After Apocalypse

After Apocalypse
Hari Yang Melelahkan


__ADS_3

Selain beberapa bahan yang diawetkan untuk membuat obat, Alexander masih menyimpan bahan untuk menempa senjata dari Abyssal Basilisk. Item terbaik adalah 1 tulang ekor, 2 tanduk, 4 taring utama, dan 8 cakar. Di setiap kaki Abyssal Basilisk ada 4 cakar, 3 di bagian depan dan 1 di bagian belakang. Cakar yang paling baik adalah cakar bagian belakang dan tengah bagian depan.


Tentu saja Alexander tidak hanya menyimpan itu. Dia masih memiliki 26 taring Abyssal Basilisk dan 8 cakar. Kualitasnya masih sangat bagus, tetapi bukan yang terbaik dari tubuh Abyssal Basilisk. Meski begitu, jika dijual, pasti banyak orang yang ingin membelinya dengan harga sangat tinggi.


Hanya saja, Alexander tidak begitu bodoh menjual hal yang begitu langka. Jika tidak, orang-orang dari Blood Cross pasti menyelidikinya dengan serius. Bahkan mencoba menangkapnya dengan segala cara.


“Ini benar-benar membuat sakit kepala.”


Alexander memijat pelipisnya dengan ekspresi lelah. Sekarang dia membawa 2 cakar kaki kiri depan dan 6 taring Abyssal Basilisk. Dari segi ukurannya, cakar bisa digunakan untuk menempa belati atau pedang pendek. Taring sendiri bisa digunakan untuk membuat belati. Lagipula, itu bukan 4 taring utama yang ukurannya besar.


Untuk keenam taring, Alexander berencana membuat belati untuk anggota kelompoknya. Sedangkan dua cakar, dia bingung harus membuatnya menjadi apa. Bukannya pria itu tidak memiliki ide. Hanya saja ...


Bahan yang cocok digunakan untuk menempa senjata berkualitas baik sulit ditemukan!


Alexander bisa saja menggunakan bahan seadanya, tetapi dia merasa enggan. Lagipula, itu buang-buang bahan berharga. Jadi, itu juga alasan kenapa pria tersebut tidak mengganti senjatanya selama ini, malah menempa senjata lain untuk dijual.


“Lupakan. Lakukan saja apa yang bisa dilakukan,” ucap Alexander dengan ekspresi tertakan di wajahnya.


Setelah mengatakan itu, Alexander mengeluarkan kotak lain yang berisi tiga botol keramik dengan mulut besar. Dia dengan hati-hati menuangkan isinya ke tiga wadah besi berbeda. Dari tiga wadah tersebut, tampak tiga jenis cairan berbeda.


“Meski bukan yang terbaik, setidaknya ini tidak berada di bawah standar,” gumam pria itu.


Setelah itu, Alexander memasang masker seperti paruh burung lengkap dengan kacamatanya. Dengan jepit besi di tangan kiri dan palu di tangan kanan, pria itu bersiap untuk menempa senjatanya.


Pada awalnya, Alexander merendam gigi naga dalam cairan pertama. Cairan tersebut memiliki fungsi untuk membersihkan dan melunakkan. Taring Abyssal Basilisk sendiri sangat keras dan tidak mudah dibentuk hanya dengan dipanaskan dalam api secara langsung, jadi perlu merendamnya terlebih dahulu.


Setelah itu Alexander mulai memanaskan taring Abyssal Basilisk, baru kemudian menempanya perlahan. Ketika mulai dingin, dia mencelupkan kembali gigi tersebut. Lalu mengulang prosesnya sampai taring tersebut berubah bentuk seperti yang diinginkan.


Proses selanjutnya adalah mencelupkan embrio belati tersebut ke cairan kedua. Cairan kedua bisa dibilang campuran utama untuk senjata tersebut, dan memiliki bentuk lebih kental. Taring Abyssal Basilisk sendiri memang barang yang bagus, tetapi untuk membuat senjata yang lebih baik, perlu campuran bahan lain untuk memaksimalkannya. Itulah fungsi cairan ketiga.

__ADS_1


Setelah dicelupkan, Alexander akan mulai membakar cikal bakal belati tersebut, menempanya menjadi lebih tipis dan padat. Proses ini adalah proses paling lama karena perlu diulang berkali-kali sampai bahan bercampur dengan baik, juga pembentukan akhir pedang serta memastikan ketajamannya.


Proses terakhir adalah mencelupkan bilah panas ke cairan ketiga. Cairan yang digunakan untuk memastikan kekokohan senjata sehingga tidak mudah dihancurkan ataupun keropos.


Setelah itu, bilah belati itupun selesai dibuat.


Alexander mengambil bilah belati yang telah dingin dari kotak cairan ketiga, kemudian membilasnya dengan air. Saat itu, belati berwarna abu-abu gelap dengan kilau indah tampak di tangannya. Penampilannya tampak indah, tetapi bukan itu yang paling penting.


Alexander mengasahnya beberapa saat. Setelah itu, pria itu mengujinya. Dengan lambaian tangannya, belati tanpa pegangan (gagang) itu melayang di udara. Pria itu kemudian menjentikkan jarinya, lalu belati tersebut terlempar ke plat besi yang telah disiapkan.


Swoosh!


Melihat belati yang mudah menembus lempengan besi yang cukup tebal, sudut bibir Alexander langsung naik. Dengan ini, dia menjadi semakin percaya diri karena telah menambah kartu di tangannya. Setidaknya bisa membuat musuhnya kerepotan, bahkan bisa terancam.


Setelah itu, Alexander pun mulai memproses lima taring lainnya.


***


Setelah berkerja lebih dari dua puluh jam, Alexander hampir menyelesaikan semuanya, baik yang akan dijual di toko dan digunakan kelompoknya. Hanya saja, dia masih tidak memproses dua cakar Abyssal Basilisk karena ragu.


Selain enam bilah belati yang akan digunakan olehnya dan kelompoknya, Alexander memiliki ide untuk item yang akan dijual dalam pelelangan. Hanya saja, waktunya agak terbatas, jadi dia memilih menundanya lain kali.


Ketika Alexander keluar sambil menarik gerobak, Marco menatapnya dengan ekspresi heran. Namun ketika melihat kelopak hitam di bawah matanya, Marco tidak mengatakan apa-apa dan menggelengkan kepala. Tampaknya sedikit kasihan dan takjub pada Faust yang bekerja sangat keras, tidak hanya membuat senjata, tetapi juga membuat banyak ramuan.


Kembali ke Vermillion Shop, Alexander langsung memanggil Aurora, Daisy, dan Aster lalu meminta mereka membantunya memindahkan barang setengah jadi. Ya ... setengah jadi.


Meski bagian paling penting sudah dibuat, tetapi Alexander harus merangkainya dengan gagang dan sarung belati yang disiapkan. Itu sebabnya disebut setengah jadi.


“Kamu tampak sangat lelah Al,” ucap Aurora.

__ADS_1


Wanita itu melihat Alexander yang berbaring di sofa. Bukan hanya kelopak matanya yang menghitam, tampaknya pria itu juga haus dan kelelahan karena bekerja tanpa beristirahat.


“Ini memang sangat merepotkan.” Alexander menghela napas panjang. “Ternyata perlu waktu lebih lama daripada dugaanku.”


“Minumannya, Tuan.”


Nene datang sambil membawa nampan dengan empat gelas di atasnya. Meski tidak selelah Alexander, tetapi dia masih membawa minuman untuk tiga orang lainnya yang telah memindahkan barang.


Alexander mengambil satu. Setelah minum beberapa tegukan, ekspresinya terlihat lebih santai. Dia melihat ke arah tiga orang lainnya lalu bertanya.


“Apakah ada berita menarik?” tanya Alexander.


“Aku memiliki berita yang mungkin membuatmu tertarik, Al.” Aurora menatap Alexander dengan senyum misterius di wajahnya.


“Hm?” Alexander memiringkan kepalanya, tampak penasaran.


“Ini tentang putri Aunt Ma. Wanita itu ... ya, Melissa.”


Pada saat Alexander mendengarkan nama Melissa, dia merasa tidak begitu tertarik. Namun ketika pria itu mengingat bagaimana wanita itu marah kepadanya, ditambah dengan perubahan Claude ... matanya sedikit menyipit.


“Apakah mereka telah kembali ke Shelter 11? Menemukan petunjuk tentang keberadaan V?” tanya Alexander datar.


“Bukan.” Aurora menggelengkan kepala, senyum penuh ejekan tampak di wajahnya. “Sepertinya mereka ditugaskan ke Shelter 1 untuk melapor. Namun anehnya, mereka tinggal sangat lama di sini dan belum kembali. Dari informasi yang aku dapatkan, sepertinya karena kastel tertutup dan tidak menerima tamu dari shelter lain, membuat banyak orang yang datang marah, tetapi juga merasa tidak berdaya.”


Mendengar itu, Alexander tampak bingung. Lagipula, dia telah menemui orang yang keluar dari kastel secara diam-diam.


Mengingat sosok Annie Rosewald, pria itu tidak bisa tidak menghela napas panjang.


“Sepertinya ini akan menjadi hari-hari yang melelahkan.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2