
Sore di hari berikutnya.
Dalam ruang penerimaan tamu toko Keluarga Ervens, tampak beberapa tamu yang tidak diundang. Dalam ruangan tersebut, ada delapan orang. Tiga di antaranya adalah Faust, Damian, dan Praz. Sementara lima orang yang dianggap sebagai tamu tak diundang adalah Melissa, Octavius, Claude yang berperan sebagai penjaga Melissa, pria paruh baya yang menjadi penjaga Octavius, dan seorang pria paruh baya dengan armor ksatria Blood Cross.
Pria terakhir adalah salah satu orang dari Keluarga Chivelm, penegak hukum yang memimpin banyak ksatria untuk membereskan masalah di Shelter 1. Bukan keberadaan puncak, tetapi dia adalah salah satu orang yang paling dihormati di ketentaraan.
Juan Chivelm.
Namanya terdengar asing di telinga orang luar. Namun, bagi penghuni Shelter 1, dia adalah sosok yang dihormati dan ditakuti banyak orang.
“Aku harap kamu tidak berusaha melindungi pria muda ini, Damian.” Juan berkata dengan ekspresi datar.
“Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Faust dengan senyum ramah di wajahnya.
Juan tidak mengubah ekspresinya. Sementara itu, empat tamu lain memandang ke arah Faust dengan ekspresi berbeda. Octavius tampak penuh harap, penjaganya tampak tenang, sementara Melissa dan Claude menatap Faust dengan ekspresi dingin, bahkan penuh kebencian.
“Kami (pihak penjaga) mendapatkan laporan penting dari Octavius. Menurut informasi yang didapat dari wanita bernama Melissa.
Sebagai orang yang telah bertemu dengan V di Shelter 11 dan melakukan beberapa penyelidikan, dia telah menemukan beberapa ciri khas khusus pria itu. Pembunuh handal sekaligus ahli penyamaran.
Dari beberapa petunjuk yang ditemukan, kami semua mencurigaimu, Faust Vermillion sebagai orang dengan identitas sama, yaitu V!”
Setelah mengatakan itu, Juan berdiri dan menarik keluar pedangnya. Dia menunjuk tepat di depan wajah Faust.
“Tempat ini sudah dikepung. Percuma saja mencoba melarikan diri.”
“EH?”
Faust tampak terkejut. Ekspresinya langsung berubah menjadi pucat. Dia menatap Juan dengan ekspresi agak ketakutan sambil mengangkat kedua tangannya.
“Apakah ada yang salah di sini? Aku rasa semuanya bisa dibicarakan baik-baik, bukan?”
Swoosh!
Pedang menggores pipi Faust, membuat pria yang tidak siap itu terkejut. Dia langsung menyeka darah di pipinya dengan ekspresi ketakutan.
Pada saat itu, Juan meraih lehernya. Dia langsung mengangkat dan membanting tubuh Faust ke rak buku.
Bruak!
Faust yang jatuh ke tanah langsung batuk dengan keras. Keringat deras tampak membasahi wajah dan punggungnya. Noda darah di pipinya terus mengalir. Bahkan pria itu mendesis kesakitan. Tampaknya terluka cukup parah karena benturan sebelumnya.
“Uhuk! Uhuk!”
“...”
Melihat Faust yang tampaknya sekarat, Juan langsung mengerutkan keningnya. Dia kemudian melirik ke arah Octavius dan Melissa dengan ekspresi tidak senang. Pria itu kemudian berkata dengan nada datar sama seperti sebelumnya.
__ADS_1
“Refleksnya sangat buruk, ketahanan tubuhnya buruk, bahkan cukup pengecut.”
Juan kemudian menghampiri Faust. Dia menarik rambut pria itu lalu mencubit wajahnya dengan tangan lain.
“Rambut ini alami, dan dia sama sekali tidak mengenakan topeng.”
Setelah mengatakan itu, Juan melepaskan Faust dan berjalan menuju ke Octavius dan Melissa.
“Dugaan kalian jelas salah. Aku sudah berakting sesuai dengan keinginan kalian, dan membawa banyak pasukan. Jadi ini yang ingin kalian tunjukkan kepadaku?” tanya Juan dengan ekspresi dingin.
“Tidak mungkin!” balas Octavius. “Jika bukan V, kenapa pria bernama Faust itu repot-repot datang ke tempat ini?!”
“Uhuk! Uhuk!” Faust yang duduk di lantai sambil bersandar pada rak langsung berteriak dengan suara serak. “Tentu saja aku datang untuk membeli bahan. Aku membeli bahan ramuan dari Tuan Damian! Apakah ada yang salah soal itu?!”
“Jika kalian tidak saling kenal, kenapa kalian saling membantu?! Itu jelas tidak masuk akal!” teriak Octavius marah.
“Uhuk!” Damian pura-pura batuk. “Sepertinya ada salah paham di sini.”
Mendengar ucapan Damian, banyak orang mengalihkan pandangannya pada pria itu.
“Katakan, bagaimana kamu bisa bertemu dengan mereka berdua? Faust dan V itu,” ucap Juan.
“Sebenarnya ini bukanlah rahasia. Faust dan rombongannya adalah orang yang pindah ke Shelter 1 belum lama ini. Mereka dulunya adalah pedagang. Itu tidak perlu disebutkan lagi, kan?
Sedangkan bagaimana aku menemukan Faust, itu ada hubungannya dengan V yang kalian cari. Tentu saja, awalnya aku tidak tahu kalau orang itu adalah pembunuh yang sangat kejam.
Seperti yang kalian ketahui, aku sedikit ditekan oleh keluarga. Aku harus melakukan tugas penjualan dalam kuota tertentu agar tidak mendapatkan masalah. Jadi V berkata kalau dia bisa memperkenalkan seorang pembeli. Bukan hanya pembeli, tetapi pria jenius dengan keahlian membuat ramuan. Dan orang itu adalah pengunjung baru, Faust Vermillion.
Setelah bertemu dengan Faust, aku akhirnya percaya kalau pria itu tidak menipuku. Bahkan, jika boleh jujur, aku banyak membantu Faust bahkan sampai mencarikan toko karena ingin berteman dengannya. Dia membantuku membuat ramuan yang dibutuhkan keluarga dalam jumlah tertentu secara gratis. Bisa dibilang, itu situasi win-win.
Itu juga alasan kenapa hubungan kami menjadi lebih baik setiap harinya.”
Mendengar penjelasan Damian, semua orang terdiam. Octavius bahkan menatap Damian dengan iri. Jika dia menemukan Faust terlebih dahulu, dia pasti akan mendapatkan sangat banyak manfaat. Namun semuanya benar-benar jatuh ke pria sia-sia dari Keluarga Ervens tersebut.
“Bagaimana denganmu? Bagaimana kamu bisa mengenal V?” tanya Juan ketika melirik Faust.
“Aku bahkan tidak mengenal orang itu!” teriak Faust tidak puas.
“Lalu kenapa orang itu membantumu? Jangan berani-beraninya berbohong jika tidak ingin nyawanmu hilang di sini Nak!” ucap Juan dingin.
Faust tampak sedikit ketakutan. Pria itu menunduk sambil bergumam, “Mungkin karena dia ingin berterima kasih kepadaku? Aku tidak mengenalnya, tetapi sepertinya aku pernah menolongnya tanpa sengaja.”
“Menolongnya? Kamu?” tanya Juan dengan ekspresi curiga.
“Aku tahu aku lemah, Pak. Namun setidaknya aku punya sedikit kemampuan, ok?” ucap Faust penuh keluhan. “Aku bisa membuat ramuan dengan kedua tanganku dan dengan kedua tanganku inilah aku bisa bertahan sampai sekarang.”
“Sedikit masuk akal.” Juan mengelus jenggotnya. “Jadi kamu menjual ramuan pada pria bernama V itu?”
__ADS_1
“Tidak. Sebenarnya aku bertemu dengannya sekali.”
Faust menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
“Aku bertemu dengan orang itu ketika melarikan diri dari gelombang binatang buas. Berbeda dengan sosok dingin dan mengerikan yang kalian sebutkan, aku hanya melihatnya sebagai hunter yang sekarat. Seorang pria yang kelaparan, kedinginan, dan memiliki luka mengerikan di sekujur tubuhnya.
Jujur saja, dia memancarkan semacam aura berbahaya. Namun ketika melihat mata merah itu, aku merasa kalau kami berdua sedikit sama. Bisa dibilang, simpati sesama orang yang telah ditinggalkan dunia.
Aku memberinya sepotong roti, air, dan dua potion. Entah bisa selamat atau tidak, aku tidak tahu. Aku bukan orang suci, jadi setidaknya hanya bisa sedikit membantu. Namun dia tidak mengatakan apa-apa. Ah! Orang itu menanyakan namaku ketika aku hendak pergi.
Sepertinya orang itu berhasil selamat. Bantuanku sama sekali tidak sia-sia.”
“KAMU MEMBANTU SEORANG PEMBUNUH KEJI!”
Saat itu juga, suara teriakan terdengar. Semua orang langsung menatap ke arah Melissa yang tampak sangat marah. Tampaknya memiliki kebencian yang begitu mendalam dengan orang bernama V tersebut.
“Saya tidak mengenal anda, Nona. Namun saya berpikir kalau itu sama sekali tidak sia-sia. Pembunuh keji? Jadi apa? Dia membantu saya dalam menangani masalah.
Saya hanyalah pedagang kecil. Saya datang ke kota ini untuk membuka toko, dan akhirnya menerima ancaman dari kelompok gelap. Jadi di mata saya, V adalah penolong yang hebat.
Semua orang di sini pintar, jadi jangan pura-pura munafik. Kelompok gelap di Shelter 1 masih ada karena tidak dimusnahkan sepenuhnya. Alasan tidak dimusnahkan jelas karena beberapa dari mereka memiliki dukungan di belakang mereka, yaitu keluarga besar di sini.
Apakah anda pendukung Mad Ox? Marah karena anak buah anda dibunuh? Kalau begitu coba kendalikan mereka dan jangan biarkan mereka menyentuh sesuatu sembarangan.
Jujur saja, alasan kenapa saya mau membantu Tuan Damian karena saya membutuhkan sandaran. Dia mendapatkan banyak keuntungan dengan memanfaatkan saya, dan saya serta orang-orang saya mendapatkan tempat berteduh. Sesederhana itu.
V memang pembunuh keji, dan saya agak ketakutan. Namun, di mata saya, orang itu lebih baik daripada orang-orang di atas yang diam saja ketika melihat rakyatnya tertindas. Setidaknya, V ... orang itu masih mengerti balas budi!”
Mendengarkan ucapan Faust, semua orang langsung diam. Juan yang paling tua di tempat itu menghela napas panjang. Karena berasal dari keluarga besar, bahkan jika dia memiliki hati yang baik, tetapi orang itu masih melihat hal-hal buruk yang dilakukan keluarga-keluarga di Shelter 1. Belum lagi, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Tangkap,” ucap Juan.
Faust menangkap sebotol ramuan dengan ekspresi bingung di wajahnya. Saat itu, Juan kembali berbicara.
“Bahkan jika ini ada hubungannya dengan mereka berdua, tetapi mereka tidak bertanggung jawab karena V bergerak dengan keputusannya sendiri. Pasang poster buronan, dan berikan harga atas kepalanya, hanya itu yang bisa dilakukan sekarang. Kita pergi dari sini.”
Dengan demikian, meski tampak enggan, orang-orang itupun pergi dari sana.
Setelah semua orang pergi, Damian yang baru saja mengantar para tamu keluar kembali ke ruangan tersebut.
Sesampainya di sana, dia melihat rekannya, Faust Vermillion duduk di sofa. Luka di tubuhnya benar-benar telah sembuh.
Bahkan orang itu menggoyangkan botol potion di tangannya sambil memasang senyum sembrono di wajahnya.
Melihat itu, Damian tidak bisa tidak mengeluh secara langsung.
“Aku belum pernah melihat orang se b-jingan dirimu, Temanku.”
__ADS_1
>> Bersambung.