After Apocalypse

After Apocalypse
Membuat Ketagihan


__ADS_3

Pagi harinya.


“Anda siapa? Anda ... anda jelas-jelas bukan Boris. Sebenarnya anda siapa? Kenapa anda memiliki penampilan yang sama dengan pria itu?”


Alexander yang sedang duduk di kursi dekat jendela melihat ke sumber suara. Di sana, tampak wanita yang berbaring di ranjang sambil menutup diri dengan selimut. Wanita itu menatapnya dengan ekspresi bingung.


“Namamu?” tanya Alexander datar.


“N-Nama saya Jane,” jawab wanita itu dengan gagap.


“Baiklah, Jane. Sekarang katakan padaku, kenapa kamu begitu membenci Boris?”


“Saya tidak-“


Belum menyelesaikan ucapannya, Jane terhenti di tengah. Merasakan tatapan dingin yang diarahkan kepadanya, wanita itu merasa ketakutan. Dia menunduk sambil menggigit bibirnya. Setelah beberapa saat, barulah wanita itu mau bicara.


“Seluruh keluargaku, entah itu orang tuaku, suamiku, dan anakku yang masih sangat muda dibunuh oleh Boris dan bawahannya. Jika seperti itu, bisakah aku tidak membencinya?” gumam Jane dengan ekspresi tertekan.


Usia Jane sendiri tampaknya sama dengan Daisy, jadi Alexander berpikir kalau semua itu masuk akal.


“Mulai sekarang kamu adalah kepala pelayanku. Cukup patuhi saja instruksiku dan kehidupanmu pasti akan menjadi lebih baik daripada sekarang.” Alexander berkata datar.


“Anda-“


“Penolakan tidak valid. Kamu seharusnya ingat kalau aku memaksamu meminum pil tadi malam. Itu adalah racun khusus. Jika kamu tidak meminumnya dalam waktu satu bulan, kamu akan mati.” Alexander langsung menyela ucapan Jane.


Mendengar ucapan Alexander, Jane langsung tertegun di tempatnya. Dia berpikir itu adalah pil khusus yang digunakan untuk meningkatkan gairah atau pil pencegah. Wanita itu sama sekali kalau tadi malam dia menelan racun yang sangat berbahaya.


“Setelah mendengar apa yang aku katakan, kamu pasti tidak akan menolaknya. Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu jelas tidak ingin mati. Ada alasan kenapa kamu mau hidup. Jika tidak, kamu tidak akan tahan dengan hinaan dan siksaan yang kamu derita selama ini.”


“Anda ...” Jane menatap ke arah Alexander dengan ekspresi tidak percaya. “Bagaimana anda tahu semua itu? Anda sebenarnya siapa?”


“Aku akan menjawab keraguanmu. Boris yang kamu maksud sudah mati, dan sebagian besar bawahannya juga sudah mati. Namun, aku rasa kamu belum puas kan?


Maksudku, masih ada cukup banyak bawahan tersisa. Selain itu, ada juga beberapa rekan Boris yang seharusnya menghancurkan keluarga dan tempat tinggalmu. Apakah aku benar?”


Ucapan Alexander membuat tubuh Jane gemetar. Dia sama sekali tidak menyangka orang yang dia benci benar-benar sudah mati. Meski bukan di tangannya, orang itu memang sudah mati. Namun, seperti yang sosok misterius itu katakan, dia sama sekali belum puas.


“A-Apa yang anda inginkan dari saya?” tanya Jane dengan ekspresi bingung.


“Segalanya.” Alexander berkata dengan datar sambil menopang dagu. “Aku akan membantumu membalaskan dendammu. Sebagai gantinya, setelah menyelesaikan semuanya, kamu akan menjadi pelayanku sampai akhir.”


“...”

__ADS_1


Jane tidak mengatakan apa-apa. Dia bangkit dari ranjang lalu berjalan tertatih tanpa mempedulikan pakaiannya. Tepat di depan Alexander, wanita itu langsung bersujud dan membenturkan kepalanya ke lantai.


“Terima kasih banyak, Dermawan. Terima kasih banyak. Selama bisa menbalaskan semua dendam saya, yang satu ini akan memberikan segalanya untuk anda. Segalanya! Entah itu jiwa atau raga, akan saya dedikasikan sisa hidup saya untuk anda.”


Melihat Jane yang tampak putus asa dan patuh untuk jatuh begitu saja, Alexander menghela napas dalam hatinya.


‘Karena sudah cukup lama diperlakukan seperti hewan peliharaan dan disiksa, dia sama sekali tidak memiliki perlawanan.’


‘Itu sama sekali tidak masalah. Ini lebih murah bagiku. Dengan bantuan wanita ini, rencana berikutnya pasti bisa dilakukan dengan lebih mudah.’


Alexander menatap ke arah Jane lalu berkata, “Angkat kepalamu.”


Jane mengangkat kepalanya. Dia masih duduk di lantai, mendongak untuk menatap Alexander dengan ekspresi hormat.


“Jika boleh saya tahu, sebenarnya anda siapa, Tuanku?”


Jane melihat Alexander yang duduk memunggungi jendela. Pada saat mentari pagi bersinar dan cahaya masuk melewati jendela, dia hanya bisa melihat siluet hitam yang menatapnya. Namun, saat itu ada hal yang membuat wanita itu terkejut.


Mata Alexander yang awalnya tampak biasa tiba-tiba berubah menjadi merah darah. Dia mengamati Jane dari atas ke bawah sambil terus menopang dagu.


Setelah beberapa saat, barulah pemuda itu berkata.


“Kamu bisa memanggilku V.”


---


“Makan siang sudah siap, Tuanku.”


Saat itu, Jane mengetuk pintu sambil berbicara dengan hormat.


Melihat perilaku Jane, banyak pelayan lain mulai berbisik. Mereka berpikir kalau akhirnya wanita itu memilih untuk patuh dan tidak melakukan perlawanan karena kegilaan yang dilakukan Boris semalam.


Apa yang terjadi pada Jane membuat mereka menghela napas panjang. Hidup mereka yang dianggap sebagai barang dagangan dan dijual di pasar budak memang buruk. Namun, sejak awal mereka memang terbiasa dengan kehidupan pahit. Sama sekali tidak memimpikan kehidupan indah.


Jane sendiri berbeda dari mereka. Wanita itu awalnya menjalani kehidupan normal, tetapi ditanggap secara paksa dan diperbudak. Ditambah fakta keluarganya dibunuh di depan matanya, itu membuat para pelayan lain merasa iba.


‘Pada akhirnya, memang tidak ada hal baik yang bisa kami harapkan ...’


Nene, wanita yang datang ke kamar bersama Jane kemarin menghela napas berat ketika memikirkannya. Namun, dia sama sekali tidak ingin bermimpi. Lagipula, ini bukan negeri dongeng yang indah. Membayangkan hal-hal baik hanya menyiksa diri sendiri.


Jadi solusi terbaiknya adalah tidak perlu memikirkan hal-hal semacam itu.


Setelah beberapa saat menunggu, Alexander keluar dari kamarnya. Ekspresinya terlihat buruk, sama seperti sebelumnya. Tampaknya suasana hatinya belum juga membaik.

__ADS_1


Tentu saja, itu hanya pikiran para pelayan. Padahal, sebenarnya Alexander sendiri terkejut dengan apa yang dia jalani sekarang.


Sesuai dengan apa yang dijelaskan Jane setelah wanita itu menjadi pengikutnya, Alexander merasa kalau kehidupan Boris memang terlalu berlebihan. Dia merasa kalau anak-anak dari keluarga besar lainnya sama sekali tidak seboros dirinya.


Makan dengan hidangan baik dan harus hangat, dirawat oleh para pelayan, bahkan ada servis tambahan di malam hari oleh beberapa pelayan.


Selain itu, seperti yang Alexander duga, Boris memang menerima suap. Sebenarnya bukan suap, tetapi juga penggelapan dana keluarga.


Menurut Jane, Boris berbisnis dengan pedagang gelap. Mereka menjual bahan ke keluarga dengan harga lebih murah. Karena Boris berperan sebagai perantara, dia mendapatkan hadiah (suap) dari orang-orang itu.


Sementara itu, Boris sendiri juga membeli bahan dengan harga sedikit lebih tinggi dengan uang keluarga. Ya ... sisa uang tersebut dia kantongi sendiri karena harga bahan sebenarnya lebih rendah.


Mengalami kehidupan makmur, dilayani dengan baik, bahkan diperlakukan baik dan dipuji oleh para pedagang gelap jelas membuat orang merasa nyaman. Bahkan Alexander sendiri merasa hal semacam itu bisa membuat ketagihan!


Melihat ke arah hidangan yang mengepul di atas meja, Alexander mengeluh dalam hatinya.


‘Ini agak buruk. Jika hidup seperti ini, aku rasa sulit kembali ke kehidupan datar dan dingin seperti sebelumnya!’


‘Sepertinya aku harus buru-buru menyelesaikannya!’


---


Sementara itu, di kediaman Alexander.


“Apa? Kalian bilang Alexander pergi dalam jangka waktu yang tidak ditentukan?”


Aurora memandang ke arah Daisy dan Aster dengan ekspresi heran. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu ‘melarikan diri’ pada saat-saat penting seperti itu.


“Tuan meninggalkan surat untuk anda, Nona Aurora.”


Daisy berkata dengan lembut sambil menyerahkan surat kepada wanita itu.


Aurora membaca surat itu dengan ekspresi serius di wajahnya. Terkadang alisnya berkerut, tetapi terkadang dia juga terlihat lega.


Beberapa saat kemudian, wanita itu pun selesai membaca.


“Dia memintaku tinggal di sini dan memimpin kalian untuk sementara waktu. Kita bertiga memiliki tugas sendiri, jadi tidak bisa hanya diam dan menunggu orang itu melakukan semuanya sendiri. Meski tidak banyak, tetapi tugas kita juga cukup penting.”


Setelah mengatakan itu, Aurora memberikan surat itu kepada Daisy dan Aster agar mereka membacanya. Melihat pesan yang ditulis oleh tuan mereka, keduanya saling memandang lalu mengangguk.


Daisy dan Aster membungkuk sopan lalu berkata pada Aurora.


“Mulai sekarang, mohon kerja samanya, Nona Aurora!”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2