
Sementara itu, di sebuah bangunan indah distrik hiburan Shelter 1.
“Ini benar-benar menyebalkan. Aku sama sekali tidak menyangka kalau rubah tua itu benar-benar bertindak begitu cerdik.”
Yona menopang pipi dengan ekspresi cemberut. Tidak seperti perilaku dingin, tenang, dan penuh kepura-puraan seperti biasa ... saat ini ekspresinya tampak penuh keluhan. Tampak seperti gadis kecil, tetapi sama sekali tidak cocok dengan usianya.
“Seperti yang dikatakan Yona, kami berdua benar-benar tertipu. Tidak hanya tertipu, kami berdua hampir terjebak. Perlu beberapa waktu untuk membuat jalan kembali karena harus memutar arah.”
Scarlet yang berdiri sambil bersandar dekat jendela berkata dengan ekspresi tenang. Dia menunduk, sama sekali tidak peduli apakah dia harus disalahkan atau tidak.
Selain mereka berdua, ada dua orang lain yang berada di ruangan tersebut. Salah satunya duduk di berseberangan dengan Yona dan satunya berdiri di belakangnya seperti seorang pengawal.
“Menggunakan dua barisan pengawalan untuk menipu lalu membawa benda itu dengan tim utama. Aku juga memikirkan kemungkinan itu dan membuat tindakan penjagaan agar orang-orang itu tidak bisa menginjakkan kaki di Shelter 1.
Masalahnya, orang-orang itu sama sekali tidak muncul. Bukan hanya tidak muncul, tetapi rubah tua itu seharusnya berpikir kalau kita yang telah melakukannya.”
Suara wanita yang begitu lembut dan anggun terdengar. Duduk berhadapan dengan Yona, dia mencubit dagu sambil berpikir keras.
“Ini cukup merepotkan. Apakah anggota tim yang tersisa gagal kembali karena dirampok? Mungkinkah mereka terluka parah dan terbunuh oleh gelombang binatang buas?
Sebaiknya itu yang terakhir. Lagipula, jika ada yang mencuri benda itu, hasilnya akan sangat merepotkan. Semoga saja benda itu dihancurkan sehingga tidak menimbulkan masalah lebih besar.”
Melihat wanita di depannya yang mengerutkan kening, Yona segera menghibur.
“Tenang saja Ketua, semuanya seharusnya baik-baik saja. Lagipula kamu sudah memperhitungkan semuanya. Seharusnya benda itu sudah hancur bersama tim yang membawanya. Ya! Pasti sudah hancur karena gelombang binatang buas.”
Mendengar ucapan Yona, wanita yang disebut ‘Ketua’ itu menggelengkan kepalanya. Dia menatap tepat ke mata Yona lalu mulai menasihati.
__ADS_1
“Ingat Yona. Mungkin aku sedikit lebih pintar daripada orang lain, tetapi bukan berarti prediksiku selalu benar. Jadi kamu harus berjaga-jaga. Jangan hanya menuruti semua yang aku katakan. Sesuaikan saja dengan kondisi,” ucap wanita itu dengan lembut.
“Baik!” jawab Yona dengan senang hati.
“Selain itu, Scarlet.” Wanita itu memanggil dengan lembut. “Kamu sudah menembus level 4, tetapi kenapa kamu belum mencari miracle root? Apakah belum ada yang cocok?”
“En.” Scarlet mengangguk. “Memilih miracle root bukanlah sesuatu yang sepele. Saya lebih memilih tertunda beberapa tahun daripada mengambil miracle root acak.”
“Jadi begitu.” Melihat Scarlet yang tampaknya masih begitu terobsesi dengan miracle root dan kekuatan, wanita itu hanya bisa menghela napas panjang.
“...” Scarlet mengangguk ringan.
“Karena tidak ada lagi yang harus dibicarakan, aku harus kembali. Lagipula, tidak baik bagiku keluar malam dengan cara seperti ini.”
Wanita itu berdiri. Dia sedikit mengangkat sudut gaunnya yang indah, menyapa layaknya seorang bangsawan. Wanita itu kemudian pergi keluar dari tempat itu diikuti seorang wanita lain dengan penampilan layaknya pelayan.
Scarlet sama sekali tidak peduli. Setelah mereka semua pergi, dia melirik ke arah tangan kirinya yang telah hilang. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela dengan pemandangan distrik hiburan yang ramai.
Dia kemudian mencengkeram erat kalung berbentuk kunci di baik jubahnya dengan tangan kanannya, lalu memejamkan matanya.
‘Levi ...’
***
Sekitar satu jam kemudian.
Dua orang muncul di depan kastel cukup besar, yaitu kediaman Keluarga Rosewald.
__ADS_1
“Anda sudah kembali, Nona Annie.”
Para ksatria yang berjaga langsung memberi hormat secara serempak.
Di depan mereka, tampak sosok wanita yang sebelumnya berbicara dengan Yona dan Scarlet. Rambut emas bergelombang tergerai sampai punggungnya. Dia mengenakan gaun abu-abu kebiruan, terlihat cocok dengan kulitnya yang pucat.
Sepasang mata bak rubi tampak sangat cocok dengan parasnya yang begitu indah. Sedikit membungkuk sopan, wanita itu menyapa dengan senyum lembut di wajahnya.
“Terima kasih atas kerja keras kalian.”
“T-Tidak! Ini sudah tugas kami!” Para ksatria yang memberi hormat tersipu malu.
“Kalian sudah bekerja keras. Namun, bisakah aku minta tolong agar kalian tidak menyebutkannya pada Kak Alvonso? Dia pasti marah dan khawatir karena aku keluar padahal kondisi fisikku tidak baik,” ucap Annie lembut sambil memberi isyarat diam dengan jarinya.
“T-Tentu saja, Nona Annie! Anda pasti jenuh karena harus berada di kastel setiap hari, jadi itu bisa dimaklumi. Selain itu ...” ksatria yang berbicara melirik ke arah maid (pelayan) yang mengikuti Annie. “Dengan Mei di sekitar, keamanan anda pasti terjamin.”
Mei, seorang maid dengan rambut hitam panjang diikat ke belakang (kuncir ekor kuda) menatap ke arah ksatria tanpa merubah ekspresinya. Wanita itu tampaknya sama sekali tidak tergerak dengan ucapan ksatria tersebut. Benar-benar tampak seperti kebalikan Annie yang sangat ramah kepada setiap orang.
“Kalau begitu kami akan pergi. Ayo, Mei!” ucap Annie lembut.
Mendengar perintah Annie, Mei mengangguk ringan lalu membalas.
“Dimengerti.”
Setelah itu, mereka pun masuk ke kastel. Menghilang dari pandangan penjaga yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
>> Bersambung.
__ADS_1