
Setelah hampir lima belas menit duduk di lantai sambil bersedih, Alexander dan Clayton mencari tempat duduk. Keduanya langsung memesan 2 botol jus fermentasi lalu duduk diam sambil minum.
Beberapa saat kemudian, Clayton akhirnya berbicara.
“Aku salah sangka padamu, Alexander. Aku pikir kamu pria licik dan tidak bisa diandalkan. Namun ternyata aku salah. Kamu adalah pemuda yang bisa dibilang sangat beruntung bisa menjadi Hunter di usia yang begitu muda.
Hanya saja, kamu harus memperkuat mentalmu. Jika tidak ada jalan lain, kamu bisa lari. Namun kamu tidak bisa bertindak begitu pengecut. Sama seperti Paul ... k-parat itu mengacaukan semuanya dan membuat tim mengalami kehancuran.
Dasar pria terkutuk tidak berguna!”
Clayton menggebrak meja dengan ekspresi tertekan di wajahnya. Pria itu merasa sangat geram. Dia marah karena kelakuan Paul, bahkan lebih marah karena tidak bisa membalas pria itu. Lagipula, Paul sudah mati dan dikuburkan.
“Aku memang sedikit beruntung. Hanya saja, pengalamanku masih kurang. Aku perlu banyak belajar dari kalian,” ucap Alexander dengan ekspresi agak malu.
Sementara itu, Aurora yang duduk mengelilingi meja yang sama dengan mereka hanya diam. Ya, diam-diam mengeluh dalam hatinya.
‘Tidak. Penilaianmu sebelumnya sudah sangat benar. Sejak awal kita dibodohi oleh orang ini. Dia? Pemula? Bah! Jangan menceritakan sesuatu yang tidak lucu.’
Mengabaikan tatapan tidak puas Aurora, Alexander menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi malu-malu.
“Omong-omong, aku juga ingin minta maaf, Clayton. Aku dan Aurora membawa kembali cukup banyak barang tetapi menukarnya dengan poin kontribusi kami berdua. Benar-benar melupakan kesepakatan yang sebelumnya dibuat soal berbagi,” ucap Alexander.
“Tidak apa.” Clayton menggeleng ringan. “Kalian yang membawanya kembali, jadi itu hak kalian. Sebenarnya aku cukup iri. Kamu tidak membunuh burung pipit raksasa tetapi mengambil poin kontribusi. Aku iri dengan keberuntunganmu.”
“Hehehe ...” Alexander menunduk malu. Pemuda itu menyesap jus di gelas kecil lalu bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?”
“Berkeliling di area aman sendiri. Karena tim sebelumnya, aku belum siap membuat kelompok lagi. Aku akan pergi ke zona yang relatif aman untuk mendapatkan beberapa bahan makanan.
Poinnya tidak banyak, tetapi bisa diakumulasi dalam jangka panjang. Persaingan juga tidak berat karena jika kurang beruntung, paling banter bertemu beberapa magang Hunter dan aku pasti bisa menghadapi mereka.
Bagaimana denganmu, Alexander?”
Mendengar itu membuat Alexander merasa lega. Setelah memasang ekspresi sedikit ragu, pemuda itu akhirnya membuka mulutnya.
__ADS_1
“Pada awalnya aku sedikit bingung. Seperti yang kamu ketahui, aku kurang berpengalaman. Meski cukup beruntung, tetapi aku tidak bisa mengandalkan keberuntungan terus-menerus.
Kebetulan aku menyelamatkan Aurora, jadi dia setuju membentuk tim sementara denganku. Bisa dibilang, aku akan mengikutinya beberapa bulan, mungkin beberapa tahun untuk mendapatkan pengalaman.
Seperti yang aku katakan sebelumnya, Aurora memiliki cukup kemampuan dan pengalaman. Jadi mengikutinya bukanlah suatu kerugian.”
Clayton tertegun sejenak. Dia melirik ke arah Aurora. Melihat wanita itu mengangguk ringan, pria tersebut menghela napas panjang.
“Aku mengerti maksudmu. Hanya saja, meskipun Aurora hebat, dia belum sampai setengah jalan menuju level 2. Menurutku, pasti banyak Hunter tua yang mau mengajarimu. Beberapa dari mereka juga ada yang telah menjadi Hunter level 2.”
Setelah mengatakan itu, Clayton melirik ke arah Aurora.
“Maaf, bukannya aku berniat menyinggungmu. Namun Alexander memang bakat yang baik dan sebaiknya dipupuk dengan benar.”
Mendengar ucapan Clayton, Aurora benar-benar ingin mengeluh. Dia jelas tidak berniat untuk menjaga Alexander, tetapi pemuda itu menempel kepadanya begitu erat. Seolah-olah Aurora akan terluka begitu parah jika sampai memaksakan diri untuk melepasnya.
Pada akhirnya, wanita itu hanya diam saja tanpa berkomentar.
Melihat situasi yang agak canggung, Alexander buru-buru berbicara.
Jika bergabung dengan senior-senior itu, aku pasti akan terikat. Berbeda dengan Aurora. Dia mau menerimaku sebagai berkah karena tanpa sengaja menyelamatkan hidupnya. Seperti balas budi.”
Clayton mengangguk ringan. Pria itu langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Alexander. Tanpa membahas hal itu lagi, mereka mulai membicarakan gosip acak sambil minum.
Ketika mulai larut, Alexander dan Aurora pamit. Mereka segera pergi meninggalkan pub.
Melewati gang gelap dan sunyi, Alexander menghela napas lega. Dengan apa yang dilakukannya malam ini, semua orang, setidaknya yang sering pergi ke pub akan menyebarkan berita tentang Hunter muda yang baik dan ramah. Memberikan kesan positif kepada publik dan menjauhkan beberapa masalah.
“Apakah kamu sudah merasa puas?” tanya Aurora yang sedari tadi diam.
“Lumayan.” Alexander mengangkat bahu. “Setidaknya dengan begini kita bisa bergerak lebih bebas.”
“Maksudmu membuatku menjadi manusia alat? Menjadi kedok bagimu untuk melakukan hal-hal teduh?” ucap Aurora dingin, lalu mendengus tidak puas.
__ADS_1
“Tentu saja bukan. Kita dalam hubungan kerja sama. Oleh karena itu, kita harus saling menjaga. Ya, lebih tepatnya ...”
Alexander menatap ke arah Aurora dengan wajah datar, tidak lagi memasang ekspresi palsu.
“Kita harus saling menjaga dan memanfaatkan satu sama lain.”
Mendengar itu, Aurora juga tidak menolak. Dia mengangguk ringan, tidak lagi membahasnya. Karena sudah diberitahu kapan akan bertemu, wanita itu pun pergi terlebih dahulu.
Setelah Aurora pergi, Alexander juga berjalan ke tempat tinggalnya. Sembari menatap langit malam tanpa bintang, pemuda itu berpikir.
‘Dengan begini, persiapan tinggal di Shelter 13 akhirnya diselesaikan.’
---
Pagi, empat hari kemudian.
Alexander berdiri di depan gerbang Shelter 13 sembari menatap ke arah hutan dengan ekspresi malas. Saat ini dia menunggu Aurora karena mereka akan pergi berburu sesuai dengan kesepakatan. Empat hari tinggal di shelter, tiga hari berburu.
“Menunggu lama?”
Mendengar suara wanita yang terdengar dingin itu, Alexander menoleh dengan senyum ramah di wajahnya.
“Tidak.” Alexander menggeleng ringan. “Aku hanya berpikir kamu tidak akan datang.”
“Tentu saja aku datang. Meski terlihat seperti ini, aku bukanlah orang yang mengingkari janjinya,” balas Aurora dingin.
Mendengar ucapan Aurora, Alexander hanya mengangkat bahu. Sama sekali tidak mencoba mempersulitnya. Masih memasang ekspresi ramah, dia berbisik pelan.
“Tidak ada ekor di belakangmu?” tanya Alexander
“Tenang saja, aku tidak sebodoh itu,” jawab Aurora.
Alexander melemaskan otot-otot tubuhnya dengan melakukan beberapa gerakan sederhana. Menoleh ke arah Aurora, pemuda itu akhirnya berkata.
__ADS_1
“Kalau begitu kita berangkat.”
>> Bersambung.