After Apocalypse

After Apocalypse
Buronan


__ADS_3

Di malam yang gelap dan suram, Alexander akhirnya sampai di lokasi yang disepakati.


Sesampainya di sana, dia melihat empat wanita yang telah menunggunya. Mereka adalah pelanggan kali ini. Meski masing-masing dari mereka baru mengonsumsi 5 atau 6 ramuan evolusi level 1, tetapi mereka lebih baik daripada para magang hunter yang terhenti di langkah pertama.


“Ini 4 ramuan evolusi level 1, 6 ramuan penawar racun tingkat rendah, 6 salep untuk menghilangkan gatal, dan 6 ramuan penambah stamina tingkat rendah.”


Alexander berbicara dengan suara yang begitu tenang. Suaranya terdengar cukup misterius, dan tidak bisa dibedakan apakah itu suara laki-laki atau perempuan.


“Terima kasih banyak. Apakah kamu sudah mendapatkan cukup keuntungan. Jika tidak, kami akan membayar lebih,” ucap salah satu wanita.


Ramuan sendiri sebenarnya tidak begitu mudah dibuat dan kadang mengalami kegagalan karena salah dosis bahan. Namun, hal semacam itu jarang terjadi pada Alexander dan para pembuat ramuan senior. Biasanya, hanya pembuat ramuan magang atau orang yang emosinya kurang stabil mengalami masalah tersebut.


“Tidak perlu.” Alexander menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu, untuk pesanan berikutnya kami membutuhkan-“


“Aku tidak menerima pesanan untuk beberapa waktu ini. Aku sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang penting.” Alexander langsung menyela.


“Tapi kami hanya bisa mengandalkanmu, V! Tanpa bantuan dari Nona Aurora, sulit bagi kami, para hunter perempuan untuk bangkit!” ucap salah satu wanita dengan ekspresi tertekan.


Di antara banyak pedagang gelap, Alexander cukup terkenal dan biasa dipanggil V (dibaca Vi). Bukan dia sendiri yang memperkenalkannya, tetapi Aurora yang pada saat itu bingung bagaimana memperkenalkannya.


Awalnya, semua orang hanya mengetahui V dari Aurora. Namun, semenjak Aurora pergi, V akhirnya menampakkan dirinya.


Jubah hitam, topeng hitam dengan satu lubang di bagian mata kiri, dan mata merah darah yang terlihat mencolok. Ditambah sosok yang misterius dimana dia sering muncul dan menghilang dalam kegelapan serta meninggalkan beberapa bulu hitam, semua orang memberinya sebutan lain.


V, The One-eye Raven.


“Maaf. Itu tidak ada hubungannya denganku. Selain itu, tindakan kalian selama akhir musim dingin agak terlalu berlebihan dan mencolok. Walau kalian melakukannya dengan alasan tersendiri. Aku ingin mengingatkan ... kalian harus berhati-hati.”


“Lalu kamu akan muncul lagi, V?” tanya salah satu wanita.


“Mungkin 1 atau 2 bulan. Namun, jika ada kecelakaan, mungkin aku tidak akan muncul lagi.”


“Itu-“


“Semua orang memiliki kehidupan tersendiri, Nona-nona.” Alexander menggeleng ringan. “Jika tidak ada yang lain, maka aku akan pergi sekarang.”


Setelah mengatakan itu, Alexander langsung pergi. Meninggalkan para wanita yang tampak enggan itu lalu menghilang di gang yang gelap gulita.


---


Tengah malam, Alexander muncul di perbatasan Distrik 3 dengan Distrik 5. Sebuah tempat yang dibilang terpencil dan begitu kumuh.


“Sudah lama kita tidak bertemu sahabatku, V.”


Seorang pria paruh baya kurus yang memakai bandana merah tua berkata pada Alexander dengan ramah. Di belakangnya, tampak ada beberapa orang yang mengawasi tempat sekitar dengan waspada.


“Apakah kamu sudah menyiapkan semua bahan yang aku butuhkan?” tanya Alexander secara langsung.


“Tentu saja!” balas pria itu dengan senyum ramah. “Namun, beberapa bahan ini lebih sulit didapatkan di musim dingin. Karena memerlukan lebih banyak usaha, kamu tahu ... bisakah kamu menambahkan biaya penanganan?”


Mendengar itu, Alexander mengangkat alisnya. Dia langsung merasa tidak nyaman, bahkan ingin marah.


Pemuda itu sudah mendapatkan berbagai masalah karena pergerakan Blood Cross. Ketika melihat orang yang mencoba memanfaatkan situasi ini untuk memerasnya, dia merasa agak emosi.


“Aku sudah memberimu banyak manfaat dengan harga lebih tinggi dari harga pasar. Menurutku harga sebelumnya sudah cocok,” ucap Alexander dengan nada tak acuh.

__ADS_1


“Kita tidak bisa melakukan itu, V.” Pria itu menggelengkan kepalanya. “Aku dengar ada orang misterius yang merusak pasar. Jika memberikan informasi tentangnya, aku bisa mendapatkan hadiah dari Blood Cross.”


Mendengar itu, mata Alexander menyempit. Pemuda itu bertanya dengan nada datar.


“Kamu mencoba memerasku?”


“Tidak, tidak, tidak.” Pria bandana merah memasang senyum menjijikkan di wajahnya. “Kamu harusnya mengetahui aturan pasar gelap, V.”


“Siapa yang kuat, ialah yang menentukan harganya ya? Jadi begitu ...” Alexander mengangguk ringan.


“Jadi, berapa banyak kamu akan menawar?” ucap pria itu dengan seringai sinis.


Alexander menggelengkan kepalanya. Tanpa basa-basi, pemuda itu langsung mengeluarkan pedangnya. Dia menatap ke arah sembilan orang di depannya tanpa ekspresi di balik topengnya.


“Sebenarnya aku tidak mau melakukannya. Dalam keadaan normal, hal semacam ini akan mempengaruhi reputasiku di pasar gelap. Selain membuatku sulit mencari pemasok lain, ini juga membuat banyak orang memilih tidak berbisnis denganku.


Hanya saja, situasi saat ini lebih spesial. Jika kamu tidak mau menjual, maka maaf ... aku akan mengambilnya secara langsung.”


Melihat Alexander yang berjalan ke arah mereka sambil membawa pedang, ekspresi orang-orang itu menjadi serius.


“Apakah kamu tahu konsekuensi melakukan ini, V? Aku sarankan kamu tidak bertindak impulsif!” teriak pria tersebut.


“Impulsif?!” balas pemuda itu dengan nada main-main.


Sosok Alexander tiba-tiba menghilang dari tempatnya. Pada saat muncul, dia sudah berdiri di atas kotak besar kayu yang dikelilingi oleh sembilan orang.


Saat itu juga, ekspresi kesembilan orang itu berubah menjadi pucat. Mereka melihat banyak bulu hitam melayang di sekitar. Entah kenapa, tubuh mereka tidak bisa digerakkan.


Pria paruh baya berbandana merah menoleh ke belakang dengan kaku. Matanya langsung terbelalak ketika melihat sepasang sayap hitam di punggung Alexander.


Alexander sendiri tampak tenang. Dia melihat sembilan orang yang keracunan dan tidak bisa bergerak, lalu mengangkat tangan kanannya.


SLASH!


“A-Aku ...”


“Apakah kamu tahu kenapa aku memilih kelompokmu untuk bertransaksi, Red Bandana? Apakah menurutmu karena kelompokmu ada di kelas menengah, kamu level 2, dan bisa membawa kembali apa yang aku butuhkan?


Jika itu tebakanmu, maka sayang sekali ... itu salah.”


Alexander menyela ucapan pria itu. Dia menghunus pedang dan menempelkan ujungnya ke leher pria itu sebelum melanjutkan.


“Alasan kenapa aku tidak memilih kelompok lebih besar dan malah memilihmu sederhana. Jika dalam kondisi tidak nyaman dan akhirnya tidak dibutuhkan ...”


SLASH!


“Aku bisa menyingkirkanmu kapan saja.”


BRUK!


Melihat sembilan mayat tanpa kepala, Alexander sama sekali tidak jijik. Selain kotak berisi bahan yang dia butuhkan, pemuda itu menggeledah tubuh sembilan orang tersebut dan mengambil apa yang dianggap berharga.


Setelah mengambil semuanya, Alexander menyeret membawa barang-barang itu sambil bergumam pelan.


“Kembali dulu, lalu lanjutkan nanti. Jika dua kelompok lain ingin memeras, maka singkirkan saja. Lagipula, kelihatannya aku sudah tidak bisa berdagang di sini.”


Setelah itu, sosok Alexander kembali menghilang. Hanya meninggalkan sembilan mayat dingin tanpa kepala tergeletak di gang gelap dan sunyi.

__ADS_1


---


Keesokan paginya.


Setelah melewati malam yang sibuk, Alexander yang telah selesai bersih-bersih dan menyimpan semua barang-barang berharga langsung membersihkan diri dan berganti pakaian santai. Dia tidak tidur dan langsung sarapan dengan Daisy dan Aster.


Dari tiga kelompok yang bertemu dengannya semalam, dua di antaranya mencoba memeras dan akhirnya dibunuh olehnya. Sementara itu, pemuda tersebut melepaskan satu kelompok yang tidak dia sangka ternyata begitu jujur.


Penampilan mereka lebih ganas, tetapi ternyata orang-orang itu lebih baik. Hal tersebut membuat Alexander ingat kalau dia tidak bisa menilai orang lain dari sampulnya.


Contohnya adalah dirinya sendiri. Di depan semua orang, dia adalah hunter baik dan bersikap positif serta suka membantu. Namun, dia juga adalah V ... pedagang gelap yang suka mengacau, dan ternyata tidak segan membunuh orang demi kepentingannya sendiri.


Tok! Tok! Tok!


Pada saat sedang menyiapkan sarapan pagi, pintu depan rumah Alexander diketuk.


Pemuda itu melirik ke arah Daisy dan Aster lalu mengangguk. Setelah itu, barulah dia berjalan ke depan untuk membuka pintu.


Pada saat pintu baru saja dibuka, dia melihat beberapa penjaga yang datang ke rumahnya.


Alexander memasang ekspresi terkejut. Setelah beberapa saat, ekspresi pemuda itu berubah. “Tavon?”


“Hey, Alexander.”


Tavon menyapa dengan senyum di wajahnya. Dia tampak lelah. Setelah beberapa bulan tidak bertemu, pria itu menjadi semakin kurus.


“Apakah ada yang bisa aku bantu?” tanya Alexander dengan ekspresi bingung.


Saat itu, Tavon dan teman-temannya mengendus aroma dari dalam rumah Alexander. Alih-alih aroma darah dari buronan, mereka mencium aroma menyegarkan dari pemuda di depan mereka.


Saat itu juga, Alexander tersipu. Dia pura-pura batuk.


“Anu, seperti yang kalian ketahui, tadi malam agak ...” Alexander menggaruk belakang kepalanya. “Aku bersih-bersih agar tidak terkesan ketika nanti keluar.”


Mendengar ucapan Alexander, Tavon dan beberapa orang lain melihat sosok cantik Daisy dan Aster yang tersipu. Melihat kerah di leher keduanya, otak mereka langsung merespon apa yang pemuda itu maksud sebelumnya.


Melihat bagaimana Alexander menyia-nyiakan masa mudanya karena wanita cantik, Tavon menghela napas panjang. Dia menepuk pundak pemuda itu lalu memberi nasihat.


“Aku tahu kamu merasa tertekan karena Aurora pergi. Namun itu semua bukan akhir dan kamu tidak bisa terus bermalas-malasan. Sudah setengah tahun, jadi kamu harus bangkit dan menghadapi kenyataan!” ucap Tavon.


“Kapten!” Salah satu bawahan Tavon mengingatkan.


“Uhuk!” Tavon pura-pura batuk. “Sebenarnya aku ke sini untuk mengingatkan. Aku merasa bersalah karena kamu tidak bisa mendapatkan jasa saat tragedi Pak Rowan terjadi. Kamu jelas berusaha, tetapi tidak dihargai.”


“Tidak apa-apa.” Alexander menggeleng ringan. “Apakah ada sesuatu yang penting?”


“Sebenarnya ada buronan yang mulai mengkhawatirkan. Banyak orang terbunuh di Distrik 3 yang berbatasan dengan Distrik 5. Aku dengar dua pelayanmu dari Distrik 5, dan kamu ... ugh! Suka mencari hal semacam itu.


Jadi aku mengingatkan agar kamu tidak pergi ke Distrik 5. Walau kemungkinannya kecil, kamu harus berjaga-jaga.”


Mendengar penjelasan Tavon, Alexander mengangguk ringan dengan senyum penuh rasa syukur.


“Baik! Terima kasih atas pengingatnya, Kapten Tavon!”


Tavon melihat ke arah Alexander. Melihat salah satu ‘dermawan’ yang sekarang sudah membaik, dia merasa lega. Hanya saja, pria itu sama sekali tidak menyangka ...


Kalau orang di depannya adalah orang yang dicari oleh organisasinya!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2