After Apocalypse

After Apocalypse
Tanah Kematian


__ADS_3

Sementara itu, di Shelter 11.


Melissa keluar dari kamarnya dengan membawa koper dan kotak besar. Ekspresinya tampak serius, berbeda dengan wajah tenang dan ramah seperti biasanya.


Wanita itu menuruni tangga. Sesampainya di lantai pertama, dia melihat beberapa orang yang juga sedang bersiap. Mereka semua adalah bawahannya. Sama seperti dirinya, orang-orang itu juga memiliki ekspresi serius di wajah mereka.


“Apakah semuanya sudah dipersiapkan?” tanya Melissa.


“Lapor Nona, semuanya telah disiapkan!” jawab mereka sambil memberi hormat.


Berbeda dengan hunter bebas, mereka semua memakai seragam. Lebih tepatnya, seragam para penjaga yang berafilasi dengan Blood Cross.


Ya. Orang-orang itu bukanlah hunter bebas yang Melissa kumpulkan sebelumnya. Mereka adalah penjaga kelas rendah yang ditugaskan oleh ibunya untuk menjadi bawahannya.


Sedangkan untuk hunter bebas sebelumnya, kebanyakan dari mereka memutuskan untuk pensiun. Tampaknya pertempuran sebelumnya dan susulan gelombang binatang buas membuat mereka menerima pukulan keras baik dalam segi fisik dan mental.


Tentu saja ada beberapa pengecualian, contohnya Claude.


“Bagus. Kalau begitu semuanya segera bersiap. Kita akan segera berangkat,” ucap Melissa.


“YA!” jawab mereka serempak.


Setelah mengatakan itu, Melissa keluar dari rumah. Di sana dia langsung disambut pemandangan puluhan orang yang sedang merapikan barang bawaan mereka. Namun pandangannya langsung menuju salah satu orang.


Di tempat Melissa memandang, tampak Claude dan tiga rekannya dari Shelter 101. Tampaknya mereka sedang mendiskusikan sesuatu dengan beberapa prajurit.


Merasakan tatapan Melissa, Claude yang sedang berbicara dengan beberapa orang langsung menoleh. Melihat Melissa sedang mengawasinya, pria itu tersenyum penuh percaya diri.


“Persiapan telah diselesaikan. Kita bisa berangkat kapan saja, Nona Melissa!” ucapnya.


Mendengar perkataan Claude, Melissa juga tersenyum. Dia mengangguk dengan tatapan tegas di matanya.


“Bagus. Kalau begitu kita akan segera berangkat!”


***


Sementara itu, di tempat Alexander dan rekan-rekannya berada.

__ADS_1


“Ini semua ... orang yang terbunuh di musim dingin ini?”


Alexander bergumam dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya. Di depan matanya, tampak tumpukan mayat manusia. Bukan hanya satu atau dua, tetapi ratusan.


Mayat-mayat itu tersebar di bawah tebing. Dari pakaian yang dikenakan, sebagian besar dari mereka adalah pengungsi. Namun, ada satu hal yang membuat Alexander semakin penasaran.


‘Kenapa mayat mereka bisa berada di sini?’


Jika itu pertarungan normal, mereka pasti tidak akan berada di bawah jurang seperti itu. Belum lagi, tubuh mereka tidak dimakan binatang buas. Jadi, kemungkinan besar yang membunuh mereka semua bukanlah gelombang binatang buas.


‘Bunuh diri? Tidak! Seharusnya mereka tidak bunuh diri.’


Alexander berjalan menuju ke tempat mayat-mayat itu berada. Dia kemudian berlutut dan memeriksa kondisi mayat itu. Mengabaikan sebagian tubuh yang membiru dan pucat karena dibekukan, pemuda itu fokus pada beberapa ciri kematian mereka.


“Patah tulang, guncangan pada organ, dan dari ekspresinya ...” Alexander mengerutkan kening. “Panik? Takut?”


Meski semuanya telah menjadi mayat, Alexander melihat jejak ketakutan yang tersisa dari ekspresi mereka. Hal tersebut tidak bisa tidak membuatnya melihat ke arah tebing di depannya.


Shelter 1004.


Berbeda dengan shelter tingkat rendah lainnya, lokasi tempat berlindung itu sangat strategis karena berada di sebuah gua. Gua itu sendiri cukup tertutup dan berada di area tebing yang cukup tinggi. Ditambah tidak ada sumber daya yang baik di sekitar, tempat itu sama sekali tidak ditargetkan monster terbang yang mencari sarang untuk ditinggali.


Jika melihat sekeliling, masih ada sungai dan pepohonan. Hanya saja, pepohonan itu cukup jarang dan sungai tidak terlalu besar. Jadi serangga bermutasi tampaknya juga tidak ada di sini karena lingkungannya dianggap kurang cocok.


“Membuat takut orang-orang sehingga kehilangan akal sehat lalu berlari keluar sampai lupa kalau di luar gua adalah tebing? Jatuh lalu mati karena patah tulang, atau dibekukan sampai mati?”


Alexander menatap ke arah mulut gua yang berada di ketinggian hampir lima puluh meter, lalu matanya menyempit.


“Menarik.”


Alexander bangkit, kemudian melirik ke arah kelima wanita yang bergegas ke arahnya. Saat itu, Aurora yang mendekat bertanya kepadanya.


“Apakah kamu tahu apa yang terjadi di sini, Al?”


“Seharusnya orang-orang ini ditakuti sehingga melarikan diri dan jatuh dari mulut gua,” jawab Alexander datar.


“Melompat dari tebing karena ketakutan? Apakah kamu bercanda?” tanya Aurora heran. Namun ketika melihat ke arah Alexander dan melihat ekspresinya, dia tahu kalau pria itu sama sekali tidak bercanda.

__ADS_1


Alexander sama sekali tidak peduli dengan apa yang sedang dipikirkan oleh kelima wanita itu. Dia malah langsung mengungkapkan pendapatnya.


“Melihat seperti ini, orang bodoh pun pasti tahu kalau ada masalah dengan Shelter 1004. Tidak tahu tingkat resiko besar atau kecil, yang pasti ada bahaya di tempat itu.


Aku sendiri ingin memeriksanya dengan mataku sendiri. Lagipula, kita sudah melakukan perjalanan jauh. Meski kita bisa langsung pergi ke Shelter 1, tetapi aku masih enggan. Aku memiliki firasat kalau mungkin ada sesuatu yang berguna untukku di tempat itu.


Selain itu, aku menyarankan kalian menunggu di sini. Jika ada kelainan, kalian bisa mundur sesegera mungkin.”


Mendengar ucapan Alexander, kelima wanita itu tampak tidak yakin. Meski merasa ingin membantu, mereka juga merasa sadar diri. Setelah berlatih bersama dengan pria itu, mereka juga memetik cukup banyak ilmu.


Kondisi geografis Shelter 1004 sama sekali tidak menguntungkan bagi penyerang. Belum lagi empat orang lainnya, bahkan Aurora yang merupakan hunter level 2 merasa kalau dirinya hanya akan menjadi beban jika sampai ada masalah yang muncul.


Sedangkan Alexander sendiri memiliki kartu truf. Jika tidak bisa melawan musuh, dia bisa menggunakan telekinesis untuk mengejutkannya lalu mundur. Bahkan jika melompat dari tebing, dia bisa melebarkan kedua sayapnya lalu melarikan diri.


Jadi, meski merasa enggan, mereka berlima masih mengangguk dan menuruti pengaturan dari Alexander.


Pria itu mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya. Dia meninggalkan ransel kepada Aurora lalu pergi membawa senjata dan tas pinggang berisi ramuan pemulihan.


Dua sayap segelap tinta muncul di belakang punggung Alexander. Dia kemudian langsung terbang menuju ke mulut gua. Baru saja mendekati mulut gua, aroma busuk langsung menyerang indera penciuman pria itu. Hanya saja, dia juga mengendus aroma lain.


Untuk memastikan, Alexander mendarat di mulut gua. Dia menarik kembali sayapnya lalu masuk dengan hati-hati.


Saat masuk ke dalam gua, dua kata langsung muncul dalam benak Alexander.


‘Tanah kematian.’


Sejauh mata memandang, Alexander hanya bisa melihat mayat. Tampaknya, tanpa pengecualian, semua penghuni tempat ini telah dimusnahkan. Namun, aroma aneh yang pria itu endus sebelumnya memang berasal dari sini.


Aroma itu adalah ... bau terbakar yang bercampur sedikit belerang.


Itu sangat aneh karena Shelter 1004 sama sekali tidak dekat dengan gunung berapi. Jadi Alexander awalnya merasa ada yang salah dengan indera penciumannya. Namun, ternyata dia sama sekali tidak salah.


Baru saja masuk ke area Shelter 1004, Alexander tertegun di tempatnya.


Saat itu ...


Cahaya api menyala di tanah kematian yang gelap, tercermin jelas dalam tatapan.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2