After Apocalypse

After Apocalypse
Selama Cukup Menguntungkan


__ADS_3

“A .. Apa?”


Gery menatap Alexander dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya. Karena pertemuan mendadak dan ucapan tiba-tiba pria di depannya, dia sama sekali tidak bisa merespon.


Sebaliknya, Alexander mulai memotong steak menjadi beberapa potongan kecil. Setelah itu, dia membuka sedikit topengnya lalu mulai makan. Benar-benar mengabaikan Gery yang ada di depannya.


Melihat tindakan Alexander, Gery tiba-tiba menyadari sesuatu.


“Jadi kamu benar-benar menermukanku hanya untuk mengejek kegagalanku!” ucapnya.


Gerakan tangan Alexander terhenti. Pria itu mengangkat wajahnya. Dia menatap Gery seolah sedang memandangi primata langka dengan tingkat kecerdasan yang begitu rendah.


“Apakah kamu benar-benar bodoh? Kecerdasanmu sebelumnya tersapu bersih bersama badai salju?” ucap Alexander.


Suara Alexander terdengar datar, tetapi kata-kata yang terlontar dari mulutnya benar-benar menusuk tepat di bagian yang paling menyakitkan. Langsung membuat Gery tercengang, sampai-sampai sudut bibirnya berkedut karena tidak tahu harus mengatakan apa.


Setelah beberapa waktu, barulah Gery menjadi lebih tenang. Menarik napas dalam-dalam, pria paruh baya itu akhirnya bertanya, “Jadi apa yang kamu maksud, Tuan V?”


“Seperti yang aku katakan sebelumnya,” jawab Alexander.


“...” Gery sekali lagi terdiam.


“Aku ingin kamu bekerja untukku. Bukan hanya karena kita kenalan lama, tetapi karena aku juga mengakui kemampuanmu. Jadi jangan pikir aku berbelas kasih atau mencoba merendahkanmu. Hanya itu,” ucap Alexander.


“Tapi tempat ini berbeda. Aku tidak memiliki koneksi yang kamu butuhkan. Di tempat asing seperti ini, aku benar-benar tidak berdaya. Selain itu, aku hampir kehilangan semuanya karena gelombang binatang buas itu,” balas Gery dengan ekspresi muram.


“Setidaknya kamu masih memiliki hidupmu dan seluruh anggota tubuhmu. Jika kehilangan semuanya, tinggal mulai ulang dan kumpulkan dari awal lagi. Memang tidak semudah ucapan belaka, tetapi setidaknya aku cukup yakin kamu bisa melakukannya.” Alexander berkata dengan jelas, bahkan suaranya sedikit lebih tegas dibandingkan sebelumnya.


Mendengar ucapan Alexander membuat Gery merasa terkejut. Pada awalnya, pria paruh baya itu merasa kalau masa jayanya telah berakhir. Sejak kekacauan terjadi dan menerima pukulan keras, akhirnya dia hanya bisa menerima nasib untuk hidup di tempat seperti ini. Menjalani masa tua suram sembari mengenang beberapa kejayaan di masa lalu. Namun, Gery benar-benar tidak menyangka kalau masih ada orang yang mempercayainya pada saat dirinya mengalami kemunduran seperti ini.


Gery ingin mengucapkan banyak kalimat, tetapi pada akhirnya hanya dua kata yang terucap dari mulutnya.


“Terima kasih.”


Melihat mata Gery yang berkaca-kaca, Alexander langsung menunjuk wajah pria paruh baya itu dengan garpu di tangan kanannya.


“Berhenti memasang ekspresi menjijikkan seperti itu. Juga, kamu mungkin berterima kasih kepadaku karena telah membatumu melewati kesulitan. Namun kamu harus ingat Gery, jika kamu melakukan kesalahan atau performa turun melewati batas standar ...

__ADS_1


Aku tidak akan segan-segan meninggalkanmu.”


Melihat tatapan dingin Alexander, bukan hanya tidak merasa takut, Gery malah tampak penuh semangat juang. Pria paruh baya itu mengangguk dengan ekspresi tegas.


“Serahkan semuanya padaku, Bos!”


***


Empat hari kemudian, di depan pintu gerbang Shelter 1.


“Merchant?”


Seorang petugas menatap enam orang di depannya dengan ekspresi curiga di wajahnya. Dari enam orang di depannya, tampak seorang pria dan lima wanita.


Salah satunya adalah pria berambut perak, memiliki paras tampan dan memakai penutup di mata kanannya. Dia memakai pakaian indah, dan memiliki mata indah yang cukup mencolok.


Selain pria itu, ada seorang ksatria wanita yang mengenakan topeng. Di belakangnya, ada dua wanita kembar dengan pakaian pemburu. Sementara itu, ada juga dua wanita cantik di belakang pria itu.


“Ah! Perkenalkan, nama saya adalah Faust Vermillion. Di belakang saya adalah dua pelayan saya yang selamat dalam kekacauan ini, Jane dan Nene. Sedangkan di sini ada istri saya yang paling cantik dan kuat, Aura Vermillion dan dua rekannya, Aster serta Daisy.”


Mendengar perkenalan pria itu, entah bahasa yang lihai dan keramahan yang tampak seperti merchant profesional membuat banyak orang mengangguk. Namun, banyak penjaga menatap Faust dengan ekspresi tidak puas.


‘Jadi ini yang dikatakan suka makan nasi lunak?’


Pikir para penjaga yang melihat Faust. Pria itu jelas lebih mengandalkan wanitanya, jenis pria yang tidak berguna dan tidak bisa diandalkan. Meski tidak berguna, tetapi masih membuat mereka sedikit iri.


‘Pasti istrinya buruk rupa. Ya ... pasti itu alasan kenapa wanita ini menutup wajahnya.’


Para penjaga memikirkan berbagai alasan untuk menghibur mereka sendiri. Sementara itu, Faust yang merasakan perubahan ekspresi mereka tampak lebih bersemangat.


“Kalian tahu, pertemuanku dengan istriku bisa dibilang sebuah takdir yang tidak terduga. Ketika kelompok perdagangan yang aku pimpin mengalami serangan binatang buas, dia dan kedua rekannya menolongku. Meski ini bukan jenis kisah pangeran yang menyelamatkan putri, malah sebaliknya ... itu masih sangat berkesan.”


Faust mengelus dagunya, berpikir dengan sangat keras. Mengabaikan ekspresi marah dan cemburu para penjaga, dia menoleh ke arah Aura lalu melompat ke arahnya.


“Bukankah begitu, Sayang? Kita- Ugh!”


Aura menghindari pelukan suaminya dengan mudah. Ketika pria itu hampir jatuh, dia langsung menarik bagian kerah belakang leher pria itu. Wanita itu kemudian melirik ke arah para penjaga.

__ADS_1


“Apakah pemeriksaannya sudah selesai?” tanya Aura.


“O-Oh! Pemeriksaannya sudah selesai. Silahkan langsung pergi ke kantor berikutnya. Kalian bisa membicarakan tempat mana yang akan disewa,” ucap penjaga yang sedikit terkejut dengan adegan ‘romantis’ di depan matanya.


“Tidak! Lepaskan aku, Sayang. Setidaknya jangan biarkan suamimu ini kehilangan martabatnya. Walaupun seperti ini, aku masih kepala Keluarga Vermillion kita.”


Di depan mata terkejut belasan penjaga, Aura menyeret Faust pergi ke kantor penyewaan rumah. Pemandangan ‘romantis’ itu benar-benar menyegarkan pandangan semua orang. Terlalu mencolok sehingga sulit dilupakan.


***


Beberapa jam kemudian, di Distrik 4,


“Uhuk! Terima kasih atas bantuan kalian. Jika ada kesempatan, saya akan mengundang kalian minum.”


Faust berdiri di depan pintu sambil merapikan dasinya. Pria itu berbicara dengan ekspresi sopan, wajahnya tampak tampan dan cerah.


Sementara itu, orang yang mengantar mereka memilih rumah menatap Faust dengan ekspresi heran. Gambar pria tampan yang diseret ke kantor masih membekas jelas dalam benak mereka. Benar-benar tidak memiliki keagungan keluarga sama sekali.


Setelah bertukar beberapa kata, orang-orang itu pun pergi.


Faust yang melihat orang itu pergi akhirnya masuk ke dalam rumah untuk merapikan barang bawaan mereka. Ketika menutup pintu, ekspresi cerah dan senyum di wajah pria itu menghilang. Warna rambut dan matanya kembali berubah.


Faust, atau lebih tepatnya Alexander berjalan menuju ke arah Aurora dan empat wanita lain yang sedang sibuk membongkar barang bawaan mereka.


Pria itu memilih tempat untuk duduk. Setelah duduk, dia menghela napas panjang.


“Wajahku terasa agak sakit. Tampaknya aku masih perlu banyak berlatih,” ucapnya.


Mendengar keluhan Alexander, kelima wanita itu sama sekali tidak menyangkalnya. Di antara mereka, Aurora tiba-tiba membuka mulutnya.


“Aku tahu identitas yang kamu atur sangat baik untuk dijadikan penyamaran. Namun, aku masih penasaran bagaimana kamu bisa melakukannya. Maksudku, identitas seperti itu tidak bisa dibuat dari ketiadaan. Kenapa orang-orang dari Keluarga Ervens mau membantumu?” ucap Aurora.


“Tentu saja karena manfaatnya.”


Alexander yang menopang dagu melirik ke arah Aurora dan empat wanita lainnya. Senyum main-main muncul di wajahnya ketika dia melanjutkan.


“Selama harganya cukup dan saling menguntungkan, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2