
Sementara itu, di kediaman Keluarga Chivelm.
Dalam ruang tamu, Alvonso duduk di sofa dengan ekspresi serius di wajahnya. Tidak jauh dari sana, terlihat beberapa pria paruh baya yang berdiri dan memprotes kepadanya dengan ekspresi marah di wajah mereka. Tampaknya orang-orang itu telah mengalami hari yang tidak nyaman, dan tidak merasa puas jika keluhan mereka tidak terhapuskan.
“Diam!” ucap Alvonso dengan ekspresi dingin di wajahnya.
Pria paruh baya itu benar-benar tidak menyangka kalau ada kejadian yang membuat situasi Shelter 1 semakin berantakan. Entah tiga kelompok beraliansi, kemunculan Grey Triangle Pavilion, dan kejadian lainnya. Apa yang membuatnya marah adalah ...
Orang-orang bodoh ini malah memprovokasi para hunter bebas yang waspada, dan sekarang mereka semakin bersatu. Lebih sulit dihadapi!
Alvonso kemudian menatap ke arah orang-orang yang diam. Hanya berani menatapnya tanpa lagi memprotes atau berteriak. Pria paruh baya itu kemudian kembali berbicara.
“Lalu apa yang kalian inginkan?” tanya Alvonso.
“Kami meminta anda untuk menegakkan keadilan, Tuan! Orang-orang itu, para darah lumpur itu terlalu berani sampai membunuh pewaris Keluarga Croctus satu-satunya! Mereka harus dihabisi!” teriak salah satu lelaki tua dari Keluarga Croctus.
“Tidak semua orang bisa dibunuh sesuka hati.” Alvonso menggelengkan kepalanya.
“Lalu bunuh pria bernama V itu! Dialah yang membunuh putraku! Aku ingin dia mati!” teriak lelaki tua itu.
“Identitas V sekarang tidaklah biasa. Para hunter bebas, khususnya dari tiga kelompok besar tidak akan membiarkan kita menggores, apalagi membunuhnya,” ucap Alvonso dengan ekspresi datar.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Keluhan ini tidak boleh dibiarkan!” ucap lelaki tua itu dengan ekspresi marah dan putus asa.
‘Bukankah itu kecerobohan anakmu? Bukankah kamu tidak mendidiknya dengan baik sehingga orang itu menjadi pria sombong tanpa otak?
Balas dendam? Jangan bercanda. Keluargamu akan dicabik-cabik oleh para serigala kelaparan itu. Bahkan aku juga kerepotan menghadapi mereka. Jadi, jika ada yang harus disalahkan ... salahkan dirimu sendiri karena memiliki otak tapi tidak bisa menggunakannya. Cih! Hanya membuatku jijik karena memiliki bawahan mati otak sepertimu.’
Alvonso mengeluh dalam hati. Namun dia tidak mengatakan itu secara langsung. Meski orang-orang di depannya menyebalkan, jumlah keluarga masih cukup banyak dan mereka semua memiliki peran pendukung agar dirinya bisa duduk menggantikan posisi ‘Raja’ sebelumnya. Jadi, bahkan jika menjijikkan dan menyebalkan, pria paruh baya tersebut masih mencoba untuk menahan diri.
__ADS_1
“Tenang saja, Mr Croctus. Meski tidak bisa segera diwujudkan, tetapi tidak ada kata terlambat untuk balas dendam. Setelah situasi semakin membaik, aku pasti akan membantumu membalas dendam. Jadi, untuk sekarang aku meminta bantuan dari kalian semua.
Pertama, bantu aku agar bisa segera mengamankan posisi. Selain itu, dalam waktu ini, sebaiknya kalian tidak membuat kekacauan di sekitar area Grey Triangle Pavilion. Juga, ingatkan anak-anak di keluarga kalian untuk tidak main-main di sana jika tidak ingin mereka terbunuh secara tidak sengaja!” ucap Alvonso dengan senyum ramah di wajahnya.
Mendengar ucapan Alvonso, beberapa orang tidak puas. Mereka ingin Alvonso segera bergerak, tetapi dari tanggapannya, mustahil membuat pria paruh baya itu bergerak sekarang. Jadi semua orang hanya bisa mengangguk dan menjawab tegas.
“Baik, Tuan!” jawab mereka serempak.
Setelah mendengar jawaban tersebut, ekspresi Alvonso mengendur. Tampaknya merasa sedikit lega setelah membuat bawahan yang sulit diatur itu tenang.
Sekarang ... dia perlu memikirkan cara lain agar bisa menyingkirkan pesaingnya.
***
Keesokan paginya, jauh di hutan luar Shelter 1.
“Terima kasih karena telah mempertimbangkan keegoisan kami, Tuan V!”
Sementara itu, Alexander menatap ketiga belas orang di depannya dengan tatapan kosong. Setelah orang-orang itu bertindak gigih untuk mengikutinya, tidak ada alasan lain baginya untuk menolak. Jadi, pria itu memutuskan untuk menggunakan kata ‘ujian’ untuk menilai kemampuan bertarung mereka.
“Aku tidak bilang akan menerima kalian secara langsung. Tampaknya kalian cukup percaya diri untuk mengalahkanku.” Alexander memijat lehernya dengan wajah malas di balik topengnya.
“Tentu saja anda kuat, Tuan V. Namun kami juga memiliki kepercayaan diri tentang kekuatan kami, khususnya dalam kerja sama.” Percy berkata dengan ekspresi serius di wajahnya.
“Oh?” Alexander memiringkan kepalanya.
“Sebelum kita bertarung, ada yang ingin mengatakan beberapa patah kata, Tuan V.”
“Silahkan,” balas Alexander datar.
__ADS_1
“Kami membuat nama Crimson Hornet karena kami ingin menjadi seperti lebah. Ketika kawanan diganggu, mereka akan menyerang bersama. Melawan musuh demi rekan-rekannya. Namun ... apakah anda tahu bagaimana orang-orang memanggil kami?
Di Shelter 1, daripada Crimson Hornet ... kami sering disebut sebagai Bloody Wolfs.”
“Para serigala?” Alexander memiringkan kepalanya ke arah lain. Seolah menyadari sesuatu, matanya terbuka lebar dan sudut bibirnya naik. “Memutuskan nasib bersama, cara yang agak bodoh tapi ... itu benar-benar menarik.”
Setelah mengatakan itu, Alexander melepas berbagai perlengkapannya serta jubahnya. Dia kemudian tampak hanya mengenakan baju lengan pendek, celana panjang, sepatu boot, dan sarung tangan. Tentu saja, masih memakai topeng yang khas.
“Karena kalian ingin bertarung dengan serius. Maka aku tidak akan bermain secara asal-asalan. Kalian mungkin sudah menebak, dan benar ... aku adalah pemilik kekuatan telekinesis. Rumor itu tampak acak, tetapi itu tidak sepenuhnya salah.
Selain itu. Aku juga telah melatih kemampuan baru yang aku kembangkan sendiri. Jadi jangan kecewakan aku!”
Dalam ajaran keluarga, kebanyakan energi telekinesis biasanya dikombinasikan dengan teknik pedang atau pisau terbang. Yang paling kuat adalah Phoenix Dance, tetapi ada juga teknik pisau terbang yang sangat sulit ... 108 Strings of Pain. Teknik-teknik itu adalah keterampilan penggunaan senjata secara ekstrem untuk melakukan gerakan penghancur atau pembunuh.
Hal tersebut membuat Alexander terinspirasi. Jika ada teknik menggunakan senjata, kenapa penggunaan teknik pertempuran tangan kosong + telekinesis jarang digunakan. Ada keterampilan telekinesis langsung untuk menggerakkan benda, ada juga gabungan dengan senjata, tetapi jarang yang bertarung menggunakan telekinesis untuk memperkuat tubuhnya sendiri.
Hal tersebut terkesan agak konyol dan merepotkan, tetapi masih bisa dilakukan dan cukup berguna dalam pertempuran. Selain itu, Alexander juga membuat keterampilannya sendiri. Dia melatihnya sudah sangat lama, tetapi baru setelah naik ke level 3, latihannya menjadi lebih serius. Namun itu masih latihan sampingan karena dia harus menguasai keterampilan inti dan menguasai miracle root-nya, karena itu lebih penting.
Lapisan energi tipis menyelimuti seluruh tubuhnya. Namun yang paling mencolok adalah energi di kedua tangannya. Rasanya dari ujung jari sampai pergelangan tangan dilapisi energi tebal yang menyelimuti, tetapi titik fokusnya di bagian telapak tangan.
Pada awalnya, Crimson Hornet berpikir kalau Alexander meremehkan mereka. Namun ketika merasakan tekanan mengerikan dari pria itu, semua orang sadar kalau lawan mereka tampaknya sangat serius. Bahkan membuat mereka merasakan bayangan kematian berbisik di sekitar mereka.
Saat itu, ekspresi semua orang berubah. Mata mereka semua berubah, rambut mereka semakin memanjang, taring muncul di sudut mulut mereka. Tubuh orang-orang itu menjadi sedikit lebih tinggi dan semakin berotot. Apa yang luar biasa adalah ... perubahan mereka semua hampir sama, jelas karena orang-orang itu menyerap miracle root sama.
Melihat pemandangan seperti itu, Alexander menyeringai. Berhadapan dengan orang-orang yang tampak seperti kerasukan iblis, dia langsung mengingat sumber inspirasi dari kisah lama yang diceritakan oleh kakeknya. Kisah tentang sosok yang dipuja oleh banyak orang ketika dunia masih damai.
Dia tidak tahu apakah itu legenda, mitos, dongeng, atau hanya keyakinan. Namun dari cerita tersebut, dia terinspirasi untuk membuat tekniknya sendiri.
Teknik untuk menekan monster dan iblis ...
__ADS_1
Buddhist Palm!
***