
Tiga hari kembali berlalu begitu saja.
Dalam tiga hari ini, banyak hal yang telah terjadi. Selain Jane, Alexander juga menjadikan Nene sebagai pelayannya. Mereka berdua bertugas untuk mengatur rumah, para pelayan lain, dan juga beberapa pekerja.
Bukan hanya itu. Dalam waktu ini, semua orang melihat kalau ‘Boris’ tampaknya sudah sadar. Meski cara berbicaranya masih kasar, tidak enak didengar, dan bersikap menjauhi orang-orang, tetapi dia sudah tidak lagi membuat masalah berlebihan. Dengan begitu, kedamaian pun bisa orang-orang dapatkan kembali.
Di kamarnya, ‘Boris’ duduk bersila sambil memejamkan matanya. Dia memegang pisau dengan kedua tangannya. Tampaknya ada energi samar yang melapisi benda tersebut. Tidak berhenti di sana, ada juga kejadian aneh.
Udara di sekitar pisau tampaknya bergerak dengan cara aneh, tertarik sesuatu, berputar di sekitar pisau, dan tiba-tiba bubar.
Kejadian seperti itu terus terulang, sampai akhirnya pria itu membuka matanya lalu menghela napas panjang.
‘Meski membuat tebasan udara masih sangat sulit, dengan energi yang kumiliki sekarang, seharusnya aku bisa menggunakan udara untuk melapisi pedangku. Bukan hanya memperkuat pertahanan, tetapi serangan juga sangat ditingkatkan.
Masalahnya, bentuk berikutnya dimana udara lebih ditekan dan dikompresi sangat sulit dilakukan. Sepertinya aku harus mempraktikkan secara langsung agar bisa menguasainya dengan lebih baik’
Pada saat itu, Alexander memikirkan beberapa orang yang berkemungkinan besar menjadi mitra sparing. Namun pemuda itu segera menggelengkan kepalanya. Dia memiliki rahasia yang harus dijaga, jadi tidak ingin menunjukkan kemampuannya jika belum waktunya.
Alexander sempat berpikiran untuk langsung berlatih di alam liar. Namun dia juga membatalkan rencana tersebut. kecepatan latihan jelas lebih baik daripada melawan mitra sparing, tetapi resikonya juga besar. Pemuda itu tidak takut untuk melakukannya. Hanya saja, sekarang dia masih sangat sibuk menyamar dan mempersiapkan banyak hal.
Menurut informasi yang Alexander dapat dari Jane, arus bawah Shelter 11 mulai kacau karena sebuah berita besar.
Aunt Ma ... hunter level 4 yang dianggap sangat kuat dan ganas tampaknya sakit parah!
Banyak orang yang baik di sisi gelap dan terang ingin mengambil kesempatan. Lagipula, Aunt Ma bukanlah wanita yang baik dan dia juga membuat banyak musuh dalam hidupnya.
Ayah wanita itu sudah meninggal, saudaranya yang merupakan pemimpin Shelter 11 juga sibuk. Bahkan rumornya beliau mulai menargetkan adiknya tersebut karena sudah muak dengan segala masalah yang disebabkan oleh Aunt Ma sebelumnya.
Ditambah anak-anak yang mulai bertindak aktif untuk segera menggantikannya, semua orang semakin resah dan situasi tampaknya semakin tidak terkendali.
Tok! Tok! Tok!
Pada saat itu, pintu kamar diketuk. Alexander langsung menggunakan suara Boris ketika berkata, “Masuk.”
Pintu terbuka, lalu Nene masuk ke ruangan dan kembali menutup pintu.
__ADS_1
“Tuanku, saya ingin mengingatkan kalau nanti sore adalah waktunya untuk menemui orang-orang dari Blue Lantern.”
Mendengar ucapan Nene, Alexander mengangguk ringan.
“Bos mereka hanya level 2. Meski ada beberapa anggota level 2, tetapi sama sekali tidak ada masalah. Orang-orang itu masih berguna, jadi kamu harus bersabar. Tenang saja, mereka semua akan mati dan dendammu akan terselesaikan,” ucap pemuda itu.
Blue Lantern adalah organisasi gelap yang memiliki hubungan baik dengan Boris. Bahkan pelayan favorit Boris sebelumnya, Nene didapatkan dari mereka. Dianggap sebagai hadiah untuk membuka jalan.
Kelompok itu sendiri tidak terlalu besar, tetapi masih bisa dianggap salah satu kelompok gelap terkenal di Shelter 11. Tidak ada hunter level 3, tetapi ada cukup banyak anggota dan di antaranya ada cukup banyak hunter level 2 dibandingkan kelompok lainnya.
Berbeda dengan Jane yang keluarganya dibantai. Kehidupan Nene sebenarnya lebih sederhana. Dia adalah wanita dari shelter tingkat menengah. Meski tidak menjalani kehidupan baik dan hanya seorang pengungsi, dia masih bisa mengisi perutnya dengan bekerja keras.
Sama dengan kebanyakan budak yang dijual di pasar. Nene adalah pengungsi yang ‘dipungut’ organisasi gelap dan dijual sebagai barang dagangan. Mungkin tidak bisa dijual di tempat asalnya karena dianggap melanggar hukum, tetapi bisa dibawa ke shelter tingkat atas karena pengurus shelter mana saja tidak akan peduli jika kehilangan beberapa pengungsi.
Organisasi yang menangkap Nene adalah Blue Lantern, jadi wajar jika wanita itu membenci organisasi tersebut.
“Saya mengerti Tuan.” Nene mengangguk patuh.
“Kamu boleh kembali.”
Setelah Nene pergi, Alexander berganti pakaian. Dia tidak lagi mengenakan jubah lusuh berwarna hijau tua karena jubah itu biasanya hanya digunakan Boris ketika menyelinap ke tempat hiburan.
Sebagai salah satu tetua keluarga yang kaya, tentu saja Boris memiliki banyak barang bagus. Hanya saja sebagian besar rusak di misi terakhir.
Alexander memakai kemeja cokelat gelap lalu memakai pelindung dada, lengan, dan kaki. Dia memakai celana hitam dan sepatu boot cokelat tua. Pria itu juga memakai mantel bertudung (coat) yang agak kebesaran berwarna hijau tua. Terakhir, membawa pedang aneh di sisi kiri pinggang dan pedang besar di punggungnya.
Dari segi penampilan, Boris (Alexander) tampak seperti pria paruh baya ganas dan agak gila. Namun perlengkapannya juga terlihat baik. Jelas menunjukkan bagaimana Boris biasanya tampil menonjol. Memamerkan kekayaan keluarganya.
Setelah selesai bersiap, Alexander pergi bersama Nene menuju ke lingkaran tiga tempat biasanya mereka bertemu.
Sesampainya di sana, Alexander menghela napas dalam hati.
Dibandingkan dengan lingkaran lima yang kumuh dan kotor, tempat perdagangan di lingkaran tiga jelas lebih bersih, rapi, dan indah. Hanya saja masih tetap ada beberapa keluarga yang membuat kesepakatan kotor di tempat ini. Membuatnya benar-benar kurang cocok dianggap tempat perdagangan putih (bersih).
Memasuki sebuah toko penjualan bahan yang cukup besar milik keluarga, Alexander disambut hangat oleh beberapa tamu. Mereka semua berpenampilan agak kotor. Dari penampilannya saja yang garang, mereka sama sekali tidak terlihat seperti orang baik.
__ADS_1
“Oh, Sahabatku Boris! Aku benar-benar merasa menyesal ketika mendengar kabar buruk yang terjadi padamu!”
Seorang pria paruh baya dengan rambut agak jarang dan berantakan, berjenggot, serta memakai penutup mata berjalan menuju ke arah Alexander. Tampaknya ingin memeluk untuk menghiburnya.
“Menjauhlah Igor! Aku sama sekali tidak membutuhkan rasa kasihan darimu!”
Melihat Boris yang biasanya pura-pura mendominasi padahal bodoh tetapi sekarang tampak liar dan gila, Igor memastikan kalau semua informasi yang dia terima itu benar.
“Sungguh, aku benar-benar tidak mencoba menghina apalagi menertawakanmu, Boris. Kemarilah, aku memiliki hadiah bagus untukmu!”
Igor tersenyum. Dia kemudian membawa Alexander menuju ke bagian belakang toko dimana barang-barang biasanya diselundupkan.
Selain barang yang biasanya diperjual-belikan kedua sisi, ada beberapa barang tambahan. Ada dua tong anggur dan empat wanita yang tampak ketakutan. Masing-masing dari mereka terlihat cantik. Setidaknya sama dengan pelayan-pelayan Boris.
“Aku membawa mereka agar bisa memperbaiki suasana hatimu. Bukan hanya wanita dan anggur, tetapi aku juga berniat menjual barang lebih murah. Tentu saja, hanya untuk kali ini.
Bukankah aku sudah tulus, Sahabatku Boris?”
Mendengar itu, Alexander benar-benar tertegun. Lupakan soal wanita dan anggur. Sebelumnya dia merasa kalau sisa dari setiap transaksi cukup banyak. Namun, Igor kembali menurunkan harga. Itu berarti ...
Bisnis kali ini benar-benar sangat menguntungkan!
Walau merasa cukup bersemangat, Alexander berpura-pura tidak puas. Dia menggaruk kepalanya dengan ekspresi tertekan. Pria itu kemudian menggeram dengan ekspresi ganas.
“Aku tidak butuh itu Igor!”
Setelah mengatakan itu, ‘Boris’ tiba-tiba tertegun. Seolah menyadari sesuatu, dia segera berjalan ke arah Igor dengan senyum mengerikan.
“Aku punya ide, Igor. Kamu adalah sahabatku, bukan? Jadi seharusnya kamu bisa membantuku mengatasi masalah, bukan?”
“Orang-orang menjijikkan itu ... bantu aku berurusan dengan orang-orang menjijikkan itu!”
Melihat ekspresi gila di wajah ‘Boris’ yang mencoba meminta mereka membantunya membunuh saudara-saudaranya, Igor dan bawahannya tertegun. Saat itu juga, mereka menyadari sesuatu ...
Tampaknya ‘Boris’ benar-benar sudah gila, bahkan lebih gila daripada yang dirumorkan!
__ADS_1
>> Bersambung.