After Apocalypse

After Apocalypse
Gejolak Arus Bawah


__ADS_3

Sementara itu, di salah satu ruangan dalam kastel.


Sosok pria dengan penampilan sedikit mirip vampir dalam legenda, juga sedikit mirip dengan Alvonso tetapi lebih muda mondar-mandir dengan ekspresi cemas. Penampilannya sedikit lebih muda dibandingkan dengan Alvonso, tetapi dia sedikit lebih tinggi dan bertubuh lebih kekar. Berbeda dengan kakaknya yang agak kurus.


Pria itu adalah salah satu calon pewaris tahta, Albefort Rosewald.


“Kapan kamu bisa meyakinkan seluruh keluargamu, Zeph?!” tanya Albefort secara tidak sabar.


Tidak jauh darinya, tampak seorang pria kurus dengan rambut acak-acakan seperti diembus angin. Wajahnya agak pucat, mata sedikit sayu, dan kelopak matanya sedikit hitam. Dari penampilan, dia mirip dengan pria lesu yang kurang tidur. Namun, kecemerlangan matanya mengkhianati penampilannya.


Orang itu adalah Zephyr Nigruzem, atau yang sering dipanggil orang-orang terdekatnya dengan panggilan Zeph.


“Aku baru saja mengambil alih Keluarga Nigruzen. Ada beberapa orang yang masih kurang yakin, padahal ayah sendiri juga mempercayaiku. Jadi, aku pikir perlu beberapa saat untuk membereskan semuanya,” jawab Zeph.


“Kita sudah kehabisan waktu! Orang itu sudah bertindak! Aku tidak bisa lagi membiarkan dia bertindak seenaknya!” teriak Albefort tidak puas.


“Aku sudah menjalankan rencana lebih cepat. Aku berhasil menguasai Keluarga Nigruzen, berbeda dengan beberapa pengikutmu yang kurang kompeten dan tidak bisa menyelesaikan tugas untuk memenangkan keluarga. Sebagai pemimpin, kamu juga harus melakukan tugasmu dengan baik.


Jangan membuatku marah, Alby. Jika bukan karena kamu adalah temanku, aku tidak akan sudi untuk membantu dan berdiri di sisimu.”


Mendengar ucapan Zeph, Albefort akhirnya sadar. Dia menjatuhkan diri ke kursi lalu menghela napas panjang dengan ekspresi tertekan di wajahnya. Meski pria itu adalah calon penguasa baru, dia tahu kalau dirinya masih kurang jika dibandingkan Alvonso.


Alasan kenapa Albefort tidak peduli dengan formalitas dan mengizinkan Zeph bertindak agak liar karena orang itu adalah teman dekatnya. Zeph juga pria yang paling bisa dia andalkan. Bahkan jika bisa terpilih, pria itu ingin meminta Zeph menjadi penasihatnya.


“Maafkan aku Zeph. Aku benar-benar sedang memiliki terlalu banyak pikiran. Aku sama sekali tidak berniat menyalahkanmu,” ucapnya dengan senyum pahit di wajahnya.


“Tidak apa. Aku tahu kamu sedang berada dalam tekanan.” Zeph menggelengkan kepalanya.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Zeph?” tanya Albefort.


“Orang-orang dari tiga keluarga lain masih berguna bagimu. Meski mereka hanya minoritas dan mayoritas mendukung Alvonso, tetapi mereka masih bisa menambah kekuatan kubu kita. Selain itu, ada hal penting yang bisa kamu lakukan,” ucap Zeph dengan ekspresi serius di wajahnya.

__ADS_1


“Apa itu?” Albefort tampak penasaran.


“Kumpulkan orang-orang yang ditindas oleh Alvonso. Bahkan jika mereka memilih orang itu ...”


Ekspresi Zeph berubah menjadi semakin dingin.


“Bukan berarti mereka tidak akan memberontak.”


***


Sementara itu, di tempat Alvonso berada.


“Apakah kalian gagal mengundang kedua tamu itu?”


Ekspresi Alvonso tidak terlihat terlalu baik. Pada awalnya, selain mengumpulkan kekuatan dari Shelter 1. Dia juga meminta anak buahnya untuk mengikuti dua tamu sebelumnya, Kaiser dan pendekar pedang misterius yang pergi bersamanya.


Jika mereka berdua mau mengulurkan tangan untuk mendukungnya, bukan tidak mungkin baginya untuk naik tahta dengan tenang. Lagipula, mereka memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dan bisa dianggap sebagai bencana berjalan. Namun, tampaknya orang-orang itu sama sekali tidak mau menerima tawarannya.


Bukan hanya tidak menerima tawarannya, tetapi bahkan memandangnya sebelah mata dan mengirim surat untuk mempermalukannya.


Kira-kira, isi tulisannya adalah ejekan yang menggambarkan para penguasa baru, orang yang menganggap diri mereka Raja hanyalah orang bodoh dengan pikiran sempit. Ada juga ancaman kalau Kaiser akan datang untuk menghancurkan kastel dan para kandidat raja itu jika mereka mencoba mengganggungnya.


“Lupakan! Aku hanya mencoba. Sejak awal aku tahu kalau ini akan gagal, bahkan kemungkinan berhasil sangat kecil.” Alvonso menghela napas panjang.


“Lalu apa perintah anda, Tuan?” tanya prajurit yang berlutut di depan Alvonso.


“Apakah Annie masih sering keluar dari kastel?” Alvonso malah balik bertanya.


“Nona Annie kadang-kadang keluar karena ingin mencari udara segar, Tuan. Lagipula, tubuhnya sudah tidak sehat sejak nona masih kecil. Ditambah dikurung setiap hari di kastel. Wajar jika nona memiliki jiwa memberontak dan berusaha untuk mengejar kebebasan,” jawab ksatria tersebut.


“Menurutmu ... apakah ide menjodohkan Annie dengan pria dari Keluarga Ervens itu baik? Pria itu sudah memiliki istri, tetapi kandidat paling kuat dan akan segera diangkat menjadi kepala keluarga berikutnya. Jika Annie menikahinya, maka posisi Keluarga Ervens pasti kokoh di belakangku, menjadi pengikut setia.” Alvonso mengelus dagu.

__ADS_1


“...”


Ksatria tersebut tidak menjawab, tetapi jelas berpikir dalam hati kalau Alvonso berlebihan. Lagipula, bukan hanya mengorbankan kebahagiaan orang lain, dia bahkan mengorbankan kebahagiaan adiknya sendiri. Seorang adik yang sakit-sakitan dan hanya ingin menghabiskan sedikit sisa hidupnya dengan bahagia.


“Lupakan. Memberikan Annie kepada orang lain adalah pilihan yang buruk. Meski terlihat sakit-sakitan, Annie masih memiliki darah Keluarga Rosewald dengan kemurnian tinggi. Meski seperti itu, dia juga seorang wanita dan bisa melahirkan.


Daripada membiarkannya mati begitu saja, bagaimana kalau aku membiarkannya untuk melahirkan keturunanku? Dengan dua darah lebih murni, bukankah anak yang terlahir kemungkinan akan memiliki darah yang murni? Calon penguasa berikutnya?”


Mendengarkan ide gila Alvonso, ksatria tersebut hanya menundukkan kepalanya. Menundukkan kepala dengan ekspresi pucat dan tubuh sedikit gemetar karena ...


Dia sama sekali tidak menyangka kalau pria tersebut memiliki ide yang begitu tidak waras seperti itu!


***


Sementara itu, di markas Nine Gates.


“Apakah persiapannya sudah siap, Mei?”


Annie bertanya dengan senyum lembut di wajahnya. Sebagai tanggapan, Mei mengangguk ringan tanpa banyak menjelaskan.


Saat itu, Yona yang duduk di ruang yang sama dengan mereka mengeluh.


“Apakah kamu benar-benar berencana untuk mengunjungi para utusan itu, Ketua? Bagaimana kalau mereka tidak setuju dengan idemu? Maksudku, bukankah mengundang mereka membuatmu terpapar, bahkan bisa ditargetkan oleh Alvonso dan Albefort?” ucap Yona dengan ekspresi khawatir.


“Semuanya memiliki resiko, Yona. Kamu harus memahaminya. Bahkan hal-hal sepele memiliki resiko tersendiri. Jadi, aku rasa ini masih layak dilakukan karena akan menjadi bantuan besar untuk kita. Selain itu, aku bisa melarikan diri bahkan jika gagal. Sama sepertimu ... bersembunyi dan menjadi buronan keluarga sendiri,” balas Annie dengan senyum ramah dan nada sedikit bercanda.


“Itu sama sekali tidak lucu, Ketua! Orang-orang itu sudah gila! Bagaimana bisa mereka memintaku menikahi pria tua dari Keluarga Rubruzen itu?!


Baik. Lupakan penampilannya yang jelek dan gemuk. Kita juga bisa mengesampingkan otaknya yang kurang cerdas. Namun, memintaku menikahi pria yang sudah memiliki dua istri dan banyak anak itu terlalu berlebihan!”


Yona menggebrak meja dengan ekspresi marah, benar-benar seperti kucing yang diinjak ekornya. Annie hanya tertawa, tidak mengatakan apa-apa. Namun, dia sendiri sudah memiliki rencana. Ditambah bantuan Claude dan Melissa ...

__ADS_1


Wanita itu cukup yakin untuk memenangkan dukungan para utusan!


>> Bersambung.


__ADS_2