After Apocalypse

After Apocalypse
Sebuah Kepercayaan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusannya, Alexander langsung membawa kedua wanita itu kembali ke rumah sewaannya.


Sesampainya di sana, pemuda itu membuka kunci pintu lalu melirik ke arah Daisy dan Aster. Karena sudah memilih untuk membawa mereka, dia tidak lagi mempertahankan ekspresi ramah dan hangat seperti sebelumnya. Dengan ekspresi datar di wajahnya, Alexander memberi isyarat.


“Masuk. Biasakan diri karena mulai sekarang ini juga akan menjadi tempat tinggal kalian.”


Mendengar ucapan Alexander, Daisy dan Aster saling memandang. Keduanya merasa sedikit gugup. Belum lagi, kalung yang mereka pakai sekarang menandakan posisi mereka. Bahkan jika menghadapai sesuatu yang buruk, mereka hanya bisa pasrah karena membuat keputusan yang salah.


Pada saat masuk ke dalam rumah, Daisy dan Aster terkejut. Bukan hanya ruang utamanya lebih luas, tetapi tempat itu juga bersih. Dibandingkan ruangan ini, tempat yang mereka tempati lebih mirip kandang.


Meski begitu, kedua wanita itu juga tahu posisi mereka, mereka tidak akan tidur di atas ranjang tersebut. Dimana mereka akan ditempatkan terserah Alexander. Apabila disuruh tidur di lantai sudut ruangan, mereka harus menerima. Bahkan jika disuruh tidur di luarm mereka tidak berani menolak.


Alexander menutup pintu dan menguncinya. Meski hanya satu lentera menyala, ruangan masih cukup terang. Dia melirik ke arah kedua wanita itu sebentar.


“Duduk saja, aku akan sibuk sebentar. Kalian bisa duduk di mana saja, tetapi jangan sentuh peralatan atau bahan apapun.”


Setelah mengatakan itu, Alexander pergi ke ruang penyimpanan makanan dan bahan-bahan potion. Di ruangan itu, dia menyimpan banyak bahan makanan dan bahan kelas rendah. Itu juga ruangan yang terhubung ke ruang bawah tanah.


Ruangan tersebut tidak terlalu besar, tetapi masih cukup longgar karena dia memisahkan bahan semacam itu dengan bahan membuat senjata atau perlengkapan lain. Namun, hari ini dia harus memindahkan beberapa barang.


Alexander menggeser rak dan membagi ruangan menjadi dua sisi. Satu sisi untuk bahan makanan dan ramuan, sisi lain kosong, tetapi akan digunakan untuk menyimpan peralatan. Sedangkan sisa bahan mentah level satu untuk membuat peralatan akan dibiarkan tetap di ruang sebelumnya.


Pada saat keluar dari ruangan, Alexander melihat Daisy dan Aster duduk di lantai sudut ruangan. Cukup dekat dengan pintu keluar. Meski begitu, tidak ada ekspresi marah atau sedih di wajah mereka. Keduanya hanya menunggu dengan tenang.


“Kenapa kalian duduk di sana?” tanya Alexander datar.


“A-Apakah kami mengganggu pemandangan, Tuan?” balas Daisy dengan ekspresi gugup.


“Ada dua kursi, duduk dan tunggu di sana. Aku akan memindahkan barang-barang terlebih dahulu.”


Tidak menunggu jawaban keduanya, Alexander langsung pergi ke ruangan lain. Dia mengeluarkan belati, pedang, tombak, perisai bundar kecil, tali, dan beberapa peralatan lainnya. Pemuda itu mengabaikan Daisy dan Aster, sibuk memindahkan kotak demi kotak sendirian.


Bukannya Alexander takut mereka kelelahan, tetapi pemuda itu terlalu berhati-hali. Ada beberapa benda agak rentan, jadi pemduda itu tidak ingin orang lain asal memegangnya. Bahkan Aurora yang sudah cukup lama kenal dengannya ditolak, membuat gadis itu berkata kalau dia terlalu pelit.


Aurora sempat berdebat, tetapi akhirnya dihantam sampai pusing oleh kata-kata pemuda itu.


‘Bagaimana jika kamu merusaknya? Harganya ratusan poin kontribusi! Kamu mau membayarnya?’


‘Bagaimana jika kamu meledakkannya? Asap itu bau dan tetap membuat keracunan jika dihirup terlalu lama! Kamu mau membayarnya?’


‘Bagaimana jika kamu menghancurkannya? Itu salah satu koleksi racun kuat milikku dan kamu bisa mati karenanya. Jika kamu mati, bagaimana aku bisa menagihnya?’


Kalimat ‘mau membayar?’ tanpa peduli hidup matinya membuat Aurora naik pitam. Dia benar-benar dikalahkan habis-habisan oleh Alexander. Jadi ketika berkunjung, wanita itu akan duduk dengan patuh tanpa mencoba menyentuh ini dan itu.


Setelah memindahkan barang dan membersihkan ruangan, Alexander mengangguk puas.

__ADS_1


“Meski ada beberapa kotak dan rak berisi bahan untuk membuat item, tetapi masih ada cukup ruang luas untuk ranjang. Mereka bisa tidur di sini,” gumam pemuda itu.


Setelah itu, Alexander keluar dari ruangan. Melihat ke arah Daisy dan Aster yang menunggu dengan patuh tetapi terlihat gugup, dia menghela napas panjang. Beberapa saat mempertimbangkan semuanya, pemuda itu berkata.


“Karena aku belum mempersiapkan tempat tidur, malam ini kalian tidur di ranjang.”


Mendengar ucapan Alexander, kedua wanita itu saling memandang. Mengalihkan pandangannya ke arah tuan mereka, keduanya menjawab, “Baik, Tuan.”


Alexander mengangguk ringan lalu pergi ke ruang penyimpanan. Setelah mengunci pintu, dia turun ke ruang bawah tanah.


Pemuda itu kemudian meletakkan lumut-lumut bercahaya sebagai penerangan lalu duduk di kursinya. Melihat bahan-bahan yang tertata rapi tetapi tidak banyak, pemuda itu mulai bergumam pelan.


“Sungguh? Apakah aku meletakkan kuda di depan kereta? Ini bukan langkah yang salah kan? Bagaimana jika mereka menghambatku? Beri saja makanan dan suruh mereka bersih-bersih? Itu bisa dilakukan tetapi agak sia-sia.


Aku bisa melakukan cara itu, tetapi ... biayanya cukup besar untuk ditanggung hunter level 1. Namun, jika tidak melakukannya, kesetiaan mereka menjadi tidak pasti. Ada kemungkinan mereka akan berkhianat.”


Alexander mengelus dagu sambil terus mempertimbangkan semuanya. Setelah hampir satu jam, pemuda itu akhirnya membuat keputusan. Sambil menggertakkan gigi, dia mengeluarkan bahan meramu pil yang hampir seharga bahan ramuan evolusi level 2.


Alexander telah mengumpulkan dan mengawetkan bahan-bahan kering tersebut untuk digunakan ketika dia menembus level 3. Hanya saja, dia tidak menyangka kalau akan menggunakannya begitu awal.


Setelah sibuk menimbang, menyaring, merebus, dan mencampur berbagai bahan kurang lebih satu jam, tampak dua butir pil seukuran kelereng berwarna ungu. Benar-benar tampak indah dan cantik, bahkan berbau harum.


Meski terlihat indah, itu adalah dua pil racun.


“Dibandingkan denganku, kamu lebih naif, Kakak Bodoh. Jika kamu memaksanya untuk meminum pil racun, semuanya tidak akan berakhir seperti ini.”


Menggelengkan kepalanya, Alexander mengambil kedua pil tersebut lalu keluar dari ruang bawah tanah. Dia menutup pintu ke ruang bawah tanah, kemudian baru keluar dari ruang penyimpanan bahan makanan.


Pada saat keluar, pemuda itu tertegun di tempatnya sejenak.


Alexander menatap kedua wanita yang berbaring di tempat tidurnya. Masalahnya, Daisy dan Aster melepas semuanya, hanya menutupi sebagian tubuh mereka dengan selimut. Melihat dua sosok cantik yang tampak pucat dan kedinginan karena menunggu terlalu lama, dia tidak bisa tidak berkata.


“Apakah kalian berdua bodoh?” tanya Alexander.


Kalimat pertama yang keluar dari mulut pemuda itu membuat Daisy dan Aster tertegun di tempat mereka. Keduanya merasa agak malu dan bingung. Lagipula, baru kali ini status mereka diturunkan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.


“Kenakan pakaian kalian. Aku benar-benar sedang tidak mood memikirkan hal-hal semacam itu.”


Mendengar ucapan Alexander, kedua wanita itu mengangguk.


“Baik, Tuan.”


Alexander duduk di kursi. Dia sama sekali tidak berbalik dan menonton dengan tenang. Mengabaikan kedua wanita yang terlihat malu, pemuda itu masih menonton dengan ekspresi datar di wajahnya. Meski merasa agak panas, tetapi dia berhasil menekannya.


Beberapa saat kemudian, Daisy dan Aster yang sudah berpakaian duduk di tepi ranjang sambil menunggu perintah Alexander.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menenangkan diri, Alexander bertanya, “Apakah kalian menyesalinya?”


“Tidak, Tuan. Kami sama sekali tidak menyesali pilihan ini,” ucap Daisy tegas.


Wanita itu tahu kalau Alexander masih tidak terlalu puas dengan mereka. Dengan status mereka saat ini, membuat marah pemuda itu berarti meminta kematian. Jadi dia langsung berinisiatif menjawab semuanya dengan baik dan patuh.


Melihat reaksi kedua wanita itu, Alexander menggeleng ringan.


“Bahkan jika kalian mematuhi semua ucapanku, aku tidak akan terlalu mempercayai kalian,” ucap Alexander datar.


Perkataan pemuda itu jelas membuat Daisy dan Aster merasa kecewa. Mereka berdua jelas telah memberikan segalanya, tetapi pemuda itu sama sekali tidak mempedulikannya.


“Namun, ada suatu hal yang bisa membuat aku mempercayai kalian.”


Mendengar itu, mata Daisy dan Aster yang awalnya kusam langsung berbinar. Tanpa sedikitpun keraguan, kedua wanita itu berkata serempak.


“Tolong katakan pada kami, Tuan!”


Jawaban mereka membuat Alexander cukup puas. Pemuda itu mengeluarkan pil ungu yang tampak cantik dan beraroma manis. Setelah itu, dia berkata.


“Minum saja pil ini. Jika melakukannya, aku akan mempercayai kalian.”


Daisy dan Aster saling memandang. Dari penampilannya, mereka berpikir kalau pil itu adalah sesuatu yang akan membuat mereka menjadi panas. Hal-hal semacam itu terkadang dijual di Distrik 3, dan sebagai wanita ... terkadang mereka mendengarnya.


Tanpa sedikitpun keraguan, Daisy dan Aster mengambil pil tersebut lalu menelannya.


Hanya saja, alih-alih merasakan tubuhnya panas, kedua wanita itu tiba-tiba runtuh ke lantai sambil mencengkeram dada mereka dengan ekspresi sangat menyakitkan. Keringat dingin membasahi tubuh mereka, dan mereka terus gemetaran.


Setelah beberapa waktu, sensasi sakit itu benar-benar hilang dan kedua wanita itu berbaring di lantai dengan ekspresi lega.


Saat itu juga, suara datar Alexander terdengar di telinga mereka.


“Sungguh gadis kecil yang patuh. Aku cukup menyukai ketegasan kalian.


Itu adalah pil racun. Hanya sakit di awal, tetapi mengakar dalam tubuh kalian. Jika tidak minum ramuan yang aku racik dalam waktu satu bulan, racun itu akan membuat tubuh kalian merasakan kesakitan. Beberapa kali lebih menyakitkan dari ini, bahkan berujung kematian.


Itu berarti, aku bisa membiarkan kalian tersiksa sebelum kematian. Selain itu, jika aku mati, kalian juga akan mati satu bulan kemudian. Bahkan jika mencoba melarikan diri, aku pikir kalian tidak akan menemukan penawarnya.


Jadi, sekarang hidup kalian benar-benar terikat padaku.”


Setelah mendengar itu, kedua wanita tersebut mendongak ke arah Alexander hanya untuk melihat sepasang mata yang mengawasi kalian. Bukan mata yang dipenuhi keinginan atau kebencian ...


Tetapi sepasang mata yang penuh dengan rasa ketidakpedulian.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2