After Apocalypse

After Apocalypse
Mari Kita Lanjutkan


__ADS_3

Melihat Percy dan rekan-rekannya bergegas ke arahnya, sudut bibir Alexander terangkat.


Saat itu, dia langsung mengulurkan tangan dan mendorong telapak tangannya ke arah lawan-lawannya.


BANG!


Percy yang hendak menyerang Alexander tiba-tiba merasa telah menabrak dinding dengan keras. Ekspresinya langsung berubah. Walau belum pernah bertarung dengan pemilik telekinesis, tetapi dia sudah pernah mendengar cerita tentang ‘orang-orang spesial’ semacam itu.


Berbeda dengan para hunter biasa yang bisa dianggap sebagai ksatria atau pejuang, ‘orang-orang spesial’ itu dianggap sebagai penyihir. Para hunter biasa bertarung dari jarak dekat, sementara alasan kenapa pemilik kemampuan telekinesis disebut penyihir karena mereka bisa menyerang dari jarak yang begitu jauh.


Tentu saja, menyerang dari jarak jauh bukan berarti mereka (para pemilik kemampuan telekinesis) tidak bisa dikalahkan. Lagipula, manusia adalah makhluk yang memiliki akal.

__ADS_1


Panah dari jarak jauh, serangan menyelinap khas pembunuh, atau terbang menggunakan sayap dengan kecepatan luar biasa. Sangat banyak hal yang bisa dilakukan hunter biasa. Tentu saja ada syaratnya, yaitu berani melawan monster bermutasi dan berhasil mendapatkan miracle root yang diinginkan.


Selain itu, semua orang juga mengetahui kalau gelar ‘penyihir’ itu hanya bisa didapatkan dengan keberuntungan. Jika tidak, maka harus didapatkan dari keturunan khusus. Meski begitu, bakat para ‘penyihir’ tersebut juga berbeda-beda. Ada yang hanya bisa menggunakan telekinesis untuk melempar beberapa kerikil, tetapi ada juga yang bisa mengangkat benda-benda berat.


Merasakan dinding kuat yang menahannya, Percy langsung mengerti.


‘Bukankah bakat orang ini terlalu berlebihan? Dia jelas tidak mengkhususkan diri mencari miracle root yang memperkuat kemampuan telekinesis, tetapi masih sekuat ini! Cih! Hidup ini benar-benar tidak adil.’


Sementara itu, Alexander sendiri juga mengangkat alisnya. Tampaknya tidak puas karena sesuatu.


BANG!

__ADS_1


Sosok Percy terpental mundur dua sampai tiga meter. Anggota Crimson Hornet lainnya tampak waspada. Namun, Alexander tidak lanjut menyerang, malah melihat tangannya sendiri dengan ekspresi kecewa.


Jika dibandingkan, dampak serangan ‘melempar kerikil’ dan ‘telapak tangan penekan iblis’ benar-benar jauh berbeda. Bisa dibilang, kekuatan serangan yang terakhir jauh dari kata memuaskan. Belum lagi, trik itu lebih sulit dilakukan.


Untuk trik ‘melempar kerikil’, orang itu hanya perlu membentuk energi seperti tangan untuk meraih bebatuan lalu melemparnya ke arah musuh. Semakin berat benda yang diangkat, semakin sulit untuk dilakukan dan semakin menguras tenaga.


Sementara itu, trik baru Alexander hampir mirip dengan Phoenix Dance. Apa yang digerakkan lebih ke angin yang berembus di sekitar. Angin itu sendiri sangat ringan, bisa dirasakan, tetapi sulit disentuh, apalagi dipegang. Meski menggunakan telekinesis, ‘memegang angin’ adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan.


Selain itu, ada perbedaan yang cukup mencolok. Jika Phoenix Dance menggunakan cara menggerakkan angin lalu dijadikan perpaduan gerakan khusus dalam teknik pedang, maka teknik barunya tersebut mencoba membentuk angin menjadi sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menangkis, mendorong, atau menghempaskan lawannya.


Apa yang muncul dalam benak Alexander adalah sebuah dinding. Namun, hasilnya benar-benar agak mengecewakan. Meski bisa digunakan untuk menghalang dan mendorong musuh, tetapi sulit menangkis serangan destruktif, apalagi menghempaskan dan melukai lawan.

__ADS_1


Pada saat itu, Alexander tiba-tiba memikirkan bentuk lain. Menarik napas dalam-dalam, dia menatap orang-orang yang waspada lalu membuat isyarat dengan tangannya.


“Mari kita lanjutkan.”


__ADS_2