
Sementara itu, dalam bar Golden Wheat.
“Kenapa kamu melamun, Gery?”
Orang-orang yang sedang minum menatap Gery dengan ekspresi bingung di wajah mereka. Sejak kembali, orang itu langsung memesan banyak anggur lalu minum sendiri dengan ekspresi kosong, mata terbelalak, dan tampak sedikit bingung.
Gery sendiri adalah salah satu orang yang mereka anggap menakjubkan. Tidak mungkin orang seperti itu bisa terpana karena suatu hal biasa. Jadi orang-orang itu mulai mengelilinginya dan bertanya, tampaknya haus akan gosip yang panas.
“Kalian terlalu berisik! Pergi! Aku sedang ingin minum sendirian!”
Gery yang baru saja tersadar dari lamunannya langsung berteriak untuk mengusir orang-orang. Dia sama sekali tidak puas dengan mereka yang mengermuninya padahal sedang berpikir begitu keras.
Melihat Gery yang marah, mereka saling memandang lalu kembali ke tempat masing-masing karena tahu pria itu sedang tidak dalam mood baik. Orang-orang itu tidak berniat mengganggunya karena Gery bukan orang yang mudah dipusingkan.
Setelah orang-orang itu pergi, Gery mencubit dagu dengan ekspresi serius di wajahnya. Pria itu kembali mengingat pertarungan antara Alexander dan Yona. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sosok misterius yang ramah itu bisa bertarung dengan begitu ganas. Tampak sengit dan kejam, bahkan membuat hunter level 3 kerepotan.
‘Sejak kapan dunia dipenuhi dengan orang-orang semacam itu? Bukankah biasanya hunter level 2 atau lebih itu adalah pria paruh baya? Wanita cantik? Sosok muda misterius? Tampaknya selama ini aku sudah hidup terlalu santai.
Angin telah berubah arah. Jika tidak berubah, tampaknya aku benar-benar akan hancur ditelan badai yang akan datang.’
Sambil memikirkan berbagai kemungkinan di masa depan, Gery memutuskan untuk lebih mempererat hubungannya dengan Alexander, Yona, dan para kaum muda yang memiliki masa depan cerah. Setidaknya ... memiliki kesempatan untuk mendaki ke tempat yang lebih tinggi.
---
Sekitar satu minggu kemudian.
BRUK!
Aster jatuh ke tanah dengan keras, pedang terlepas dari cengkeramannya. Dia melihat ke arah Daisy yang juga terbaring di rerumputan tidak jauh darinya. Pandangan wanita itu kemudian pergi ke arah Alexander yang berdiri dengan tenang tanpa ekspresi di wajahnya.
“Kalian berkembang dengan baik selama satu minggu ini. Jangan kendurkan kewaspadaan kalian. Setidaknya cobalah untuk memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri dan melarikan diri,” ucap Alexander.
“BAIK!” balas keduanya serempak.
“Beristirahat sebentar, lalu kalian boleh sarapan.”
Setelah mengatakan itu, Alexander langsung pergi.
Beberapa saat setelah Alexander pergi, Daisy dan Aster duduk di halaman belakang sambil menikmati mentari pagi.
__ADS_1
“Apakah ada yang salah, Kak Daisy?” tanya Aster dengan ekspresi bingung di wajahnya.
Wanita itu merasa ada yang salah pada Daisy selama beberapa hari ini. Bukan hanya Alexander yang bertingkah lebih dingin dan tegas dibandingkan biasanya, Aster juga melihat Daisy sering melamun dan tampak sedih. Hal itu jelas membuatnya bingung sekaligus penasaran.
“Bukan apa-apa,” balas Daisy dengan senyum di wajahnya.
“Berhentilah mengelak. Aku bukan orang luar Kak Daisy! Jangan pendam semuanya sendiri. Kita saling bergantung satu sama lain, okay?” ucap Aster dengan wajah tegas.
“Itu ...” Daisy tampak ragu. “Apakah menurutmu aku begitu tidak berguna?”
“Hah? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan pertanyaan aneh semacam itu?”
“Jawab saja!” ucap Daisy tidak puas.
“Tentu saja tidak. Kamu jelas orang yang berguna. Bukan hanya banyak membantu, tetapi kemampuan bertarungmu juga-“
“Berhentilah menghiburku Aster. Aku tahu seperti apa diriku yang sebenarnya. Di malam itu, aku hanya bisa terpana di tempatku. Berbeda denganmu yang siap bertarung kapan saja, aku hanya bisa diam di sana. Bahkan aku merasa ketakutan!
Sepertinya sampai kapanpun aku tidak akan bisa menjaga diri. Aku ... aku hanya orang biasa yang tidak memiliki bakat bertarung, hanya bisa melakukan pekerjaan rumah dan membawakan barang.”
Daisy langsung menyela ucapan Aster. Sambil menjelaskan apa yang sedang dia pikirkan, wanita itu menatap ke arah sepupunya dengan ekspresi tertekan sekaligus iri.
Saat itu, Aster yang sudah tidak tahan langsung meraih pergelangan tangan Daisy. Dia menarik sepupunya untuk bangkit lalu mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Ketika masuk ke dalam rumah, Aster langsung membawa Daisy yang tampak tertekan ke Alexander yang sedang minum teh. Walau mengetahui tuannya sedang tidak dalam suasana hati yang baik, tetapi dia masih memberanikan diri untuk berbicara.
“Tuan! Apakah menurut anda Kak Daisy tidak berguna? Dia tampaknya terus memikirkan itu, jadi saya ingin mengetahui jawabannya langsung dari mulut anda.”
Melihat Aster yang bertingkah begitu berani, Daisy merasa ketakutan. Dia takut kalau Alexander akan marah. Bukan hanya memperlakukan mereka dengan buruk, tetapi juga menaruh dendam karena mereka telah mengganggunya.
Sementara itu, Aster memiliki pemikiran lain. Sekarang dia bisa dianggap sebagai ‘properti’ milik pemuda di depannya. Entah hidup dan matinya tidak ada lagi hubungannya dengannya. Entah itu mati keracunan, disiksa, atau dikorbankan ... itu sudah ada di kepalanya. Jadi Aster sudah tidak begitu peduli.
Aster sudah memberikan segalanya, dan dia sangat yakin kalau Alexander mengerti itu. Pemuda tersebut pasti tidak akan memperlakukannya atau sepupunya dengan buruk.
Entah itu latihan tempur keras, pembelajaran yang begitu padat ... semua itu cukup berat dan menyita waktu. Namun semua itu tidak hanya berguna untuk Alexander sendiri, tetapi juga mereka berdua.
Alexander tertegun sejenak di tempatnya. Dia menatap ke arah Aster yang memiliki ekspresi serius, lalu ke arah Daisy yang tampak ketakutan.
“Apakah kamu berpikir seperti itu Daisy?” tanya Alexander.
__ADS_1
“Itu ... Itu memang benar Tuan.” Daisy mengangguk, sama sekali tidak berani berbohong di depan Alexander.
“Kalau begitu aku akan mengingatkan. Tolong ingat ini baik-baik Daisy.
Kamu sebenarnya sangat normal. Untuk orang yang tidak terbiasa bertarung sejak kecil atau terjun ke medan pertempuran, melihat pemandangan dimana orang-orang kuat atau monster mengerikan bertarung membuat mereka ketakutan. Itu adalah hal yang normal.
Sebenarnya kamu sendiri memiliki bakat baik dalam membuat ramuan dan itu sangat membantuku. Selain itu, bakatmu dalam bertarung dan mempelajari sesuatu sudah baik, bahkan melebihi banyak orang.
Jangan bandingkan kamu dengan Aster karena dia sedikit berbeda. Aster tidak sama sepertimu. Jujur saja, dia memiliki bakat baik ... bahkan bisa dibilang ditakdirkan untuk menjadi pejuang. Namun Aster bukan tanpa kelemahan. Dia juga sangat buruk dalam membedakan ramuan dan cara mengolahnya.
Semua orang memiliki bakat mereka masing-masing. Namun aku harus mengingatkan kalian. Bakat sendiri bisa menentukan garis start dimana mulai lebih mudah dibandingkan dengan orang lain, tetapi tidak bisa menentukan batas akhirnya.
Apakah semua hunter level tinggi itu berbakat? Belum tentu. Sebagian dari mereka adalah orang yang memperjuangkan semuanya. Meski lebih lama dan jalannya juga terjal, mereka bisa sampai di sana (level tinggi).
Sebaliknya, ada juga banyak orang berbakat mati lebih awal karena kesombongan mereka.
Jadi aku akan memperingatkan kalian berdua. Bakat sama sekali tidak menentukan semuanya. Jangan berkecil hati jika bakat buruk, bekerja lebih keras. Jangan sombong jika bakat baik, berhati-hati dan jangan malas jika tidak ingin mati.
Apakah kalian mengerti?”
Penjelasan Alexander membuat kedua wanita itu merenung. Ekspresi mereka menjadi lebih rileks, lalu menjadi serius dan penuh tekad. Mereka tahu apa yang Alexander maksud, jadi mereka berdua mengangguk dan memjawab serempak.
“Baik Tuan!”
---
Malam harinya.
Di malam dengan bulan dan bintang yang menggantung di langit, empat orang berjalan dari lingkaran 4 ke lingkaran 5. Karena belum lama ini kembali dari perburuan, orang-orang itu ingin bersantai untuk menghabiskan malam mereka.
Baru saja melewati sebuah gang, mereka melihat sosok berjubah abu-abu gelap bersandar pada sebuah tiang. Di bawah lentera merah yang menyinari area sekitarnya.
Melihat itu, ekspresi mereka berempat menjadi lebih serius. Mereka langsung mengeluarkan senjata dan siap bertarung.
Saat itu juga, sosok berjubah abu-abu gelap tersebut juga merasakan tatapan mereka. Orang itu menatap ke arah mereka, lalu membuka tudung yang menutupi kepalanya. Identitasnya adalah seorang pemuda yang terlihat tampan tetapi juga cukup dingin.
Pemuda itu sedikit mengangkat bibirnya lalu berkata pada keempat orang yang terkejut.
“Sudah cukup lama, Claude.”
__ADS_1
>> Bersambung.