
“Ayo pergi menemui Melissa!”
Mendengar ucapan Claude, para penjaga tampak muram. Mereka merasa kalau sedang diabaikan. Bahkan keberadaannya tidak dianggap oleh pria itu.
Pengabaian itu seperti menginjak martabat mereka sebagai petugas hukum, jadi sudah sewajarnya mereka marah.
“Uhuk! Uhuk!”
Melihat situasi yang menjadi semakin berantakan membuat Alexander langsung pura-pura batuk. Pada saat perhatian semua orang mengarah kepadanya, barulah pemuda itu menjelaskan dengan nada canggung.
“Tolong jangan marah. Sepertinya Claude hanya mengkhawatirkan kondisi Nona Melissa. Menurut pendapatku, datang ke lokasi kejadian bisa menjadi solusi. Bukan hanya untuk memeriksa bukti ketidakbersalahan Claude, tetapi bisa juga untuk menemukan petunjuk lain.
Maksudku ... bisa saja orang lain memanfaatkan keadaan ini untuk menjebak Claude kan? Misalnya dilakukan oleh musuh orang ini. Sengaja membuatnya menjadi penjahat agar bisa ditangkap lalu dihakimi.”
Penjelasan Alexander membuat banyak orang mengangguk. Saat itu juga kapten berkata, “Cukup masuk akal.”
Jawaban positif dari pria paruh baya itu membuat Alexander menghela napas lega. Tampaknya dia bisa angkat kaki dari masalah ini. Lagipula, dia sudah memiliki banyak tugas dan tidak ingin membuang lebih banyak waktu untuk ‘hal tidak penting’ semacam itu.
“Kalau begitu kita akan pergi menuju ke tempat kejadian!” ucap kapten.
“Ya, Pak!” teriak para penjaga serempak.
Melihat orang-orang itu pergi bersama Claude dan ketiga anteknya membuat Alexander lega. Hanya saja, baru saja beberapa langkah berjalan, suara Claude terdengar di telinganya.
“Ikutlah bersama kami Al, otakmu pasti sangat berguna dalam menangani hal semacam ini!”
“...”
Alexander tertegun di tempatnya. Pada saat melihat kapten mengangguk ringan karena tampak tertarik kepadanya, pemuda itu langsung mengeluh dalam hati.
‘Bukankah aku sudah membelamu, Sobat? Apa kamu punya dendam padaku?’
‘Jelas aku sudah membantu, tetapi kamu masih saja mencoba menyeretku!’
‘Dasar Bocah K-parat!’
Dengan berbagai keluhan dalam hatinya, Alexander akhirnya mengikuti rombongan sambil menghela napas panjang.
Sekitar dua jam kemudian.
Alexander menatap ke arah lokasi kejadian yang dimana banyak penjaga mondar-mandir. Melihat orang-orang yang tampak begitu sibuk, pemuda itu merasa bingung kenapa harus datang ke tempat itu. Lagipula ...
Semua itu tidak ada hubungannya dengan dirinya!
“Apakah kamu menemukan sesuatu Sobat?” tanya Claude.
“...” Alexander melirik ke arah Claude dalam diam.
“Apakah ada yang salah? Katakan saja, Kawan!”
“Apakah kamu pikir aku ini dewa atau semacamnya?” ucap Alexander datar.
__ADS_1
“Maksudmu?” Claude tampak bingung.
Alexander menunjuk ke arah tempat mereka berdiri, lalu ke rumah di mana kedua korban terbunuh. Melihat ekspresi kebingungan di wajah Claude, pemuda itu langsung mengeluh.
“Kita jelas hanya bisa melihat dari kejauhan karena larangan memasuki tempat kejadian perkara. Dari sini, kita jelas tidak bisa mengetahui apa-apa. Percuma saja, lebih baik aku kembali.”
“Eh?” Claude terkejut. Dengan senyum minta maaf, dia buru-buru berkata, “Maaf Al, aku pikir kita boleh memeriksanya.”
“...”
Alexander memutar bola matanya. Sejak awal dia cukup yakin kalau mereka tidak akan bisa masuk ke tempat kejadian. Lagipula, mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan korban. Bukan teman dekat, keluarga, atau semacamnya. Mereka berlima lebih mirip dengan penonton.
Lebih tepatnya, empat orang yang dituduh sebagai tersangka dan satu orang saksi mata.
“Jika membiarkan kalian masuk, apakah kalian bisa menjamin kalau kalian akan menemukan petunjuk?”
Suara lembut tiba-tiba terdengar dari belakang. Pada saat menoleh ke sumber suara, Alexander sempat terkejut ketika melihat sosok yang sedang berjalan dari kejauhan.
Rambut berwarna coklat yang panjang dan bergelombang tergerai sampai tengah punggung. Kulitnya putih, sedikit pucat tetapi terlihat kencang dan sangat sehat. Parasnya tampak begitu cantik, tetapi ada yang membuat Alexander lebih tertarik.
Mata. Ya ... wanita itu memiliki mata seindah emerald yang melengkapi kecantikannya.
Saat itu juga, wanita tersebut juga menatap Alexander. Tampaknya juga terkejut melihat seorang pemuda tampan yang seolah dikelilingi aura misterius.
“Melissa!”
Claude berseru dengan ekspresi penuh kejutan di wajahnya. Dia buru-buru berlari menghampirinya, membuat wanita itu terbangun dari lamunannya.
“Kapan kamu datang Claude?” tanya wanita itu dengan senyum lembut di wajahnya.
“Belum lama!” Claude menyeringai dengan ekspresi malu-malu.
“Apakah mereka mencurigaimu? Maaf jika orang-orang itu merepotkanmu, Claude.”
“Tidak! Sama sekali tidak masalah. Hal semacam ini sudah wajar, jadi tidak perlu terlalu dipikirkan.” Claude menggaruk belakang kepalanya dengan senyum bahagia di wajahnya.
Alexander melihat ke arah Claude dengan ekspresi heran. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pria romantis yang biasanya sering menggoda wanita bisa tersipu seperti itu. Hanya saja, hubungan mereka tampaknya berbeda dari apa yang dia bayangkan.
‘Sepertinya Claude memang menyukai wanita bernama Melissa. Namun ... kenapa aku merasa kalau wanita ini memiliki masalah?’
Alexander mengerutkan keningnya. Pemuda itu merasa agak tidak nyaman ketika Melissa tadi menatapnya. Belum lagi, wanita itu sendiri adalah hunter level 2. Tampaknya tidak terlalu mencolok, tetapi itu juga menjadi salah satu alasan kenapa dia menjadi curiga.
“Kenapa kamu tidak memperkenalkannya kepadaku Claude?” tanya Melissa.
“Bukankah kamu sudah-“ Claude tampak terkejut. “Ah! Ini adalah Alexander, teman sekaligus rivalku yang berasal dari Shelter 101. Ini Melissa, Al! Wanita yang aku ceritakan sebelumnya.”
“Namaku Melissa, salam kenal.”
Melissa menyapa ramah sambil mengulurkan tangannya. Tindakannya tampak begitu alami, menunjukkan kalau dia berbeda dengan kebanyakan para petinggi yang jijik dengan pengungsi atau mewaspadai hunter bebas. Wanita itu tampaknya melihat semua orang setara. Sebuah tindakan yang membuat Alexander terkejut.
Pemuda itu meraih tangan Melissa, mengguncangnya ringan sambil berkata, “Alexander.”
Melissa menatap Alexander yang langsung melepaskan tangannya dengan ekspresi penasaran. Biasanya laki-laki sangat suka berada di sekitarnya dan memperlakukannya dengan sangat sopan karena latar belakang dan kecantikannya. Sedangkan pemuda itu tampak begitu dingin. Bukan jenis yang membenci, tetapi tampaknya terlalu tak acuh dan sama sekali tidak peduli.
__ADS_1
“Tampaknya kali ini kamu kalah dari rivalmu, Claude. Alexander ini sekarang hunter level 2, jadi kamu masih belum menyusulnya.” Melissa menatap Claude dengan senyum ramah di wajahnya.
“Aku benar-benar tidak menyangka kalau dia melakukannya dengan sangat baik. Sepertinya dia sama sekali tidak pernah mengendur bahkan setelah pergi dari Shelter 101,” balas Claude sambil menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi malu.
“Ah! Aku hampir melupakannya.” Melissa terkikik. “Apakah kalian benar-benar pandai menemukan petunjuk? Aku akan membawa kalian masuk. Mungkin kalian bisa membantu.”
“Tenang saja, kami pasti membantu!” balas Claude sambil menepuk dadanya dengan ekspresi penuh percaya diri.
“...”
Alexander tidak mengatakan apa-apa. Pemuda itu hanya mengikuti mereka karena terpaksa. Lagipula, dia adalah saksi mata yang tidak bisa pergi karena diseret oleh orang yang dianggap temannya sendiri.
Sekitar satu jam berkeliling, Claude, Ronn, Kid, dan Jimmy tampak bingung. Mungkin karena tubuh korban sudah dibawa pergi, mereka sama sekali tidak bisa melihat apa-apa.
Sedangkan Alexander ... pemuda itu terdiam karena merasa aneh.
“Apakah kamu menemukan petunjuk?” tanya Melissa sambil memiringkan kepalanya.
Alexander melirik ke arah wanita itu sebentar. Dia kemudian menujuk ke arah beberapa bekas jejak samar.
“Ini seharusnya bekas jejak kaki. Karena melompati pagar dan jalan di samping rumah sering dilewati, sulit untuk melacaknya.”
“Penyelidik juga mengatakan itu padaku.” Melissa mengangguk. “Apakah ada yang aneh?”
“Kamu bisa melihat bekas jejaknya. Langkahnya sangat tepat dan sama sekali tidak ada pemberhentian atau pengulangan langkah.” Alexander menunjuk ke bekas kaki yang menuju ke kamar korban tinggal. “Tempat ini luas dan merupakan area pemukiman petinggi Shelter 11.”
“Maksudmu?” Melissa mengangkat alisnya.
“Mengetahui kamar dimana korban berada tanpa sedikitpun kekeliruan berarti orang itu pernah datang ke tempat ini sebelumnya. Bisa dianggap sebagai pembunuh yang sangat profesional dan telah melakukan hal semacam ini, tetapi ...
Bisa juga dianggap kalau pelakunya pernah datang dan cukup akrab dengan tempat ini.”
“Apakah maksudmu yang melakukan ini adalah orang-orang dari Blood Cross, bahkan bisa menjadi sepupu atau keluargaku sendiri?” tanya Melissa dengan ekspresi terkejut.
“Aku tidak tahu. Itu hanya kemungkinan.”
Sembari mengatakan itu, Alexander menatap bekas darah dalam ruangan. Melihat ke arah bentuk tebasan di dinding, pemuda itu merasa tidak nyaman karena ...
Rasanya cukup familiar.
Sementara itu, dalam sebuah gubuk kecil di lingkaran enam.
Dalam ruangan yang cukup sempit, sebuah lentera dinyalakan untuk menerangi ruangan yang gelap meski siang hari.
Di atas tempat tidur tua, tampak sosok wanita berpakaian serba hitam yang sedang membersihkan wajahnya dengan kain yang direndam air.
Wanita itu memiliki rambut pirang panjang. Wajahnya tampak cantik, tetapi terlihat pucat. Dia memiliki mata bak rubi yang tampak mempesona. Hanya saja ...
Terdapat bekas luka yang sedikit merusak kecantikannya.
>> Bersambung.
__ADS_1