
Tiga hari kemudian.
“Setelah bergegas, apakah kita belum dekat dengan tempat tujuan?”
Aurora bertanya kepada Alexander. Sementara itu, pemuda tersebut tampak tidak begitu peduli. Dia menghela napas pendek sebelum berkata.
“Bersabarlah. Kita akan sampai di lokasi besok pagi. Meski lingkungan tempat tinggal berbagai monster tidak pasti, tetapi beberapa dari mereka tinggal di wilayahnya tanpa bergerak terlalu jauh.
Kita mencoba menghindari titik berbahaya. Lagipula sekarang kita keluar dari zona aman. Tidak pasti kapan kita akan bertemu monster. Entah jenis apa dan di level berapa. Sebaiknya kita bergerak dengan tenang tanpa terburu-buru.”
Mendengar pengingat Alexander, Aurora mengangguk dengan ekspresi serius. Sejak awal menjadi hunter, dia hampir tidak pernah pergi terlalu jauh dari shelter tempat manusia berlindung.
Kalaupun bepergian jauh, wanita itu melewati zona yang relatif aman dan biasanya digunakan untuk bepergian dari shelter satu ke shelter lainnya. Bisa dibilang, ini adalah pengalaman pertamanya pergi jauh ke alam liar, ke zona berbahaya dimana tidak ada tahu apa yang menanti mereka.
“Sstt!”
Alexander langsung menarik Aurora dalam pelukannya dan menutup mulutnya. Dia bersandar pada pohon dekat semak lalu menutupi tubuh mereka dengan jubah.
Pada awalnya, Aurora merasa terkejut dan malu. Namun saat melihat ekspresi datar Alexander yang jelas tidak memiliki maksud lain, wanita itu perlahan-lahan menjadi lebih tenang.
Beberapa saat kemudian, beberapa monster seperti rusa berjalan lewat tidak jauh dari mereka. Ada delapan ekor, dua di antara mereka adalah makhluk level 2. Meski tampak tidak terlalu berbahaya, tetapi makhluk-makhluk itu cukup kuat.
Alexander tidak berniat untuk melakukan perburuan, jadi memilih untuk bersembunyi. Sebenarnya, dia merasa agak enggan karena daging rusa itu bisa dimakan. Namun melawannya cukup merepotkan.
Tidak semua daging monster bisa dimakan. Hampir semuanya beracun kecuali beberapa pengecualian. Daging burung pipit, rusa, dan beberapa jenis mengandung racun yang tidak begitu berbahaya. Jadi bisa dinetralkan lalu dimakan. Sedangkan daging tanpa racun sama sekali, itu terlalu langka.
Sedangkan daging serangga seperti laba-laba, kelabang, kalajengking, dan beberapa lainnya sangat beracun. Sama sekali tidak untuk dimakan.
Alasan utama Alexander memilih untuk tidak bertarung adalah tindakan pencegahan. Pemuda itu tidak tahu apa yang akan terjadi di alam liar. Jika bertarung, belum tentu dia berakhir tanpa luka. Selain itu, tidak ada yang tahu apakah aroma daging dan darah dari rusa itu akan menarik lebih banyak monster yang jauh lebih berbahaya. Jadi lebih baik mengambil pilihan amannya.
Setelah beberapa saat, makhluk-makhluk itupun pergi.
Pada saat Alexander melepaskannya, Aurora tidak bisa tidak bertanya, “Apakah kamu tidak ingin melawan mereka? Kita bisa menang kan?”
“Lebih baik menghindari hal-hal yang bisa dihindari. Kita memiliki satu tujuan, yaitu mendapatkan miracle root. Sesuatu yang tidak berhubungan dengan itu ... lupakan saja!” ucap Alexander dingin dan tegas.
“...”
Aurora mengangguk. Meski dia memiliki beberapa pendapat, tetapi bukan waktunya berdebat dengan pemuda itu. Belum lagi, wanita itu merasa kalau Alexander benar-benar tidak sederhana. Tampaknya pemuda itu memiliki beberapa pengalaman berada di alam liar yang begitu berbahaya.
Pada akhirnya, mereka berdua pun melanjutkan perjalanan tanpa banyak berbicara.
---
Keesokan paginya.
“Sungguh pemandangan yang indah. Sangat disayangkan tempat semacam itu menjadi sarang monster ganas dan tidak bisa ditinggali.”
__ADS_1
Melihat pemandangan lembah yang begitu indah dimana banyak pepohonan sangat tinggi dan rindang, bunga-bunga bermekaran, bahkan air terjun yang sangat indah di kejauhan membuat Aurora bergumam dengan ekspresi tertekan.
Sementara itu, Alexander melihat kedua sisi lembah. Tebing tinggi yang terlihat biasanya menjadi tempat bermain jenis monster burung. Sayangnya, mereka bukanlah target yang baik.
Monster tipe burung tidak berarti memberi kemampuan menumbuhkan sayap untuk terbang. Ada beberapa monster tipe burung yang bisa memberikan kemampuan semacam itu, tetapi biasanya berada di level 3 atau lebih.
Kemampuan penglihatan jarak jauh yang diberikan oleh monster tipe burung level 2 agak hambar. Meski kemungkinan ada kemampuan ledakan kecepatan, Alexander sudah memilikinya. Terlebih lagi, ada banyak miracle root yang lebih baik daripada itu.
Sampai sejauh ini untuk menangkap burung acak ...
Benar-benar sesuatu yang terlalu sia-sia!
Sekitar tiga jam kemudian, Alexander dan Aurora mulai menjelajahi lembah tersebut. Wilayahnya sangat luas, jadi mereka tidak terburu-buru untuk memilih.
Selain beberapa serangga yang lemah seperti ulat, kutu daun, dan semacamnya ... mereka berdua menemukan beberapa serangga yang cukup baik. Contohnya belalang sembah berwarna zamrud. Miracle root yang didapatkan dari makhluk itu bisa cukup baik, tetapi Alexander dan Aurora tidak memilihnya.
Alasannya adalah ... bukan tipe spesial (unik dan langka).
Meski bagus, tetapi belalang sembah seperti itu agak umum. Jadi mereka memilih untuk menghindarinya.
Hanya saja, Alexander dan Aurora juga tidak banyak berharap. Makhluk-makhluk tipe spesial sangatlah langka. Mereka unik dan memiliki perbedaan dengan sesamanya. Bisa dibilang, hanya ada satu atau tidak lebih dari lima di seluruh dunia.
Bisa dianggap sebagai mutasi ekstrem yang membuatnya sangat-sangat berbeda.
Meski tidak bisa menemukan makhluk tipe spesial, Alexander dan Aurora berharap setidaknya bertemu dengan makhluk bermutasi. Misalnya masih spesies belalang sembah zamrud, tetapi dengan tambahan tanduk atau perbedaan sabit.
Pada saat Alexander berjalan di bawah sebuah pohon raksasa dengan diameter lebih dari sepuluh meter, pemuda itu tiba-tiba merasakan firasat buruk. Dia melihat ke kiri dan kanan, mengamati bagian atas pohon, dan lingkungan sekitarnya tetapi tidak bisa menemukan apa-apa.
Crash!
Pada saat mendengar suara itu, ekspresi Alexander berubah. Meski langsung merespon, dia tahu kalau itu sudah terlambat.
Saat itu juga, Alexander dan Aurora merasakan pijakan mereka runtuh. Dedaunan kering yang mereka pijak sebelumnya ternyata adalah jebakan. Mereka berdua pun langsung jatuh ke sebuah lubang besar.
“HATI-HATI!”
Setelah berteriak, Alexander langsung menusuk dinding dengan tombaknya. Hanya saja, tanahnya tidak terlalu padat jadi dia masih meluncur ke bawah. Meski begitu, momentum jatuhnya bisa diperlambat.
Aurora sendiri juga menggunakan pedangnya untuk memperlambat jatuhnya mereka berdua.
Pada saat sampai di dasar lubang, Alexander dan Aurora melihat ke atas untuk menyadari kalau mereka berada hampir lima belas meter di bawah tanah.
Lingkungan tempat mereka berada terbilang lembap, tetapi tidak terlalu basah. Bagian bawahnya juga lebih luas dibandingkan lubah atas tempat mereka jatuh.
Pada saat bergerak, Alexander merasa sedang menginjak sesuatu yang agak lembek dan kenyal. Sebagai respon, dia langsung mundur dan menusuknya dengan tombak. Namun tidak ada gerakan lain. Sebaliknya, dia merasa kalau tombaknya sedikit tersangkut.
Setelah mencabutnya, Alexander menyentuh ujung tombaknya dan merasakan benda bertekstur agak lengket.
__ADS_1
Aurora sendiri terus melihat sekitar dengan waspada. Namun tempatnya cukup gelap dan mereka tidak melihat apa-apa.
Pada saat itu, Alexander yang selesai mengecek langsung berteriak keras, “BUKAN DI BAWAH, TETAPI DI DINDING!”
Mendengar teriakan Alexander, Aurora langsung menatap ke arah dinding agak miring. Mereka berdua langsung mengamati sekitar.
Saat itu juga, bayangan hitam tiba-tiba melesat ke arahnya.
SWOOSH! DING!
Alexander langsung mengayunkan tombaknya dengan cepat, membuatnya menabrak sesuatu yang keras dan berat. Karena dampak yang kuat, pemuda itu terdorong mundur beberapa meter. Dia sama sekali tidak ketakutan dan malah langsung mengingatkan.
“Fokus ke tengah dan jangan dekat-dekat dengan dinding!”
Mengikuti ucapan Alexander, Aurora bergerak ke tengah, tempat dimana cahaya dari atas masih menyinari mereka.
Alexander sendiri juga segera bergegas ke tempat dimana cahaya berada. Saat itu juga, dia memberi perintah.
“Keluarkan obor kecil, nyalakan lalu buang ke arah berbeda bersamaan denganku.”
Aurora mengangguk berat. Dia memegang pedang di tangan kanan dan memegang dua obor di tangan kiri. Alexander sendiri mengeluarkan batu yang biasanya digunakan sebagai pematik. Dengan gerakan cepat dan pasti, dia langsung menyalakan kedua obor tersebut dan mengambil satu.
“Sekarang!”
Tanpa menunggu lama, Alexander langsung memberi aba-aba. Obor dilemparkan ke sudut ruangan yang berlawanan dan cahaya merah menyala langsung menerangi ‘kamar’ tersebut.
Saat itu juga, Alexander dan Aurora mengetahui apa yang mereka hadapi.
Jaring hitam tampak begitu padat di area dinding. Bukan hanya jaring, tetapi banyak tulang yang ada di sana dan juga beberapa bungkusan ‘stok makanan’. Tulang-tulang itu tidak hanya tulang monster tingkat rendah, tetapi ...
Ada juga cukup banyak tulang manusia!
“Aku memiliki kabar baik dan buruk untukmu, Aurora. Mana yang ingin kamu dengar pertama?”
Mendengar Alexander yang masih bertanya di saat yang begitu menegangkan dan berbahaya seperti itu membuat Aurora berseru.
“Tentu saja kabar baik, karena situasi kita sudah sangat buruk!”
Teriakan Aurora membuat Alexander menjadi sedikit lebih tenang. Mengangkat sudut bibirnya, pemuda itu langsung mengatakan berita buruknya.
“Berita buruknya, sulit untuk bertarung di tempat ini. Bahkan jika menang, tidak mungkin tanpa luka parah. Sedangkan berita baiknya ...”
Alexander melihat makhluk yang berada di dinding lalu menghela napas panjang.
“Sepertinya kita telah menemukan miracle root yang cocok.”
>> Bersambung.
__ADS_1