
“Uhuk! Uhuk”
Alexander pura-pura batuk untuk mencairkan suasana. Dia menatap ke arah rekan-rekannya lalu berkata dengan nada serius.
“Dikarenakan kita sudah sampai di tempat ini, maka kita harus pergi untuk memeriksanya. Apakah ada yang keberatan?” ucap Alexander.
“Tidak!” jawab kelima orang itu serempak.
“Kalau begitu kita berangkat.”
Setelah mengatakan itu, Alexander berbalik pergi. Di belakangnya, kelima anggota kelompok mengikutinya.
Orang-orang itu berjalan menuruni bukit dengan tenang. Mereka sama sekali tidak terburu-buru karena tempat yang mereka tuju sudah dekat. Mata mereka terus mengamati sekitar untuk memastikan tidak ada monster atau orang yang bersembunyi dan berusaha melakukan serangan diam-diam.
Setelah menurubi bukit, Alexander dan rekan-rekannya bisa melihat Shelter 1005 dengan jelas.
Salah satu bagian gerbang depan dihancurkan. Ada juga beberapa bagian pagar pembatas yang mengelilingi Shelter 1005 dihancurkan. Jelas, beberapa tempat yang mengalami ‘kebocoran’ tersebut membuat monster bisa menyerbu masuk ke dalam Shelter 1005 untuk melakukan pembantaian.
‘Bahkan sudah tidak ada penjaga yang bertugas sebagai pengamat. Mungkinkah mereka sudah melarikan diri meninggalkan kota?’
Alexander menggeleng ringan untuk menyangkal pikirannya sendiri.
‘Tidak mungkin. Dari atas bukit, aku bisa melihat beberapa pergerakan. Meski terlalu jauh dan pintu tertutup rapat, aku masih melihat beberapa bayangan bergerak di dalam rumah.’
Swoosh!
Tanpa pikir panjang, Alexander langsung menarik keluar pedangnya. Dia kemudian melirik ke arah rekan-rekannya dengan ekspresi serius.
“Bersiap untuk bertarung kapan saja,” ucap pemuda itu.
Mengikuti perintah Alexander, mereka langsung mengeluarkan senjata mereka. Setelah itu barulah kelima orang itu mengikuti punggung pemuda itu, berjalan melewati gerbang dengan hati-hati.
Baru saja melewati gerbang, mereka langsung disuguhi pemandangan dimana banyak rumah roboh. Dari lapisan salju yang menutupinya, seharusnya sudah cukup lama. Tampaknya memang dilakukan oleh para monster beberapa minggu yang lalu saat gelombang binatang buas terjadi.
Tidak hanya itu, mata Alexander langsung menyempit ketika melihat cukup banyak ‘gundukan salju’ di sekitar area yang mereka lewati. Dia mendekati salah satu gundukan lalu mengangguk ringan ketika melihat beberapa bagian pakaian tebal yang hampir tidak terlihat karena tertutup salju.
‘Korban dari gelombang binatang buas, kah?’ pikir Alexander.
Pemuda itu melihat begitu banyak gundukan salju dimana tubuh-tubuh orang yang terbunuh telah membeku. Namun dia juga tahu kalau ini sama sekali bukan keseluruhan korban.
__ADS_1
Seperti yang diketahui, alasan kenapa gelombang binatang buas terjadi dikarenakan kelangkaan makanan. Sebagian dari mereka tidak bisa menahan diri, jadi elombang binatang buas pun pecah.
Jadi, banyak orang yang sekarang terkubur salju sebenarnya adalah sisa makanan. Bisa dibilang, tubuh yang dibuang karena para monster itu sudah kenyang.
Alexander terus berjalan melewati jalan utama bersalju. Sesekali pemuda itu melihat ke arah rumah-rumah kecil yang masih bertahan tidak jauh dari rumah yang dihancurkan. Walau tidak semua, tetapi dia cukup yakin kalau ada beberapa orang yang masih hidup dan tinggal di sana.
Berbeda dengan Alexander dan Aurora, empat wanita lain lebih mengerti apa yang orang-orang dalam rumah kecil itu rasakan karena pernah mengalaminya.
Sebagai manusia biasa, musim dingin di dunia yang suram ini adalah musim yang paling mereka benci. Tidak suci seperti warna putih yang menyelimuti dunia, tetapi hanya sekadar pembawa derita.
Di bawah tirai putih yang membaptis dunia, banyak orang harus berpisah dengan keluarga, rekan-rekan dan orang tercinta.
Kedinginan ... kelaparan ... haus ...
Mereka berharap warna putih itu segera sirna. Kembali ke warna-warni absrak seperti dunia yang begitu kacau, karena begitulah seharusnya.
“Kita bukan pahlawan, apalagi makhluk seperti dewa yang bisa menyelamatkan mereka semua. Meski terdengar keji, tapi ... tahanlah.”
Pada saat keempat wanita itu melambat, suara Alexander terdengar di telinga mereka. tangan mereka mencengkeram erat gagang pedang, tetapi mereka sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa. Karena pada kenyataannya, mereka sendiri juga bukan siapa-siapa.
Mereka semua berjalan menyusuri jalan utama sampai akhirnya tiba di pusat Shelter 1005, tempat paling sedikit mendapatkan kerusakan. Tempat para prajurit yang masih selamat dari pertempuran.
“Bantuan! Bantuan akhirnya tiba!”
Pria paruh baya itu buru-buru berlari ke arah Alexander dan rekan-rekannya dengan ekspresi bahagian, bahkan tampak agak gila.
“Apakah Shelter 102 mengirim kalian? Atau jangan-jangan Shelter 103?”
Mendengar pertanyaan pria paruh baya itu, Alexander mengerti kalau shelter tingkat rendah seperti mereka tampaknya menunggu bantuan dari shelter tingkat menengah. Hanya saja, bantuan itu sama sekali tidak tiba karena banyak shelter harus menghadapi masalah yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.
Ketika pria paruh baya itu berteriak, pintu-pintu rumah di sekitar lingkungan itu terbuka. Banyak orang-orang yang tampak kurus, pucat, dan terlihat sakit-sakitan. Tampaknya memeriksa apakah berita itu benar. Namun, suara Alexander tiba-tiba terdengar seperti air dingin yang menyiram kepala mereka di musim dingin ini.
“Kami berenam bukanlah bala bantuan yang kalian pikirkan. Kami adalah hunter bebas yang sedang melakukan perjalanan dan kebetulan lewat di Shelter 1005 untuk beristirahat sebentar.”
“EH?”
Mata pria paruh baya itu terbelalak. Dengan ekspresi tidak percaya, pria itu berkata dengan suara lebih keras. “HAHAHA! Lelucon itu tidak lucu Tuan. Sekarang anda sedang bercanda kan? Katakan pada saya kalau anda sedang bercanda!”
Pria itu hendak meraih Alexander, tetapi langsung ditendang sampai berguling-guling di tanah bersalju.
__ADS_1
Tatapan Alexander menyapu sekeliling. Melihat kalau kebanyakan orang yang selamat adalah manusia biasa, dia merasa sedikit bingung. Lagipula, seharusnya selain beberapa hunter level 1 yang muncul, harus ada cukup banyak hunter level 1 lain, serta dua atau tiga hunter level 2.
“Bukankah seharusnya ada hunter level 2 yang memimpin kalian? Dimana orang itu?”
Mendengar pertanyaan Alexander, banyak orang langsung menundukkan kepala mereka. Melihat jejak kesedihan dan keengganan di wajah mereka, dia langsung mengerti apa yang terjadi.
“Mati ketika menghadapi gelombang binatang buas, kah?” gumam pemuda itu.
Alexander menggeleng ringan. Saat itu juga, pria paruh baya tadi meluncur ke arahnya lalu memegangi kakinya dengan ekspresi gila.
“Semua orang mati! Mereka semua mati HAHAHAHA! MEREKA SEMUA MATI MENINGGALKAN KAMI!” teriak pria paruh baya itu dengan ekspresi histeris.
“...” Alexander menatapnya dalam diam.
“Bantu! Kalian harus membantu kami! Kalian adalah hunter yang kuat, bukan? BANTULAH KAMI!”
Swoosh!
Alexander menunjuk ke arah dahi pria itu dengan ekspresi datar di wajahnya.
“Lepaskan, dan aku akan pura-pura tidak ada yang terjadi,” ucap pemuda itu datar.
Bukan hanya tidak melepaskan, pria itu meremas dan mengguncang kaki kanan Alexander sambil berteriak, “KALIAN HARUS MEMBANTU KAMI!”
“Begitu.” Alexander mengangguk ringan, membuat banyak orang terkejut sekaligus tampak bahagia. “Kalau begitu biarkan aku membantumu. Karena tidak dalam menahan rasa sakit semacam ini, maka biarkan aku mengirimmu pergi lebih awal. Membantumu bebas dari siksaan ini.”
Setelah mengatakan itu, Alexander mengangkat pedangnya lalu menebas tanpa merubah ekspresinya.
SLASH!
Kepala pria paruh baya itu berguling di tanah bersalju. Alexander kemudian mengguncak pedangnya, membuang darah yang melapisi bilah ke salju di sekitar.
Saat itu juga, suasana menjadi sangat sunyi. Hati orang-orang langsung terasa dingin, bahkan lebih dingin daripada angin yang meniup mereka sekarang.
Alexander sedikit mengangkat wajahnya, lalu bertanya dengan nada sangat monoton.
“Apakah masih ada yang memerlukan bantuanku?”
>> Bersambung.
__ADS_1