After Apocalypse

After Apocalypse
Pertemuan Tiga Pemimpin


__ADS_3

Pada saat Alexander mulai menyesuaikan diri, dia tiba-tiba mendengar suara gemerincing. Pria itu langsung menoleh ke sumber suara ... lalu tertegun di tempatnya.


Di tangga menuju lantai dua, sosok Tuan Lenka berjalan menuruni anak tangga. Dia memakai pakaian tebal yang terbuat dari bulu monster tertentu. Paria paruh baya tersebut juga mengenakan pelindung dada, lengan, dan kaki. Selain itu, jubahnya juga terbuat dari bulu monster tertentu. Bisa dibilang ... tubuhnya yang awalnya tegap dan berotot malah tampak semakin besar dan tebal.


Terlebih lagi, Tuan Lenka juga mengenakan cincin emas bertatahkan batu mulia di setiap jari. Dia juga mengenakan gelang dan kalung emas yang tebal. Rasanya ... cukup mencolok dan ‘menyilaukan’ mata Alexander.


Jika penampilan Alexander bisa dibilang cukup simple but elegant, maka penampilan Tuan Lenka bisa dibilang berlebihan. Namun, alih-alih terkesan mewah dan glamor, malah terkesan agak norak. Sama sekali tidak serasi.


“Hahahaha! Sudah aku duga kalau kamu akan mengejutkanku, Temanku. Penampilanmu benar-benar lebih mengagumkan dibandingkan sebelumnya. Mungkin lebih baik jika kamu mau melepas topeng itu,” ucap Tuan Lenka ramah.


“Kamu tahu tidak mungkin aku melakukan itu, Tuan Lenka. Yah, penampilanmu juga ...” Sudut bibir Alexander berkedut. “Terlihat sangat mahal.”


Alexander tidak bisa bilang itu elegan karena kebohongan itu akan membuatnya merasa tidak nyaman. Jadi, dia memilih untuk memuji dengan cara lain. Itu karena ... apa yang dikenakan Tuan Lenka memang terbuat dari beberapa bahan berharga dan cukup langka. Walau tidak terkesan menawan, itu masih bisa digunakan untuk pamer.


“Padahal aku sudah berusaha berpenampilan sesederhana mungkin. Namun kamu memiliki penglihatan yang baik sehingga bisa melihat bahan dari pakaian yang aku kenakan,” ucap Tuan Lenka sebelum menghela napas panjang, pura-pura tertekan.


‘Tidak menonjol? Pakaian itu? Apakah mengatakan hal semacam itu tidak melukai hati nuranimu?’


Alexander tidak bisa tidak mengeluh dalam hati. Meski begitu, dia masih mengangguk sopan dan berkata, “Seperti yang diharapkan dari salah satu hunter top di Shelter 1.”


“Tidak perlu memujiku,” balas Tuan Lenka sambil mengelus dagu, terlihat cukup puas.


Setelah menghampiri Alexander, Tuan Lenka menepuk bahunya dengan ramah. Tampaknya benar-benar memperlakukan orang itu seperti juniornya sendiri.


Alexander sama sekali tidak menolak keramahan pria paruh baya itu. Selagi itu menguntungkan dan tidak terlalu berlebihan, dia tidak keberatan berteman dengan salah satu orang terkuat di Shelter 1. Selain itu, pria tersebut juga semakin mengenal Tuan Lenka dan mengetahui alasan kenapa orang itu baik kepadanya.

__ADS_1


‘Sepertinya bukan hanya para keluarga besar yang menganggap diri mereka sebagai bangsawan, bahkan Tuan Lenka juga menganggap dirinya lebih tinggi daripada hunter-hunter lainnya.’


Alexander menghela napas panjang dalam hatinya. Pemikirkan pria itu sama sekali tidak salah. Alasan kenapa Tuan Lenka baik kepadanya jelas karena menganggapnya dari jenis yang sama. Sosok yang menganggap diri mereka lebih mulia.


“Ikuti aku, Temanku. Aku akan mengenalkanmu dengan beberapa orang.” Tuan Lenka tersenyum misterius.


Alexander memiringkan kepalanya. Dia sedikit bingung, tetapi segera mengikuti pria paruh baya itu. Baru saja berjalan menuju tempat para tamu berada, banyak orang langsung menoleh dan mengawasi mereka dengan ekspresi bingung di wajah mereka. Jelas merasa ragu karena tidak mengenali Alexander yang mengikuti Tuan Lenka.


Pada saat itu, seorang pria paruh baya berjalan mendekati mereka. Pria tersebut memakai armor berwarna hitam. Rambut coklat bergelombang agak pudar, garis-garis putih mewakili usia tampak di rambutnya. Kumis dan jenggotnya dipotong pendek, terkesan rapi. Wajahnya cukup tampan, tetapi telah mulai dikikis usia. Ekspresinya tampak sangat serius, agak suram dan terkesan sulit diajak bicara.


“Jadi alasan kamu lambat menemui para tamu karena sibuk berdandan? Penampilanmu yang flamboyan itu benar-benar membuat mataku sakit, Len.” Pria paruh baya itu berkata dengan nada dingin.


“...”


Alexander terdiam, tetapi cukup salut kepada pria tersebut karena sudah mau jujur kepada Tuan Lenka. Berbicara apa adanya kalau penampilannya terlalu ‘menyilaukan’ dan membuat mata kurang nyaman.


Ketika mendengar nama itu, ekspresi Alexander menjadi lebih serius. Meski sudah menduga kalau pria paruh baya di depannya sulit diharapi, dia tidak menyangka kalau pria tersebut benar-benar jenis orang yang merepotkan.


Jika orang-orang di Shelter 1 diminta memilih kelompok hunter bebas terkuat di Shelter 1, maka orang-orang itu akan menyebutkan tiga kelompok. Setiap kelompok itu dipimpin oleh hunter level 4 yang kuat, dan memiliki kelebihan masing-masing. Sedangkan hunter bebas paling kuat di Shelter 1, maka orang-orang juga memiliki tiga kandidat yaitu ...


Master Lenka, ketua dari Kelompok Cursed Lambs.


Master Wilson, ketua dari Black Punisher.


Sir Gareth, ketua dari Kelompok Thorns Dragon.

__ADS_1


Dari ketiga kelompok, Alexander lebih menyukai Cursed Lambs karena mereka berada di zona abu-abu. Melakukan kejahatan dan kebaikan, tetapi tidak bersikap munafik. Mereka juga tidak melakukan hal-hal jahat secara berlebihan. Selain karena karakter Tuan Lenka, itu juga alasan kenapa Alexander memilih Cursed Lambs.


Black Punisher sendiri cenderung ke kelompok gelap yang suka melanggar batas. Mereka tidak hanya melakukan banyak kejahatan, tetapi juga menjual banyak hal yang seharusnya tidak dijual ... termasuk budak.


Sedangkan Thorns Dragon, Alexander tidak menyukai ketua kelompoknya. Kelompok itu sendiri sebenarnya juga berada di zona abu-abu (kebanyakan kelompok hunter bebas seperti ini). Namun, pemimpinnya tampaknya memiliki sifat seperti ksatria. Bukan hanya selalu memasang ekspresi suram, tetapi dia juga orang yang keras kepala dan tidak bisa dinasihati.


(Kelompok Nine Gates tidak disebutkan karena mereka beroperasi secara rahasia. Tidak banyak informasi tentang mereka di dunia luar. Hanya terlihat mengincar beberapa hal atau target tertentu dengan alasan yang tidak diketahui.)


Sekarang, orang yang berada tidak jauh di depan Alexander adalah salah satu hunter bebas terkuat di Shelter 1, Sir Gareth.


‘Seperti yang dirumorkan.’


Itulah hal yang terpikir dalam benak Alexander ketika melihat Sir Gareth. Saat itu, sepasang mata zamrud menatapnya. Pria tersebut langsung merasa sedang diawasi oleh seekor binatang buas, tetapi dia jelas tahu kalau yang sedang menatapnya dengan saksama adalah pria paruh baya tak jauh di depannya.


“Aku tidak menyangka kamu berteman dengan pria kejam seperti ini, Len. Aroma darah begitu kuat ... dia jelas bukan orang baik-baik,” ucap Sir Gareth sambil mendekati Alexander.


Alexander hanya diam. Dia tidak bertindak berlebihan. Pria itu juga tidak ketakutan, hanya menatap lelaki paruh baya itu dengan tenang.


Setelah berjalan semakin dekat, Sir Gareth kembali berkata, “Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini, Nak? Orang sepertimu seharusnya bersembunyi dalam kegelapan. Tempat seperti ini sama sekali tidak cocok untukmu.”


“Bukankah itu berarti sama bagi anda, Sir Gareth?” balas Alexander dengan nada santai dan sopan.


Saat itu, suasana tiba-tiba menjadi hening. Sepasang mata zamrud dan mata merah darah saling memandang. Keduanya tampaknya bisa bertarung kapan saja.


Melihat situasi seperti itu, Tuan Lenka hendak bicara. Namun, tiba-tiba suara lain terdengar dan memecahkan keheningan.

__ADS_1


“Hey, hey, hey ... bukankah kalian terlalu asyik sehingga tidak menungguku?”


>> Bersambung.


__ADS_2