
Setelah menghabiskan waktu dengan minum anggur bersama Gery, Alexander akhirnya pergi ketika hari masih gelap.
Alih-alih pergi ke lingkaran 4 dimana dia tinggal, pemuda itu malah pergi ke lingaran 6. Ada alasan kenapa dia pergi lebih awal. Itu juga sebuah alasan yang membuat Alexander cukup tertarik. Lagipula, dia sudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Jadi tidak masalah jika pergi lebih awal.
Di sebuah gang sepi dan gelap lingkaran 6, Alexander menatap pemandangan yang menarik.
Tampak enam atau tujuh orang mengelilingi satu orang. Masalahnya, yang mereka kelilingi bukan wanita cantik, tetapi pria muda yang terluka. Lebih tepatnya, Samuel yang sedang bertarung dengan Kim di arena bawah tanah.
“Dua orang hunter level 1 dan 5 orang magang mengelilingi magang hunter yang terluka, sungguh pemandangan yang memalukan.”
Mendengar suara itu, delapan orang termasuk Samuel menoleh bersamaan. Dari gang yang gelap dan sepi, tampak sosok berjubah hitam muncul entah dari mana. Apa yang membuatnya lebih misterius adalah topeng satu mata, dimana menunjukkan mata merah yang tampak mengintimidasi.
“Siapa kamu? Pergilah jika tidak memiliki urusan!” teriak salah satu orang.
Mendengar teriakan itu, Alexander sama sekali tidak marah. Meski tidak sama, tetapi dia sudah beberapa kali melihat hal semacam itu.
Orang-orang yang datang adalah beberapa orang yang tidak terima atas kekalahan mereka. Orang-orang itu menempatkan kekayaan mereka untuk berjudi. Mereka berharap menang banyak, tetapi akhirnya kalah.
Kebanyakan tidak melakukan hal-hal konyol setelah kalah. Namun, sebagian dari mereka merasa tidak terima dan putus asa karena telah kehilangan semua uang mereka. Lalu, mereka datang kepada orang yang sebenarnya tidak terkait untuk meminta pertanggung jawaban.
‘Sungguh tingkah laku bodoh dan tidak masuk akal.’
Alexander benar-benar mengabaikan ancaman mereka. Sebaliknya, pemuda itu malah bertepuk tangan dengan ringan. Tampaknya sedang memuji keberanian orang-orang di sisi lain.
“Maaf saja, tapi aku memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan dengan pria itu.”
Mendengar ucapan Alexander, orang-orang itu langsung menjadi ragu. Pada saat itu, salah satu dari mereka bertanya, “Kamu juga datang untuk menagih?”
“...”
Melihat Alexander diam saja, orang itu melanjutkan.
“Sudah terlalu banyak orang di sini. Bahkan jika bocah ini mendapatkan semua kekayaan Kim, tetapi itu masih dipotong pajak pengelola arena bawah tanah.
Kim bukan orang kaya. Hanya sedikit keuntungan yang bisa dibagi. Jadi lebih baik kamu tidak banyak berpikir.”
Alexander langsung menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan pria itu. Sembari terus berjalan mendekat, dia membalas, “Aku tidak datang untuk barang-barangnya. Aku datang untuk orang itu.”
“Apakah kamu kenalan Kim? Ingin membalaskan dendamnya?” tanya salah satu pria.
“Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak mengenal Kim.” Alexander menggelengkan kepalanya. “Aku ingin melakukan bisnis dengan pria yang kalian kepung. Jadi aku memberi saran ramah. Sebaiknya kalian pergi, dan kita bisa melupakan perdebatan tidak berguna ini.”
Orang-orang itu tampak ragu. Suara Alexander terdengar tenang, tetapi juga mengandung rasa percaya diri. Hal tersebut membuat mereka tidak yakin apakah harus mundur atau tidak.
“Kalian semua tidak perlu ragu! Kita sudah kehilangan semua uang. Jika tidak mendapatkannya, maka kehidupan kita akan sengsara!” teriak salah satu hunter level 1.
“Menarik ...” Alexander mengangguk ringan. “Kalau begitu aku akan memberi waktu satu menit. Aku mempersilahkan siapa saja yang ingin pergi dalam waktu ini.”
“Kelilingi dia!”
__ADS_1
Walaupun orang-orang itu ragu, pada akhirnya mereka masih mengelilingi Alexander. Sementara itu, pemuda tersebut menghitung mundur dalam hati sampai 60.
Pada saat melihat tujuh orang itu mengelilinginya, Alexander tampak tenang. Dia merasakan Samuel menatapnya dengan ekspresi ragu. Karena sudah tidak dikelilingi, pria itu merasa ragu apakah harus melarikan diri atau tinggal. Masalahnya, fisiknya semakin memburuk.
“Sayang sekali, padahal aku ingin mengirim kalian kembali tanpa terluka.”
Setelah mengatakan itu, Alexander mencabut pedangnya sambil terus bergmam dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya.
“Serang dia!” teriak salah satu orang.
Ketika teriakan itu terdengar, tujuh orang langsung bergegas ke arah Alexander dengan ganas.
Pemuda itu juga tidak diam. Dia langsung menanggapi serangan demi serangan dengan mudah.
Swoosh!
Dalam waktu kurang dari lima menit, orang-orang yang menyerang Alexander telah dijatuhkan. Melihat bagaimana cepat dan tepatnya pemuda itu bertarung, Samuel bahkan tampak terpesona.
Alexander melihat tujuh orang yang berbaring di tanah lalu berkata datar.
“Tidak ada lain kali. Pergi sekarang juga!”
Mendengar ucapan Alexander, orang-orang itu langsung bangkit. Mereka mengabaikan luka di perut dan senjata yang dihancurkan. Orang-orang itu melarikan diri dengan ekspresi ketakutan di wajah mereka.
Saat itu juga, Alexander bergerak cepat menuju salah satu hunter level 1 yang mencoba lari. Tanpa sedikitpun keraguan, dia langsung memenggal leher pria tersebut.
Alexander menyarungkan kembali pedangnya. Alasan kenapa dia mengincar hunter tersebut karena tidak hanya melakukan provokasi, tetapi juga menatapnya penuh kebencian sebelum melarikan diri.
Pemuda itu peka terhadap tatapan seperti itu. Walau hunter level 1 bukanlah lawannya, tetapi membiarkannya lari akan menjadi faktor tidak stabil. Bisa menjadi masalah merepotkan di lain hari.
Sedangkan sisanya, Alexander melepaskan para pengecut itu. Bukan hanya karena mereka hanya berani menggertak yang lembut dan takut yang keras, tetapi karena orang-orang itu juga akan menyebarkan namanya. Biarkan banyak orang lain tahu kalau ‘V’ bukanlah orang yang mudah diganggu.
“Siapa kamu?” tanya Samuel dengan ekspresi waspada di wajahnya.
“Kamu bisa memanggilku V.”
“V?” gumam Samuel dengan alis berkerut.
Menyadari kalau Samuel sedang mencoba mencari informasi tentangnya, Alexander menggelengkan kepalanya. Pemuda itu akhirnya mengingatkan dengan ramah.
“Tidak perlu mencoba mengingatnya. Bahkan jika kamu mencoba mencari dalam ingatanmu tentang orang-orang terkenal di Shelter 11, aku tidak akan ada di antara mereka.”
“Kamu ...” Samuel tampak semakin waspada. “Apa yang kamu inginkan dariku?”
“Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku ingin membicarakan bisnis denganmu. Namun, tampaknya lukamu perlu segera diobati. Juga, fajar akan segera tiba ...”
Alexander menatap langit yang masih gelap beberapa saat lalu kembali menatap ke arah Samuel.
“Jika kamu tertarik dengan bisnis yang aku katakan, datanglah ke Golden Wheat tiga hari kemudian setelah matahari tenggelam.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Alexander langsung pergi tanpa menunggu respon Samuel. Membiarkan pria itu terpana di tempatnya tanpa sempat membalas uncapannya.
---
Tiga hari kemudian, dalam bar Golden Wheat.
“Aku tidak menyangka kalau kamu masih bisa bertarung, V.”
Gery yang duduk di seberang meja menatap Alexander dengan senyum ramah di wajahnya. Dalam tiga hari ini, berita tentang pemuda itu telah menyebar dari mulut ke mulut.
“Aku tidak pernah bilang aku tidak bisa bertarung,” ucap Alexander datar.
“Omong-omong, kenapa kamu tidak membunuh mereka semua?” tanya Gery penasaran.
“Jangan menggodaku dan menganggap aku bodoh, Gery. Kamu sendiri tahu alasannya.
Jika orang itu tidak menaruh dendam dan mencoba membalas, aku juga akan melepaskannya. Jika tidak terpaksa, aku tidak akan repot-repot membunuh. Lagipula ... aku tidak ingin bisnis yang aku lakukan terus ditatap Blood Cross.”
Mendengar jawaban Alexander, Gery bertepuk tangan dengan senyum puas di wajahnya.
“Pintar! Bahkan jika kamu tidak akan dituntut karena membunuh beberapa orang seperti itu, tetapi Blood Cross akan menandai lalu menganggapmu sebagai variabel berbahaya. Membunuh satu atau dua masih aman, dan kamu tidak akan ditatap karena mereka merasa dirimu masih memiliki takaran.
Jika ada orang gila yang bertarung, merampok, dan terus membuat kekacauan ... tentu saja Blood Cross akan membersihkan mereka.
Tempat ini memang hitam, tetapi masih ada batasan tentang kebebasan yang bisa dilakukan. Jika terlalu menyimpang, memang harus diluruskan.
Omong-omong, aku dengar kamu ingin melakukan bisnis dengan pendatang baru itu. Apakah kamu optimis dengannya? Tampaknya dia tidak datang, kan?”
“Dia akan datang.” Alexander berkata santai. “Bagaimana denganmu, apakah sudah menemukan orang yang cocok?”
“Hampir, tetapi perlu melakukan pendekatan lain untuk memeriksa. Beri aku waktu lebih lama. Setidaknya dua minggu.”
“Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata masih bisa diandalkan,” balas Alexander.
Awalnya pemuda itu berpikir perlu waktu hampir satu bulan untuk mencari jalur memasukkan dan mengeluarkan barang. Namun, Gery melakukan tugasnya dengan baik. Tampaknya pria itu cukup memprioritaskan dirinya.
“Hey! Kata-katamu membuat hatiku terluka, V. Bukankah kita rekan berbisnis yang hebar?” balas Gery dengan senyum main-main di wajahnya.
“Terserah apa katamu.” Alexander mengangkat bahu.
“Jika boleh tahu, kenapa kamu mencari Samuel? Dia bahkan belum menyandang nama hunter. Selain itu, keterampilannya biasa-biasa saja. Aku tidak bisa tidur nyenyak ketika memikirkan apa yang kamu inginkan darinya.”
Mendengar kata-kata Gery, Alexander menggeleng ringan. Pemuda itu tahu kalau Gery memang penasaran. Bukan hanya penasaran, tetapi ingin tahu alasan utama kenapa Alexander mendekati Samuel.
Alexander mengetuk meja dengan jarinya. Setelah membuat Gery menunggu cukup lama, dia akhirnya berkata.
“Aku ingin membuatnya sebagai juru bicara untukku.”
>> Bersambung.
__ADS_1