After Apocalypse

After Apocalypse
Sumber Masalah


__ADS_3

Sekitar satu jam kemudian.


Pada saat semua orang selesai beristirahat dan memakan ransum yang mereka bawa, mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Namun, saat itu ada sesuatu yang sama sekali tidak mereka semua duga.


Bukannya pergi menuju ke tempat dimana para prajurit yang dikirim ke perbatasan, ternyata orang-orang itu juga sudah bergerak ke arah mereka. Lebih tepatnya ... sekarang datang untuk menemui mereka (pasukan yang pimpin Aunt Ma).


Melihat belasan orang yang berjalan di kejauhan, ekspresi Alexander langsung menjadi serius.


‘Dua orang hunter level 3, dan belasan orang hunter level 2. Jumlahnya agak sedikit, mungkinkah kami benar-benar digunakan sebagai pengalih perhatian?’


Pada saat memikirkan itu, mata Alexander menyusut ketika melihat penampilan orang-orang di sisi lain. Meski tidak terlalu jelas karena pakaian mereka sangat kotor, dia masih melihat kalau orang-orang itu memakai peralatan lengkap tetapi rusak sebagian.


‘Bisakah kelompok itu dimusnahkan?’


‘Banyak hunter level 3 dan hunter level 2, itu berarti ... makhluk yang melenyapkan mereka setidaknya level 4? Tidak! Seharusnya juga ada hunter level 4, berarti ... musuh yang mereka provokasi bisa jadi makhluk level 5?’


Entah kenapa, tiba-tiba pertanyaan itu muncul dalam benak Alexander. Memikirkan hal semacam itu, pemuda tersebut langsung menghirup napas dingin. Napasnya terasa lebih lambat dan otaknya terasa tidak nyaman ketika membayangkan hal semacam itu.


‘Hehehe ... itu hanya imajinasiku kan? Tidak mungkin kalau orang-orang itu cari mati dengan memprovokasi makhluk level 5 kan?’


Alexander buru-buru menggelengkan kepalanya. Dia kemudian memikirkan beberapa kemungkinan lain. Bisa saja mereka mencoba memburu makhluk level 4 yang kuat, atau mungkin mengambil bahan berharga seperti bahan untuk ramuan evolusi level 5.


Yang terakhir lebih masuk akal karena mereka pergi ke perbatasan sehingga perilaku seperti itu seperti mencuri dari wilayah guild lain. Berarti pihak lawan menyerang mereka dan menyebabkan banyak korban.


Memikirkan itu, Alexander hanya bisa menghela napas panjang. Tampaknya petinggi Blood Cross pun juga kesulitan untuk mencari bahan berharga kelas tinggi di tanah yang terbilang tandus ini. Belum lagi orang sepertinya yang hanya hunter bebas tanpa kekuasaan apa-apa.


Pada saat itu juga, pemandangan yang tidak disangka banyak orang terjadi.


Alih-alih menyambut orang-orang yang mendatangi mereka dengan ramah, Aunt Ma dan pasukan yang berada di bagian depan barisan langsung bangkit dan menarik keluar senjatanya. Melihat tindakan pemimpin pasukan yang begitu serius, banyak orang tampak panik.


Aunt Ma maju ke depan lalu berteriak dengan lantang.

__ADS_1


“Sebutkan maksud dan tujuan kalian!”


Mendengar ucapan Aunt Ma, orang-orang di sisi lain berhenti sejenak. Saat itu, pria yang tampaknya pemimpin tim sementara maju untuk menjelaskan.


“Kami dari Shelter 1, kode tim red sparrow, sekarang sedang menjalankan tugas.”


Ketika mendapatkan jawaban yang diinginkan, Aunt Ma mengangguk ringan. Kode yang diterima masih sama, sesuai dengan rencana. Meski belum dikonformasi secara langsung, tetapi wanita itu sedikit mengendurkan kewaspadaannya. Dia langsung merubah ekspresi dan menyambut mereka dengan ramah.


“Senang bertemu dengan kalian. Kami adalah pasukan dari Shelter 11 yang ditugaskan untuk menjemput dan mengawal kalian dengan aman sampai Shelter 11 sebelum mendapatkan pemberitahuan lebih lanjut.


Silahkan datang untuk makan dan beristirahat terlebih dahulu. Kita bisa membicarakan rencana berikutnya, jalur mana yang harus dipilih ketika kembali ke Shelter 11.”


Walau Aunt Ma berbicara dengan nada sangat ramah, orang-orang yang telah bertarung di perbatasan itu tampaknya tidak menghargainya. Ekspresi mereka masih tampak suram, bahkan pemimpin tim berkata dengan nada agak tergesa-gesa.


“Kita akan pergi sekarang. Tidak perlu beristirahat. Semakin cepat tiba di tujuan semakin baik,” ucap pria itu dengan suara serak.


Dari suaranya, Alexander merasa kalau ketua tim dan orang-orang dari tim red sparrow bukan hanya lapar dan haus, tetapi juga sangat kelelahan. Namun, alih-alih berpikir untuk beristirahat, mereka lebih fokus untuk mengantarkan barang sampai tujuan.


Masalahnya ... siapa lawan itu?


Apakah itu guild lain? Atau mungkin monster? Ghoul? Alexander benar-benar tidak bisa menebaknya.


Walau bukan urusannya, tetapi itu masih ada hubungannya dengan dirinya sendiri. Lagipula, semakin banyak informasi yang dimiliki, semakin berguna itu. Entah untuk menyerang, atau memanfaatkannya untuk mencari jalan melarikan diri dari masalah.


“Seperti yang kalian dengar, tidak ada waktu untuk bermalas-malasan! Bangun! Kita akan segera berangkat!” teriak Aunt Ma.


“BAIK!”


Orang-orang yang awalnya beristirahat segera bangkit dan mengemasi barang mereka. Sebagian veteran melakukannya dengan baik, tetapi beberapa pemuda tampaknya sedikit kacau karena tidak terbiasa dengan tempo cepat seperti itu.


Lebih banyak bekerja, berjalan, selalu waspada, dan sedikit beristirahat. Itu benar-benar tidak cocok bagi orang-orang yang tidak terbiasa.

__ADS_1


Dengan begitu, perjalanan mereka pun berlanjut.


Hanya saja, berbeda dengan keberangkatan, Alexander merasa atmosfer ketika mereka pulang agak berat.


Semua orang tidak bodoh. Mereka tahu kalau kelompok-kelompok gelap telah menargetkan mereka. Orang-orang itu telah bersiap bertempur kapan saja. Masalahnya, musuh sama sekali tidak menampakkan wujudnya bahkan setelah beberapa jam melakukan perjalanan.


‘Kejam, tetapi cukup pintar.’


Setelah melakukan perjalanan panjang, Alexander tidak bisa tidak memuji pemimpin musuh.


Sekarang, barisan yang dipimpin oleh Aunt Ma berada di sisi cerah sementara kelompok itu ada dalam kegelapan. Mereka bisa melihat kondisi pihak barisan yang dipimpin oleh Aunt Ma, tetapi tidak sebaliknya.


Pemimpin kelompok musuh jelas sedang menekan mereka secara psikologis. Pihak musuh membuat mereka dalam tekanan sehingga merasa lelah dan tegang. Dalam kondisi seperti itu, kekuatan pihak Blood Cross akan melemah. Bahkan jika jumlah lebih banyak dan level lebih tinggi, kondisi mereka akan melemah dan berada di posisi yang dirugikan.


Beberapa jam kembali berlalu begitu saja.


Dalam barisan, Alexander melihat langit suram dan kepingan salju mulai turun. Rasa lelah bercampur tekanan membuat merasa sangat tidak nyaman.


Benar saja, sama seperti dugaan beberapa orang, beberapa sosok mulai bermunculan.


Pada awalnya, hanya sedikit orang datang mengawasi dari pinggir. Setelah itu, tampak banyak orang yang memblokir jalan mereka untuk maju. Belum lagi, sekarang mereka berada di lembah yang terbilang cukup sempit dan tidak bisa menghindar lewat sisi kiri dan kanan.


Sedangkan mundur dan mencari jalan lain juga mustahil. Bukan hanya karena terlalu jauh, tetapi pengejaran dari kelompok gelap membuat mereka menjadi lebih pasif. Lebih beresiko daripada melawan mereka secara langsung.


Saat itu, Alexander tanpa sadar melirik ke ‘sumber masalah’ yaitu beberapa kotak hitam yang dibawa tim red sparrow.


Pemuda itu menghela napas panjang lalu mengeluh dalam hati.


‘Manusia mati mengejar kekayaan, dan burung mati untuk mengejar makanan.’


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2