
Sekitar dua jam kemudian.
Setelah menukarkan sebagian besar barang yang mereka bawa dengan poin kontribusi, Alexander dan Aurora kembali ke tempat tinggal masing-masing. Dalam perjalanan, mereka berputar-putar di area sepi Distrik 3 sebelum pergi ke Distrik 4.
Di gang yang sepi dan agak gelap, Aurora melirik ke arah Alexander yang memasang ekspresi sedih di wajahnya.
“Tanpa disangka, ternyata kamu memiliki wajah yang begitu tebal,” ucap wanita itu.
“Tidak masalah jika mereka menganggapku pecundang cengeng atau tidak tahu malu. Tidak! Lebih baik mereka berpikir kalau aku memang seperti itu,” balas Alexander dengan nada datar.
“...”
Aurora tidak mengatakan apa-apa, tetapi memang berpikir kalau pemuda di sampingnya benar-benar tidak tahu malu.
Jika dipikirkan dengan teliti, semua orang tidak perlu mati jika di awal Alexander membantu. Entah itu asap untuk menjauhkan serangga dan keterampilan bertarungnya jelas lebih baik daripada beberapa Hunter yang mengonsumsi beberapa ramuan level 2. Namun sejak awal pemuda itu hanya menjadi penonton dan bergerak ketika berpikir itu akan menguntungkan dirinya.
Jenis lelaki licik yang sebenarnya Aurora ingin jauhi, tetapi malah terjebak dengannya.
“Omong-omong, soal beberapa bahan itu-“
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Alexander menyela. “Aku akan memberimu hasil jadi.”
“Kamu masih bisa meramu potion?” tanya Aurora dengan suara rendah.
“Entah meramunya sendiri, menjualnya lewat jalur khusus, atau menemukan orang yang kupercaya. Itu sama sekali tidak ada hubungannya. Apa yang perlu kamu lakukan hanyalah menerima hasil jadi. Sesederhana itu.”
“...”
Aurora hendak membalas, tetapi akhirnya diam ketika melihat mata Alexander. Walau pemuda itu memasang wajah sedih, tetapi dia masih bisa melihat mata dingin yang menatapnya. Membuat wanita itu akhirnya menggelengkan kepalanya tanpa banyak berpikir.
“Kalau begitu kita akan bertemu lagi di bar nanti malam. Untuk sekarang, kita berpisah di sini,” ucap Alexander.
Pemuda itu kemudian berjalan melewati gerbang besar depan Distrik 4, langsung pergi ke rumahnya. Meninggalkan Aurora yang diam beberapa waktu sambil memandangi punggungnya.
---
Sesampainya di rumah, Alexander langsung menggantung jubahnya. Pemuda itu kemudian meletakkan berry di rak dalam ruang dimana bahan makanan dikumpulkan.
Setelah itu, Alexander pergi ke ruang utama untuk membongkar bungkusan besar.
Di sana terdapat beberapa bungkusan daun untuk memisahkan berbagai bahan-bahan ramuan agar tidak tercampur. Pemuda itu kemudian menyisihkan beberapa bahan utama untuk membuat ramuan penyembuhan tingkat rendah. Ada juga beberapa bahan utama untuk membuat salep gatal atau penawar racun tingkat rendah.
“Sisa bahan untuk membuat ramuan tidak begitu mahal, aku bisa membelinya di pasar gelap. Sedangkan sisanya ...”
__ADS_1
Alexander menatap ke arah sebuah bungkusan dengan ekspresi cukup bersemangat. Dia memakai masker kain sebelum membukanya.
Di dalamnya, terdapat 3 tangkai bunga. Penampilannya seperti bunga sepatu seukuran telapak tangan. Hanya saja, warnanya hitam dengan sedikit warna kuning di bagian putiknya.
“Meskipun bahan level 2 tidak begitu langka seperti bahan di level selanjutnya, tetapi aku tidak menyangka menemukannya secepat ini.
Padahal, menurutku aku harus bergabung dengan kelompok sementatara yang lebih baik setelah mendapatkan reputasi. Baru kemudian pergi ke area hutan lebih dalam untuk mendapatkannya. Namun siapa sangka aku mendapatkan bahan utama untuk membuat ramuan evolusi khusus di tempat yang relatif aman?
Hanya tiga yang sudah mekar sepenuhnya. Namun dari besarnya pohon dan jumlah kuncupnya, seharusnya cukup untuk membuat 10 ramuan. Sekarang, masalahnya adalah orang yang selamat, Clayton.”
Menurut Alexander, Clayton yang selamat adalah faktor tidak stabil. Bisa saja orang itu memberitahu orang lain tentang informasi tempat rahasia itu. Meski jalan utama sudah tertutup, tetapi bisa saja mereka mencari jalan alternatif. Bahkan jika tidak banyak orang yang mengetahui resepnya, tetapi tidak semua orang bodoh. Bunga itu bisa dijual dengan harga lumayan untuk bahan pembuatan racun khusus.
“Haruskah aku membunuhnya?” gumam Alexander.
Setelah memikirkannya matang-matang, Alexander akhirnya menggelengkan kepalanya. Dia merasa itu agak berlebihan. Sudah jelas alasan kenapa dirinya bisa mendapatkan tempat stabil untuk berburu dan memetik bahan ramuan adalah Clayton. Jadi membunuhnya terasa agak berlebihan.
Sebenarnya Alexander juga tidak berkomplot melawan anggota tim sebelumnya. Dia hanya bermain sebagai Hunter normal. Tidak dengan sengaja menjebak mereka, tetapi juga tidak menolong mereka. Menurutnya, alasan kenapa mereka semua mati bukan karena dirinya, melainkan kesalahan mereka sendiri.
“Jika tidak dibunuh, maka jalan lain adalah tidak memusuhinya. Sebaliknya, bertemanlah dengannya. Bukan hanya meminimalisir faktor resiko yang tidak perlu, tetapi bisa mendapatkan beberapa informasi yang berguna jika beruntung.
Orang itu ... seharusnya bisa dianggap sebagai angsa bertelur emas. Daripada dibunuh, lebih baik dipelihara dan dibesarkan baik-baik. Itu lebih menguntungkan.”
Setelah mendapatkan kesimpulan, Alexander pergi menaruh ketiga bunga itu dalam wadah khusus lalu meletakkannya ke rak dekat jendela. Biarkan kering oleh angin sebelum diproses ke tahap selanjutnya.
Duduk di kursinya, pemuda itu mulai mencatat sebelum pergi istirahat.
---
“Kamu benar-benar kejam pada dirimu sendiri.”
Aurora berkata dengan ekspresi rumit di balik topengnya. Di depannya, tampak sosok Alexander. Meski memakai pakaian yang relatif bersih, tetapi ada beberapa goresan dan sedikit memar biru di wajahnya. Tidak hanya itu, pemuda tersebut juga berjalan dengan cara tidak normal.
Padahal, Alexander sama sekali tidak mematahkan kakinya. Pemuda itu bahkan tidak mendapatkan luka, semuanya dilakukan olehnya sendiri. Benar-benar orang licik, tetapi juga berani begitu kejam pada dirinya sendiri.
“Sudah lama menunggu?” tanya Alexander.
“Tidak begitu lama.” Aurora menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu kita masuk.”
Setelah mengatakan itu, Alexander berjalan tertatih menuju pub bersama Aurora. Tidak seperti dirinya yang dibuat-buat, wanita itu benar-benar terluka. Jika bukan karena terpaksa, pasti tidak akan datang dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Begitu mereka berdua masuk, suasana yang ramai langsung menjadi sunyi. Banyak orang yang langsung memperhatikan mereka berdua. Setelah beberapa saat, mereka saling berbisik lalu mulai sibuk dengan diri mereka sendiri.
__ADS_1
‘Ketemu!’
Melihat Clayton yang berpenampilan acak-acakan minum di sudut yang sepi tanpa orang di sekelilingnya, mata Alexander berkilat. Pemuda itu kemudian berjalan tertatih ke arahnya.
Pada saat itu juga, Clayton langsung menoleh. Melihat Alexander dan Aurora yang selamat, ekspresinya tampak terdistorsi.
“KALIAN BERDUA!”
Clayton langsung bergegas ke arah Alexander lalu memukul wajahnya dengan keras. Pemuda itu langsung jatuh ke lantai. Bukannya balik menyerang, dia hanya duduk di lantai dengan ekspresi tertekan.
Klang!
Alexander meletakkan dua pedang di lantai. Melihat kedua pedang itu, mata Clayton menjadi lebih merah.
“Dari mana kamu mendapatkannya?” ucap Clayton.
“Itu ...”
Alexander menghela napas panjang. Beberapa saat kemudian, dia bergumam dengan suara yang bisa didengar semua orang.
“Pada saat itu situasi benar-benar kacau dan aku panik. Aku hanya memiliki satu bom asap, jadi langsung melemparnya dan melarikan diri. Pada saat jatuh, aku beruntung hanya menggeser tulang tangan dan kaki kiriku.
Ketika pikiranku jernih, aku baru sadar kalau semuanya salah. Aku berusaha memanjat kembali dengan sekuat tenaga, tapi ...
Tapi semuanya sudah terlambat.”
Alexander memandangi ujung-ujung jarinya yang dipenuhi luka seolah-olah terluka karena memanjat tebing dengan marah dan putus asa. Memiliki ekspresi lelah dan sedih, pemuda itu menghela napas panjang.
“Hanya Aurora yang hampir tidak selamat tersisa di sana. Jalan keluar juga sudah tertutup, tidak mungkin dilewati kembali. Jadi pada akhirnya aku merawat Aurora dan mengambil beberapa hal untuk ditukar dengan poin kontribusi.
Meski merasa bersalah, tetapi aku juga harus hidup. Aku ... apa yang bisa aku lakukan hanyalah mengubur sisa mereka dan membawa senjata mereka kembali.”
BRUK!
Mendengar penjelasan Alexander, Clayton jatuh berlutut. Pria itu memeluk dua pedang milik Rocky dan Muddy sambil menangis tanpa mengucapkan sepatah kata.
Melihat pemandangan semacam itu, para Hunter, khususnya yang sudah cukup tua dan berpengalaman hanya menggelengkan kepala mereka. Mereka tahu kalau jalan Hunter tidak seindah yang dipikirkan orang-orang.
Terlalu banyak cerita tentang luka dan duka di dalamnya.
Sementara semua orang turut berduka dan memberi sedikit respect, Aurora yang diam saja memutar bola matanya. Melihat adegan menyedihkan semacam itu, dia tidak bisa mengeluh dalam hati.
‘Bicara banyak omong kosong yang dibumbui sedikit kebenaran. Bahkan jika itu akting ...’
__ADS_1
‘Bukankah kamu sudah terlalu berlebihan?’
>> Bersambung.