
Sekitar satu bulan kemudian.
Malam hari, di suatu tempat tidak terlalu jauh dari Shelter 11.
DING!
Suara dentingan logam ketika berbenturan menggema di sekitar hutan. Di sebuah tanah lapang tandus yang dikelilingi pepohonan dan beberapa semak belukar, tampak empat orang yang sedang bertarung.
SWOOSH! BANG!
Sebuah pedang terangkat tinggi, lalu udara di sekitarnya berkumpul menyelimuti pedang. Kemudian, pedang berayun dengan cepat, menabarak dan menghempaskan lawannya belasan meter.
“Kamu benar-benar tidak menahan diri, Alexander.”
Dihempaskan belasan meter, Aurora meludahkan sesuap darah lalu menatap ke arah Alexander dengan ekspresi rumit. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu sebenarnya adalah pemilik kemampuan telekinesis yang sangat langka. Namun informasi tersebut membuat wanita itu mengerti kenapa dulu mereka bisa selamat ketika mencari miracle root kedua.
Jelas, bukan hanya mampu mendapatkan miracle root sendiri, tetapi Alexander telah membantunya melawan laba-laba hitam bermutasi yang sangat berbahaya.
Mengingat kebaikan itu membuat Aurora menghela napas dalam hatinya. Wanita itu merasa kalau dirinya telah membuat pilihan yang tepat. Walau terlihat dingin dipermukaan, setidaknya pemuda itu masih memperlakukannya dengan cukup baik. Terlebih lagi, orang itu tidak pernah mengingkari janjinya.
Banyak hal terjadi dalam satu bulan ini.
Pertama-tama, berita tentang misi dari pihak atas menyebar. Hal itu membuat kegemparan Shelter 11. Bukan hanya gempar, bahkan situasi sempat menjadi kacau. Hanya saja, semuanya mulai memudar setelah beberapa saat. Lagipula, tidak ada tindak lanjut, jadi orang-orang menganggapnya sebagai rumor belaka.
Hal tersebut juga membuat Aurora, Daisy, dan Aster sempat ragu. Namun, mereka tidak banyak berkomentar dan menuruti Alexander. Lagipula, pemuda itu tampak sangat yakin.
Walau tidak tahu bagaimana mendapatkan berita tersebut, tetapi mereka masih memilih untuk mempercayainya.
“Aku masih menahan diri.”
Ucapan datar dan jujur memecahkan kesunyian. Di tengah tanah lapang yang luas, Alexander berdiri dengan ekspresi datar. Tampak beberapa luka ringan di tubuhnya. Selain mata merah, dia menggunakan keterampilan pedang dan telekinesis untuk menghadapi ketiganya.
Alexander tidak menggunakan kemampuan terbang, racun, dan ledakan kecepatan. Meski begitu, ketiga wanita tersebut masih sangat kesulitan untuk mengimbanginya. Lagipula, dua di antaranya adalah hunter level 1 dan Aurora sendiri belum meminum ramuan evolusi lagi, jadi jauh berada di belakang pemuda itu.
Dalam satu bulan ini, Alexander meminta Aurora, Daisy, dan Aster untuk pergi berlatih dengannya setiap malam. Mereka keluar dari shelter di malam hari dan kembali sebelum fajar. Latihan semacam itu dilakukan setiap hari.
Pada saat orang-orang bersemangat menunggu berita berikutnya, mereka berempat berlatih dengan serius. Pada saat orang-orang melupakan berita itu dan merasa hanya kabar burung, mereka berempat masih berlatih dengan serius. Bahkan tidak mengendur sedikit pun.
__ADS_1
Dalam latihan bertarung, Alexander sama sekali tidak membiarkan ketiga wanita itu berlatih setengah-setengah. Mereka bertiga menggunakan segenap kekuatannya sehingga tahu batasan mereka sendiri.
Pada awalnya, mereka bertarung dengan agak buruk, khususnya Daisy dan Aster yang tidak memiliki pengalaman. Gerakan Aurora juga agak kaku karena terlalu bergantung dengan teknik pedang keluarga tanpa melakukan improvisasi.
Akhir-akhir ini, barulah mereka bertiga bertarung dengan baik. Bukan hanya Daisy dan Aster yang bertarung dan bekerja sama dengan baik, tetapi Aurora juga melakukan improvisasi untuk menambal beberapa bagian gerakan agak kaku yang tidak cocok untuk fisiknya. Lagipula, teknik pedang keluarganya awalnya diperuntukkan untuk laki-laki, jadi masih ada sedikit perubahan halus agar bisa bertarung lebih maksimal.
“Malam masih panjang. Sudahi istirahatnya. Kita akan melanjutkan latihan seperti biasa.”
Alexander menatap ke arah ketiga wanita itu dengan ekspresi datar. Walau terkesan dingin, tetapi itu juga merupakan bentuk kepedulian. Karena tanpa kekuatan, pada akhirnya semuanya menjadi sia-sia.
Pada saat mendengar ucapan Alexander, senyum masam tampak di wajah ketiga itu. Namun, ekspresi tidak berdaya dan rasa lelah tidak membuat mereka mengeluh. Sebaliknya, mereka mengembalikan semangat juang dan berseru serempak.
“BAIK!”
Dengan demikian, latihan mereka pun berlanjut.
Keesokan paginya, dalam sebuah rumah di lingkaran empat dimana para hunter cukup kuat berada.
“Benar-benar membosankan. Jika bukan karena mendapatkan perintah dari atas secara langsung, aku juga akan berpikir kalau berita itu tidak nyata.”
Walaupun Shelter 11 menjadi sedikit lebih ramai dan ingin pergi bersenang-senang, Yona tidak bisa melakukannya karena sang ketua memintanya untuk duduk di tempat. Bahkan bersembunyi agar tidak membuat masalah.
“Bukan hanya tidak membiarkanku bergabung dengan kesenangan, tetapi ketua juga membatasi tindakanku sehingga tidak bisa keluar untuk mencari udara segar. Tidak bisakah mereka lebih mempercayaiku?”
Tok! Tok! Tok!
Pada saat itu, pintu ruangannya diketuk. Mendengar itu, Yona berkata dengan asal-asalan.
“Masuk.”
Setelah Yona berbicara, pintu ruangan terbuka dan seorang wanita yang memakai pakaian khas kelompok Nine Gates masuk ke dalam ruangan. Dia melihat ke arah Yona yang duduk dengan malas, menikmati teh, dan beberapa makanan tetapi tidak menunjukkan sedikitpun rasa iri.
“Lapor Nona! Ada surat dari ketua, mohon diterima.”
Ucapan wanita itu membuat Yona bersemangat. Dia segera bangkit lalu mengambil surat dari wanita itu. Yona langsung membuka dan membacanya. Namun, ekspresinya langsung berubah setelah membaca surat tersebut.
__ADS_1
“Apa? Bukankah seharusnya aku yang memimpin tugasnya? Kenapa wanita itu harus datang lagi? Bukankah dia sibuk menyelesaikan misi baru?”
Ketika mengeluh, Yona mengingat sosok wanita berambut merah. Bukan kecantikannya yang dia ingat, tetapi lekukan dan tonjolan yang terlalu berlebihan. Melihat ke bawah untuk melihat padang rumput yang luas dengan sedikit gelombang, wanita itu menggertakkan gigi.
‘Kumpulan lemak terkutuk itu ... ENYAH!’
Sementara itu, di kediaman Melissa.
Tampak tiga orang di ruang tamu. Dua di antaranya sedang duduk berhadapan dan terakhir berdiri dengan tenang. Mereka adalah Claude, Melissa, dan Jacob.
Melissa dan Claude duduk di kursi, saling berhadapan hanya terpisah oleh meja teh di depan mereka. Sementara itu, Jacob berdiri di belakang Melissa dengan tenang. Pria paruh baya itu memejamkan matanya, tampaknya tidak melakukan hal-hal lain.
Jacob hanya berdiri seperti patung. Jika bukan karena napasnya yang samar, mungkin dia akan dianggap sebagai patung unik atau semacamnya.
“Maafkan saya karena tidak sopan, Claude. Namun, saya benar-benar tidak bisa menundanya.
Seperti yang anda ketahui, situasi keluarga sekarang semakin berantakan. Selain itu, berita yang menyebar sama sekali tidak salah. Kota akan segera mengalami kekacauan, jadi semuanya akan menjadi semakin berantakan.
Meski dibilang sebagai keluarga, tetapi hubungan saya dengan saudara-saudari sama sekali tidak baik. Kami terlahir dari ibu yang sama, tetapi ayah berbeda. Kami juga kehilangan ayah kami. Namun, daripada keluarga, kami semua tumbuh seperti musuh karena mementingkan keselamatan sendiri.
Seperti yang saya ucapkan sebelumnya, saya ingin anda memilih. Sekarang anda adalah hunter bebas, apakah anda mau bergabung dengan kubu saya untuk bertahan melawan saudara-saudari saya?
Jika anda merasa itu berlebihan, mari lupakan percakapan kita ini dan anggap saja tidak pernah terjadi. Mulai sekarang, anda bisa hidup dengan kebebasan anda, dan saya akan berjalan di jalan saya sendiri.”
“Nona Melissa, aku-“
“Tidak apa-apa.” Melissa menggeleng ringan. “Saya mengerti apa yang anda pikirkan.”
“Tidak bisakah aku membantumu seperti biasa? Aku ... aku bisa membantumu dalam hal lain,” ucap Claude.
“Tidak perlu, Claude. Meski anda baik, tetapi ada banyak kemungkinan walau itu kecil dan hampir mustahil. Untuk mencegah hal-hal yang tidak saya inginkan, saya hanya bisa memberi dua pilihan.” Melissa menunduk, menatap ke arah teh yang masih mengepul di meja.
“Kalau begitu ...”
Claude terdiam sejenak. Beberapa kenangan tentang sahabat dan orang-orang yang dia temui dalam perjalanan muncul dalam benaknya. Menarik napas dalam-dalam, pria itu menatap ke arah Melissa.
__ADS_1
“Biarkan aku menjadi ksatriamu. Aku akan membantumu memperjuangkan kursi kepala keluarga dan lolos dari bencana ini!”
>> Bersambung.