
Malam harinya.
Di kantornya, Damian sedang membuat catatan. Dalam masa menjalankan tugasnya, minggu ini bisa dibilang waktu yang paling nyaman baginya. Meski belum mendapatkan apa yang Faust janjikan karena setiap ramuan dikirim di akhir bulan, tetapi dia masih mendapatkan keuntungan.
Biasanya Damian merasa sedikit kerepotan menjual sebagian bahan pembuatan ramuan yang dia dapatkan. Sebagian besar digunakan sendiri untuk keluarga, kira-kira 60-70% bahan. Sisanya 30%-40% akan dijual, tetapi sedikit sulit dilakukan karena setiap toko besar pasti memiliki bayang-bayang keluarga besar di belakang mereka.
Damian mampu menjual 20% ke beberapa toko menengah. Orang-orang itu mau menerima karena masih memberi wajah Keluarga Ervens di belakangnya. Namun, mereka juga tidak bisa menerima terlalu banyak. Jadi, kemunculan Faust juga sangat membantunya dalam mengeluarkan bahan yang harus dijual.
Tentu saja, karena mereka berdua teman, dia akan memberi harga sedikit lebih rendah. namun itu lebih baik daripada tidak bisa dijual, kualitas memburuk, hingga akhirnya harus dijual dengan harga terlalu murah atau terbuang sia-sia.
‘Sepertinya aku pernah mendengar nama Vermillion, tetapi dimana?’ pikir Damian.
Pria itu buru-buru menggelengkan kepalanya. Dia tidak lagi repot-repot memikirkannya. Sekarang dirinya telah memenuhi kuota penjualan bahan dan pengumpulan ramuan. Ditambah lagi, Damian juga mendapatkan cukup banyak keuntungan pribadi dalam bisnis ini. Jadi pria itu merasa tidak perlu lagi memikirkan sesuatu yang tidak perlu, karena ...
Sekarang orang itu adalah temannya dan identitas serta penampilannya sudah terbongkar sehingga bisa diburu dan dilacak jika sampai ada pengkhianatan.
Damian kembali menggelengkan kepalanya.
‘Faust, orang itu tampaknya hanya tergerak untuk kenyamanan dan kepentingannya sendiri. Sekarang dia tidak perlu dipikirkan. Lebih penting dari itu, aku harus memperkuat diri agar bisa melawan Kakak. Bukan hanya untuk mendapatkan posisi kepala keluarga berikutnya, tetapi juga karena ‘masalah itu’ yang benar-benar tidak bisa dihindari.’
Damian menghela napas panjang. Dia menyesap teh panas, lalu mulai menenangkan diri. Saat itu, pintu ruangannya tiba-tiba diketuk.
Tok! Tok! Tok!
Damian mengerutkan kening, tetapi masih berkata, “Masuk.”
Pintu terbuka, sosok pria paruh baya memasuki ruangan. Dia adalah salah satu bawahan Damian, sekaligus tangan kanan yang paling dipercayainya.
“Ada apa Praz?” tanya Damian.
“Aku menemukan surat ini Tuan. Tampaknya untuk anda, tetapi tidak dititipkan kepada siapapun. Tiba-tiba muncul di atas meja ruang tamu khusus,” jawab Praz dengan ekspresi serius di wajahnya.
Damian menerima amplop itu dengan ekspresi serius. Tanpa sedikitpun keraguan, dia membuka lalu membaca surat yang ada di dalamnya.
‘Malam ini Mad Ox akan hilang. Sebagai balas budi, aku harap kamu bisa membantuku membersihkan sisanya besok pagi.’
Melihat itu, ekspresi Damian langsung berubah menjadi buruk. Pria itu tidak bisa tidak mengeluh.
“Apakah kamu gila? Membereskan kekacauan itu masih merepotkan bagiku. Aku dari Keluarga Ervens, bukan Keluarga Chivelm!”
__ADS_1
Meski terus mengeluh tidak puas, Damian langsung menatap ke arah Praz dan memberi perintah.
“Kumpulkan orang! Kita akan menangani sesuatu besok pagi-pagi sekali!”
***
Sementara itu, di depan markas Kelompok Mad Ox.
Markas Kelompok Mad Ox berada di daerah pusat Distrik 5. Tidak sebaik orang-orang yang tinggal di Distrik 4, tetapi keamanannya jauh lebih rendah. Bisa dibilang, mereka bebas melakukan apa di tempat itu. Berpura-pura keras (kuat) untuk menekan dan menghancurkan yang lembut (lemah).
Alexander yang sedang memakai identitas V, mengenakan setelan hitam berdiri di depan pintu dengan ekspresi datar di balik topengnya.
Tok! Tok! Tok!
Alexander mengetuk pintu dengan santai. Setelah beberapa saat, pintu akhirnya terbuka. Seorang pria berwajah garang tampak tidak puas ketika mendengar pintu diketuk. Namun, sebelum dia berbicara, kilatan cahaya dari bilah belati memantul tepat di matanya.
Slash!
Detik kemudian luka mengerikan tampak di leher pria itu, langsung membuatnya jatuh ke lantai sambil memegangi lehernya dengan ekspresi ketakutan. Suara benturan langsung membuat banyak orang menoleh, bahkan sebagian yang berada di kejauhan datang mendekat untuk memeriksa.
“Siapa kamu?!”
“Berani-beraninya kamu menyerang teman kami, K-parat!”
“...”
Teriakan demi teriakan terdengar di telinga Alexander, tetapi pria itu sama sekali tidak peduli. Sebaliknya, masih memegang belati yang meneteskan darah di tangan kanan, dia membungkuk dengan sopan sambil memperkenalkan diri layaknya seorang bangsawan.
“Selamat malam, Tuan-tuan. Perkenalkan, namaku V. Aku datang ke tempat ini karena tampaknya kalian telah membuat dermawanku merasa kerepotan. Untuk menghindari hal-hal semacam itu ke depannya, aku terpaksa menjadikan kalian contoh.
Terima kasih.”
Setelah mengatakan itu, Alexander mengangkat kepalanya lalu berjalan ke depan. Ketika orang-orang tampak bingung, dia tiba-tiba mengangkat tangannya lalu mengayunkan pisaunya.
SLASH!
Ketika salah satu orang kembali jatuh, orang-orang itu tahu kalau orang yang mendatangi mereka sama sekali tidak mempedulikan gertakan mereka. Pria itu juga tidak berniat berbicara baik-baik dengan mereka. Jelas hanya datang untuk bertarung, atau lebih tepatnya ... membunuh mereka!
“SERANGAN MUSUH!!!”
__ADS_1
Mendengar teriakan itu, banyak orang segera keluar. Beberapa dari mereka berlari mengambil senjata, ada juga yang langsung bergegas menyerang tamu yang tidak diundang.
Hanya saja, sebanyak apapun musuhnya, Alexander masih tampak tenang. Tanpa mengganti senjata, dia memegang gagang belati lebih erat.
Kurang sepuluh menit kemudian, tampak beberapa orang level 2 yang merupakan para petinggi kelompok itu. Pemimpinnya adalah seorang pria yang mengenakan armor kulit binatang, tubuhnya tinggi dan penuh otot. Di kepalanya yang botak, tampak tatto tribal berbentuk banteng dengan sepasang tanduk besar.
Melihat pemandangan berdarah di depannya, ekspresi Mad Ox tampak muram. Di depan matanya, tampak seorang pria berjubah dan topeng hitam dikelilingi banyak orang. Hanya saja, orang-orang itu malah tampak ketakutan. Itu karena ... tampak banyak orang tergeletak di lantai sambil memegangi leher mereka.
Sebagian dari mereka sudah mati, hanya beberapa yang masih hidup. Hanya saja, pemandangan dimana sangat banyak darah sampai menggenang memang sedikit mengerikan.
“Siapa yang memintamu membuat masalah dengan kelompok kami? Berapa yang dia bayar, aku akan membayarnya dua kali lipat!” teriak Mad Ox.
“...”
Saat itu, Mad Ox melihat mata merah di balik topeng yang menatapnya dengan kosong, tampaknya tidak peduli sama sekali. Jadi, saat itu dia sadar, orang lain datang bukan untuk membiacarkan kesalahpahaman atau masalah yang terjadi antara dua sisi.
Orang itu memang sengaja datang untuk membunuh!
Menyadari kalau bujukannya sia-sia, ekspresi Mad Ox tampak muram.
“Begitu. Jadi begitu! Bahkan jika kamu ingin membunuh ... jangan kira kamu bisa membunuhku dengan mudah! Aku tidak akan mati dengan mudah!” teriak Mad Ox yang bergegas ke arah Alexander.
Saat itu juga, sebagian besar orang juga bergegas ke arah arah Alexander dengan ekspresi putus asa dan agak gila. Sebagai tanggapan, orang itu mengibaskan tangan kanannya untuk membuang sisa darah pada bilah.
Siap untuk menerima mereka semua kapan saja.
***
Keesokan paginya.
Ketika Damian memimpin banyak bawahannya untuk membersihkan tempat kejadian, berita langsung menyebar seperti api yang membakar dedaunan di musim gugur.
Saat itu, informasi penting tentang Vermillion Shop menyebar ke seluruh Shelter 1, khususnya di Distrik 3, 4, dan 5. Ternyata toko kecil itu tidak hanya memiliki orang kuat di belakangnya, tetapi juga memiliki hubungan baik dengan Damian, salah satu putra dari patriak Keluarga Ervens!
Seperti sebuah batu yang dilemparkan ke kolam ...
Riak langsung menyebar ke seluruh shelter sehingga banyak pihak memiliki berbagai tanggapan.
>> Bersambung.
__ADS_1