After Apocalypse

After Apocalypse
Menempa Senjata


__ADS_3

Keesokan paginya.


Alexander duduk di ruang santai dengan ekspresi malas di wajahnya. Pria itu membicarakan banyak hal semalam. Setelah itu, dia berkeliling seluruh Shelter 1 untuk menghindari pelacakan. Akhirnya, pulang kembali ke rumah dengan aman.


Alexander merasa dirinya telah menyelesaikan masalah berat. Namun dia tahu kalau sekarang tidak mungkin langsung beristirahat. Pria itu harus kembali bekerja, pergi ke Vermillion Shop sebagai Faust untuk melakukan beberapa hal lain.


“Apakah kamu baik-baik saja, Al?” tanya Aurora.


Wanita itu melihat Alexander yang sedang bersandar di kursi dan memegang secangkir teh panas dengan ekspresi malas. Melihat pria itu tampak lelah, dia bertanya karena cukup mengkhawatirkannya. Lagipula, menurut Aurora, Alexander lah yang banyak bekerja ketika mereka sampai Shelter 1.


“Aku baik-baik saja. Rencanaku berjalan lancar. Hanya saja terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, jadwal padat dan membuat otakku sedikit lelah. Biarkan aku santai sebentar~” balas Alexander dengan lemah.


“Kalau begitu kami berangkat latihan terlebih dahulu,” ucap Aurora.


“Kami berangkat, Tuan!” tambah Aster penuh semangat.


“Kami berangkat.” Daisy mengangguk dengan lembut seperti biasa.


Alexander menoleh ke arah orang-orang itu. Dia melambai ringan sambil membalas, “Seperti biasa, latihan dengan baik tapi jangan memaksakan diri. Jika ada bahaya, mundur lebih awal dan utamakan keselamatan.”


Ketika wanita itu mengangguk. Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan rumah.


Sementara itu, Jane dan Nene sedang bersiaps-siap. Bukan hanya menyiapkan sarapan, mereka juga telah menyiapkan barang yang harus mereka bawa ke toko sebelumnya. Lagipula, mereka tidak menyimpan ramuan di toko. Hanya membawa ramuan yang dibuat di rumah ke toko keesokan harinya.


Alexander dan rekan-rekannya juga telah memulai membuat ruang bawah tanah, sebuah kebiasaan yang akhirnya mereka bawa sampai sekarang. Ruang bawah tanah rumah telah selesai, sementara di toko baru sampai tahap akhir.


Ruang bawah tanah di rumah akan digunakan untuk menyimpan sisa ramuan yang mereka buat dari bahan yang diberikan Damian, serta berbagai bahan langka yang telah mereka kumpulkan sebelumnya. Sedangkan untuk ruang bawah tanah yang ada di toko, mereka masih memikirkan kegunaannya.


Jika ruang bawah tanah di toko diselesaikan, Alexander masih memiliki rencana untuk memperluas ruang bawah tanah rumah. Meski belum diketahui untuk apa kegunaannya, tetapi setidaknya mereka memiliki beberapa tempat untuk berlindung atau bersembunyi ketika terjadi sesuatu.

__ADS_1


“Jane! Nene!” panggil Alexander.


“Ada apa, Tuan?” tanya Nene dengan ekspresi heran.


“Apakah ada yang salah, Tuan?” tanya Jane.


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengingatkan. Hari ini aku akan menempa senjata. Seperti biasa, kalian harus berhati-hati dalam mengawasi toko selama aku tidak ada. Apakah kalian mengerti?” ucap Alexander.


Baru saja mengatakan itu, Alexander tiba-tiba memegangi dahinya dengan ekspresi tertekan. Pria itu menghela napas panjang lalu kembali berbicara.


“Lupakan. Aku akan menemani kalian terlebih dahulu. Aku lupa mengingatkan Aurora, jadi mereka malah pergi berlatih. Nanti siang mereka akan datang ke toko, saat itu aku akan pergi membuat senjata seperti biasa.”


Melihat Alexander yang tampak kurang fokus, kedua wanita itu saling memandang. Jarang sekali mereka melihat Alexander dalam keadaan seperti itu. Jadi mereka bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi padanya sebelumnya.


Setelah itu, mereka pun sarapan bersama lalu pergi ke Vermillion Shop untuk bekerja.


***


Setelah Aurora, Daisy, dan Aster kembali dari latihan, Alexander membawa kotak besar lalu pergi ke tempat penempaan di sudut area Distrik 3.


Tempat itu sengaja dipilih karena dekat dengan distrik kumuh. Di Distrik 2 juga ada tempat untuk menempa senjata, tetapi khusus untuk para ksatria dan keluarga besar. Bahkan tempat penempaan di Distrik 3 juga dikelola oleh Keluarga Chivelm.


Di sana, seseorang bisa meminta pandai besi untuk menempa senjata dengan bahan yang mereka bawa, bisa juga membeli senjata jadi, atau mungkin menyewa tempat menempa untuk mereka sendiri.


“Oh! Saya pikir anda tidak datang, Tuan Faust!”


Ketika menyeret gerobak dengan beberapa kotak kayu di atasnya, Alexander melihat orang yang menyapanya. Pria itu memiliki penampilan cerah, rambut pirangnya dipotong pendek, hanya menyisakan bagian atasnya. Dia memakai kemeja yang tidak dikancingkan, dan celana pendek. Tampak santai, sama sekali tidak terlihat sebagai penempa senjata.


“Seperti biasa Marco, sewa satu hari.” Alexander berkata dengan santai.

__ADS_1


Marco bukan penempa senjata di tempat ini. Sebaliknya, dia adalah orang yang mengawasi bisnis. Salah satu anak yang dianggap potensial dari Keluarga Chivelm. Statusnya sedikit lebih rendah daripada Damian karena terlalu banyak anak di Keluarga Chivelm.


“Baik!” balas Marco.


Bagi pria itu, Faust adalah pelanggan tetap yang datang satu minggu sekali. Jadi mereka cukup akrab karena beberapa kali bertemu. Itu juga didasarkan kualitas senjata yang Faust tempa yang membuat Marco mau berteman dengan ‘orang biasa’ sepertinya.


“Omong-omong, apakah kamu sudah memikirkan undanganku sebelumnya, Faust? Aku yakin Keluarga Chivelm bisa memberimu keuntungan lebih banyak daripada Keluarga Ervens,” ucap Marco dengan seringai di wajahnya.


“Masalahnya bukan seberapa banyak yang aku dapat, tetapi aku tidak bisa berpaling begitu saja. Ini masalah kepercayaan Marco. Kuharap kamu mengerti,” ucap Faust datar. Pria itu kemudian menghela napas panjang, tampak lelah karena mengulangi jawaban itu berkali-kali.


Jawaban Alexander yang tampak asal-asalan itu membuat mata Marco berbinar. Menurutnya, mencari orang seperti Faust sangat sulit dilakukan. Orang-orang biasa dengan mudah tergerak oleh keuntungan, tetapi beberapa orang memiliki sikap teguh dan pantas dipercaya.


Jika Alexander tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Marco, dia pasti sudah memujinya karena memiliki pemikiran yang begitu imajinatif. Menurutnya, orang yang bisa dipindahkan hanya dengan sedikit keuntungan sebenarnya adalah orang yang bodoh. Khususnya jika pekerjaan mereka sama.


Berpindah dengan cepat karena sedikit keuntungan membuat orang lain memandang orang tersebut dengan buruk. Walau ada banyak alasan untuk melakukannya (pindah), tetapi orang lain tidak akan peduli dan hanya menganggapnya orang yang tidak bisa dipercaya karena bisa mudah berpaling ke pesaing.


Bukan hanya itu. Daripada keuntungan, Alexander melihat lebih banyak kerugian jika dia menerima permintaan Marco. Di permukaan, apa yang diberikan oleh Keluarga Chivelm mungkin lebih banyak, tetapi jika dihitung dengan terperinci, hasilnya masih jauh dari pendapatan Alexander sekarang.


Belum lagi Alexander lebih suka bekerjasama dengan Damian karena mudah dikendalikan. Bukan sebaliknya, jika berhadapan dengan Keluarga Chivelm, mereka pasti mencoba memeras tenaga dan menggunakannya.


Setelah bertukar beberapa kalimat dengan Marco, Alexander pun pergi ke ruang tempa. Dia menutup pintu, lalu memulai persiapan untuk membuat beberapa senjata yang biasanya dijual di Vermillion Shop.


Beberapa jam kemudian.


Setelah menyelesaikan target membuat senjata untuk dijual minggu ini, Alexander beristirahat sejenak. Ketika staminanya mulai pulih, dia mulai menurunkan kotak bagian atas. Dia mengambil kotak bagian bawah lalu membongkarnya, menunjukkan beberapa bahan lebih berharga daripada bahan pembuatan senjata yang biasa dijual di toko.


Dua di antaranya adalah ... cakar Abyssal Basilisk.


Melihat berbagai bahan yang tersedia, Alexander menarik napas dalam-dalam lalu bergumam.

__ADS_1


“Pemanasan selesai ... waktunya melakukan pekerjaan yang sesungguhnya.”


>> Bersambung.


__ADS_2