
Siang harinya, di tempat tinggal sementara Melissa.
Ketika berita tentang kelompok Mad Ox menyebar, Melissa masih berada di dalam rumah. Sama sekali tidak memiliki waktu untuk mengurus hal semacam itu. Sekarang, ada tamu yang sebenenarnya tidak terlalu dia suka datang berkunjung.
Ya ... orang itu adalah Octavius.
“Apakah ada alasan sampai-sampai anda datang untuk menemui saya di tengah kesibukan anda, Tuan Octavius?” tanya Melissa dengan sopan.
“Tentu saja saya datang karena mengkhawatirkan anda, Nona Melissa. Apa yang terjadi tadi malah terlalu mengerikan. Tampaknya ada pembunuhan besar-besaran. Belum lagi, pelakunya hanya satu orang tetapi mampu menyapu bersih kelompok menengah seperti Mad Ox.” Octavius tersenyum ramah. “Apakah anda baik-baik saja?”
“Terima kasih telah mengkhawatirkan saya. Namun saya baik-baik saja. Lagipula, ini semua tidak ada hubungannya dengan saya,” balas Melissa dengan senyum ramah.
“Namun aku benar-benar tidak menyangka orang seperti itu bisa muncul begitu saja, khususnya di masa kacau seperti ini. Mampu membunuh Mad Ox yang berada di puncak level 2 dan empat orang kepercayaannya (level 2) secara bersamaan, seharusnya orang yang dipanggil V ini adalah hunter level 3.” Octavius mencubit dagu, merenung dengan keras.
“Jadi begi- tunggu!”Mata Melissa terbelalak. Dia menatap ke arah Octavius dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya. “Anda bilang namanya V?”
“Eh? Iya.” Octavius memiringkan kepalanya, tampak bingung. “Apakah anda pernah mendengar nama itu, Nona Melissa?”
“Tentu saja pernah!” teriak wanita itu.
Octavius terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau reaksi Melissa akan begitu keras ketika mendengar nama orang itu. Melihat ekspresi wanita itu perlahan menjadi lebih tenang, Octavius bertanya dengan pelan.
“Bisakah anda memberitahu saya, Nona Melissa? Mungkin saja informasi dari anda bisa berguna dalam membantu penyelidikan.”
Melissa menarik napas dalam-dalam. Ketika mendengar nama orang itu, dia tidak bisa tidak marah. Selain itu, rasa takut dan kebencian muncul dalam dirinya.
“Aku tidak tahu siapa nama asli V dan identitas aslinya. Hanya saja, dia juga muncul di Shelter 11. Orang itu ... memanfaatkan kekacauan untuk melakukan tindakan yang sangat keji.
Tampaknya orang itu mengkhususkan diri dalam membunuh para hunter alih-alih melawan monster. Pekerjaannya tentu saja pembunuh bayaran. Namun bukan hanya pembunuh biasa, dia adalah orang yang sangat keji.
Seperti yang terjadi pada Mad Ox yang kamu sebutkan, selama bayarannya cukup ... orang itu bahkan bersedia membunuh seluruh keluarga besar.”
“Keluarga besar?” gumam Octavius. Kemudian, matanya tiba-tiba terbelalak. “Maksud anda, bukan hanya keluarga biasa ... tetapi membunuh seluruh marga?”
__ADS_1
“Ya. “ Melissa mengangguk dengan ekspresi berat. “Salah satu keluarga besar di Shelter 11, Keluarga Grasswald dimusnahkan oleh orang itu.”
Pada awalnya, Melissa berpikir kalau penyerangnya adalah Boris the Butcher. Namun dia salah. Setelah mencari semua informasi, tampaknya Boris yang dia lawan palsu. Topeng orang itu juga dirusak oleh pamannya.
Usai mencari dengan sekuat tenaga, Melissa menemukan petunjuk dan menemukan pelaku sebenarnya. Seorang pria yang dipanggil V ternyata menerima misi untuk menghancurkan Keluarga Grasswald. Bukan hanya itu, dampaknya bahkan membuat banyak bawahannya meninggal dan sebagian memilih untuk pensiun.
Orang itu juga yang bertanggung jawab atas keadaan pamannya!
Menarik napas dalam-dalam, Melissa menatap Octavius lalu bertanya, “Apakah orang itu benar-benar telah menembus level 3?”
“Eh? Mungkinkah sebelumnya dia masih level 2?” tanya Octavius.
“Ya.” Melissa mengangguk berat. “Sebelumnya dia berada di puncak level 2, tetapi mampu bertarung dengan hunter level 3. Jadi ...”
‘Bukankah sekarang dia setara dengan Paman jacob pada masa primanya? Mungkin lebih?’ pikir Melissa.
Sementara itu, Octavius memiliki pemikirannya sendiri. Baginya, V bukan penjahat biasa. Sebaiknya, mirip dengan harta yang harus ditemukan olehnya. Mencerna berbagai informasi tentang V tidak bisa tidak membuat pria itu berpikir.
‘Sepertinya aku harus mencoba mencari orang itu sesegera mungkin. Dengan begitu ...’
‘Posisi patriak pasti jatuh ke tanganku!’
***
Malam harinya, di toko Keluarga Ervens yang dioperasikan oleh Damian.
“Kamu benar-benar membuatku dalam posisi yang tidak menguntungkan, Faust.”
Damian bersandar pada kursi sambil menatap Alexander dengan ekspresi lelah di wajahnya.
Di sisi lain, Alexander duduk di kursi sambil menyesap teh dengan senyum ramah. Tampak tidak berbahaya untuk manusia ataupun hewan.
“Teh yang enak. Sungguh, keluarga besar itu memang membuat iri. Apakah ada pasokan stabil untuk teh ini? Dipetik tidak jauh dari wilayah Shelter 1?” tanya Alexander dengan ekspresi terkejut.
__ADS_1
“Jangan mengalihkan perhatian. Aku sedang berbicara serius denganmu, Faust! Aku benar-benar terlibat masalah karenamu,” ucap Damian dengan ekspresi lelah di wajahnya.
“Tidak.” Alexander menggelengkan kepalanya. “Baik kamu atau aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Semuanya adalah salah V! Apa hubungannya dengan kita berdua?”
‘Bukankah kamu sendiri adalah V? Apakah kamu ingin bermain sebagai B-jingan atau semacamnya?’
Damian mengeluh dalam hatinya. Namun pria itu hanya bisa menatap kososng ke arah Alexander yang sedang minum dengan ceria. Seolah-olah itu memang tidak ada hubungannya dengan mereka berdua.
“Apakah kamu memiliki ide? Sebuah rencana untuk lepas dari masalah ini?” tanya Damian dengan ekspresi curiga.
Sebagai jawaban. Alexander mengambil sepucuk surat lalu meletakkannya di atas meja. Tanpa menunggu lama, Damian langsung mengambil lalu membuka untuk membaca isinya.
‘Aku bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Demi kebaikanmu waktu itu, aku akan membereskan masalahmu.’
Membaca tulisan itu, Damian merasa bingung. Saat itu, Alexander meletakkan cangkir di atas meja. Dia kemudian menatap tepat ke mata rekan bisnisnya tersebut lalu menjelaskan.
“Jadi begini ...”
Ketika mendengarkan penjelasan Alexander, Damian tampak heran. Dia sama sekali tidak menyangka kalau dua surat bisa digunakan dengan cara seperti itu. Belum lagi, hanya dengan sedikit bukti dan hubungan kerja sama antara mereka berdua, Alexander benar-benar bisa angkat kaki dari masalah itu dengan bsangat bersih.
“Bagus! Benar-benar sangat bagus! Bagaimana kamu bisa memikirkan ide seperti itu?” tanya Damian dengan heran.
“Itu hanyalah beberapa trik.” Alexander mengangkat bahu. “Jika kamu terus berkeliling seperti roh pengelana tanpa arah dan tujuan selama bertahun-tahun alih-alih tinggal di depan perapian yang hangat dan makan makanan yang enak, kamu pasti memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan.”
“...”
Damian mengangguk ringan. Meski Faust di depannya adalah orang yang tampak baik dan ramah, dia tidak akan lupa kalau orang ini adalah V, seorang membunuh keji yang tadi malam memusnahkan sebuah kelompok tanpa belas kasih. Bahkan memotong leher mereka dengan cara kejam, membuat musuh tidak langsung terbunuh, justru mati karena kehilangan banyak darah.
Damian menatap Alexander dengan ekspresi takjub. Dia tidak bisa tidak berpikir.
‘Mungkin, inillah yang dimaksud bermuka dua ...’
‘Bermuka dua yang sebenarnya.’
__ADS_1
>> Bersambung.