika menangkap sedikit celah yang tercipta ketika gerakan laba-laba di depannya.


“MATI!” teriak Alexander ketika meluncur ke depan.


Hanya saja, Aurora melihat sesuatu yang berbeda. Tepat saat Alexander menemukan celah, seluruh bulu halus di tubuh laba-laba hitam itu terangkat. Wanita itu merasakan bahaya, bahaya ekstrem yang bisa saja berakhir dengan kematian.


Meski begitu, Aurora tidak tahu kenapa tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Wanita itu berlari sekuat tenaga ke arah Alexander. Dia memeluk pemuda itu lalu melompat menjauh. Saat itu juga ...


Swoosh! Jleb! Jleb! Jleb!


Alexander yang berbaring di tanah benar-benar tertegun. Dia melihat langit-langit dengan ekspresi bingung. Beberapa detik kemudian, pemuda itu baru saja menyadari betapa cerobohnya dirinya.


Berpikir sedang melawan Long-legged Black Spider biasa, dia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan lain. Hanya berpikir kalau dirinya sudah menang.


Merasakan bulu-bulu halus yang menusuk tubuhnya seperti jarum yang segera melebur menjadi racun yang larut dalam darah, Alexander merasa tubuhnya sangat sakit. Bahkan merasa hampir tumbang.


Saat itu, Alexander melihat Aurora yang memeluknya. Pada saat ini, wanita itu sudah kehilangan kesadaran karena menerima lebih banyak serangan ketika melindungnya. Melihat kulit pucat wanita itu, Alexander langsung mengeluarkan pil penawar racun lalu memaksanya untuk minum.


Pada saat bangkit, Alexander melihat laba-bala hitam yang hampir tidak bisa berdiri karena ditusuk tepat di kepala. Hampir mati karena ditusuk tepat di titik fatalnya. Membuat serangan besar untuk membunuh lawan, tetapi hampit terbunuh. Itulah yang keduanya rasakan saat ini.


Masih memegang satu pedang di tangannya, Alexander menatap ke arah makhluk itu dengan ekspresi dingin di wajahnya.


Karena Aurora tidak bisa lagi bergerak dan dia tidak takut mereka keliru saling menyerang, Alexander langsung melemparkan dua bola asap.


Boom!

__ADS_1


Pada saat asap mengepul memenuhi ruangan, Alexander langsung mengenakan sisa tenaganya untuk menyerang. Dia langsung menggunakan kemampuan ledakan kecepatan. Kabut tipis menyelimuti dirinya.


Dengan ekspresi dingin dan dipenuhi niat membunuh, Alexander langsung melesat. Menghilang dari tempatnya dan muncul di depan laba-laba hitam itu dan menusuk kepalanya dengan sekuat tenaga.


Pada saat laba-laba hitam hendak menyerang, delapan pisau tiba-tiba melesat keluar dari asap dan menyerang tepat di ruas kaki makhluk itu. Membuatnya menghentikan gerakannya sesaat karena rasa sakit, dan membuat Alexander memiliki waktu.


JLEB!


Pedang lain menancap di kepala laba-laba hitam itu. Alexander langsung meraih gagang pedang yang masih tertancap di kepala laba-laba itu sebelumnya. Pada saat itu juga, dia mencengkeram erat gagang pedang, memutar tubuhnya sambil menyayat sekuat tenaga.


SLASH!


Luka mengerikan tampak di kepala laba-laba hitam, membuat makhluk itu hampir kehilangan separuh wajahnya.


BRUK!


Kehilangan vitalitasnya, makhluk itu jatuh ke tanah dengan keras.


Sementara itu, Alexander berdiri dengan napas naik-turun. Tubuhnya dipenuhi dengan darah makhluk itu, tetapi sama sekali tidak mempedulikannya. Sebaliknya, dia fokus pada tubuh laba-laba hitam itu.


Usai mengatur napas, Alexander langsung menggali miracle root makhluk itu.


Setelah mendapatkannya, senyum penuh kemenangan muncul di wajahnya. Namun sesaat sebelum menggunakannya sendiri, pemuda itu tiba-tiba melihat ke arah Aurora yang berbaring kaku.


Merasakan napas wanita itu yang kian memudar karena penawar racun biasa hanya bisa memperlambat efek racunnya, Alexander langsung ragu. Dia melihat miracle root di tangannya lalu ke arah Aurora. Tatapannya terus berganti, dan hatinya menjadi semakin bimbang.


Pada saat Alexander hendak menggunakan miracle root untuk dirinya sendiri, pemuda itu mengingat bagaimana Aurora menyelamatkan nyawanya.


Ya. Jika Aurora tidak memeluknya dan membawanya menjauh, serangan laba-laba dalam jarak sedekat itu pasti membunuhnya. Bahkan jika Alexander bisa membunuh makhluk itu, tetapi dia juga akan berakhir terbunuh.


“Ugh!”


Alexander menggertakkan gigi. Pada akhirnya, pemuda itu berjalan ke arah Aurora. Dia berlutut di samping wanita itu dan menggunakan miracle root itu padanya.


“Aku melakukan ini bukan karena aku baik. Aku berhutang nyawa, jadi aku melunasinya. Hanya itu.”


Melihat Aurora yang mulai merasa kesakitan, dia bergumam.


“Karena kamu tidak sadarkan diri, berhasil atau tidaknya miracle root ini tergantung pada keberuntunganmu sendiri.”


Setelah itu, Alexander bangkit dan berjalan menjauh. Melihat ke arah langit dari lubang dalam, pemuda itu merasa sangat tertekan. Pada akhirnya, dia hanya bisa mendesah sambil berkata.


“Meski menyakitkan, anggap saja ini bukan takdirku dan miracle root yang lebih baik pasti menungguku.”


Meski mengatakan itu, Alexander sendiri kemungkinan seperti itu sangat kecil. Jadi, akhirnya pemuda itu hanya bisa menghela napas sekali lagi. Merasa sangat menyesal, tetapi tidak berdaya. Lagipula ...


Nasi telah menjadi bubur. Semua sudah terjadi dan tidak bisa kembali lagi.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2