After Apocalypse

After Apocalypse
Mad Boris


__ADS_3

Tiga hari kembali berlalu begitu saja.


Alexander keluar dari sebuah bangunan di lingkaran lima. Dia membawa koper hitam di tangan kiri dan sebuah bungkusan besar di punggungnya.


Dalam tiga hari ini, dia menggunakan seluruh uang yang didapat dari Boris untuk memesan bahan dan membuat senjata. Senjata yang akan dia pakai ketika menggunakan identitas barunya.


Setelah memilih jalan memutar beberapa kali, Alexander akhirnya kembali ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Daisy dan Aster yang melihat kedatangannya tampak sangat lega. Daisy langsung menyeka air mata di sudut matanya. Mata Aster tampak merah, kelihatannya menahan diri untuk tidak menangis.


“Syukurlah anda baik-baik saja Tuan,” ucap Daisy dengan suara lembut.


“Ya! Syukurlah anda kembali dengan selamat Tuan!” Aster terus mengangguk.


Melihat reaksi mereka berdua, Alexander tiba-tiba merasakan kehangata dalam hatinya. Pemuda itu memejamkan matanya, lalu menghela napas panjang. Menahan diri untuk tidak tersenyum, dia memasang wajah datar seperti biasa sambil berkata.


“Tentu saja aku baik-baik saja.”


Suaranya begitu tenang, tetapi juga terdengar hangat dan ramah. Sama sekali berbeda dengan Alexander yang biasanya.


“Apakah dalam beberapa hari ini Aurora datang berkunjung?” tanya Alexander.


“Ya.” Daisy mengangguk. “Nona Aurora membawakan kotak berisi bahan. Kami tidak membukanya, tetapi dia berkata kalau itu adalah ‘uang muka’ yang diberikan.”


Mendengar ucapan Daisy, Alexander mengangguk. Dia kemudian pergi mengambil kotak tersebut lalu membukanya di depan kedua wanita itu.


Melihat bahan-bahan yang ada di dalamnya, Alexander mengangguk dengan ekspresi serius. Jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi berisi berbagai bahan berharga. Walau tidak seberharga bahan ramuan evolusi level 3, jelas ini adalah kekayaan yang dikumpulkan wanita itu tanpa bantuan keuangan keluarga.


“Karena dia begitu tulus, tampaknya aku benar-benar harus bekerja lebih keras.”


Alexander sedikit mengangkat sudut bibirnya. Melihat kalau Aurora memperlakukan bisnis ini dengan serius, dia merasa kalau perngorbanan dan tekanan yang dirasakan sekarang sama sekali tidak sia-sia.


Karena itu, Alexander siap pergi ke rencana berikutnya!


---


Malam harinya.


Seorang pria berjubah hijau tua berjalan menuju ke perumahan indah di lingkaran pertama. Tampak sebuah pisau aneh di sisi kiri pinggangnya dan bungkusan hitam berukuran besar di punggungnya.


Baru saja hendak masuk ke dalam area perumahan, dia tiba-tiba dihentikan.


“Tolong berhenti sebentar! Silahkan tunjukkan identitas anda!”

__ADS_1


Mendengar panggilan penjaga, pria itu berjalan mendekatinya lalu mengeluarkan tanda pengenal yang agak lusuh. Alih-alih memberikannya dengan santai, pria tersebut langsung melemparkannya ke wajah penjaga lalu memukul kepalanya dengan keras sampai tersungkur ke tanah.


BRUAK!


“Berani-beraninya kamu mempertanyakan aku, Bocah!” teriak pria itu dengan suara serak.


Mendengar itu, beberapa penjaga melihat wajah yang hampir tertutup hoodie tudung hijau. Melihat wajah pria paruh baya yang tidak terlalu jelek atau tampan, tetapi tampak terdistorsi dan kejam membuat mereka semua terkejut.


“Mohon maafkan dia, Tuan Boris. Bocah ini belum lama bekerja dan tidak tahu kalau itu adalah anda. Apakah anda sudah kembali dari misi?” Pria yang bertugas sebagai kepala penjaga berkata dengan ramah.


“Apakah matamu buta? Tentu saja aku sudah kembali! Jika kamu tidak melihatnya, apakah kamu masih memerlukan mata itu?!” teriak Boris sambil menunjuk wajah pria itu dengan pedang pendek yang dicabut dari sisi kiri pinggangnya.


“Itu ... maafkan saya!” Pria itu menunduk dengan ekspresi menyesal.


“Bukan yang ini, bukan yang itu ... semua orang terkutuk itu benar-benar meremehkanku! Orang-orang bodoh itu pasti tidak menyangka aku bisa kembali! Hahaha!”


Boris mengambil kartu identitasnya lalu berjalan memasuki area perumahan dengan cara yang aneh.


Boris adalah yang paling muda dibandingkan keempat saudaranya. Dia dianggap yang paling sembrono dan paling tidak berguna. Meski juga mencapai hunter level 2, tetapi tidak bisa dianggap kuat di antara hunter level 2. Selain itu, sama seperti saudara ke empatnya, dia juga tidak menikah.


Berbeda dengan saudara keempat yang terobsesi dengan kekuatan, Boris terkenal suka bersenang-senang dan tidak bisa diandalkan. Dia memiliki beberapa budak cantik di rumahnya, tetapi juga sering keluar untuk bersenang-senang. Bahkan pria keji itu tidak segan untuk menyewakan atau meminjamkan budaknya atas nama pertemanan.


Itu juga membuat Boris semakin dianggap rendah karena suka menggertak yang lemah dan menjilat yang kuat.


“Apakah dia tidak terlihat mencurigakan, Kapten?” tanya pria yang baru saja dipukul oleh Boris.


“Sebenarnya, aku merasa kalau sikapnya sekarang sangat wajar.


Bayangkan saja, tiga saudaramu mengincar nyawamu. Kamu dipaksa keluar melakukan misi untuk mewakili keluarga. Dilihat kalau hanya kembali sendirian, berarti bawahan yang dipercaya telah mati di barisan depan.


Hampir kehilangan segalanya dan berjalan di tepi jurang kematian ...


Apakah orang yang mengalami tragedi semacam itu masih bisa waras?


Mungkin orang yang memiliki tekad kuat masih bisa tahan. Sedangkan orang seperti Boris, sudah sangat bagus kalau dia tidak kehilangan semua kewarasannya.”


Mendengar penjelasan kapten penjaga, orang-orang saling memandang. Mereka mengangguk ringan dan tidak lagi membahasnya. Meski begitu, mereka sama sekali tidak merasa kasihan. Bagi mereka, orang seperti Boris pantas mendapatkan akhir seperti itu.


Hanya saja ... orang-orang itu sama sekali tidak menyangka kalau pria tersebut berani melakukan hal yang lebih gila!


Beberapa jam segera berlalu.


Hampir tengah malam, banyak orang mulai berkumpul di depan rumah Boris.

__ADS_1


Saat itu, mereka melihat pemandangan yang benar-benar mengerikan.


Di sudut ruang tamu, tampak beberapa wanita dengan ‘kerah besi’ di leher mereka menyusul ketakutan. Mereka memandang ke arah tertentu dengan ekspresi ketakutan di wajah mereka.


Di tengah ruangan, tampak Boris yang duduk di atas tubuh pemuda sambil memukulinya dengan keras.


Bruak! Bruak! Bruak!


Wajah pemuda itu menjadi semakin rusak. Darah memercik ke mana-mana. Orang-orang yang menonton jelas tidak berani mendekat.


“Sejak kapan sampah sepertimu berani bertindak seenaknya! B-jingan kecil yang sama busuknya dengan ayahnya! Cuih!” Boris meludahi wajah pemuda itu.


“Berani-beraninya kamu menyentuh barang-barangku! Berani-beraninya kamu memperlakukan rumahku seolah itu rumahmu!”


Bruak! Bruak! Bruak!


Boris terus memukuli wajah pemuda itu dengan kejam.


“Hentikan itu, Boris! Apakah kamu berpikir bisa bertindak semena-mena?!” Kapten penjaga yang datang langsung menegurnya.


Di ruangan tersebut, bukan hanya Boris memukuli seorang pemuda, tetapi dia juga telah membunuh dua orang pria.


Boris menghentikan tindakannya, membuat pemuda itu bisa bernapas tetapi masih batuk keras. Sementara itu, Boris sendiri melirik ke arah kapten penjaga dengan ekspresi kejam.


“Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian! Aku hanya merusak barang pribadiku dan memberi pelajaran pada keponakan yang bodoh dan tidak tahu malu! Ini adalah urusan keluarga, jadi kalian tidak perlu ikut campur!” teriak Boris.


Mendengar itu, kapten penjaga terkejut. Dia kemudian melihat kalau kedua pria yang dibunuh memang budak milik Boris. Selain itu, pria itu memukul keponakannya dengan alasan mengajari junior, bukan membunuh. Secara hukum, dia memang tidak bisa bertindak.


“BORIS!!!”


Saat itu, suara penuh kemarahan terdengar. Seorang pria paruh baya melewati kerumunan dengan beberapa orang mengikuti di belakangnya.


“Berani-beraninya kamu! Berlutut dan minta maaf padaku sekarang!” teriak pria paruh baya itu.


“Yo! Bukankah itu Kak Norris? Kenapa? Bukankah aku mengajari putramu karena kamu tidak becus melakukannya?”


Ketika mengatakan itu, Boris duduk di atas dada pemuda itu, membuatnya batuk keras dan sesak napas. Pria itu kemudian menepuk wajahnya dengan ringan sambil tertawa.


“Hahaha! Bukankah dia menjadi lebih patuh sekarang?”


Boris memiringkan kepalanya sambil menyeringai dengan ekspresi gila.


“Kenapa kamu diam saja? Bukankah seharusnya kamu berterima kasih kepadaku, Kak Norris?”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2