
Sore harinya.
Annie tidak langsung kembali ke kastel. Dia berencana untuk pergi ke tempat persembunyian untuk menenangkan diri. Wanita itu perlu mencerna semua yang terjadi.
“Apakah ada yang menggangu anda?” tanya Mei.
Sambil berjalan, Annie melirik ke arah Mei. Wanita itu bukan hanya pelayan atau pelindungnya, tetapi juga teman terbaiknya. Bisa dibilang, Mei adalah orang yang paling mengerti Annie selain dirinya sendiri. Wanita itu juga sangat peka, sehingga mengetahui sedikit saja perubahan suasana hatinya.
“Bukan apa-apa,” jawab Annie.
“Faust Vermillion?” tanya Mei.
“Jangan bertanya jika sudah mengetahuinya.” Annie tersenyum masam.
“...” Mei mengangguk tanpa mengucapkan kata lain.
Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya sampai di tempat persembunyian tanpa seorang pun mengikuti. Ketika masuk, mereka disambut oleh pemandangan luar biasa. Keduanya bisa melihat Chris menopang dagu sambil melihat Yona yang bersikap begitu aneh.
“Apakah ada yang salah?” tanya Annie.
“Entahlah. Dia sudah seperti itu sejak pulang semalam. Mungkinkah terkurung di sini begitu lama membuat otaknya sedikit berantakan?” Chris memiringkan kepalanya.
“Kamu tidak khawatir? Bukankah dia sahabatmu tercinta?” goda Annie dengan senyum di wajahnya.
“Gadis tengil itu? Sahabatku? Tolong jangan membuat lelucon yang tidak lucu seperti itu, Ketua.” Chris menghela napas panjang.
“Siapa yang kamu sebut gadis tengil?! Hmph! Setidaknya aku lebih baik daripada wanita macho sepertimu!” ucap Yona sambil mengangkat hidungnya, tampak sedikit sombong.
“...”
Sudut bibir Chris berkedut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yona mendengar ucapannya, bahkan wanita itu langsung membalasnya dengan begitu keras.
Christine, wanita yang sering dipanggil Chris itu sebenarnya cantik. Hanya saja, dia memiliki tempramen seperti laki-laki. Wanita itu suka menempa dan membuat berbagai peralatan, jadi rambutnya dipotong agak pendek agar tidak mengganggu. Juga, karena banyak berlatih menempa, tubuhnya cukup kuat, bahkan memiliki perut six-pack.
“Sepertinya logam ringan yang digunakan untuk menempa senjatamu habis. Aku terlalu lelah untuk mencari bahan lain, jadi pekerjaan sedikit tertunda,” ucap Chris dengan ekspresi datar di wajahnya.
“Itu curang!” teriak Yona tidak puas. “Kamu langsung menggunakan teori ancaman karena tidak bisa membalas ucapanku. Itu curang!”
Melihat keduanya mulai bertengkar, Annie segera menghampiri Yona. Dia mengelus kepala wanita lalu sambil berkata, “Berhenti menggodanya, Chris.”
__ADS_1
“Baik~” balas Chris dengan ekspresi malas di wajahnya.
“Omong-omong, kenapa kamu tampak senang, Yona? Apakah ada hal baik yang terjadi?” tanya Annie ramah.
“Hey! Sebenarnya memang ada hal baik yang terjadi. Kemarin aku kembali bertemu dengan V. Lalu karena aku kesal, semalam aku memeras banyak anggur darinya. Dia juga cukup pandai membuat potion, jadi lain kali aku berencana memeras beberapa. Setidaknya bisa dijual untuk tambah uang jajan!” ucap Yona bangga.
Mendengar nama itu disebut, ekspresi terkejut terlintas di wajah Annie. Dia buru-buru merubah ekspresinya menjadi ramah seperti biasa, lalu berbicara pada Yona.
“Apakah kamu menemuinya kemarin? Aku penasaran apa yang terjadi setelahnya, jadi ...”
“Bisakah kamu ceritakan detailnya?”
***
Hampir dua bulan berlalu begitu saja.
Alexander yang mengenakan jubah berjalan menuju ke pinggiran Distrik 3 dengan ekspresi lelah. Setelah mengatur para pekerja dan para penjaga selama kurang-lebih dua bulan, dia merasa agak lelah karena banyak hal yang perlu diatasi. Entah itu kemalasan para pekerja, atau para penjaga yang kurang teliti. Jadi, banyak hal yang perlu dia arahkan sendiri dalam waktu ini.
“Apakah sudah selesai, V? Secepat ini?” tanya Tuan Lenka yang berjalan di sampingnya.
“Jika itu rumah biasa, dengan banyaknya jumlah pekerja, pasti bisa selesai lebih cepat. Namun apa yang dibangun kali ini berbeda, jadi tolong dimaklumi.” Alexander membalas santai, tidak sombong ataupun rendah hati.
“Aku harap itu sebaik yang kamu katakan sebelumnya, V. Semoga penampilannya tidak mengecewakan kami bertiga.” Tuan Wilson menambahkan dengan senyum di wajahnya.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka melihat atap bangunan yang lebih tinggi daripada bangunan lain. Bahkan cukup tinggi dan menjulang.
Sesampainya di sana, mereka langsung disambut dengan pemandangan bangunan tiga lantai yang tampak megah. Bentuknya cukup indah. Sebagian besar bangunan dibuat dari batu, sebagian lagi dari batu bata dan kayu. Selain itu, ada beberapa tambahan seperti lampu gantung dan berbagai aksesoris lain.
Sebuah bangunan indah dengan halaman luas di bagian depan, belakang, ataupun samping bangunan tersebut. Benar-benar berbeda dibandingkan bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Seperti seekor phoenix yang bercampur dengan kawanan ayam. Tampil begitu mencolok.
“Ada tiga pintu di lantai satu karena santai pertama dibagi menjadi tiga bagian. Bagian depan, yang akan digunakan sebagai toko. Bagian belakang-kiri untuk tempat ganti pakaian, istirahat, menaruh senjata, dan beberapa keperluan lain para penjaga. Di bagian belakang-kanan, ada bagian luas untuk dijadikan gudang penyimpanan bahan dan bagian kecil untuk dapur sederhana.
Untuk lebih jelasnya, biarkan aku membawa kalian bertiga berkeliling.”
Setelah mengatakan itu, Alexander langsung mengajak mereka masuk ke dalam bangunan. Setelah memasuki pintu depan, mereka langsung disambut dengan ruangan yang sangat luas. Ada dinding lurus di bagian belakang, selain itu ada juga anak tangga di bagian kiri dan kanan dinding.
Ruangan itu sangat luas sehingga ratusan orang bisa masuk bersama. Hal tersebut membuat ketiga orang itu bingung. Saat itu, Alexander mulai menjelaskan.
“Bagian kiri dan kanan akan disekat. Hanya menyisakan bagian tengah yang cukup luas. Di kiri dan kanan akan dibangun bentuk ruang semi terbuka dimana kita akan menjual banyak barang. Dengan ukuran ini, kita bisa membuka sepuluh toko seukuran Vermillion Shop. Empat di kiri, empat di kanan, dan dua di bagian belakang dekat dinding pembatas.
__ADS_1
Masing-masing dari kita mendapatkan dua tempat. Entah itu digunakan sendiri untuk menjual barang, atau disewakan, tergantung pada cara kita menggunakannya.”
Mendengar penjelasan Alexander, ketiga orang itu sedikit bingung. Tuan Wilson kemudian bertanya, “Bukankah jumlahnya sepuluh? Kenapa yang kamu hitung hanya dua?”
Alexander menunjuk ke tempat terjauh dekat kedua tangga lalu berkata, “Seharusnya di sana bisa digunakan untuk dua toko, tetapi ada kegunaan lebih penting. Bagian tengah akan digunakan untuk resepsionis yang menerima tamu, bagian kiri digunakan untuk ruang istirahat, dan bagian kanan digunakan sebagai ruang arsip untuk menyimpan data para pengunjung.”
“Apakah itu perlu dicatat?” tanya Tuan Lenka bingung.
“Tentu saja itu penting. Jika didata secara terperinci dan diperiksa keasliannya, itu bisa digunakan untuk melacak orang jika sampai ada terjadi kejadian yang tidak diinginkan,” ucap Sir Gareth. Dia melirik ke arah Alexander. “Ide yang bagus. Kapan bisa diselesaikan?”
“Paling lama dua minggu,” ucap Alexander. “Bangunan utama sudah selesai, hanya perlu menambahkan beberapa hal. Kalian juga bisa bersiap untuk membuka toko seperti apa.”
“Jadi begitu.” Sir Gareth mengangguk dengan ekspresi serius.
Setelah itu Alexander mengajak ketiganya melihat ruang para pekerja dimana tampak 60 loker besi di luar dan ada sebuah kantor agak kecil dengan enam loker di dalamnya. Jelas, ruang publik digunakan untuk anggota penjaga, sementara ruang khusus untuk para pemimpin tim. Selain itu, ada juga gudang dan dapur kosong.
Selesai berkeliling lantai satu, mereka langsung menuju ke lantai dua. Lantai dua memiliki langit-langit lebih tinggi. Bagian depan tampak lebih luas. Di dekat dinding, terlihat sebuah panggung cukup megah. Ada ratusan kursi yang meninggi seperti di bioskop. Jumlahnya ratusan kursi. Di bagian belakang barisan kursi, terdapat sepuluh ruangan berbeda sehingga bersifat lebih privasi.
“Untuk apa ruangan itu V? Selain itu, bukankah jumlah kursinya terlalu banyak?” tanya Tuan Lenka.
“Kita akan membuat pelelangan besar-besaran dimana bukan hanya beberapa orang dari kelompok tertentu datang, tetapi hunter bebas tanpa kelompok bisa datang. Selama itu pelanggan, kita bisa menerimanya. Tentu saja ada kriteria tertentu untuk masuk sebagai tamu.
Sedangkan untuk ruangan tersebut, anggap saja sebagai ruang VIP. Kita masing-masing mendapatkan satu ruangan. Masih tersisa 6 kan? Gunakan untuk tamu penting yang layak duduk di sana ... misalnya para bangsawan itu.”
Mendengar ucapan Alexander, semua orang terkejut. Saat itu mereka langsung sadar kalau rencana Alexander bukan hanya untuk mempopulerkan rumah lelang kepada para hunter biasa, tetapi juga para petinggi Shelter 1. Sungguh ambisi yang luar biasa.
Setelah itu, Alexander kembali mengajak mereka pergi ke area belakang panggung yang luas. Di sana ada gudang, ruang pekerja, dan tempat untuk menyimpan barang-barang yang akan dilelang.
Selesai berkeliling lantai dua, Alexander mengajak mereka pergi ke lantai tiga.
Dibandingkan dua lantai di bawah, tempat ini sedikit lebih kecil. Tentu saja, tidak sekecil itu karena ada sebuah ruang luas agak bulat di tengah dan empat kamar besar. Dan di bagian depan ruang lebar tersebut, tampak sebuah tempat terbuka dimana mereka bisa melihat pemandangan Shelter 1.
“Tempat terakhir adalah tempat santai kita. Ruang terbuka ini akan digunakan untuk bersantai, berkumpul bersama, atau bahkan melakukan rapat. Oh! Aku sampai lupa.”
Alexander mengeluarkan kunci lalu melemparkan satu ke masing-masing orang, lalu melanjutkan.
“Ruang besar itu milik kalian. Kalian bisa menggunakannya sebagai kamar biasa, tempat menyimpan barang, atau biarkan kosong begitu saja. Jadi, apakah kalian puas dengan tempat ini? Omong-omong ...”
Melihat orang-orang yang tampak terkejut dan bingung, Alexander merentangkan kedua tangannya. Memiliki seringai di balik topengnya, pria itu pun bertanya.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita membicarakan bisnis apa yang akan dibuka sehingga tidak bertentangan satu sama lain?”
>> Bersambung.