After Apocalypse

After Apocalypse
Mengukur Batas


__ADS_3

Melihat mutated green dogs yang menyerang, para hunter bergegas maju dengan ekspresi penuh kemarahan di wajah mereka.


“SERANG!!!”


“BUNUH! BUNUH MEREKA SEMUA!”


“...”


Melihat orang-orang yang begitu ‘bersemangat’, Alexander menghela napas panjang. Pemuda itu tidak terbawa suasana. Sebaliknya, dia masih berdiri di tempatnya dengan begitu tenang. Mengamati sekitar, dia bergumam.


“Sekitar lima meter di depan, kanan, kiri, dan belakang. Dengan luas area seperti itu ... seharusnya sudah cukup.”


SWOOSH!


Alexander bergerak beberapa langkah ke depan lalu menebas. Gerakan yang dia gunakan sangat standar, yaitu tebasan diagonal dari bawah sisi kanan ke atas sisi kiri. Namun, satu ayunan sederhana tersebut langsung memotong bagian perut mutated green dog.


Tidak berhenti di sana, Alexander langsung menebas bagian leher makhluk tersebut lalu menendangnya menjauh. Meski tidak mati, makhluk itu dipastikan sekarat dan tidak memiliki kemampuan untuk menyerang.


“Makhluk sejenis anjing dan serigala biasanya mengandalkan kecepatan. Bagian paling lembut dan mudah dibidik adalah bagian perutnya,” bergumam sambil memastikan beberapa titik kelemahan lawan, Alexander terus bergerak ke kiri dan kanan.


Pada saat mutated green dog lain menerkam, Alexander akan menghindar tepat sebelum serangan mengenainya. Dengan begitu, dia bisa langsung menyerang titik kelemahan makhluk-makhluk itu dan menghempaskannya ke belakang.


Jika musuh yang menyerang lebih dari satu, Alexander akan mundur terlebih dahulu. Dia memastikan kalau musuh harus menyerang secara bergiliran.


SLASH! SLASH! SLASH!


Dengan pedang di tangannya, Alexander membunuh banyak mutated green dog. Jumlah itu menjadi banyak, dan semakin banyak. Meski begitu, pemuda tersebut masih terlihat begitu tenang.


Merasakan tubuhnya berkeringat deras dan banyak percikan darah membasahi tubuhnya, Alexander mulai mengatur napasnya yang semakin tidak stabil.


‘Telapak tangan kesemutan.’


‘Jari-jari terasa sakit.’


‘Bernapas terasa berat dan menyakitkan.’


‘Tubuh terasa lelah dan ingin tumbang.”


‘Meski begitu ... Meski begitu ...”


SWOOSH! SLASH!


Memenggal salah kepala mutated green dog lain, Alexander bergumam, “Ini sama sekali tidak terasa membosankan.”


Satu dibunuh, beberapa datang. Meski begitu, Alexander tidak lagi mengeluh. Otaknya tidak lagi memikirkan hal-hal lain, tetapi terus fokus pada pertempurannya.


Melihat tubuh mutated green dog yang terus menumpuk sampai menjadi bukit kecil, banyak orang yang tanpa sengaja melihat Alexander merasa sangat terkejut.


Orang-orang itu tidak menyangka kalau hunter level 1 bisa memiliki efisiensi membunuh yang begitu tinggi!


“ROARRR!!!”

__ADS_1


Pada saat itu, suara raungan anjing yang lebih keras dan ganas terdengar di telinga orang-orang. Melihat ke sumber suara, ekspresi mereka menjadi kaget sekaligus ketakutan.


Pupil Alexander menyusut. Melihat sosok mutated green dog level 2, ekspresinya menjadi semakin serius.


Saat itu juga, para hunter level 1 di sekitar mulai berkumpul. Mereka berencana untuk bergabung untuk mangalahkan makhluk itu. Namun, Alexander yang selesai membunuh mutated green dog di sisinya berjalan ke depan sambil berkata dengan suara yang dalam.


“Biarkan aku mencobanya.”


Mendengar ucapan Alexander, orang-orang jelas sangat terkejut. Normalnya, perlu dua atau tiga orang untuk menangani monster di level yang sama karena fisik monster lebih kuat. Tentu saja, ada beberapa pengecualian seperti orang jenius atau sangat berpengalaman.


Sedangkan bertarung melawan monster di level lebih tinggi, hal semacam itu sama sekali tidak bisa dilakukan!


“Tenang saja, Teman-teman. Aku sama sekali tidak gila dan ingin bunuh diri. Aku hanya ingin mengukur batasanku. Selagi aku menahan monster level 2 itu, kalian habisi saja monster level 1.


Ketika aku benar-benar tidak bisa lagi melawan, aku akan meminta bantuan kalian.”


Setelah mengatakan itu, Alexander bergegas ke depan tanpa menunggu jawaban orang-orang itu. Lagipula, monster level 2 itu sama sekali tidak berniat untuk menunggu.


Melihat mutated green dog level 2 menerkam ke arahnya, Alexander langsung menganyunkan pedangnya dengan sekuat tenaga.


DING!


Pedang dan kuku tajam berbenturan. Mutated green dog melompat mundur, langsung meraung ke arah Alexander ketika mendarat.


Sementara itu, Alexander sendiri terhempas mundur hampir tiga meter.


“Ugh! Kuharap pergelangan tanganku tidak patah karena terlalu sering melakukan konfrontasi langsung.”


SWOOSH!


Melihat dua sosok yang saling menyerang, banyak orang terpana. Belum lagi, mereka melihat Alexander mendaratkan lebih banyak serangan ke lawannya. Sementara itu, juga lebih banyak menghindari serangan musuh.


Melompat ke samping, rolling (berguling), bahkan menendang tubuh lawan lalu melakukan bakflip (salto) di udara.


Orang-orang itu merasa kalau Alexander lebih lincah daripada seekor kera!


‘Dengan keterampilan pedang standar dan kemampuan menghindar, masih belum cukup ya? Luka-lukanya tidak terlalu dalam dan tidak mengenai titik fatal. Jika seperti ini ...


Aku yang akan tumbang terlebih dahulu karena kehabisan energi!’


DING!


Cakar dan pedang kembali berbenturan. Saat itu juga, Alexander merasa kalau pergelangan tangannya sudah tidak bisa menahan serangan tersebut. Sadar kalau dirinya tidak bisa bertahan, pemuda itu memutuskan untuk mengganti taktik pertempuran.


Swoosh! Swoosh! Swoosh!


Alexander terus menghindari serangan mutated green dog level 2. Dibandingkan sebelumnya, dia lebih banyak menghindar dan mendaratkan serangan ke lawannya sesekali.


Beberapa saat kemudian, pertermpuran menjadi semakin sengit. Menyadari kalau semuanya sudah seperti yang dia inginkan, pemuda itu langsung melompat mundur dengan segenap tenaga lalu berteriak.


“SEKARANG!”

__ADS_1


Mendengar teriakan Alexander, orang-orang yang menunggunya meminta bantuan sambil mencari kesempatan langsung menghempaskan monster level 1 yang mereka lawan lalu melesat ke arah mutated green dog level 2 pada saat bersamaan.


JLEB!


Bukan hanya merasa kelelahan, mutated green dog level 2 tersebut juga kehilangan cukup banyak darah. Pada akhirnya, dia gagal menghindari serangan orang-orang itu.


Tidak hanya menusuk satu kali, orang-orang itu juga menebas beberapa kali sebelum melompat mundur.


Pada saat itu, Alexander melesat ke depan lalu menusuk tepat di tenggorokan monster level 2 tersebut!


Darah langsung menyembur dan membasahi sekitar. Dengan pakaian bersimbah darah, pemuda itu menatap mutated green dog level 2 yang kehilangan vitalitasnya dengan mata tanpa emosi.


“Maaf, tetapi tidak ada yang namanya keadilan di medan perang.”


Setelah berkata dengan begitu datar, Alexander mundur beberapa langkah. Memiliki wajah lelah dan ekspresi masam, pemuda itu akhirnya kembali berkata,


“Terima kasih atas bantuan kalian, Kawan.”


Setelah mengatakan itu, Alexander langsung mundur untuk mengatur napas dan meminum potion pengisi stamina. Usai beberapa saat beristirahat, barulah dia kembali ke tempat pertempuran dan melawan monster-monster level 1. Melanjutkan pembantaian dan menumpuk tubuh monster itu di belakangnya.


‘Jika menggunakan Phoenix Dance dan bantuan beberapa alat, seharusnya aku masih bisa menghadapi monster level 2. Meski begitu, aku tidak bisa puas karena jumlah makhluk level 2 bukan hanya satu, terkadang juga banyak.


Belum lagi, apa yang aku bunuh adalah tipe normal. Jika itu tipe khusus level 2, seharusnya aku sudah mati sekarang.’


Tubuh Alexander yang sudah mulai membiasakan diri terus mengelak dan menyerang monster-monster level 1, sedangkan otak Alexander sesekali menganalisis hasil dari pertempuran sebelumnya.


Pemuda itu memikirkan berbagai gerakan yang digunakan sebelumnya. Sesekali dia akan memikrikan bagaimana jika mengganti trik lain, apakah hasilnya masih sama atau tidak. Namun Alexander akhirnya kecewa.


Jika menggunakan teknik pedang standar, situasinya pasti akan berakhir di titik yang sama seperti sebelumnya.


“BANTU AKU!”


Saat itu teriakan salah satu hunter level 1 terdengar. Melihat monster level 2 yang menyerang dan hampir membunuhnya, orang-orang langsung mendekat. Awalnya pria itu ingin bermain dengan cara yang terlihat keren seperti Alexander, tetapi akhirnya malah melukai dirinya dengan begitu parah.


Tidak mempedulikan apa yang dipikirkan orang itu, Alexander langsung ikut membantu mereka melawan monster level 2 tersebut.


Situasi terus berlanjut cukup lama. Mereka terus bertarung tanpa lelah sampai salah satu sisi mati atau memutuskan mundur untuk melarikan diri.


Walau jumlah manusia kalah banyak, tetapi mereka bisa bertahan dengan mantap dan kembali mendorong musuh. Itu bisa dilakukan karena manusia memiliki pikiran yang lebih cerdas. Selain itu, potion dan berbagai alat bantu juga menjadi kunci untuk membalikkan keadaan.


Pertempuran itu terjadi selama berjam-jam. Bukan hanya monster, tetapi banyak orang yang mati. Kebanyakan dari mereka adalah magang dan penjaga yang dipaksa membantu di barisan depan.


Tanah yang dilapisi salju berubah warna menjadi merah. Pepohonan sekitar telah dijatuhkan dan dihancurkan. Mayat manusia dan monster berserakan di mana-mana.


Jelas, itu bukanlah sebuah pemandangan yang menyenangkan.


BLARRR!!!


Saat itu, ledakan keras terjadi di barisan paling depan. Asap mengepul tinggi dan suara dentingan logam dan benda-benda dihancurkan menyebar ke sekitar.


Melihat ke kejauhan dimana para petinggi bertarung dengan monster level 3 yang begitu kuat, Alexander menghela napas panjang dengan ekspresi lelah di wajahnya.

__ADS_1


‘Masih terlalu jauh ... masih terlalu jauh jadi aku tidak bisa berpuas diri di sini!’


>> Bersambung.


__ADS_2